
Shifa sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan nya termasuk mencari design atau penjahit pakaian pengantinnya nanti. Pangestu sendiri menginginkan agar mereka tidak bertemu dulu dengan Shifa, karena ingin mempersiapkan mentalnya sebelum tanggal pernikahan mereka.
Pangestu merasa bosan dan ingin ke pusat perbelanjaan. "Oh iya, aku sangat ingin bertemu dengan Indah, bagaimana kalau aku ke pusat perbelanjaan ketika waktu pertama kali bertemu dengan Indah", gumam Pangestu dalam hatinya. "Kebetulan sekali hari ini adalah weekend", gumamnya menambahi.
"Mudah-mudahan pusat perbelanjaan ini adalah tempat tongkrongan Indah, sehingga aku bisa bertemu dengan Indah", Pangestu sangat berharap di dalam hati nya.
Pangestu pun memulai penyusuran nya, berjalan mencari cari kebagian penjualan pakaian, sepatu dan tas khusus wanita. Tetapi Indah tidak ada disitu.
"Indah kamu dimana?, aku sangat ingin bertemu dengan mu. Kuharap kita bisa bertemu kembali", Pangestu berdoa dalam hatinya.
"Sebaiknya aku kebagian bermain game saja, mudah-mudahan Indah sedang membawa anaknya bermain game", Pangestu menuju arena bermain game.
Diperhatikan nya satu-persatu setiap wajah dari pengunjung yang berkunjung di arena bermain tersebut. Tetapi tidak ada menemukan Indah bersama dengan seorang anak kecil. Hampir saja Pangestu putus asa dan ingin pulang, karena tidak ada menemukan Indah dan anaknya.
Tinggal arena bermain basket yang belum di kunjungi Pangestu. Pangestu sangat terkejut, ternyata Indah sedang asik melempar bola basket ke keranjang sambil teriak dan tertawa menyemangati anaknya. Kebetulan arena bermain basket itu berada pada sudut ruangan arena game tersebut, sehingga sulit ditemukan.
Pangestu memperhatikan terus dari belakang menunggu permainan berhenti. Akibat rindu yang begitu dalam, sesungguhnya Pangestu ingin memeluk erat Indah. Tetapi Indah pasti akan mendorong nya keras, karena malu di depan umum.
Setelah permainan berakhir, Indah langsung balik badan hendak lanjut ke permainan berikutnya. Pangestu secara bersamaan mendekati Indah. Pangestu dan Indah pun saling berhadapan dan bertatapan
"Hai Indah bagaimana kabarmu, maaf kemarin aku langsung meninggalkan kamu. Itu karena teman satu kerja ku menelepon ku, menyuruh aku segera menghampirinya. Karena kami bersamaan datang ke pusat perbelanjaan ini", Pangestu menceritakan Kondisi nya saat pertemuan pertama kemarin.
Indah sedikit lega, ternyata itu hanya teman kerja Pangestu. Indah pun melunak, tadinya indah hampir menarik tangan Arkan untuk segera meninggalkan Pangestu.
Indah hanya diam saja, saat disapa Pangestu.
"Indah kita boleh duduk di restoran itu, sambil bercerita tentang kita?", Pangestu sangat berhati-hati dan lembut berbicara. Agar indah mau menuruti perkataan Pangestu.
Indah pun hanya mengangguk setuju.
"Sayang kita istirahat dulu direstoran itu ya, nanti kita lanjutkan lagi bermainnya", ajak indah kepada Arkan. Arkan pun hanya menurut. Mereka bertiga pun langsung menuju restoran yang ditunjuk. Restoran berada di depan arena bermain.
Mereka bertiga tiba di restoran. Duduk dan diam karena merasa canggung.
"Siapa nama kamu nak?", tanya Pangestu ramah membuka obrolan diantara mereka bertiga.
__ADS_1
"Arkan Om. Oh iya, Om namanya siapa?", tanya Arkan balik.
"Panggil saja, om Pangestu", Pangestu memberitahu.
"Arkan mau tidak, main tembak-tembakan sama om nanti?", ajak Pangestu.
"Mau banget om", Arkan rindu sosok ayah menemaninya bermain.
"Baiklah sekarang kita main yuk", Pangestu mengajak Arkan bermain, mereka pun kembali ke arena bermain game. Indah hanya melihat ke kompakan Pangestu dan Arkan dari jauh.
Setelah lelah bermain mereka pun mendatangi Indah yang sedari tadi melihat mereka dari jauh.
"Arkan kamu jago banget menembaknya, om nilai nya selalu jauh dibawah Arkan", Pangestu memuji Arkan.
"Iya dong, Arkan nanti mau jadi polisi", Arkan penuh semangat berbicara panjang lebar kepada Pangestu.
