Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#50. Pangestu mengantar kerumah indah


__ADS_3

"Terimakasih kamu sudah mau mendengar kan semua apa yang kualami selama ini. Kamu sendiri bagaimana kisah kamu selama hidup di luar, hingga sukses sekarang?", tanya indah penasaran lalu menarik tangan nya dari genggaman Pangestu.


"Aku belum bisa dibilang sukses indah, kamu yang paling beruntung sekarang. Kalau aku nasib ku terasa buntung, aku sendiri tidak tahu harus bagaimana menjalani nya", Pangestu terdiam.


"Maksud kamu apa?, apa yang sedang terjadi sama kamu?", Indah bingung.


"Setahun yang lalu, aku menerima tawaran join untuk membentuk suatu perusahaan patungan. Perusahaan yang kami bentuk bergerak dibidang jasa pengangkutan barang.


Perusahaan kami begitu cepat berkembang. Kupikir itu adalah hasil kerja kerasku. Ternyata ayah Shifa dari salah satu teman join ku. Yang telah memberikan pelanggan untuk memakai jasa perusahaan kami.


Setelah kerja sama kami, hubungan aku dan Shifa menjadi dekat dan kami pun sudah seperti keluarga. Singkat cerita, papa Shifa menderita jantung lemah. Harus menuntut balas Budi dari aku atas bantuan yang diberikannya kepada kemajuan perusahaan yang kami kelola.


Papanya Shifa ingin kami menikah. Terpaksa aku menyetujui hubungan pernikahan itu dengan alasan menjaga kesehatan papa Shifa. Aku tidak bisa menolak mengatakan tidak mencintai Shifa, karena kalau menolak.


Mungkin jantung papa nya Shifa akan kumat dan papanya Shifa akan meninggal dunia. Shifa tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Jadi aku merasa bertanggungjawab untuk melindunginya", Pangestu bercerita panjang lebar dan terlihat sangat sedih.


Indah menjadi prihatin dan kasihan kepada Pangestu.


"Indah, sungguh aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tidak mencintai Shifa. Aku hanya mencintaimu Indah. Apa yang harus aku lakukan. Bantu aku keluar dari masalah ini. Masalah ini sungguh terasa berat kupikul", Pangestu sangat terlihat rapuh dan sedih.


Indah pun merasa kecewa, karena harapan untuk bersama dengan Pangestu sudah pupus. "Karena Pangestu ternyata sebentar lagi akan menikah dengan perempuan lain", gumam indah dalam benaknya.


Tetapi melihat Pangestu yang menjalani begitu bersedih hati, sungguh membuat indah menjadi tidak tega melihatnya.


"Aku tidak boleh menunjukkan kekecewaan ku pada Pangestu, sesungguhnya aku sangat berharap bisa bersama karena Arkan adalah ayah biologis Pangestu.

__ADS_1


Pangestu pun kelihatan akrab dan kompak dengan Arkan, kenyataannya semua hanya mimpi. Aku tidak bisa bersama dengan Pangestu, karena harus balas Budi dan alasan kesehatan. Aku harus memberikan dukungan, support dan semangat buat Pangestu", bathin Indah dalam hati.


"Kalau kamu tidak mencintai Shifa, bukankah kamu juga akan menderita hidup berumahtangga dengan Shifa?, kamu telah menyia-nyiakan hidup kamu dan tidak peduli terhadap kebahagiaan kamu. Sampai kapan sandiwara itu akan berakhir?", ucap Indah pelan.


"Kamu benar, tetapi aku tidak mempunyai pilihan, semua harus di jalankan karena keterpaksaan. Aku juga tidak tahu sampai kapan sandiwara itu akan aku jalani", Pangestu pasrah.


"Indah, maukah kamu menunggu ku?, aku sangat mencintaimu aku ingin hidup bahagia bersama. Mungkin suatu saat nanti, ketika kondisi kesehatan papa nya Shifa sudah membaik dan kuat.


Aku akan mengatakan kenyataannya dan menceritakan sebenarnya kepada papa nya Shifa. Kemudian aku akan menceraikan Shifa", ucap Pangestu sangat berharap.


"Aku tidak percaya kepadamu. Kalian pasangan sah, hidup dalam satu atap. Bagaimana mungkin kamu akan menceraikan Shifa. Shifa gadis yang cantik, pintar dan muda. Itu merupakan kriteria pria masa kini", Shifa menyindir.


