
Akhirnya Pangestu keluar dari kamar mandi. Hanya dengan berbalutkan handuk pada bagian bawah saja, dadanya dibiarkan terbuka.
"Kamu mau tetap disini melihatku terus?", Pangestu merasa tidak enakan Shifa terus memelototinya.
"Memangnya kenapa kalau aku disini, mengapa kamu harus malu. Kita sudah melakukan hubungan suami-istri berkali-kali. Kamu jangan malu begitu dong. Biasa aja", ucap Shifa membuka handuk Pangestu dari belakang.
"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Aku merasa kalau aku melakukan hubungan suami-istri kepada mu, seperti di luar kesadaran ku. Kali ini aku sedang sadar, artinya aku lagi tidak berselera dan merasa sedikit malu kalau kamu pelototi terus.
"Sudah, nanti juga terbiasa", Shifa menyerahkan perlengkapan pakaian Pangestu. Pangestu pun langsung memakai pakaiannya satu persatu dan duduk di salah satu sisi ranjang tempat tidurnya.
"Oh iya, ketika kamu mandi tadi. Indah menelepon kamu. Karena berdering berkali-kali, akhirnya aku memutuskan untuk menerima panggilan masuknya", Shifa memberitahu.
"Apa, kamu mengangkat handphone ku", Pangestu sedikit kesal dan ketakutan.
"Kamu mengatakan apa pada indah?", Pangestu ingin tahu.
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tanyakan dia, apakah ingin berbicara dengan kamu secara langsung. Dia langsung menolak nya dan ingin aku menyampaikan kepada mu kalau dia telepon", Shifa memberitahu.
"Aduh, mengapa kamu menjawab teleponnya. Lain kali kalau ada panggilan masuk dari handphone ku. Tidak usah mengangkat nya. Aku takut indah salah paham", Pangestu tegas.
"Mengapa kamu begitu ketakutan begitu?", tanya Shifa kesal.
"Itu tadi, aku takut indah salah paham atas hubungan kita berdua. Indah adalah perempuan yang telah mengisi hatiku selama ini. Indah tahu kalau aku terpaksa menikahi kamu. Karena alasan perjanjian nikah kita tidur tidak seranjang, makanya indah tetap menerima aku.
Setelah hubungan kami membaik dan aku berjanji untuk selalu menemani nya. Aku pun memilih ingin meminta bercerai dengan mu dan ingin hidup bersama dengan Indah. Semua sirna, aku tidak bisa memaksakan keinginan ku karena kondisi kesehatan kamu, dan kata dokter umur kamu tidak panjang lagi.
Aku pun merasa kasihan terhadap kondisi mu, Aku ingin bisa membahagiakan kamu dengan menemani kamu diakhir hidupmu. Lagi-lagi Indah mengizinkan aku untuk menemani mu. Sekarang ternyata kita sudah melangkah terlalu dalam. Aku merasa bersalah kepada Indah.
__ADS_1
Oh iya, aku sudah mempunyai anak dari Indah sekarang usianya memasuki 7 tahun. Oh apa yang harus aku katakan pada Indah. Apakah aku harus mengatakan semuanya?", Pangestu bingung
dan sangat bersedih hati.
Shifa sesungguhnya kesal mendengar semua curhatan Pangestu mengenai Indah. Entah mengapa bila Pangestu menyebut nama Indah. Ada kebencian dan rasa cemburu yang begitu dalam di hatinya. Tetapi Shifa tidak mau menunjukkan itu. Karena dari awal Pangestu memang selalu jujur dan terbuka kepada shifa. Pangestu selalu menganggap Shifa teman, bahkan adik.
Melihat Pangestu merasa sedih dan merasa bersalah begitu, mau tidak mau Shifa tetap harus menunjukkan sikap sebagai teman yang baik. Dan memang Shifa harus tahu diri, kenyataannya Pangestu memang tidak mencintai nya.
Pangestu mau menyetubuhi shifa memang karena situasi, nafsu dan hasrat yang tidak tertahan karena terlanjur melihat Shifa tanpa busana ketika mandi dan tidur dalam satu ranjang. Shifa memang menggunakan kesempatan itu.
"Apakah kamu memang begitu mencintai Indah?", tanya Shifa ingin tahu.