"Wah hebat dong, bagus itu. Harus kamu perjuangkan terus ya, agar bisa menggapai nya", Pangestu menyemangati Arkan.
"Arkan dan Pangestu terlihat langsung kompak dan nyambung. Memang hubungan darah tidak akan bisa dibohongi", gumam Indah dalam hatinya.
"Hati-hati ya sayang", teriak indah karena Arkan sudah agak jauh posisinya.
"Indah, aku sangat merindukanmu. Entah mengapa aku tidak bisa melupakan mu", Pangestu jujur mengenai hatinya dan mendekatkan posisi duduknya di samping Indah.
"Tidak usah mengatakan hal itu di sini. Malu tahu di dengar orang. Aku juga tidak mau Arkan curiga, melihat kedekatan kita. Malah bertanya yang tidak-tidak nanti", Indah menghindar untuk terlalu dekat duduknya dengan Pangestu.
"Indah apakah kamu tidak merindukan aku?, atau tidak kah kamu ingin kita bersama?", Pangestu ingin tahu perasaan Indah.
Sebenarnya Indah sangat rindu dan juga mencintai Pangestu. Tetapi Indah masih penasaran tidak mungkin Pangestu yang tampan dan masih muda tidak mempunyai teman wanita. Indah berpura-pura tidak menunjukkan rasa cintanya.
"Jangan coba mempermainkan perasaan ku, aku tidak percaya kalau kamu belum mempunyai teman wanita", ucap Indah ingin tahu.
Pangestu pun mencoba berbohong tidak menceritakan masalahnya dengan Shifa.
"Aku tidak mempermainkan perasaan mu Indah, sesungguhnya aku memang sangat rindu dan sangat mencintaimu", Pangestu menggenggam erat tangan Indah.
__ADS_1
"Aku tahu kamu tidak akan mengungkapkan perasaan mu begitu saja. Boleh aku tahu kamu tinggal dimana?", Pangestu ingin tahu alamat rumah Indah.
Indahpun memberitahu alamat rumahnya. Arkan datang menghampiri indah dan Pangestu.
"Om, apa kita bisa bertemu lagi?", tanya Arkan polos.
"Pasti dong", Pangestu menyakinkan Arkan.
"Asyik, mama boleh tidak om Pangestu datang ke rumah. Arkan mau ajak om Pangestu bermain basket di halaman belakang ", Arkan memohon kepada Indah.
Indahpun dengan terpaksa memaui keinginan Arkan.
"Boleh sayang", ucap indah sambil memandang ke arah Pangestu.
"Sekarang aja ma, Arkan tidak sabar ingin bermain dengan om Pangestu", Pangestu senang Arkan memberikan lampu hijau. Padahal sedari tadi Pangestu sibuk memikirkan bagaimana cara mencari alasan agar bisa mendatangi Indah ke rumahnya.
"Sungguh seperti gayung bersambut", gumam Pangestu dalam hati merasa senang.
"Kamu membawa mobil indah?, bagaimana kalau aku yang menyetir mobil kamu. Mobil aku ku tinggal disini saja. Besok aku ambil kembali", Pangestu memberi ide. indah mengangguk mengiyakan pertanyaan nya.
"Asyik, berarti om Pangestu ikut bareng kita pulang ke rumah ya ma?", tanya Arkan begitu bersemangat.
Mereka bertiga pun tiba di rumah. Arkan dengan penuh semangat menarik tangan Pangestu ke halaman belakang tidak sabar untuk segera bermain basket. Pangestu hanya pasrah memaui kemauan Arkan.
Pangestu mengajarkan bagaimana cara mendribel bola, melempar dan merebut dari lawan. Arkan begitu asyik memperhatikan penjelasan Pangestu.
"Om sudah menjelaskan banyak hal kepada mu. Sekarang kamu belajar sendiri dulu ya, mempelajari semua apa yang telah om jelaskan. Om sebentar ingin bicara kepada ibumu", Pangestu meninggalkan Arkan di halaman belakang. Dan
menemui Indah di meja makan yang asik membuatkan minuman segar buat mereka.
Pangestu menanyakan banyak hal, bagaimana kehidupannya selama ini, proses perceraian nya dengan Tedja, dan rumah yang ditempati nya sekarang adalah milik dari indah sendiri.
Serta usaha-usaha yang dijalaninya sekarang ini, yang merupakan kerja kerasnya, bahkan Tedja tidak ada memberikan harta Gono gini, padahal semua itu adalah merupakan perjuangan Indah, setelah kebangkrutan Tedja karena diporoti wanita.
"Maafkan aku ya Indah, ternyata kamu begitu menderita akibat perbuatan ayah. Kamu sendirian menjalani nya, aku malah tidak pernah mencari tahu keberadaan mu", Pangestu meminta maaf sambil menggenggam erat tangan indah.
__ADS_1