Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#54. Pangestu bermaksud ingin menceraikan Shifa.


__ADS_3

Pangestu dan Indah akhirnya tiba di rumah. Pangestu turun dari mobil dengan membopong Arkan, hingga ke kamarnya.


"Jagoan ayah, istirahat dulu ya. Nanti kalau lukanya sudah sembuh baru kita main basket, makanya kamu harus semangat biar cepat sembuh. ok", Pangestu meletakkan Arkan di atas tempat tidurnya dan terus menyemangatinya agar cepat pulih. Luka Arkan belum puluh total, masih sedikit nyeri dan masih diperban.


"Kalau kamu ada perlu sesuatu tinggal kamu teriak panggil ayah atau mama ya. Kami ada di ruang dapur sedang mengobrol", perintah Pangestu lalu pamit meninggalkan Arkan sendirian di kamarnya.


"Ok ayah", Arkan begitu bersemangat. Begitu juga Pangestu, tidak terbayang dipikirannya kalau Arkan adalah anak kandungnya sendiri.


"Ternyata aku sudah menjadi ayah", gumam nya penuh semangat dan selalu tampak senyum di wajahnya. Setelah kembali dari kamar Arkan.


"Mengapa kamu senyum-senyum seperti itu", tanya indah bingung melihat Pangestu yang selalu senyum begitu keluar dari kamar Arkan.


"Memang nya salah ya, kalau aku senyum-senyum?", tanya Pangestu balik.


"Tidak salah sih, tetapi kamu senyum-senyum sendiri. Jelas salah dong. Awas nanti kamu dikira sedikit .....", indah tidak meneruskan perkataannya.


"Sedikit apa emang!. Enak saja. Aku senyum-senyum, karna aku memang tidak menyangka dan tidak kepikiran kalau Arkan adalah anak kandungku sendiri.


Aku begitu bahagia kalau aku sekarang ternyata sudah menjadi ayah. Aku harus lebih bersemangat bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anakku", Pangestu mengungkapkan perasaannya dengan penuh haru. Indahpun segera merangkulnya.


Seolah lupa kalau Pangestu statusnya sekarang masih istri orang lain. Dan hubungan Indah dan Pangestu belum sah sebagai suami istri.


"Arkan saat ini pasti bahagia banget, ternyata ayahnya adalah kamu. Ketika kami masih bersama Tedja. Tedja sebelum ke kantor, selalu sekalian mengantar Arkan ke sekolah. Karena kan satu arah. Tedja selalu antar sampai depan kelas. Begitu melihat Tedja, teman Arkan menggoda Arkan, dengan mengatakan, "Itu ayah kamu atau kakek kamu sih".


Sejak saat itu Arkan tidak mau ke sekolah kalau yang antar Tedja. Akibat alasan itu juga, Tedja merasa tidak nyaman di rumah. Sehingga Tedja sering tidak pulang ke rumah.

__ADS_1


Arkan pun merasa bersalah, karena secara tidak langsung menginginkan Tedja tidak boleh tinggal di rumah ini lagi", Indah menceritakan kejadian di masa lampau.


"Syukurlah kalau Arkan bisa menerimaku. Yang begitu tiba-tiba ternyata harus memanggil ayah. Tadinya aku pikir, Arkan bingung dengan kondisi keluarganya yang beda dari kehidupan teman-temannya", ucap Pangestu.


"Iya, Malah anaknya merasa senang banget", Indah menambahi.


"Sekarang Arkan mungkin sedang tidur, kita bebas berduaan sekarang?", goda Pangestu kepada Indah, tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Enak saja", Indah ingin menjauh. Tetapi buru-buru ditarik oleh Pangestu. Akhirnya tubuh Indah jatuh ke badan Pangestu, wajah mereka begitu dekat.


Tidak ingin membuang kesempatan, Pangestu ******* bibir indah karena begitu gemas. Hasratnya sudah tertahan selama beberapa hari ini di rumah sakit. Saling berdekatan tetapi tidak bisa bercumbu mesra.


"Nanti Bi Inah, tiba-tiba nongol lho. Sekarang sih masih di halaman belakang sedang mengambil jemuran", ucap Indah, agar Pangestu mengurungkan niatnya untuk mengajaknya bercumbu.


Begitu tiba di dalam kamar, dengan tidak sabar Pangestu lalu membopong indah ke atas tempat tidur. Pangestu menindih badan Indah.


