Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#86. Shinta datang menemui Indah ketika Febri tidak di rumah


__ADS_3

"Bodoh sekali kamu Febri, mau kepada Indah yang seorang janda yang sudah mempunyai anak. Apa istimewanya Indah sampai-sampai tergoda untuk lebih memilih Indah daripada aku. Jelas-jelas aku lebih muda, lebih cantik, pintar bahkan aku sangat seksi.


Pasti Indah telah membuat guna-guna atau pelet agar Febri begitu tertarik dan mencintai Indah", Shinta berusaha membanding-bandingkan dirinya dengan Indah dengan kesal dan mengumpat Indah di dalam hatinya.


"Apa pun yang kau lakukan Indah kepada Febri untuk menggoda dan merayu Febri. Aku akan gunakan segala cara untuk mendapatkan Febri. Aku juga bisa menggunakan cara dan usaha licik seperti kamu", Shinta memegangi jimat yang dikalungkan pada lehernya yang sudah di beri doa dan mantra oleh nenek Shinta, agar Febri tertarik dan suka kepada Shinta.


"Sebentar lagi jimat ini akan berhasil khasiatnya. Aku sudah mengucapkan Mantra sambil memegangi jimat ini. Aku mengucap Mantra agar Febri suka kepada ku dan benci kepada Indah Mantra untuk Indah sudah kuucapkan yaitu agar Indah terus merasa cemburu, marah dan berkata kasar kepada Febri, sehingga Febri akhirnya bisa benci dan minta cerai kepada Indah", gumam Shinta penuh kemenangan dan kepuasan.


"Untuk lebih memujarabkan guna-guna ku, nanti malam aku akan menjalankan ritual mandi kembang agar auraku lebih terpancar. Maka Febri akan semakin tergila-gila kepada ku", gumam Shinta menambahi.


Shinta penuh kepuasan lalu melangkah pulang ke rumah, setelah membeli perlengkapan dan kebutuhan nya di mall.


Shinta pun menjalankan ritual mandi kembang tujuh rupa di apartemennya pada tengah malam dan tidak lupa membaca doa dan mantra. Niat dan keinginan Shinta begitu keras dan dalam untuk mendapatkan Febri.


Karena Shinta merasa sakit hati dan tidak terima ketika Febri menolak cintanya dulu. Entah mengapa Shinta begitu terobsesi dan tidak bisa melupakan dan menerima Febri yang sudah menikah dengan wanita lain.


Semakin Shinta berusaha melupakan Febri. Semakin kuat keinginannya untuk mendapatkan Febri, cintanya begitu dalam kepada Febri. Tidak tahan menahan rindunya untuk segera bertemu dengan Febri, makanya Shinta berusaha datang ke Jakarta dan mencari kerja di Jakarta.


Akibat pertemuannya di mall dengan Febri, membuat Shinta semakin kuat dan yakin bahwa jimat yang telah diminta dari neneknya sudah bekerja dengan baik.


Semakin percaya diri Shinta, sebentar lagi akan mendapatkan Febri.


"Febri aku tidak sabar lagi menunggu momen Indah, bahwa kita akan menjadi suami istri. Kamu akan bertekuk lutut dan tergila-gila kepada ku", Shinta merasa yakin.


Selesai menyelesaikan ritual mandi kembang nya Shinta pun segera masuk ke kamarnya. Sebentar berhayal dan membayangkan, bahwa kamar ini akan hadir sosok Febri yang sangat di cintai nya. Shinta pun akhirnya tertidur pulas dan nyenyak.


***


Sebelum tidur Indah selalu membiasakan untuk sujud berdoa memohon kepada Sang Pencipta. Setelah bertemu dengan Shinta entah mengapa perasaan nya tidak enak begitu terasa sesak dan seperti ada hal yang mencoba mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Indah pun sujud berdoa dengan khusuk.


Tuhan, ku bersyukur atas kemurahan Mu telah memberikan Febri untuk menjadi suami hamba.


Bukan karena keinginan hamba melainkan karena kehendakMu.


Tolong Tuhan jangan ambil suami hamba daripada hamba.


Apapun itu yang mencoba untuk merebut Febri dari hamba, jauhkan lah ya Tuhan.


Satukan lah kami selamanya, sebagaimana janji kami berdua di hadapan Mu, agar kami tidak bercerai kalau tidak karena kematian yang telah menceraikan kami.


Kabulkan doa hamba ini ya Tuhan.


