Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#83. Indah cemburu buta


__ADS_3

"Sayang, akhirnya kita menikah juga dan sah menjadi suami istri", ucap Febri sambil memeluk Indah dari belakang.


"Iya, Terimakasih banyak ya. Kamu telah menerima aku apa adanya dengan menghiraukan segala kekurangan dan kesalahan ku dimasa yang lalu", balas Indah segera membalikkan tubuhnya menghadap Febri dan memegang erat kedua tangan Febri.


"Indah, tidak usah membicarakan masalah di masa lalu. Semua manusia pasti melakukan kesalahan dan kekhilafan. Kamu menjadi istri yang baik itu sudah lebih dari cukup", Febri mengungkapkan perasaannya.


"Bagaimana kah istri yang baik menurut mu?, agar aku bisa menjadi istri yang kamu inginkan", Indah ingin tahu, karena Indah sangat berharap Febri tidak kecewa menjadikan Indah istrinya. Karena sekali Indah melakukan kesalahan, Febri pasti akan dengan mudahnya mendapatkan wanita lain di luar sana.


"Istri yang baik itu adalah istri yang bisa meladeni kebutuhan suami. Baik kebutuhan secara fisik dan kebutuhan batin. Kamu bisa menghormati, menghargai dan mempercayai suami kamu sepenuh nya.


Oh iya satu lagi tidak selalu mencurigainya, sekalipun kamu ada mencurigai langkahnya tanyakan lah secara baik-baik. Bukan langsung marah dan menuduh dengan suara lantang dan kasar", Febri mengungkapkan keinginannya. Indah pun hanya bisa manggut-manggut tanda memahami apa yang di harapkan Febri.


"Kita jadi terlalu banyak bercerita!. Kapan kita menikmati kebahagiaan kita?", Febri menarik tubuh Indah lebih dekat lagi kepada nya dan langsung ******* 8181π Indah dengan tidak sabaran dan penuh nafsu.


Karena hasratnya sudah tertahan selama ini membayangkan untuk segera bercumbu dengan Indah, terhalang karena Indah belum sah menjadi istrinya. Sekarang lah kesempatan bagi Febri untuk bercumbu mesra dengan Indah.


Indahpun hanya pasrah dan sangat tahu keinginan Febri. Dan segera meladeni Febri dengan ******* dengan penuh nafsu 8181π Febri.


"Sabar dulu sayang, tolong bantu aku membuka semua perlengkapan pakaian ini", Indah mendorong pelan tubuh Febri ke belakang. Ingin agar Febri membantunya untuk melepaskan pakaian pengantin lengkap yang masih dikenakannya. Yakni kebaya dan sarungnya.


Karena Indah harus di bantu Febri untuk melepaskan pakaian pengantin yang dikenakan Indah.


Febri dengan terburu-buru melakukan apa yang diperintahkan Indah, karena merasa tidak sabar dan tidak tahan lagi menahan hasratnya.


Febri pun langsung menggendong Indah dan segera membaringkan tubuh Indah di atas ranjang mereka yang dipenuhi kembang tujuh rupa.

__ADS_1


Keduanya begitu sama-sama menikmati untuk malam bahagia mereka. Febri kelihatan canggung dan belum berpengalaman. Indah mengarahkan Febri melakukan banyak gaya. Febri hanya menurut dan dengan senang hati melakukan keinginan Indah. Karena Febri pun sangat menikmatinya.


Mereka pun akhirnya ******* dan sama-sama rebah dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Mereka rebah masih tanpa busana, kepala Indah di taruh di atas lengan kiri Febri.


"Sayang kamu marah karena aku mengarahkan dan banyak mengajari mu cara bercinta tadi", Indah ingin tahu perasaan Febri.


"Tidak sayang, aku justru senang kamu arahkan. Karena kamu tahu sendiri. Kalau aku memang seumur hidup belum pernah melakukan hubungan suami-istri. Ini adalah kali pertama aku melakukannya.


