Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#71. Febri ke luar kota


__ADS_3

Setelah kebersamaan mereka di mall kemarin. Febri tidak sempat mengungkapkan perasaannya kepada Indah. Karena waktunya juga sudah malam. Secara Arkan besok harus kembali ke sekolah.


Setelah mereka selesai makan bersama. Mereka bertiga langsung balik ke rumah. Febri pun terpaksa harus memendam untuk mengungkapkan perasaannya kepada Indah.


Esoknya, seperti biasanya, sepulang Arkan dari sekolah dan setelah menyelesaikan pekerjaan sekolah dan tidur siang. Sudah merupakan kebiasaan Febri untuk datang mengunjungi Arkan untuk menemaninya bermain basket. Hari ini dan entah sampai berapa hari ke depan. Febri tidak akan mengunjungi Arkan karena Febri harus pergi ke luar kota. Ada urusan mendadak yang harus diselesaikan Febri.


Febri merupakan pemilik saham terbesar perusahaan tambang batubara yang berlokasi di pulau Kalimantan. Keseharian Febri hanya memantau dari jarak jauh lewat jaringan internet yang terpantau secara online. Makanya Febri bisa selalu rutin mengunjungi Arkan setiap hari.


Karena ada sedikit masalah dan harus ketemu dengan beberapa pemilik modal. Mengharuskan Febri untuk menghadiri nya untuk beberapa hari ke depan.


Febri memberitahu melalui via telepon, sebelum Arkan berangkat ke sekolah.


"Hai Arkan. Om minta maaf ya tidak bisa menemani kamu untuk bermain bola basket hari ini. Om juga tidak tahu sampai hari apa baru bisa menemani kamu. Nanti deh, kalau om sudah balik dari luar kota. Om akan kabari kamu", Febri memberitahu tidak bisa datang menemani Arkan.


"Memangnya om mau kemana?. Mengapa mendadak sekali. Padahal Arkan berencana agar om menemani Arkan untuk masuk club bola basket", Arkan sedih.


"Iya, om minta maaf ya. Ada sedikit masalah pekerjaan yang harus om selesaikan secara mendadak. Nanti deh, kalau om sudah balik dari luar kota om akan menemani kamu untuk mendaftar di club bola basket yang kamu maksud", Febri merasa kasihan, karena Arkan sangat bersedih.


"Ya sudah deh, om. Tidak apa-apa kalau memang om lagi sibuk. Arkan juga tidak bisa memaksakan", ucap Arkan menutup teleponnya.


"Telepon dari siapa Arkan?", tanya indah penasaran dan ingin tahu.


"Telepon dari om Febri ma, mau memberitahu kalau om Febri tidak bisa menemani Arkan bermain bola basket untuk beberapa hari ke depan. Karena om Febri sedang keluar kota untuk mengurusi beberapa masalah pekerjaan nya", Arkan memberitahu kepada indah dengan raut wajah sedih dan tertunduk lemas.


"Oh begitu ya", indah menjawab seadanya. Tetapi dalam pikiran indah menerka-nerka. "Mungkin Febri sedang menghindar untuk bertemu dengannya, bahkan kemungkinan tidak akan pernah datang lagi mengunjungi Arkan dan dirinya. Karena sudah mengetahui masa lalu Indah", gumam indah dalam benaknya.


Indah termenung. Padahal sebelum Febri mengetahui masa lalu nya Febri sepertinya serius ingin berhubungan dekat dengan nya. Indah termenung, sedikit kepikiran atas tidaknya datang Febri untuk menemani Arkan.


Sesungguhnya dalam hati kecil indah sudah menaruh sedikit hatinya kepada Febri yang tulus mau menemani Arkan setiap hari bermain bola basket.


"Apa perkataan ku terlalu kasar dan terkesan jual mahal?. Selama ini aku terlalu cuek dan terkadang berpura-pura tidak mengharapkan Febri", gumam Indah menyesali dirinya yang terlalu cuek dan tidak perduli terhadap Febri.


Tetapi indah pun tidak bisa terlena dan terus memikirkan Febri. "Aku harus tahu diri, dan sadar diri siapa aku sebenarnya. Mana mungkin Febri yang muda, tampan, pintar dan kaya mau kepada aku yang sudah janda dan hina ini", gumam Indah dalam benaknya dengan rendah hati dan merasa tidak percaya diri untuk bersuamikan Febri.


Indah pun mencoba melakukan rutinitas dan pekerjaan sehari-hari nya dengan penuh semangat.

__ADS_1


Hingga malam menjelang. Indah pun tidak bisa tertidur, terus memikirkan Febri. Seperti rasa kehilangan baginya tidak melihat Febri hari ini. Semakin indah mencoba untuk menepiskan bayangan Febri semakin sakit rasa hatinya. Ada rindu yang teramat sangat dirasakan nya.


Indah mencoba menenangkan dirinya dengan sujud berdoa kepada Sang pemilik hidup.


Ya Tuhan, hanya kepada Mu kuserahkan dan pasrah kan Hidup ku.


Kutahu aku tak layak meminta atas segala kehinaan yang kulakukan.


Tuhan, kutahu Engkau adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.


Sudi lah kiranya untuk mendengar dan menjawab permohonan doaku ini.


