
"Terimakasih Indah, akhirnya kamu jadi milik ku", Febri memegang erat tangan indah dengan penuh kegirangan.
"Bagaimana dengan kedua orang tua dan keluarga mu?. Bagaimana kalau mereka tidak bisa menerima kondisi ku saat ini?", Indah ingin tahu tanggapan keluarga Febri kepadanya.
"Kamu tidak usah khawatir begitu. Aku tidak memiliki keluarga, ayah dan ibuku sudah meninggal dunia, aku hanya seorang anak yatim piatu yang selama ini di titipkan di panti asuhan.
Tidak pernah ada keluarga yang menjengukku selama aku di panti asuhan. Pihak panti mengatakan kepadaku, kalau aku dititipkan oleh dinas sosial", Febri menceritakan masa lalunya.
"Benarkah, aku sangat turut prihatin. Tetapi aku masih penasaran, bagaimana kamu jadi sukses seperti ini?", Indah merasa bangga atas keberhasilan Febri saat ini dan ingin tahu perjalanan kisah hidup Febri.
"Setelah tamat SMP aku keluar dari panti asuhan dan hidup di jalanan sebagai pengamen jalanan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mapan menawarkan aku untuk ikut dengannya ke Kalimantan. Laki-laki itu korban perampokan dan aku menolongnya dengan memergoki perampok dengan berteriak dengan sekencang-kencangnya.
Di Kalimantan aku bekerja menjadi buruh di bagian pertambangan batu bara. Kebetulan tubuhku besar dan tinggi. Saat itu aku tidak terlihat seperti tamatan anak SMP.
4 tahun bekerja disana dengan keuletan dan kerja keras. Daripada hidup di jalanan masih lebih baik aku bekerja di pertambangan. Akupun menekuni pekerjaan ku, dan hasil dari keringat ku selalu kutabung. Sambilan aku memperhatikan bagaimana sistem pekerjaan di pertambangan tersebut. Aku banyak bertanya, bergaul, belajar dengan para pengawas tambang.
Singkat cerita ternyata laki-laki mapan, yang bernama pak Rudolph yang membawaku ke Kalimantan. Meninggal dunia dan memberikan seluruh aset kekayaannya kepada ku. Karena dia hidup sebatang kara, tidak ada istri dan anak serta sanak keluarga.
Akupun mau tidak mau harus belajar mengelola seluruh aset pak Rudolph dengan diajari oleh pengacara yang merupakan teman dekat dari pak Rudolf sendiri", Febri memberitahu dengan panjang lebar seluruh kisah hidupnya.
"Kamu sangat beruntung, tidak banyak orang sukses yang nasibnya sama seperti kamu. Ada yang harus berjuang mati-matian, tetapi kehidupannya masih bisa dibilang masih yang pas-pasan.
Ada yang berjuang keras, beruntun nasib baik menyertainya. Ya seperti kamu ini. Kamu harus banyak bersyukur dan melihat orang-orang yang dibawah kamu. Kiranya kamu tidak lupa bagaimana kamu hidup sebelum kamu sukses seperti sekarang ini", Indah memberitahu Febri.
"Kamu benar Indah. Aku sangat ingat bagaimana susah dan menderitanya aku dulu. Aku pun memberlakukan karyawan ku dengan sangat baik. Mereka sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri", ucap Febri manggut-manggut.
Akhirnya Indah dan Febri berusaha saling mengenal satu dengan yang lain. Saling memberikan support dan dukungan ke pasangan masing-masing. Febripun sering datang mengunjungi Indah dan Arkan. Mereka sering jalan bareng ketempat wisata baik di dalam dan luar kota. Arkan semakin kompak seperti hubungan ayah dan anak.
Febri sebenarnya ingin sekali cepat-cepat melamar Indah. Suatu malam ketika Febri mengajaknya untuk makan malam di restoran, tentunya tanpa kehadiran Arkan.
"Indah, mau kah engkau menikah dengan ku?", tanya Febri menyerahkan sebuah cincin berlian kepada Indah.
Indah sangat senang melihat keseriusan dan ketulusan hati Febri. Wajah Indah memerah dan tersipu malu.
__ADS_1
"Maaf Febri, bukannya aku menolak lamaran mu. Bagaimana kalau kita jalani dan nikmati saja dulu hubungan kita ini. Aku sangat penasaran laki-laki seperti kamu tidak ada yang menyukai. Jangan-jangan nanti setelah kita menikah malah ada perempuan lain yang mengaku sebagai pacar atau istri kamu", Indah masih belum percaya kalau Febri tidak ada yang punya.
"Ada perempuan di Kalimantan namanya Shinta. Kemarin sebelum aku balik ke Jakarta. Dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Tetapi aku menolak nya dengan mengatakan kalau hatiku sudah terisi oleh wanita lain, yaitu kamu", Febri jujur.
Indah pun semakin tersipu, dari ungkapan Febri tadi. Indah mengetahui keseriusan hati Febri.
"Hanya itu?", Indah masih ingin menggali informasi.
"Aku tidak tahu apakah ada perempuan yang diam-diam menyukai ku. Hanya Shinta lah yang mengungkapkan perasaannya kepada ku.
