Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#60. Shifa dan Pangestu berangkat


__ADS_3

Hari ini adalah hari keberangkatan Shifa dan Pangestu ke luar negeri. Pangestu sama sekali tidak ada kesempatan luang untuk menghubungi atau menelepon balik Indah.


Karena Shifa selalu nempel terus dengan Pangestu. Akhirnya Pangestu hanya memberitahu keberangkatan nya kepada indah melalui via WA. Pangestu pun menchatting Indah setelah bangun pagi dan bersiap-siap untuk mandi.


"Sayang, maaf aku baru memberitahu mu sekarang. Aku berangkat ke luar negeri hari ini. Jaga dirimu dan Arkan ya. Sampai jumpa di kemudian hari. Aku akan memberitahu mu kapan aku kembali dari luar negeri", tulis Pangestu pada pesan WA nya.


Pesan WA nya masih tanda centang satu, artinya Indah sedang tidak mengaktifkan data seluler nya.


Dua jam sebelum keberangkatan pesawat. Shifa dan Pangestu sudah bergerak dari rumah menuju bandara. Karena diperkirakan waktu tempuh dari rumah ke bandara akan memakan waktu sekitar 45 menit kalau kendaraan lancar, atau tidak macet.


Kalau kendaraan ramai dan macet maka waktu tempuh bisa mencapai hampir satu jam. Artinya waktu keberangkatan menuju bandara sangat mepet.


"Titip Shifa ya Pangestu. Kamu harus jaga dan senangkan Shifa. Kuserahkan Shifa kepadamu", ucap Burhan singkat memberi pesan kepada Pangestu.


"Baik pak", angguk Pangestu sambil mencium tangan Burhan diikuti Shifa dari belakang pamit kepada Burhan,


"Papa juga jaga diri dan kesehatan papa ya", ucapnya


Setelah Pangestu check in dan waktunya untuk masuk ke dalam pesawat. Pangestu sebentar membuka handphone nya. Ingin tahu balasan chatting an dari Indah. Karena Pangestu rindu sapa an berupa nasihat atau motivasi dari Indah.


Raut wajah Pangestu tampak sedikit berkerut. Bagaimana tidak pesan WA yang dikirimkan kepada indah hanya di baca tanpa ada balasan.


"Mengapa tidak ada sepatah kata pun?. Padahal aku sangat ingin sapaan nasihat dan dorongan dari kamu indah", gumam Pangestu kesal di dalam hatinya.


Apa yang dirasakan Pangestu, begitu jugalah yang dirasakan Indah. Kala indah butuh sapaan, informasi keberadaan Pangestu, maklum Pangestu telah jauh dari nya.


Tetapi Pangestu seperti tidak punya waktu sedetikpun yang bisa di luangkan untuk berbicara melalui telepon. Sebegitu sibuk kah sehingga tidak bisa meluangkan waktu sedetik pun", gumam Indah begitu kesalnya.


Indah pun ingin membalas kan apa yang dirasakan nya kepada Pangestu. Makanya pesan wa dari Pangestu hanya di baca, tanpa memberikan balasan.


Pangestu pun jadi tanda tanya.


"Apakah kamu marah kepada ku indah, apakah kamu sudah tidak peduli lagi kepadaku?", Pangestu tidak tenang, sedari tadi begitu gelisah di bangkunya.

__ADS_1


"Kamu mengapa sih sayang. Mengapa wajah kamu cemberut begitu. Bersenang-senang dong", sapa Shifa melihat Pangestu sedari tadi begitu gelisah, banyak diam dan cemberut.


"Tidak kok. Aku hanya merasa kurang enak badan. Sebentar aku menenangkan diri pasti sudah agak baikan. Kamu tidak usah pikir kan aku. Nikmati saja setiap momen perjalanan kamu", Pangestu mencari alasan dan segera menyandarkan kepala nya pada kursi dan segera menutup matanya.


Bermaksud untuk menenangkan pikirannya. Pikirannya menerawang kepada Indah, belum juga tiba di luar negeri tetapi Pangestu merasakan sangat jauh dari Indah


Shifa tahu apa yang ada dalam pikiran Pangestu.


"Pasti Pangestu kesal karena indah tidak membalas pesan wa nya", gumam Shifa dalam hati. Karena Shifa selalu memperhatikan aktifitas Pangestu. Sebelum Pangestu ke kamar mandi hendak mandi setelah bangun tidur tadi. Shifa telah memeriksa handphone nya Pangestu dan membaca chatting an Pangestu kepada Indah.


"Lagi-lagi indah, merusak moment kebahagiaan ku", Shifa menggerutu di dalam hatinya.


Setelah beberapa lama membiarkan Pangestu menenangkan diri. Akhirnya Shifa mencoba menyapa Pangestu.