Aku juga tadinya bingung dan merasa canggung. Karena kamu mengarahkan aku, aku jadi bisa melakukannya dengan penuh percaya diri. Aku juga ingin tahu perasaan kamu, apa kamu merasa puas dengan kepunyaan ku?", Febri ingin agar Indah tidak kecewa atas hubungan suami-istri yang mereka lakukan. Karena kebutuhan **** juga menunjang keharmonisan rumah tangga.


"Tentu saja aku merasa puas", Indah menyakinkan Febri.


"Indah aku ingin kamu juga terbuka atas ketidakpuasan kamu atas berbagai hal. Bukan saja mengenai hubungan ****, tetapi untuk semuanya. Karena aku berharap rumah tangga ini bukan hubungan sementara menurut aku, tetapi hubungan untuk selama-lamanya", Febri memberitahu.


Tiba-tiba telpon Febri berdering, Febri melihat panggilan masuk dari Shinta, perempuan yang suka kepada Febri ketika di Kalimantan.


Melihat ada panggilan masuk dari Shinta Febri tidak menggubris teleponnya bahkan menolak nya.


Indah curiga dan sedikit cemburu melihat sikap Febri. Namun berusaha menahan dan mengendalikan rasa curiganya. Kembali telepon Febri berdering dan lagi-lagi Febri menolaknya begitu tahu panggilan masuk dari Shinta.


Tidak tahan dan ingin tahu siapa yang menelepon Indah pun langsung bertanya kepada Febri.


"Mengapa tidak diangkat teleponnya sayang?", tanya Indah curiga.


"Sudahlah, lagian sudah larut malam, aku sedang tidak ingin di ganggu", Febri menjawab asal. Indah kesal dan merasa tidak puas dengan jawaban Febri.

__ADS_1


"Dia sudah menelepon dua kali berturut-turut barang kali saja ada sesuatu yang penting yang hendak di sampaikan nya", Indah menjadi curiga, berpikir ada sesuatu yang disembunyikan Febri.


"Sudahlah, kurasa tidak ada yang penting yang hendak di bicarakan", Febri langsung melompat ke tempat tidur dengan posisi telungkup dan langsung memejamkan matanya.


"Darimana kamu tahu, kamu mengangkat teleponnya saja tidak", Indah jadi sedikit geram dan semakin curiga dan bertanya-tanya siapa kah sebenarnya yang menelepon sampai-sampai Febri tidak mau mengangkat teleponnya di depan dirinya.


"Aku tahu lah. Dan itu memang tidak penting", Febri menjawab santai. Indah semakin kesal dan semakin curiga dan cemburu.


"Sebenarnya siapa sih menelepon kamu malam-malam begini", Indah ingin tahu.


"Shinta, teman aku ketika di Kalimantan", ucap Febri memberitahu, matanya terus tertutup dan tidak mengetahui ekspresi wajah dan kecemburuan Indah sedari tadi.


Mengetahui yang menghubungi Febri adalah wanita, Indah pun semakin cemburu buta.


"Shinta. Kamu tidak mengangkat telepon mu di depan ku supaya aku tidak mengetahui percakapan kalian kan. Coba kalau aku tadinya tidak disini pasti kamu akan mesra-mesraan bicara nya", Indah mengungkapkan emosinya, karena tidak tahan lagi menahan kekesalannya. Febri tersentak mendengar perkataannya Indah dan langsung terbangun.


"Kamu kenapa, mengapa emosi begitu?", Febri bingung Indah tiba-tiba marah.


"Aku kesal mengapa kamu tidak mengangkat telepon mu malah terus menolaknya. Kamu takut mengangkat nya dihadapan ku kan?", ucap Indah mengulangi perkataannya.


"Kamu jangan cemburu buta begitu dong. Aku dan Shinta itu tidak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman saja. Memang dia pernah mengungkapkan perasaan sukanya kepada ku.


Tetapi aku menolaknya karena aku sudah punya hati kepada mu. Aku malas saja menjawab teleponnya, karena kupikir dia pasti hanya mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada ku.


Yah memang memang tidak terlalu penting kan, besok saja lah kutelpon balik. Begitu maksud aku", Febri memberitahu yang sebenarnya. Indah masih saja cemberut dan belum puas atas perkataan Febri.

__ADS_1


__ADS_2