"Indah, Tolong percaya kepada ku. Kami sudah membuat kesepakatan. Kalau pernikahan kami tidak akan melakukan hubungan suami-istri, kami tidak akan tidur seranjang", Pangestu memberitahu.


"Bila perlu ketika malam tiba, aku tidak akan menginap di rumah bersama shifa. Agar Shifa tidak bisa menggodaku", Pangestu menyakinkan Indah.


Sejenak Indah hanya diam tidak tahu harus berkata apa lagi. Tiba-tiba Arkan datang menghampiri Pangestu dan Shifa yang sedang asik mengobrol.


"Ma, Arkan istirahat di kamar saja ya, Arkan sangat lelah dan ngantuk", Arkan langsung menuju kamarnya.


"Baiklah sayang", balas indah mencium keningnya.


"Indah, Tolong percaya kata-kata ku ini. Aku sangat mencintaimu, kita sudah lama berpisah. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan mu", Pangestu menggenggam tangan indah begitu erat. Ingin rasanya memeluk indah segera karena rasa kangennya seperti tidak tertahankan lagi.


Begitu juga yang dirasakan indah. Pengakuan Pangestu yang mengatakan begitu cinta dan ingin hidup bersama dengan Indah. Rasa kangennya pun tidak bisa dibendungnya lagi, Indah juga ingin mengatakan kalau Arkan adalah anak biologis nya.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintai dan rindu kepada mu Pangestu. Kamu jahat sekali tidak ingin mencari keberadaan ku", Indah menangis memukul-mukul dada Pangestu. Pangestu pun langsung memeluk indah dengan erat.


"Maafkan aku, kupikir kamu masih bersama ayah. Setelah kamu menjauhi aku, aku berpikiran kalau kamu sangat berharap dan ingin menjalani kehidupan normal dan bahagia bersama ayah", Pangestu mengusap lembut rambut Indah.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi Indah", Pangestu ******* bibir indah, tidak bisa lagi menahan hasrat dan rasa rindunya yang begitu dalam. Begitu juga Indah ******* penuh nafsu seolah ingin menumpahkan rasa rindunya selama bertahun-tahun tidak bertemu.


Karena di rumah kebetulan tidak ada siapa-siapa. Mereka berdua seolah tidak ingin berpindah tempat, melakukan adegan panasnya di lantai di samping meja makan. Kini mereka sudah tanpa busana.


Karena keinginan masing-masing yang begitu menggebu-gebu. Dan hasrat masing-masing yang begitu tinggi, karena sudah lama juga tidak pernah melakukan hubungan suami-istri. Mereka pun langsung melakukan permainan akhirnya.


Setelah selesai mereka baru tersadar ada masalah besar dan jurang yang membuat mereka tidak boleh bersatu. Buru-buru indah langsung mengenakan pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk segera bersih-bersih.


Setelah Indah keluar dari kamar mandi Indah merasa malu menatap mata pangestu, dan hanya tertunduk.


"Sayang, secepatnya aku akan menceraikan Shifa. Kamu tidak perlu malu kepada ku", Pangestu memeluk Indah.


"Sebenarnya aku tidak merasa yakin. Shifa sangat mencintaimu, kamu pasti akan luluh sehingga mencintainya. Karena di rumah dan di kantor kalian saling bertemu", Indah melepaskan pelukannya dan langsung menuju wastafel.


Ada keraguan yang begitu dalam dirasakan nya saat ini. Hubungannya dengan Pangestu tidak akan bisa menyatu. "Orang pasti akan mencap aku sebagai wanita ke tiga sebagai perebut suami orang", gumam indah dalam benaknya.


"Mengapa kamu terkesan menghindari ku. Seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Katakan saja, aku siap mendengarkan semua unek-unek mu", Pangestu merangkul Indah dari belakang.


"Lupakan hubungan mesra kita tadi. Anggap saja kita khilaf. Aku sadar aku tidak bisa mengendalikan rasa rinduku.


Memang kita berdua saling mencintai, tetapi hubungan dan status kita bukan sebagai suami istri. Hubungan mu sah sebagai suami istri dengan Shifa. Kalau aku ada diantara hubungan kalian. Aku adalah Pelakor, perempuan perebut suami orang. Ku mohon kamu menjauhlah dari hidupku. Aku sudah cukup nyaman hidup berdua dengan Arkan", Indah menolak Pangestu

__ADS_1


__ADS_2