
Setelah melakukan adegan panas tadi. Sebelum Mitha dan Tedja tidur mereka pun saling mengobrol.
Mitha juga masih penasaran atas perkataan yang diucapkan Tedja tadi.
"Ted, bagaimana kamu tahu kalau ****** kamu encer?", Mitha belum mempercayai perkataan Tedja.
"Aku sudah memeriksa nya kemarin ke rumah sakit. Waktu kita bertemu, kala itu aku sedang menunggu hasil Test ku keluar. Dan ternyata hasil Test mengatakan kalau aku tidak mungkin membuat istri ku hamil. Karena kandungan spermaku encer", Tedja memberitahu.
"Terus, apakah istrimu hamil sekarang?", Mitha belum paham arah pembicaraan Tedja.
"Istriku bukan saja hamil, tapi istri ku sudah melahirkan. Sebelumnya Aku sudah test DNA anakku, ternyata tidak cocok denganku, akhirnya aku bingung mengapa bukan benih dari ku, padahal aku juga telah berhubungan suami-istri dengan istri ku.
Dengan rasa penasaran itulah aku bermaksud untuk memeriksakan diriku. Dan disimpulkan kalau ****** ku encer tidak mungkin membuat Istri ku hamil.
Aku juga sebelum nya sudah pernah memergoki istriku dengan selingkuhannya. Ahh sudahlah, aku bercerita jadi panjang lebar. Malah membuka semua aib rumah tangga ku", Tedja menghentikan pembicaraan nya.
"Kamu sendiri, mengapa datang ke rumah sakit. Apakah kamu sakit?", Tedja menambahi.
"Aku sedang menemani teman untuk check up, antriannya sangat panjang dan lama. Karenanya aku ke kantin untuk menghilangkan rasa jenuh ku", Mitha memberitahu.
"Oh begitu. kupikir kamu sakit", jawab Tedja seadanya.
"Oh iya, Aku ingin tahu, apakah kamu merasa puas dengan performa ku tadi?", Tedja ingin tahu.
"Aku merasa ******* kok. Aku sangat menikmati nya dan merasa ingin lagi. Aku harap kamu mau bersedia melakukannya kembali", Mitha merasa ketagihan.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu, apakah kamu merasa kalau istri kamu tidak merasa puas dengan kamu, sehingga istri kamu selingkuh?", Mitha berbicara ceplas-ceplos.
"Setelah di fonis oleh dokter mengenai kekurangan ku, aku merasa tidak percaya diri. Dan merasa yakin istriku selingkuh karena tidak puas atas kepunyaan ku dan permainan ku", Tedja memberitahu.
"Kamu tidak usah merasa seperti itu, lakukan dan nikmati saja. Justru kalau kamu merasa seperti itu. Kamu akan cepat loyo dan tidak bernafsu", Mitha memberi semangat.
"Benarkah, terimakasih Mith. Kamu telah menumbuhkan rasa percaya diri ku kembali", Tedja bersyukur bertemu dengan Mitha.
"Sama-sama, aku juga senang kamu bisa menemani aku dan merasakan kenikmatan itu. Kalau tidak, seumur hidup ku tidak akan merasakannya. Aku termasuk orang yang merana dong", ucap Mitha tersenyum.
"Ada-ada saja kamu. Aku senang atas pertemuan ini, kamu merupakan teman terbaikku", Tedja mengecup kening Mitha.
Merekapun tertidur melepaskan penat dan lelah setelah bergelut mesra.
***
__ADS_1
Di rumah Indah merasa penuh tanda tanya, Mengapa Tedja tidak pulang?.
"Tidak biasanya Tedja tidak pulang ke rumah, kalau Tedja keluar kota, pasti Tedja akan memberi tahu", gumam Indah dalam hati.
"Apakah telah terjadi sesuatu pada Tedja?", Indah menambahi.
"Atau jangan-jangan Tedja sudah berselingkuh di belakang ku", Indah merasa tidak habis pikir dan menebak-nebak.
Pangestu juga sudah dua hari tidak pulang kerumah. Pangestu memberitahu alasannya kalau sementara waktu tidak akan pulang ke rumah.
Karena sedang fokus untuk mengerjakan skripsi nya dan mengejar untuk bisa segera meja hijau. Pangestu menginap di rumah teman nya untuk beberapa hari ke depan.
Indah begitu kesal karena tidak ada Tedja dan Pangestu di rumah yang menemani.
"Giliran keduanya di rumah, aku malah kewalahan meladeni mereka. Sekarang malah keduanya tidak ada bersamaku", gumam Indah kesal.
"Tedja dimana sih kamu?", Indah ngomel-ngomel, sampai tidak fokus untuk menidurkan baby Arkan. Indah menjadi bawaan emosi, karena baby Arkan juga selalu cengeng dan rewel.
Hingga pagi. Tedja tidak juga pulang dan tidak ada menelepon. Handphone nya juga tidak bisa dihubungi.
Semalam Indah tidak bisa tidur karena terus menunggu dan mengira kalau Tedja pulang, ternyata sampai pagi tedja belum juga pulang.