"Aku rindu cumbuan panas dan liar kamu ketika kita melakukannya dulu", bisik Pangestu di telinga indah dengan pelan. Indah mendesah. Yang membuat Pangestu makin beringas, begitu bernafsu dan menggebu-gebu.


Mereka pun saling ******* dan tidak sabar saling melucuti pakaian lawannya. Puas saling memuaskan pasangannya, mereka pun akhirnya mencapai klimaksnya hingga hampir lima belas menit lamanya. Mereka pun rebah.


Agaknya Pangestu dan Indah merasa seperti pengantin baru saja. Selalu nempel dan tidak ingin saling berjauhan. Pangestu tidak pernah mengunjungi Shifa lagi selama hampir sebulan.


Mata batin Shifa merasa kalau Pangestu sedang bersama dengan wanita lain. Shifa pun hanya bisa pasrah menerima sikap Pangestu. Tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Pangestu.


"Sayang, kamu sudah hampir sebulan bersama kami. Oh iya, aku juga tidak pernah melihat kamu menerima telepon dari Shifa. Apa Shifa tidak pernah menanyakan keberadaan kamu lagi?", tanya indah ingin tahu.

__ADS_1


"Iya benar, aku baru ingat Shifa setelah kamu teringati. Apa Shifa sudah tidak peduli lagi kepadaku, atau apakah Shifa sudah mengikhlaskan aku, sehingga tidak terlalu mengambil pusing atas apa yang kukerjakan di luar saat ini?", Pangestu juga merasa bingung.


"Entahlah, aku pun sangat berharap. Shifa sudah terbuka pikirannya. Aku pun ingin segera lepas dari Shifa. Dan ingin segera menikahi mu. Aku ingin kita tidak seperti pencuri di malam hari. Artinya hubungan kita ini harus di halal kan. Pasti nikmatnya lebih bertambah bila hubungan kita sudah sah menjadi suami istri", Pangestu sangat berharap.


"Aku pun sangat mengharapkan itu. Kapan kamu akan menemui Shifa?", Indah sangat berharap Pangestu bisa segera bercerai dengan Shifa.


"Besok aku ingin bertemu dengan Shifa. Tetapi ada sedikit masalah yang kupikirkan. Kalau seandainya aku melepaskan Shifa", Pangestu terdiam.


"Maksud kamu apa?", tanya indah bingung.


"Begini, selama ini perusahaan kami berkembang karena bantuan dari ayah Shifa. Mungkin setelah aku cerai dari Shifa. Burhan pasti akan menarik kliennya yang telah menjadi pelanggan di perusahaan kami.


Perusahaan itu kan terbagi menjadi 2 pemimpin. Entahlah aku juga bingung. Pasti Shifa akan mengambil modalnya. Shifa akan mengambil alih Perusahaan ayahnya. Aku tidak tahu bagaimana nasib perusahaan patungan ini, bila Shifa mengambil semua modalnya", Pangestu merasa khawatir.


"Maksud kamu kamu akan mengurungkan niat kamu untuk bercerai dengan Shifa", indah merasa kesal.


"Bukan seperti itu maksud pembicaraan ku. Baiklah daripada aku menerka-nerka. Mungkin setelah aku bicara dengan Shifa semua akan menjadi jelas. Mudah-mudahan, Shifa tidak langsung menarik modalnya. Kalau seperti itu, aku percaya perusahaan pasti akan kolaps", Pangestu menjelaskan arah pembicaraannya.


Indah pun hanya terdiam.


"Kamu harus segera bercerai dengan Shifa. Kita kembangkan saja usaha yang sedang ku kembangkan sekarang. Apa kamu merasa gengsi. Karena sekarang kamu berlindung dan menghidupi keluarga mu dengan perusahaan yang di rilis oleh istrimu?", Indah menebak arah pikiran Pangestu.


"Sebenarnya perusahaan ini, tidak juga dibilang. Tidak merupakan kerja keras ku. Aku sangat bekerja keras untu menjalankan Perusahaan yang sedang kupegang sekarang. Akupun masih ingin membuatnya menjadi lebih maju dan berkembang lagi", Pangestu mengungkapkan perasaan nya.


"Mudah-mudahan Shifa tidak langsung menarik modalnya ya. Kita jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Aku percaya apa jalan terbaik", Indah mensupport

__ADS_1


__ADS_2