Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#6. 3 bulan awal kehamilan Indah, Tedja lebih banyak waktu di rumah.


__ADS_3

Rasa mual yang di rasakan Indah berusaha dia sembunyikan di depan Tedja.


Setelah sebulan sejak kepulangan Tedja dari luar kota. Barulah Indah blak-blakan menunjukkan rasa mualnya.


"Uuuuaaaakkk....uuaakkk", Indah langsung lari ke arah kamar mandi.


"Kamu kenapa sayang", tanya Tedja penasaran dan ingin tahu kondisi istrinya.


"Tidak tahu sayang, mungkin masuk angin barang kali", Indah berpura-pura tidak tahu.


"Jangan sepele sayang, harus segera diperiksa ya. Sekarang juga kamu aku antar ke klinik", Tedja tegas, langsung berbenah dan menyuruh Indah langsung siap-siap an. Indah pun tidak berani lagi membantah.


Diperjalanan ke arah klinik


"Sayang apa mungkin kamu hamil?", tanya Tedja mencoba menebak.


"Karena usia pernikahan kita juga sudah sudah 2 bulan lebih. Tidak menutup kemungkinan juga kamu hamil", Tedja merasa yakin.


"Kalau aku hamil bagaimana sayang", Indah ingin tahu pendapat Tedja.


"Kalau kamu hamil bagus dong, aku juga ingin anak dari kamu. Sia-sia dong aku nikahin kamu, kalau kamu tidak memberikan keturunan kepada ku", ucap Tedja berpura-pura serius dan tegas.


"Memangnya kamu tidak suka jadi ibu?, kenapa wajahmu tidak bersemangat begitu?", Tedja bingung ekspresi Indah tidak bahagia.


"Bukan begitu sayang, aku senang kok. Aku hanya sedikit lemas dengan kondisi mual dan pusing yang kurasakan saat ini. Karena baru perdana hamil. Aku langsung kebayang sakit saat melahirkan, dan repot saat mengurusinya", Indah menyembunyikan perasaan nya.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu sudah takut duluan itu tidak boleh, Nanti seiring waktu berjalan kamu pun akan terbiasa. Semua itu harus dilakukan dengan ikhlas agar tidak merasa terbebani. Diberkahi bisa hamil harusnya kamu bersyukur.


Diluar sana banyak wanita ingin hamil, tetapi tidak kunjung hamil. Jadi sekarang kamu harus semangat dan optimis, ada mas yang akan menjadi suami siaga untuk kamu. Semangat sayang!", Tedja menasihati dan menghibur Indah.


Maklum usia Tedja sudah lanjut, jadi lebih dewasa pemikiran nya. Tedja pun berusaha memberi dukungan kepada Indah, sang istri yang usianya jauh lebih muda. Indah hanya diam saja.


Mereka pun tiba di klinik. Setelah dokter memeriksa bagian perut pada tubuh Indah melalui USG.

__ADS_1


Dokter memberi kesimpulan.


"Selamat ya pak, istri bapak saat ini telah hamil Memasuki usia kira-kira 6minggu. Karena usia kehamilan masih terbilang muda. Jadi masih rentan. Mohon dijaga fisik dan mental istrinya. Jangan stress dan banyak pikiran", dokter memberitahu hasil pemeriksaan.


"Benarkan apa yang kubilang, kamu pasti hamil. Sebentar lagi aku akan mempunyai anak", Tedja begitu senang. Indah pun berpura-pura menunjukan wajah yang bahagia.


Begitu tahu Indah hamil, Tedja pun tidak pernah keluar kota. Tedja beralasan kalau ia ingin mendampingi istrinya, takut ada yang dibutuhkan dengan segera tetapi tidak ada yang menemani. Bahkan ke mall, Tedja selalu memaksa untuk ikut menemani.


Pertemuan Pangestu dan Indah pun hanya sebatas sapa menyapa ketika sarapan pagi di meja makan.


Pernah ketika tedja sudah pergi ke kantor, malah tiba-tiba balik dengan alasan. "Enakan menjaga istri di rumah", ucap Tedja santai. Urusan bisnis di serahkan kepada pengawal nya. Hampir saja ketahuan hubungan rahasia antara Indah dan Pangestu.


Kala itu, begitu Tedja berangkat dari rumah. Dengan cepat Pangestu langsung cabut dari kamarnya ingin menuju kamar Indah.


Belum juga Pangestu sampai di kamar Indah. Tiba-tiba klakson mobil Tedja tiba-tiba berbunyi, itu artinya Tedja balik ke rumah. Buru-buru Pangestu langsung masuk ke kamarnya.