Amin.


Indah berurai air mata mengucapkan doanya, seluruh ketakutannya Indah curahkan, agar penat dan beban yang terasa menyesak di dada nya berharap berkurang.


Kring.....kring...kring...


Indah tersentak dengan suara alarm yang berdering dari handphone nya.


Indahpun langsung terbangun untuk memulai aktifitas pagi untuk segera membuatkan sarapan pagi buat Arkan dan Febri. Walaupun ada mbok Marni yang menemani Indah di rumah, dalam urusan keperluan Arkan dan Febri Indah berusaha melakukannya dengan tangannya.


Agar melalui pertemuan sarapan bersama, ada komunikasi dan keterbukaan satu sama lain. Baik Arkan dan Febri bisa mencurahkan keinginan, keperluan, bahkan sesuatu hal yang di alaminya disekolah atau dimanapun bisa diungkapkan dan seluruh keluarga tahu dan bisa mencari jalan keluar secara bersama-sama. Itulah yang diharapkan Indah.


Sebelum Arkan berangkat ke sekolah terlebih dahulu Indah selalu membiasakan menanyakan bagaimana kondisi, baik mengenai pelajaran, teman-teman dan gurunya apakah ada masalah atau sesuatu hal ada terjadi baik konflik maupun sukacita. Makanya setiap moment atau kejadian yang terjadi disekolah selalu di beri tahu Arkan.


"Bagaimana sekolah kamu sayang, apakah ada masalah atau kendala?", tanya Indah ingin tahu kondisi Arkan.

__ADS_1


"Baik-baik saja mama", jawab Arkan menyakinkan Indah.


"Benar seperti itu?, Pokoknya mama berharap kamu selalu terbuka dan cerita kepada mama. Tidak ada yang kamu tutupi", Indah memberitahu keinginannya.


"Iya mama. Arkan yakinkan bahwa tidak ada masalah atau sesuatu yang terjadi kepada Arkan. Semua baik-baik saja mama. Mama percaya Arkan deh!", Arkan memastikan.


"Baiklah kalau begitu, mama senang mendengarnya.


"Kamu tambah nasi gorengnya, sayang?", Indah menanyakan Febri yang begitu lahap menyantap sarapan pagi yang disajikan oleh Indah.


"Boleh deh, tolong tambahi sedikit lagi. Entah mengapa selera makan ku begitu lahap akhir-akhir ini", ucap Febri sambil mengunyah makanan nya dengan begitu lahap.


"Itu karna masakan aku tiada tandingannya. Tidak kalah dengan nasi goreng yang dibeli di restoran", ucap Indah membanggakan diri sambil menambah beberapa sendok nasi goreng ke piring Febri.


"Kamu benar sayang, masakan kamu memang enak dan tidak kalah dengan nasi goreng yang di jual di restoran", Febri memuji Indah.


"Makan sih makan, tetapi jangan lupa antar Arkan dong sayang. Nanti Arkan terlambat", Indah mengingatkan Febri. Setelah melirik jam tangan Febri pun langsung buru-buru menghabiskan nasi gorengnya dan berdiri untuk segera beranjak mengantar Arkan ke sekolah.


"Ayo Arkan kita berangkat", Febri menyentuh pundak Arkan setelah sebelumnya permisi kepada Indah terlebih dahulu mengecup kening nya,vmencium dan mengelus perut Indah sambil mengucapkan, "Papa berangkat dulu ya sayang", seolah bicara kepada janin yang ada di perut Indah.


Febri dan Arkan segera masuk ke dalam mobil dan segera berangkat ke sekolah Arkan.


Tidak lama Febri dan Arkan berlalu ke luar rumah. Tiba-tiba bell rumah berbunyi.


"Siapa ya pagi-pagi begini sudah bertamu?. Apa ada sesuatu yang tinggal, sehingga Arkan kembali lagi ke rumah", gumam Indah dalam benaknya menyangka kalau yang memencet bell rumah adalah Arkan.


Setelah pintu di buka, betapa terkejutnya Indah ternyata yang datang menemuinya sepagi ini adalah Shinta.


"Hai Indah, apa kabar. Kamu tidak keberatan kan kalau aku datang berkunjung ke rumah mu?", sapa Shinta ramah.

__ADS_1


"Apa, pagi-pagi begini kamu datang berkunjung ke rumah orang, apa kamu tidak kerja?", tanya Indah sedikit kesal.


__ADS_2