Indah ingin beranjak dari tempat tidurnya, terasa berat dan penat dirasakannya pada kepala dan pandangan nya.
Hingga sore Tedja tidak ada mengabari Indah. Indah menjadi uring-uringan dan sangat emosional.
Tibalah jam pulang kantor seperti biasanya, Tedja pun pulang.
Tedja tiba di rumah dan langsung naik ke lantai atas dan membuka pintu kamarnya.
Dilihat nya Indah sedang menyusui baby Arkan.
"Sayang, kenapa tidak pulang semalam?, aku menunggu kamu hingga tidak bisa terpejam", Indah memberi tahu.
"Oh, iya aku lupa memberitahu, semalam aku tidur di rumah teman ku", jawab Tedja santai.
Melihat ekspresi Tedja tanpa rasa bersalah Indah akhirnya geram.
"Sayang, ekspresi kamu begitu santai seperti tidak merasa bersalah. Aku menunggu kamu sampai tidak bisa tertidur hingga pagi lho sayang", Indah mengungkapkan kekesalannya.
"Terus aku harus bagaimana. Suka-suka aku dong tidur dimana dan bersama siapa. Kamu sendiri pun melakukan hal yang sama seperti aku kan?", Tedja menyindir Indah.
__ADS_1
Indah tersentak dengan jawaban Tedja, seolah Tedja mengetahui perselingkuhan nya dengan Pangestu dan sekarang tidak mau kalah dan malah membalas melakukan perselingkuhan.
Sehingga skor nya satu sama.
Indah pun tidak berani lagi menunjukkan kemarahan nya kepada Tedja.
"Maksudnya sayang. Harusnya kamu bilang, kalau kamu tidak pulang ke rumah. Sehingga aku tidak perlu menunggui mu hingga pagi", Indah bicara dengan lembut agar Tedja tidak jadi marah.
"Mengapa juga kamu menunggui aku. Mulai sekarang terserah aku mau tidur di rumah atau tidak. Kamu tidur sajalah duluan, tidak usah menunggui aku", Tedja langsung meninggalkan Indah dan langsung masuk ke kamar mandi.
Tedja langsung mengunci pintu kamar mandi, karena takut indah pasti akan menggodanya.
Benar saja, bermaksud agar tidak membuat Tedja marah dan menceraikannya Indah mencoba mendatangi Tedja ke kamar mandi. Ternyata Indah kesal Tedja mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
"Sayang..buka dong, izinkan aku masuk.", Indah mengetuk pelan dan berteriak agar dibukakan pintu.
"Sebentar Indah, aku tidak sedang ingin bercinta, tolong biarkan aku sendiri dan menyelesaikan mandi ku", ucap Tedja dibalik pintu.
Indah pun begitu kesal, "Seharusnya aku yang marah, karena semalam Tedja tidak pulang dan tidak tidur bersama ku. Kok sebaliknya dia yang marah ya", gumam Indah kesal.
"Apakah Tedja memang sudah mengetahui perselingkuhan ku dengan Pangestu. Seperti dugaan Pangestu kemarin?", Indah ketakutan kalau Tedja sudah mengetahui semuanya.
Indah hanya duduk terdiam di salah satu sisi tempat tidur nya. Menunggu kedatangan Tedja dan klarifikasi Tedja selanjutnya.
Tidak beberapa lama Tedja selesai dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja.
Indahpun langsung mengambil pakaian Tedja dari dalam lemari dan menyerahkan nya kepada Tedja.
Tedja dengan santai mengenakan pakaiannya satu persatu seperti tidak memperdulikan Indah yang berdiri di depannya.
"Sayang, apakah kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi?", Indah memeluk Tedja dari belakang.
"Sudahlah Indah, jangan memancing aku lagi. Aku ingin pergi dan tidak akan pulang malam ini. Aku akan tidur bersama dengan temanku", Tedja ingin membalas sakit hatinya kepada Indah. Tedja juga ingin tahu, apakah bisa melupakan Indah.
"Sayang, tega kamu mengatakan itu secara terang-terangan ya, apakah kamu tidak memikirkan perasaan ku?", Indah menangis dan meneteskan air mata.
Sesungguhnya Tedja ingin memeluk Indah, dan merasa sakit telah membuat Indah terluka. Tetapi "Ahhh, mungkin saja Indah hanya akting dan berpura-pura saja menangis, dalam hati Indah hanya peduli harta ku saja bukan hati ku", gumam Tedja dalam hati dan langsung meninggalkan Indah sendiri. Langsung keluar dari kamar menuju garasi.
Indah terus mencegah Tedja untuk tidak pergi meninggalkan nya, tetapi Tedja tetap pergi dan segera melajukan kendaraannya.
Hati Indah sakit, ternyata Tedja benar-benar tidak membutuhkan nya lagi. Indah terus menangis sepanjang malam.
__ADS_1
Sangat sakit dan terluka seperti ada cemburu tahu Tedja akan bersama dengan wanita lain "Apakah aku benar-benar telah mencintai Tedja", Indah bingung atas perasaan nya.