Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#46. Pangestu menolak shifa


__ADS_3

Pangestu tiba di rumah Shifa sebelum pukul 7 malam.


"Halo Shifa!, aku sudah sampe depan rumah kamu ni. Kamu turun dong?", Pangestu memberitahu lewat telepon kalau dirinya sudah tiba di depan rumah Shifa.


"Ok.ok. Aku turun ya", jawab Shifa cepat begitu tahu handphonenya ada panggilan dari Pangestu.


"Hai, cepat banget sampainya, belum juga jam 7 malam", sapa Shifa saat Pangestu datang sebelum waktu yang ditentukan"Nanti aku telat datang, kamu marah. Sebelum tiba waktunya aku datang tetap aja tidak di apresiasi. gimana sih?. Ya sudah, aku balik lagi ya", Pangestu berpura-pura ngambek.


"Ee..ee... Bukan begitu maksud aku. Iya deh maaf", Shifa menarik tangan Pangestu karena Pangestu ingin balik pulang.


"Ayo, aku antar kamu ketemu papa", Shifa menggandeng tangan Pangestu. Pangestu pun hanya pasrah menuruti ajakan Shifa.


"Kamu tunggu dulu disini ya, sebentar aku panggilkan papa kemari", Shifa langsung meninggalkan Pangestu di ruang tamu. Pangestu mengangguk-anggukan kepalanya.


Tidak beberapa lama, Burhan pun datang menemui Pangestu di ruang tamu.


"Hai Pangestu, sudah lama menunggu?", ucap Burhan membuka obrolan.


"Tidak om, baru aja kok", balas pangestu tersenyum lebar.


"Oh iya silahkan duduk", Burhan mempersilahkan Pangestu. Sekalian Shifa permisi ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Bagaimana bisnis yang kalian jalankan, apakah aman?, bagaimana perkembangannya?", tanya Burhan kembali membuka obrolan, kebetulan Shifa sedang di dapur membuatkan teh.


"Syukur saat ini aman dan sangat cepat berkembang om", Pangestu memberitahu dengan penuh semangat.


"Iya, saya tahu. Kamu tahu tidak mengapa bisa cepat berkembang?", Burhan sejenak terdiam, menunggu jawaban Pangestu.


"Mungkin karena usaha dan kerja keras kami om", ucap Pangestu polos.


" Asal kamu tahu. Ini bukan karena kerja keras kalian semata", ucap Burhan sejenak terdiam.


"Maksud om apa?", tanya Pangestu bingung.

__ADS_1


"Begini ya Pangestu. Kamu tahu tidak semua klien dan pelanggan kamu?. Itu adalah perusahaan milik saja dan beberapa klien saya. Shifa telah membujuk saja agar perusahaan saya dan beberapa klien saya memakai jasa pengangkutan dari perusahaan patungan kalian.


Jadi dengan kata lain, tanpa bantuan saya perusahaan kalian tidak akan bisa berkembang", Burhan memberitahu yang sebenarnya. Pangestu terdiam, merasa malu dan kecewa, ternyata kesuksesan nya bukan karena kerja kerasnya tetapi karena bantuan dari papanya Shifa.


"Iya om, terimakasih banyak atas bantuan om selama ini, yang membuat perusahaan kami bisa berkembang dengan sangat cepat", Pangestu berterimakasih, memberikan apresiasi atas bantuan Burhan.


"Maksudnya begini loh Pangestu. Shifa itu cinta dan sayang sama kamu, Sekarang giliran kamu dong yang membalas budi baik nya. Saya juga sudah tua, saya sangat berharap sebelum meninggal. Shifa sudah menikah dan mempunyai anak.


Kamu tahu sendiri kan, Shifa tidak ada siapa-siapa lagi selain saya. Sebelum saya meninggal saya sudah yakin kalau Shifa sudah bersama dengan orang yang tepat. Shifa ada yang melindunginya ketika saya sudah meninggal dunia", Burhan sangat berharap.


"Tetapi om, saya menganggap Shifa selama ini adalah sebagai adik saya sendiri. Tidak lebih daripada itu", Pangestu jujur mengatakan perasaannya.


"Rasa sayang itu bisa tumbuh seiring waktu. Ketika kalian sudah menikah, pasti seiring waktu kamu akan mencintai Shifa", Burhan menasihati Pangestu.


Pangestu menjadi bingung, disaat sekarang dirinya bertemu dengan Indah. Rasa rindu yang begitu dalam dan ingin mencari keberadaan Indah. Malah dihadapkan dengan harus segera menikahi Shifa, padahal Pangestu tidak ada rasa sama sekali terhadap Shifa.


