Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#16. Tedja tidak pernah kembali ke rumah


__ADS_3

Indah terus saja menangis, begitu sakit rasanya telah diduakan. Padahal Tedja belum bilang, kalau dia tidur di rumah teman perempuan, "Mungkin saja teman itu adalah teman prianya", gumam Indah menghibur dirinya.


"Tidak mungkin teman pria nya, selama ini Tedja tidak pernah terlihat ada teman kompaknya, itu pasti teman perempuannya. Kalau tidak, masak iya menginap berhari-hari?", Indah terus menduga-duga dalam hatinya, makin sakit rasa hatinya.


Dan langsung melemparkan apa saja yang ada di depannya karena begitu kesal.


Setelah malam berlalu, dan akhirnya pagi pun tiba. Indah berharap Tedja pulang pagi ini, seperti hari sebelumnya. Tetapi Tedja belum juga tiba di rumah.


"Apa Tedja sudah menikah dengan perempuan itu?, sehingga sekarang tidak ingat lagi untuk pulang ke rumah. Ahh kamu benar-benar tega ya Tedja.


Bahkan restuku saja belum kuberikan tetapi kamu sudah menikah di belakang ku. Kamu jahat Tedja", Indah kesal, berbicara di depan foto pernikahan mereka.


Seminggu berlalu Tedja tetap tidak pulang ke rumah. Tidak pernah menelepon memberi kabar, atau menanyakan kabar Indah maupun kabar Arkan. Bahkan Handphone nya juga tidak bisa di hubungi.


Tok....tok....tok...


Lagi duduk termenung di meja makan, tiba-tiba Indah mendengar suara pintu diketuk. Indah pun segera menuju pintu bermaksud ingin membukakan pintu. Indah berharap kalau yang mengetuk pintu adalah Tedja.


Krek...pintu di buka, ternyata Pangestu. Ekspresi Indah biasa saja.


"Hai sayang, apakah kamu tidak senang aku kembali?", tanya Pangestu karena raut wajah Indah sedikit cemberut dan kesal.


"Aku lagi bete, seminggu ini aku kesepian, sendirian tidak ada yang menemani", Indah langsung masuk menuju meja makan meninggalkan Pangestu.


"Mengapa kesepian, memangnya ayah kemana?", Pangestu bingung dan ingin tahu.


"Aku tidak tahu kemana ayah kamu, Terakhir datang ke rumah ini. Hanya memberitahu kalau tidur di rumah temannya. Dan setelah itu tidak pernah pulang lagi ke rumah sampai sekarang", Indah memberitahu.


"Terus yang membuat kamu bete dan kesal dimananya?. Kamu mengira ayah menginap di rumah teman wanitanya?, bagus dong. Dengan begitu kamu bisa cerai dengan ayah. Dan kita bisa mensyahkan hubungan kita. Atau jangan-jangan kamu sudah menyukai ayah iya?", Pangestu langsung to the point.


"Iih apaan sih kamu", Indah langsung menyembunyikan wajahnya, berpura-pura menuangkan air dari teko ke gelas nya. Karena ketahuan banget cemburu

__ADS_1


"Sudah seminggu ayah kamu tidak pulang, tidak tahu entah kemana. Katanya dia menginap di rumah temannya, aku juga tidak tahu pasti apakah teman perempuan atau teman laki-laki", Indah memberitahu dengan ekspresi marah dan cemberut.


"Apa mungkin ayah sibuk mengurusi bisnisnya sehingga lupa menghubungi kamu?", Pangestu tidak langsung menuduh Tedja.


"Entah lah, sikap ayahmu memang berbeda. Tedja tidak peduli lagi perasaan ku. Bahkan terang-terangan mengatakan membalas perbuatan ku yang telah selingkuh. Sepertinya Tedja sudah mengetahui perselingkuhan kita selama ini. Dan memilih pura-pura tidak tahu", ucap Indah pelan.


"Kita tunggu saja, bagaimana reaksi ayah selanjutnya. Sekarang apakah kamu tidak merasa rindu kepada ku", Pangestu memegang tangan Indah dan mengedipkan sebelah matanya. Seperti biasa saja dan santai atas permasalahan yang terjadi.


Indah langsung menarik tangan nya, dan langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Pangestu mengikuti dari belakang.


Setelah tiba di dalam kamar, Indah langsung melompat ke atas ranjangnya menelungkupkan badanya dan menutup wajahnya dengan bantal.


Pangestu pun ikut naik ke ranjang, jatuh ke samping Indah sambil menghadap Indah.


"Sayang, aku jadi penasaran. Apakah kamu sudah menyukai ayah. Dan tidak menyukaiku lagi?", tanya Pangestu serius.