"Sayang, apakah kamu masih tidur?. Bangun dong, kita tebak-tebakan yuk!. Bete tahu", Shifa berusaha terus membangunk an Pangestu. Tetapi Pangestu tidak juga membuka matanya, Pangestu terus berpura-pura tertidur lelap.


Shifa pun ikut-ikutan memejamkan matanya, berpura-pura tidur. Karena tidak ada yang bisa diperbuatnya.


"Uhhh, baru berangkat saja suasana sudah bete begini. Bagaimana nanti setelah tiba di tempat tujuan?", Shifa terus menggerutu.


"Aduh, sakit...sakit sekali", Shifa terus berteriak kesakitan.


Pangestu terbangun mendengar teriakan Shifa.


"Shifa, kamu kenapa", ucapnya panik, tidak tahu apa yang harus di perbuat nya.


"Kepala ku sakit sekali, seperti di tusuk-tusuk begitu", ucapnya sambil memegangi kepalanya berusaha menahan sakitnya.


"Apa yang harus kulakukan?, apakah kamu mempunyai obat untuk menghilangkan rasa perih dan nyeri itu?", tanya Pangestu bingung harus melakukan apa. Pangestu berusaha memberikan air minum, tetapi Shifa menolaknya.


"Tolong kamu ambil obat yang wadahnya botol pada tas aku. cepatlah sakit sekali, aku tidak tahan lagi menahannya", Shifa memberitahu apa yang harus di lakukan Pangestu.


Dengan cekatan Pangestu langsung mencari-cari tas Shifa dan langsung memeriksa nya. Ternyata benar, ada botol obat berada di dalam tas Shifa.

__ADS_1


Pangestu pun segera memberikannya pada Shifa untuk segera diminum. Shifa pun segera menenangkan diri bersandar pada jendela pesawat. Menunggu obatnya berproses.


Pangestu terus memegangi tangan Shifa sambil memijit nya pelan-pelan. Maklum Pangestu begitu ketakutan dan panik melihat Shifa yang tiba-tiba berteriak kesakitan.


Setelah hampir setengah jam berlalu, Shifa terbangun dari tidurnya, membuka mata nya dan melihat ke sekelilingnya. Shifa merasa sudah baikan.


"Bagaimana kondisi kamu?, apakah kamu sudah baikan?", tanya Pangestu ingin tahu kondisi Shifa.


"Sudah baikan kok, nyerinya sudah hilang", ucap Shifa tersenyum kecil.


"Tadi aku begitu ketakutan dan panik. Aku bingung tidak tahu apa yang bisa kuperbuat. Untuk kamu punya obat penghilang rasa nyerinya", Pangestu mengungkapkan ketakutannya.


"Begitulah kondisi ku, bila sedikit saja berpikir atau merasa stress. Kepalaku rasanya langsung nyeri dan seperti ditusuk-tusuk", Shifa memberitahu mengenai penyakitnya.


"Benarkah", Pangestu manggut-manggut mencoba memahami kondisi penyakit Shifa.


"Kamu sih, bawaannya cemberut, diam, dan tidak mau ngajakin aku ngomong. Aku jadi merasa bete dan kesal", Shifa menyalahkan Pangestu.


"Benarkah. Oh kalau begitu aku minta maaf ya. Aku akan mencoba untuk selalu membuat kamu bahagia", Pangestu menjadi merasa bersalah.


Shifa senang, Pangestu mengerti akan kondisi dan perasaan nya.


"Sayang aku sudah tidak sabar ingin segera tiba di Perancis, Aku sudah tidak sabaran ingin menginjakkan kakiku di menara Eiffel.


Aku juga ingin menaiki tangga hingga ke puncak menara Eiffel. Pasti pemandangan nya akan sangat indah, karena seluruh kota akan terlihat dari atas. Kota Perancis katanya akan terlihat lebih indah bila dilihat pada malam hari.


Suasananya akan terasa sangat romantis, dengan lampu-lampu hias yang berupa warna dan berbagai bentuk", Shifa membuka obrolannya dengan sangat antusias dan bersemangat


"Iya, aku juga tidak sabar. Oh iya memangnya kamu sanggup menaiki tangga di menara Eiffel hingga ke puncaknya?", Pangestu merasa kurang yakin dengan kondisi Shifa.


"Kalau aku tidak sanggup kan ada kamu yang akan menggendongku", goda Shifa sambil tersenyum.


Pangestu langsung menunjukkan raut wajah penuh ketakutan.

__ADS_1


"Ya nggak dong sayang, masak iya kamu harus menggendong aku sampai ke puncak. Kan disana ada juga disediakan liftnya, kalau aku merasa sudah tidak sanggup lagi. Ya kita naik lift saja", Shifa segera mengklarifikasi perkataannya. Pangestu pun merasa sedikit lega.


__ADS_2