Tiba-tiba Shifa datang membawa minuman dari dapur. Burhan pun menghentikan pembicaraan nya terhadap Pangestu.


"Silahkan diminum papa... Pangestu. Oh iya kenapa berhenti bicara?, tadi Shifa dengar dari dapur seperti nya sedang asik bicara", Shifa merasa bingung.


"Oh begitu, kita makan yuk pa, Shifa sudah lapar ni", Shifa mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena antara Burhan dan Pangestu terlihat canggung dan bingung tidak tahu apa yang harus diceritakan. Mereka pun akhirnya menuju meja makan, menikmati sajian makanan yang sudah disediakan oleh mbok Marni.


"Pa, setelah makan nanti. Kami akan keluar sebentar ya. Cari angin", Shifa minta izin agar diizinkan keluar bersama Pangestu.


"Oh, boleh-boleh saja. Pulangnya jangan kemalaman ya", Burhan memberi izin.


Begitu selesai makan.


"Kita berangkat sekarang ya Pangestu", ajak Shifa begitu selesai menyantap makanan penutup.


Pangestu langsung mengangguk-angguk.


"Sebentar ya, aku ambil tas dulu", Shifa pergi ke kamarnya untuk mengambil tas nya.

__ADS_1


Ketika Shifa pergi ke kamarnya, Burhan pun kesempatan mengingatkan Pangestu atas semua yang telah dibicarakan nya tadi kepada Pangestu.


"Nak Pangestu, tolong kamu pertimbangkan apa yang om bicarakan tadi. Kalau tidak perusahaan om dan beberapa klien om yang sudah menggunakan jasa pengangkutan dari perusahaan bentukan kalian akan om tarik.


Sebenarnya Shifa bisa saja menggantikan posisi saya di perusahaan saya. Tetapi karena Shifa sangat mencintai kamu, makanya ia ingin membentuk perusahaan patungan kalian", Burhan memberitahu dengan tegas.


"Iya om", Pangestu menjawab pelan.


Di dalam mobil Shifa merasa penasaran ingin tahu apa yang dibicakan antara Pangestu dan Burhan. "Sepertinya obrolan mereka begitu serius", gumam Shifa dalam hatinya.


"Apa sih yang kalian bicarakan, kelihatan nya serius banget", Shifa ingin tahu.


Pangestu menarik nafas dalam-dalam, merasa bingung. Apakah akan terbuka mengatakan segalanya kepada Shifa atau menyembunyikan.


"Tetapi kalau disembunyikan berarti aku harus menyetujui pernikahan ini, padahal aku tidak mencintai Shifa. Aku harus jujur mengatakan yang sebenarnya kepada Shifa kalau aku tidak mencintai nya", gumam Pangestu dalam benaknya.


"Ayahmu mengatakan kalau perusahaan bentukan kita adalah karena usaha dari ayah kamu untuk membujuk kliennya untuk menggunakannya jasa pengangkutan kita. Dan katanya lagi agar kita segera menikah", Pangestu memberitahu segalanya.


Shifa hanya diam saja, menunggu Pangestu meneruskan perkataannya.


"Shifa, selama ini aku hanya menganggap kamu sebagai adik. Aku tidak mempunyai perasaan untuk menjadikan mu sebagai istriku", Pangestu mengungkapkan perasaannya.


"Pangestu aku sangat mencintaimu, bahkan sejak awal masuk perkuliahan dulu aku sudah menyukaimu. Kamu terlalu cuek dan tidak pernah mau memperhatikan aku. Aku tidak dapat hidup tanpa mu", Shifa menangis.


"Mengapa kamu tidak ingin mencoba untuk menyukai ku. Secara memang kamu selama ini kan tidak ada pacar. Mengapa kita tidak mencobanya Pangestu", Shifa sangat berharap.


"Memang saat ini aku belum mempunyai pacar. Tetapi aku mempunyai kehidupan di masa lalu, aku pernah berhubungan dengan seorang wanita, dan wanita itu telah mengisi hatiku.


Aku bahkan sangat rindu kepadanya. Maafkan aku Shifa, aku tidak bisa mencoba untuk berhubungan dekat dengan kamu. Diluar sana banyak pria yang lebih baik dari aku.


Pilihlah salah satu yang terbaik diantara mereka, kamu cantik, pintar dan mempunyai segalanya. Aku pikir banyak pria yang akan menyukai kamu", Pangestu menolak Shifa.


"Kamu tidak boleh memaksakan perasaan ku untuk menyukai pria lain di luar sana", Shifa cemberut.

__ADS_1


"Aku pun sama Shifa, kamu tidak boleh memaksakan aku untuk mencintaimu. Aku mencintai wanita lain selain dirimu", Pangestu tidak mau kalah.


__ADS_2