"Sayang, apakah kamu menyukai ayah?, dan tidak menginginkan aku lagi?", Pangestu kembali bertanya.


"Jawab pertanyaan ku sayang", Pangestu mengambil bantal yang menutupi wajah Indah.


"Aku tidak tahu Pangestu, yang pasti aku merasa kesal dan cemburu ayahmu tidak pernah pulang dan tidak pernah mengabari ku. Aku Tidak suka diabaikan, dan aku juga tidak tahu kalau perasaan itu adalah cinta. Jangan paksa aku untuk menjawabnya", ucap Indah tegas.


"Sekarang, apakah kamu tidak menyukai ku lagi. Sehingga kamu merasa dingin dan tidak ingin berdekatan dengan ku?", kembali Pangestu bertanya.


"Aku juga tidak tahu, aku sedang tidak mood dan tidak berselera untuk bercinta saat ini. Mungkin aku terlalu fokus pada masalah ku. Sehingga merasa tidak mood melakukan hal lain", Indah membela diri.


"Aku rindu sekali, karena hampir seminggu lebih kita tidak pernah bertemu", Pangestu langsung ******* ***** Indah. Mencoba memancing Indah.


Buru-buru Indah menepiskan tubuh Pangestu dan segera beranjak berdiri disamping ranjangnya sambil berkata.

__ADS_1


"Jangan paksa aku melakukannya sekarang, aku hanya berpikir. Kalau perempuan itu hanya sebagai pemuas nafsu pria saja. Kala ingin di dekati, dan kala bosan di campakkan.


Aku ingin menyendiri, tolong sedikit saja menghargai ku. Aku sedang tidak mood sekarang. Dan silahkan kamu keluar dari kamar ku", Indah menyuruh Pangestu keluar dari kamarnya.


"Sayang, tolong. Aku rindu sekali. Aku juga ingin bermain dengan Arkan", Pangestu mencoba mencari cara dengan menggunakan Arkan.


"Silahkan keluar Pangestu", Indah membuka pintu, agar Pangestu segera keluar dari kamarnya. Pangestu pun dengan kesal keluar dari kamar Indah. Indahpun langsung menutup dan mengunci pintu.


Indah merenung.


"Bagaimana kalau Tedja menceraikan aku?, dan lebih memilih hidup dengan Pelakor itu. Pasti aku akan ditendang dari rumah ini. Tidak mungkin Tedja akan merestui hubungan ku dengan Pangestu.


Kalaupun setuju dengan Pangestu. Pasti Pangestu tidak mendapatkan harta warisan dari Tedja. Pangestu hanya pria kere, Pangestu hanya modal tampang saja.


Mana bisa hidup hanya dengan modal tampang ganteng saja. Aku hanya sekedar menginginkan sensasi bercinta dari pria muda. Kalau pun mencintainya, kalau kere untuk apa!", gumam Indah sambil terus memikirkan permasalahan nya dan kemungkinan terberat yang akan terjadi nanti.


***


Selama seminggu Tedja tidak pulang ke rumah, Karena berada di rumah Mitha.


Tedja dan Mitha begitu menikmati kebersamaan mereka, terlebih Mitha telah menyerahkan keperawanannya kepada Tedja. Kenikmatan dan kepercayaan diri Tedja dalam bercinta sangat tinggi setelah bertemu Mitha.


Sesungguhnya selama ini Tedja selalu bergairah dalam bercinta. Tetapi setelah menyadari dan mengetahui kekurangannya Tedja menjadi tidak percaya diri. Mitha sanggup dan mampu menumbuhkan kepercayaan diri Tedja.


Mitha selalu bersikap manja, pintar merayu dan mampu membuat Tedja melakukan apa saja.


Ketika Tedja ingin pulang, Mitha selalu membujuk nya untuk tidak meninggalkan nya, karena takut kesepian.


Menurut Mitha, Tedja seperti tidak bisa dimiliki oleh Indah. Bahkan ke kantor pun Mitha berani mendatangi Tedja.


"Sayang, mengapa datang ke kantor?, aku sibuk sekali ini. Jangan genit-genit begitu dong, tidak malu apa dilihatin orang, malu tahu", Mitha tiba-tiba datang dan langsung nempel mendekati Tedja padahal ada Tina, sekertaris Tedja di ruangan itu.

__ADS_1


"Biarin di lihat, biar semua orang tahu kalau kita pacaran", Mitha tidak peduli. Sekretaris Tina jadi tidak enak berlama-lama di kantor Tedja, langsung beranjak keluar.


__ADS_2