Izinkan hamba mu ini beroleh teman hidup.


Semua atas Kehendak dan seizin mu.


Hamba hanya bisa pasrah dan menerimanya saja. Walaupun apa yang hampa inginkan tidak sesuai harapan hamba.


Tuhan lebih tahu yang hamba butuhkan.


Amin.


Setelah selesai berdoa, Indah merasakan ketenangan dan akhirnya bisa membuatnya terlelap tidur.


****


Kejadian Di pulau Kalimantan.


Ada teman Febri bernama Shinta yang menaruh hati dan ingin segera mengungkapkan perasaannya. Karena pikirnya sebelum Febri balik ke Jakarta Febri harus tahu perasaan nya.


Shinta bekerja di wilayah perkantoran tempat Febri bekerja. Gedung kantor nya bersebelahan dengan Febri. Shinta adalah wanita muda dan mandiri. Berkedudukan sebagai HRD.


Ketika jam istirahat makan siang, sengaja Shinta sudah berdiri di depan gedung kantor nya untuk menunggu Febri keluar dari gedung kantor nya untuk makan siang.


"Hai Febri, lagi mau makan siang kan?. Bareng yuk", ajak Shinta mendatangi Febri, begitu melihat Febri keluar dari gedung kantor nya.

__ADS_1


"Ehh, kamu Shin. Oh, baiklah. Yuk kita barengan", Febri menyetujui, Febri dan Shinta pun berjalan beriringan menuju restoran yang tidak jauh dari gedung kantor nya.


Mereka pun langsung duduk setelah Shinta mengarahkan untuk duduk agak jauh disudut ruangan. Maksud Shinta agar dia lebih leluasa untuk bicara dan mengungkapkan perasaannya tanpa di dengar oleh pengunjung lain yang datang untuk makan siang juga.


"Berapa hari kamu rencananya di Kalimantan ini?", tanya Shinta membuka pembicaraan.


"Aku tidak tahu Shin. Tetapi setelah urusan ku selesai aku akan langsung balik kok", Febri memberi tahu.


"Oh begitu. Kira-kira urusan mu bakal lama tidak?", Shinta penasaran.


"Tidak juga sih. Tinggal besok kalau aku ketemu dengan para pemilik modal. Dan masalah kita sudah ada penyelesaiannya, aku akan langsung balik ke Jakarta", ucap Febri santai.


"Oh begitu ", Shinta sedikit kesal, karena menurut informasi Febri berarti Febri tidak begitu lama di Kalimantan.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu. Apa kamu akan memberikan surprise kepadaku sebelum aku balik ke Jakarta", canda Febri. Shinta tersipu malu. Langsung diam tertunduk bingung mau memulai darimana.


"Mengapa kamu jadi diam Shin. Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu?. Katakan saja tidak usah segan-segan. Kita sama-sama anak rantau di pulau Kalimantan ini. Sudah seharusnya kita saling menolong satu sama lain. Kamu ada masalah katakan saja", Febri mencoba menebak. Shinta masih terdiam.


"Sebenarnya bukan masalah besar. Hanya saja aku tidak bisa memendam nya terus. Aku ingin mengatakan sesuatu pribadi kepada mu", Shinta merasa gugup.


"Oh ya sudah, katakan saja. Aku akan mendengar nya, dan kalau ada yang bisa kubantu. Sebisa mungkin aku akan membantu mu", Febri menyakinkan Shinta.


"A....ku....u. aku..sangat mencintai mu Febri", Shinta tidak mampu lagi menahan perasaannya. Ingin segera mengungkapkan nya sebelum terlambat.


"Tidak apa-apa aku yang duluan mengungkapkan perasaan ku. Karena yang kutahu selama ini Febri sepertinya memang tidak ada pacar", gumam Shinta di dalam hatinya.


Febri terkejut, tetapi berusaha ingin mengatakan sesuatu agar Shinta tidak terlalu banyak berharap dan tidak tersinggung.


"Shinta, aku senang kamu mencintai aku. Aku tahu kamu perempuan baik-baik, perempuan mandiri dan pintar. Tetapi maaf sekali hatiku saat ini sudah diisi oleh perempuan lain.


Aku memang belum sempat mengungkapkan perasaan ku padanya. Itu karena mendadak aku harus datang ke kesini untuk menyelesaikan beberapa masalah. Sepulang dari sini, aku akan langsung mengungkapkan perasaan ku kepadanya. Sekali lagi aku minta maaf ya, kuharap kamu bisa menerima kenyataan ini", Febri memegang tangan Shinta.


"Aku sangat yakin. Di luar sana masih banyak pria yang lebih baik dari aku. Aku pun berharap kamu tidak menutup diri terhadap pria-pria beruntung itu", Febri terus menyemangati Shinta. Shinta hanya pasrah dan sedikit kecewa atas apa yang dikatakan Febri.


Tetapi Shinta juga tidak bisa memaksa Febri untuk mencintai nya.

__ADS_1


"Baiklah Febri, walaupun aku telah lancang untuk mengungkapkan perasaan ku kepada mu. Kuharap kamu tidak akan menjauhi dan kita terus berteman baik", ucap Shinta berusaha tetap tegar.


__ADS_2