
Perasaan Tedja saat ini, dia merasa tidak dianggap. Tedja berusaha menghibur dirinya dengan pergi ke cafe. Sebenarnya Tedja agak sedikit takut pergi ke cafe, karena belajar dari pengalaman masa lalunya. Yang telah di poroti oleh wanita.
Tetapi Tedja segera menyingkirkan ketakutan itu, dirinya merasa perlu hiburan. Dan berharap ada yang menemaninya bicara dan menghilangkan rasa suntuknya.
Saat ini Tedja merasa kalau bisnisnya sedang baik-baik saja, sedang berkembang pesat dan tidak ada masalah mengenai keuangan.
"Tidak apa-apa sedikit royal kepada wanita, agar ada pelayan cafe yang bersedia mendengarkan unek-unek ku", gumam Tedja dalam hatinya.
Tedja pun masuk ke cafe dan duduk menunggu pelayan datang menghampiri nya.
Dari penampilan Tedja yang sudah berumur sekitar 60 tahun. Tidak ada wanita yang ingin menjadikannya istri. Wanita yang ingin dekat dengan Tedja adalah wanita yang ingin memorotinya.
Memang walaupun Tedja berumur 60 tahun, penampilan Tedja tetap modis, bersemangat dan gaul. Kalau Tedja bicara terlihat sangat mengayomi wanita, itulah merupakan daya tarik dari Tedja. Pandangan matanya kalau terus diperhatikan maka wanita akan bertekuk lutut kepadanya.
Tedja memliki aura pada sekitar alis hingga mata, sehingga membuat wanita merasa terkesan kepadanya saat bercerita dan sangat asik diajak berbicara apalagi kalau obrolan sudah nyambung, maka akan terus dan terus.
Tedja juga bisa menjadi teman bicara yang baik mau mendengarkan dan menanggapi kalau ada yang berkeluh kesah dengan nya. Dan ada-ada saja topik yang dibicarakan sehingga merasa betah berlama-lama berbicara kepadanya. Itu lah sedikit kelebihan dari Tedja.
"Mau minum apa om?", tanya seorang pelayan cafe kepadanya.
"Jangan panggil Om dong, aku terkesan tua nantinya. Lagian aku nanti malah diplototin orang-orang karena merasa penasaran bila kamu terus memanggil dengan sebutan om", ucap Tedja sambil tersenyum. Senyuman Tedja juga sanggup membuat setiap teman bicaranya merasa sukacita dan bersemangat.
"Terus aku harus panggil apa dong?", ucap pelayan dengan genit sambil menggoda Tedja.
"Panggil saja Tedja, oh iya nama kamu siapa. Agar kita ngobrolnya enak. Karena sudah saling mengenal", ucap Tedja to the point.
"Tedja, baiklah. Namaku Tessa", ucap Tessa memperkenalkan dirinya.
"Tessa, nama yang bagus", Tedja memuji. Agar bisa semakin kompak.
__ADS_1
"Kamu sudah lama bekerja disini?", tanya Tedja ingin tahu.
"Aku baru seminggu bekerja disini", ucap Tessa polos.
"Mengapa bekerja disini?", tanya Tedja mencari tahu, mencoba menggali dan mengenali Tessa lebih dekat lagi.
"Aku terpaksa bekerja disini, karena aku sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai keluargaku. Aku menjadi tulang punggung keluargaku.
Aku memiliki ibu yang sudah sakit-sakitan dan 3 orang adik yang masih bersekolah di SMP, SD dan terakhir masih 5 tahun. Ayahku sudah meninggal dunia setahun yang lalu", Tessa menceritakan kondisi keluarganya.
"Apakah gaji yang kamu dapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu sehari-hari?", Tedja ingin tahu.
"Sebenarnya sebelumnya aku bekerja sebagai pramuniaga di sebuah swalayan mini market. Aku merasa gaji ku tidak cukup, untuk mememenuhi kebutuhan keluarga, apalagi untuk membeli obat ibu.
Makanya aku beralih profesi sebagai pelayan cafe. Itung-itung ada pelanggan yang memberikan aku tip. Itu sangat ku harapkan", Tessa jujur motivasi dirinya bekerja sebagai pelayan cafe.
Tedja pun manggut-manggut.
Tessa pun hanya diam saja, tidak bisa menjawab pertanyaan Tedja.
"Mengapa kamu diam?, apakah belum ada orang yang mengajak kamu untuk berkencan?", tanya Tedja ingin tahu kejujuran Tessa.