"Iya, aku sangat mencintai Indah. Kamu tahu kan kalau selama ini aku tidak membuka diri terhadap perempuan lain. Memang hatiku telah terisi oleh sosok Indah", Pangestu memberitahu.
"Menurut mu indah juga mencintai kamu?", Shifa mencoba menyelidiki apakah Pangestu memang mengenal sikap dan sifat indah. Pangestu terdiam sesaat. Mencoba berpikir dan mengingat-ingat sifat dan perlakuan indah kepada Pangestu.
Indah adalah perempuan yang tangguh, dia akan lebih mengutamakan untuk fokus terhadap masa depan anaknya, daripada harus bersedih apabila aku meninggalkan nya.
Tetapi bukan berarti aku pun ingin meninggalkan nya, aku begitu mencintai indah dan berharap kamu nantinya akan hidup bersama hingga tua nanti", Pangestu memberitahu kepribadian dan harapan nya.
"Baiklah, kemarin kamu akan menuruti kemauan aku. Sekarang aku tidak ingin kamu bercerita tentang indah. Karena bila kamu cerita mengenai indah, aku begitu cemburu buta dan merasa kesal.
Aku juga tidak ingin kamu menelepon indah di hadapan ku. Seharusnya kamu bisa mengerti perasaan ku dan kondisi ku saat ini", ucap Shifa tegas.
"Bisa kah kamu mengabulkan keinginan ku ini. Ini adalah saat terakhir ku. Selamanya aku tidak akan bertemu dengan orang yang sangat aku cintai. Aku sejak lama sudah sangat mencintaimu Pangestu.
Kamu tahu itu, Jadi kumohon. Aku ingin menikmati hidup bersama dengan orang yang sangat kucintai", bujuk Shifa dengan merengek-rengek dengan suara bergetar dan menitikkan airmata nya.
__ADS_1
Pangestu sangat berat mengabulkan keinginan Shifa, tetapi karena Shifa terus membujuk dengan begitu sedih. Pangestu pun luluh.
"Baiklah aku tidak akan bercerita mengenai indah, dan menghubungi indah di hadapan mu", ucap Pangestu dengan berat hati.
"Maafkan aku ya, aku hanya tidak ingin di saat terakhir ku. Aku merasa kecewa, aku ingin bahagia bersama orang yang kucintai. Ku harap kamu bisa memahami perasaan ku.
Tidak apa-apa kan aku meminta seperti itu kepada mu. Karena itulah yang sangat kuinginkan saat ini, bahagia, penuh canda tawa bukan kesedihan", Shifa memohon dengan sangat kepada Pangestu.
"Baiklah tidak apa-apa, aku akan menuruti apa kemauan kamu", ucap Pangestu sambil tersenyum kecil.
"Terimakasih sayang atas pengertian kamu", Shifa meraih tangan Pangestu dan menyuruhnya berdiri, dan langsung memeluk erat Pangestu.
"Oh iya, besok kan kita sudah berangkat ke luar negeri. Liburan kita di awali dengan berkeliling Eropa dulu, terus lanjut ke Arab dan ke Amerika. Maukah kamu menemani ku belanja keperluan perlengkapan mantel, sepatu dan keperluan makanan serta cemilan ringan", bujuk Shifa.
"Baiklah aku mau menemani kamu", Pangestu menyetujui. Shifa dengan riang sambil melompat-lompat kegirangan.
"Ok aku ganti baju dulu ya", Shifa buru-buru mengganti bajunya.
Pangestu sebenarnya ingin menelepon Indah, tetapi Shifa selalu nempel dan tidak ada kesempatan menjauh dari Pangestu. Sesuai kesepakatan mereka. Pangestu tidak bisa menghubungi indah di hadapan nya. Pangestu pun jadi salah tingkah.
"Indah, maafkan aku. Kuharap kamu memaklumi kondisi ku saat ini", bathinnya dalam hati.
"Ok sayang, kita berangkat sekarang", Shifa merangkul tangan Pangestu erat sambil keluar dari kamarnya.
Bertemu Burhan di ruang tamu.
"Pa, kami keluar dulu ya, ada beberapa keperluan dan perlengkapan yang harus kami beli untuk keberangkatan besok", Shifa pamit sambil tersenyum terus memegang tangan Pangestu erat.
__ADS_1
"Baiklah, pergi dan bersenang-senang lah", ucap Burhan senang melihat wajah Shifa berseri-seri.