Terkadang kalau tedja tidak sempat balik ke rumah, Tedja hampir setiap 10 menit, telpon untuk menanyakan kabar dan kondisi Indah.


Akibatnya Indah kesal seperti dikekang oleh Tedja.


"Mas, aku tidak apa-apa sendiri. Mas seperti mengawasi aku jadinya. Aku tidak suka merasa dibatasi kayak gini. Nanti kalau ada kenapa-kenapa aku kan bisa kabari kamu secepatnya nya sayang melalui telepon", Indah sedikit ngambek.


"Memangnya ada hal rahasia kamu, yang tidak boleh aku tahu ya. Aku menduga nya begitu, kalau tidak mengapa kamu begitu marah kalau aku berlama-lama di rumah atau sering-sering telepon", Tedja menuduh Indah.


Indah langsung kelagapan, merasa kalau Tedja mengetahui hubungan rahasianya dengan Pangestu. Indah langsung buru-buru menepis prasangka Tedja.


"Bukan seperti itu maksud ku mas, aku bersumpah tidak ada hal yang kututup-tutupi dari kamu. Cuma aku merasa tidak nyaman saja", Indah melunak dan memijit-mijit tangan Tedja dengan manja. Agar Tedja tidak memberikan pertanyaan yang membuatnya jadi tersudut.


"Ya sudah kalau kamu tidak ada yang ditutup-tutupi, mengapa kamu jadi merasa risih atau takut. Harusnya kamu senang suami kamu perhatian dan berada selalu di dekat kamu. Ini malah ingin suaminya jauh", Tedja ketus dan sedikit marah.


"Iya deh sayang, aku senang kok kamu dekat-dekat dengan aku. Aku hanya merasa kamu curigai saja", Indah mengalah, takut Tedja akan marah.


"Kalau tidak apa-apa, kenapa jadi marah. pie to. Ngomongnya kok bolak-balik", ucap Tedja. langsung menarik selimutnya dan menutup matanya.

__ADS_1


Dalam pikiran Tedja sedih juga membuat Indah merasa terkekang dan diawasi begitu. Padahal dalam pikiran Tedja tidak ada maksud seperti itu, Tedja hanya menunjukkan perhatian yang sangat berlebihan. Maklum Tedja sangat mencintai Indah.


Mereka pun hanya diam membisu.


****.


Usia kehamilan Indah sudah memasuki bulan ke 4.


"Sayang, Bagaimana perasaan mu. Apakah rasa mual dan muntah mu masih sering datang?", tanya Tedja ingin tahu.


"Sepertinya sudah pulih mas, aku sudah tidak mual dan muntah lagi", ucap Indah datar.


"Baguslah, kata dokter sih seperti itu. Memasuki bulan ke 4. Mual dan muntah akan hilang dengan sendirinya", Tedja memberitahu apa yang diinformasikan dokter kandungan kala periksa kehamilan kemarin.


Sikap Indah dingin dan datar. Tedja maklum.


"Karena kehamilan Indah sudah melewati masa rentan, baiknya aku memang tidak terlalu mengawasi Indah", pikir Tedja dalam hati.


Ketika sarapan pagi, seperti biasa Tedja, Indah dan Pangestu makan bersama-sama di meja makan. Suasana sepi dan tidak ada yang saling bicara.


"Kapan kamu wisuda Pangestu?", tanya Tedja memulai pembicaraan.


"Pangestu tinggal menuju meja hijau yah, Kalau tidak ada perubahan meja hijau bulan depan. Kalau sudah meja hijau kan sudah beres. Tinggal penobatan nya saja dilaksanakan 3 bulan lagi", ucap Pangestu datar dan tidak bersemangat.


"Baiklah, kalau ada perlu nanti kamu telpon ayah, atau bilang ke ibumu saja ya. Ayah hari ini mau ke luar kota kemungkinan ayah akan seminggu disana", ucap Tedja memberitahu.


Spontan Pangestu batuk-batuk, Indah pun langsung mengangkat kepalanya menatap Tedja. Tadi nya Indah sarapan sambil menunduk lesu tidak bersemangat.


"Baiklah ayah berangkat sekarang", Tedja pamit sambil mencium kening Indah.


"Hati-hati di jalan sayang", ucap Indah tersenyum.


Begitu juga Pangestu "Hati-hati yah", ucapnya begitu bersemangat.

__ADS_1


Baik Indah dan Pangestu sama-sama saling bertatapan penuh keceriaan. Seolah mengisyaratkan sesuatu dan tidak sabar untuk segera melakukan nya.


__ADS_2