Kamu pikir aku pria yang sering keluyuran ke club malam. Dan laki-laki yang suka menggoda wanita?. Maaf sekali Indah, aku bukan tipe laki-laki seperti itu", Febri sedikit kesal, Indah masih tidak mempercayainya.
"Maaf Febri, aku terlalu menyelidiki mu. Salah kamu sih mengapa begitu tampan", Indah terdiam tertunduk dan tidak meneruskan perkataannya.
"Baiklah Indah aku mengerti perasaan mu. Sekarang aku tekankan bahwa aku sangat sayang dan cinta kepadamu. Aku tulus menerima kamu apa adanya. Jangan sedikitpun kamu meragukan itu", Febri menyakinkan Indah.
"Baiklah aku mempercayai mu. Tunggulah dulu kita jalani saja hubungan kita ini ya", Indah memohon kepada Febri. Febripun menyetujuinya.
3 bulan kemudian
Usia kehamilan Shifa sudah memasuki bulan ke tujuh.
Kebetulan hari week end. Pangestu tidak masuk kerja. Dengan sedikit malas, Shifa mencoba beranjak dari tempat tidurnya ingin berusaha melakukan aktifitasnya dengan memasak sarapan pagi.
Tiba-tiba Shifa merasakan sakit pada kepalanya.
"Aduh kepala ku sakit sekali", ucap Shifa pelan sambil memegangi dan memijit-mijit kepalanya. Berharap sakit kepalanya segera hilang.
Ternyata sakit kepalanya tidak kunjung hilang, malah semakin terasa sangat sakit. Shifa pun segera masuk ke kamar mandi, berteriak dengan kencang untuk menumpahkan rasa sakit yang dirasakan nya saat ini. Lama dikamar mandi shifapun segera keluar dari kamar mandi.
Merasa tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya, apalagi perutnya ikut-ikutan terasa keram. Shifa mencoba membangunkan Pangestu.
"Pangestu... Pangestu bangunlah", Shifa menggoyang-goyangkan tubuh Pangestu dengan kencang.
__ADS_1
"Ada apa Shifa, hari ini hari libur. Mengapa membangunkan aku terlalu pagi?", Pangestu sedikit kesal karena terganggu tidurnya.
"Kepalaku sakit sekali, perutku juga tiba-tiba terasa keram", ucap shifa terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Apakah kamu memerlukan obat penghilang rasa nyerinya?. Dimana kamu menyimpan nya biar kuambil kan", Pangestu merasa panik dan tidak tahu apa yang harus diperbuat nya.
"Aduh sakit sekali?. Bawa saja aku ke rumah sakit. Aku tidak mau janinku nanti kenapa-kenapa", Shifa sudah tidak tahan menahan rasa sakitnya.
Pangestu pun dengan cepat langsung mengangkat dan menggendong nya langsung ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.
Begitu tiba di rumah sakit, Shifa langsung ditangani oleh tim dokter. Karena Shifa termasuk pasien yang dalam pemantauan karena kanker yang di deritanya.
Datang salah satu dokter menghampiri Pangestu.
"Pak, kondisi ibu Shifa saat ini sangat lemah. Secepatnya kami akan melakukan operasi untuk mengeluarkan janin Shifa. Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Shifa. Sungguh diluar nalar kami.
Janin Shifa dalam kondisi masih hidup dan sehat. Untuk itu kami akan mengoperasi ibu Shifa untuk mengeluarkan bayinya dari perutnya", dokter minta persetujuan Pangestu.
"Lakukan yang terbaik dokter. Selamat kan juga ibunya. Mungkin dengan kelahiran bayinya bisa membuat Shifa akan lebih kuat dan semakin bersemangat untuk hidup", Pangestu sangat berharap agar Shifa juga bisa diselamatkan.
"Baik pak, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk semua pasien yang sedang kami tangani. Operasi ini mungkin akan memakan waktu 2 jam lebih. Silahkan bapak menunggu dengan sabar.
Dan tentunya doa dan harapan bapak juga sangat diperlukan. Tetap semua nya adalah kehendak dari Sang Pemilik hidup. Untuk informasi-informasi selanjutnya mengenai kondisi dan keadaan ibu Shifa sendiri. Tetap akan kami informasikan kepada bapak", dokter menyakinkan Pangestu.
"Baiklah dokter, saya percayakan nyawa istri saya kepada tim dokter", Pangestu pasrah. Dokter tersebut segera pamit meninggalkan Pangestu di luar ruang pemeriksaan.
Setelah hampir tiga jam, operasi Shifa belum juga selesai. Perasaan Pangestu semakin tidak enak. Dalam hatinya selalu memanjatkan doa dan berharap Shifa bisa selesai ditangani.
Tiba-tiba datang dokter menghampiri Pangestu.
"Pak Pangestu, silahkan masuk ke ruang operasi. Istri bapak lagi kritis, sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada bapak", dokter memberitahu Pangestu, jantung Pangestu berdetak kencang memikirkan kondisi terburuk Shifa.
Pangestu dan dokter tersebut secepat kilat langsung memasuki ruang operasi untuk menemui Shifa.
__ADS_1