"Sejauh ini saya selalu menolak untuk diajak berkencan, karena memang saya belum pernah melakukannya. Tetapi entahlah mungkin suatu saat nanti saya akhirnya akan menyerah dan terpaksa menyerahkannya karena terhimpit kondisi ekonomi. Karena saya kasihan kepada ibu. Karena tidak bisa berobat secara rutin karena tidak ada uang", Tessa jujur atas keadaan nya.
"Memangnya ibu kamu sakit apa?", tanya Tedja ingin tahu.
"Ibu menderita penyakit ginjal", Tessa memberitahu.
"Saya akan beri kamu uang 10 juta, nanti sekarang juga akan saya transfer ke nomor rekening kamu. Berapa nomor rekening bank kamu?. Mudah-mudahan uang itu bisa kamu gunakan untuk biaya berobat ibu kamu", Tedja langsung mentransfer uang 10 juta ke rekening bank Tessa setelah Tessa memberitahu nomor rekening banknya.
__ADS_1
"Maaf apakah kamu memberikannya secara cuma-cuma atau kamu mengharap kan tubuhku sebagai bayarnya?", Tessa ingin tahu.
"Saya memberikannya secara cuma-cuma. Kamu mau menjadi teman curhatku itu sudah cukup bagiku. Tidak usah merasa sungkan, aku ihklas kok memberikannya", Tedja merasa prihatin atas kondisi Tessa. Baginya Tessa sangat polos dan pekerja keras.
"Benarkah. Oh iya sedari tadi kayaknya kamu tanya kondisi aku melulu. Kamu sendiri apakah sudah mempunyai istri?", tanya Tessa ingin tahu bagaimana kehidupan pribadi Tedja.
"Aku sudah menikah, pernikahan ku ini adalah pernikahan kedua, istri pertama ku sudah meninggal. Dan aku mempunyai anak 5 tahun lebih tua dari kamu", Tedja memberitahu statusnya.
"Terus istri kedua mu bagaimana?, pasti masih muda dan cantik?, mengapa kamu merasa suntuk dan mencari pelarian ke cafe?", Tessa merasa bingung.
"Istriku memang cantik dan masih muda, aku ada sedikit masalah di rumah makanya aku datang kesini. Maaf aku tidak bisa memberitahu kamu, mungkin lain kali aku bisa terbuka dan jujur mengatakan kondisi keluarga ku kepada mu", Tedja jujur.
Tessa pun hanya diam saja. Tessa tahu Tedja seperti ada masalah dalam rumah tangga nya, tetapi tidak bisa terbuka mengatakan dengan jujur apa masalah yang dihadapinya.
"Seperti nya Tedja orangnya baik dan perhatian. Mengapa Tedja merasa seperti banyak masalah dan malah lari ke cafe. Bukankah istrinya cantik dan muda?", Tessa merasa bingung dan penasaran.
"Sudahlah, sebaiknya aku membatasi diri saja kepada Tedja. Takut istrinya nanti malah melabrak dan menampar aku. Aku tidak ingin mencari masalah. Karena aku masih ingin bekerja disini untuk menutupi kebutuhan keluarga ku", gumam Tessa dalam hati.
"Tolong kamu tambahi minuman ku ini", perintah Tedja. Tessa pun langsung menambahi minuman Tedja. Tessa jadi banyak diam setelah tahu kondisi rumah tangga Tedja.
"Kamu tidak usah merasa takut begitu, istri ku tidak akan terlalu banyak bertanya kemana dan dimana aku?. Kamu tidak usah menjadi jaga jarak begitu dari aku", ucap Tedja tegas.
"Bukan...eh.. tidak. Aku hanya bingung dan merasa penasaran dengan kondisi rumah tanggamu. Kalau istrimu cantik dan muda mengapa kamu datang ke tempat ini?", tanya Tessa blak-blakkan.
"Kamu pikir semua kehidupan rumah tangga orang itu lancar-lancar dan aman-aman saja. Tidak ada masalah. Mungkin aku datang ke tempat ini, agar bisa membuat pikiran ku jadi fresh.
Aku butuh teman curhat dan teman bicara. Sudahlah kita bicara lain topik saja. Malas membahas kondisi rumah tangga ku saja", Tedja mencoba mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya Tedja dan Tessa pun berganti topik pembicaraan. Terkadang mereka bermain tebak-tebakan. Dan saling bercerita hobi dan kebiasaan masing-masing. Tedja dan Tessa begitu kompak, akrab dan nyambung bicaranya.
__ADS_1
Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak, senyum senyum dan saling menyentuh tangan masing-masing sambil terbahak-bahak. Tidak terasa waktu sudah larut malam. Tedja pun pamit untuk pulang.