
Pangestu masuk ke ruang operasi, karena disuruh oleh dokter. Kondisi Shifa kritis, seperti ingin mengatakan sesuatu. Ternyata bayi Shifa sudah dikeluarkan dan Shifa melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat.
Pangestu sangat senang dengan kelahiran anaknya. Tetapi begitu bayi Shifa dikeluarkan dari perutnya, kondisi Shifa makin memburuk dan banyak mengeluarkan darah.
"Shifa, kamu harus kuat. Lihat anak kamu telah lahir seorang laki-laki yang tampan", bisik Pangestu ke telinga Shifa bermaksud untuk memberikan dukungan dan semangat kepada Shifa.
Shifa kemudian membuka matanya begitu melihat Pangestu. Pangestu pun langsung memegang tangan Shifa dengan erat. Shifa berusaha ingin mengatakan sesuatu, Pangestu langsung melarang Shifa berkata-kata, karena Shifa kondisi nya sangat lemah, dan nafasnya tersengal-sengal.
"Shifa kamu harus kuat, bukankah kamu ingin sekali mempunyai anak. Anak kita sudah lahir ke dunia. Jangan sia-sia kan pengorbanan mu.
Padahal kamu sampai rela tidak meminum obat dan menahan rasa sakit kamu. Agar anak kita selamat dan sehat. Kamu sudah berjuang sejauh ini, apakah kamu tega meninggalkan nya, siapa nantinya yang akan merawatnya kalau kamu meninggalkan kami. Ayolah Shifa tidak maukah kamu merawat bayi ini dengan tangan kamu sendiri?", Pangestu mencoba menyemangati Shifa.
"A..ku su..dah ti..dak ta..han la..gi.
To..long ka..mu ja..ga dan ra..wat a..nak ki..ta de..ngan ba..ik", ucap Shifa terbata-bata
"Tidak Shifa kamu harus hidup. Kamu harus semangat. Kamu sudah sejauh ini untuk bertahan. Setidaknya bertahanlah demi anak kamu sendiri", Pangestu menangis berharap agar Shifa bersemangat untuk hidup dan tidak meninggal dunia.
"A..ku men..cin..tai mu dan a..nak ki..ta. Ber..jan..ji..lah un..tuk me..ra..wat a..nak ki..ta de..ngan ba....ik. Ca...ri...lah i..bu yang ba..ik un..tuk a..nak ki..ta", Shifa pun menutup matanya.
"Shifa ti...dak. Dokter tolong selamatkan istriku", Pangestu berlari keluar mencari dokter untuk memeriksa kondisi Shifa yang tiba-tiba tidak bernafas dan tidak menyahut lagi.
Dengan tergesa-gesa dokter memasuki ruang pemeriksaan Shifa. Dan benar saja, setelah dokter memeriksa urat nadi yang terdapat pada leher dan tangan Shifa. Dokter mengambil kesimpulan bahwa Shifa sudah tiada.
"Maaf pak, kami sudah berusaha dengan keras. Tetapi semua adalah kehendak Tuhan. Istri bapak, sudah tidak bisa kami selamatkan lagi. Maaf pak, istri bapak sudah meninggal dunia.
__ADS_1
Yang sabar dan tabah ya pak. Semua adalah kehendak Tuhan. Kita hanya bisa pasrah dan menjalaninya dengan ikhlas", dokter memberi semangat dan support kepada Pangestu.
"Shifa....u...u...", Pangestu menangis terisak-isak dan air matanya tidak terbendung lagi. Dadanya begitu sesak, tubuhnya terasa lemah, kakinya sulit untuk digerakkan.
"Shifa, walaupun aku tidak mencintai mu sepenuh hatiku. Kebersamaan kita selama ini telah membuatku merasa kehilangan kamu", gumamnya dalam hati.
"Shifa bagaimana aku harus merawat anak kita sendirian tanpa kamu. Bangunlah Shifa, lihat anak kita mencari-cari ibunya. Tega sekali kamu Shifa meninggalkan kami, terkhusus anak kita belum mengenal dan melihat ibunya", Pangestu terus menangis mencurahkan segala isi hatinya.
"Yang sabar ya pak, Jenazah ibu harus di mandikan. Silahkan urus administrasi untuk kepulangan jenazah ibu", ucap perawat yang bertugas untuk pemandian jenazah dan pemasukan jenazah ke kamar jenazah.
Pangestu mau tidak mau harus ikhlas dan sabar menghadapi kematian Shifa. Pangestu pun segera ke ruang administrasi untuk pengurusan segala berkas kepulangan Shifa ke rumah.
"Aku harus kuat, aku harus ikhlas. Aku tidak boleh menyerah dan putus asa. Ada anakku yang harus ku urus dan kurawat. Justru anak ku sekarang masih butuh banget kasih sayang ibu, tentunya itu di dapatkan dari aku sendiri", Pangestu optimis dan ikhlas atas kepergian Shifa.
Pangestu pun segera menuju ruang administrasi. Ketika hendak menuju ruang adminitrasi tidak sengaja Pangestu berpapasan dengan seorang pasien yang sedang di dorong memakai tempat tidur sedang merintih kesakitan.
Tidak sengaja Pangestu memperhatikan wajah pasien itu. Ternyata pasien itu adalah Tedja. Pangestu pun segera mendekati Tedja.
"Ayah, ayah sakit apa", Pangestu terkejut melihat kondisi Tedja yang kurus kering dengan kesakitan.
"Pangestu, kamu kah itu?. Kemana saja kamu?. Mengapa kamu ada disini?", tanya Tedja bingung dan ingin tahu.
"Iya ayah aku Pangestu, aku disini karena istriku baru saja meninggal dunia setelah melahirkan. Ayah sendiri sakit apa?, mengapa kondisi ayah memprihatinkan seperti ini?", Pangestu ingin tahu.
"Ayah menderita penyakit kelamin, yang sudah sangat akut. Kesalahan ayah memang selalu main perempuan. Tidak pernah setia hanya kepada satu istri saja.
__ADS_1
Sekarang ayah telah menanggung akibatnya, ayah menyesal. Sekarang tidak satupun yang setia dan mau menemani ayah setelah ayah menderita penyakit ini selama 1 tahun", Tedja menyesali segala perbuatan jahatnya yang selalu selingkuh dan tidak pernah bosan untuk selalu mencari kepuasan di luar sana. Kalau perempuan yang satu sudah di rasanya bosan, maka Tedja pun akan segera meninggalkan nya.
"Apa, ayah sudah menderita sakit ini sudah setahun lamanya?. Terus siapa yang merawat dan menemani ayah selama sakit?", Pangestu merasa penasaran.
"Iya Pangestu. Awalnya ayah masih bisa beraktifitas normal seperti biasa. Begitu alat kelamin ayah terjadi perubahan dan ada luka. Istri ayah meninggalkan ayah. Dia takut aku menularinya dengan penyakit ini.
Ayah sudah berobat ke berbagai tempat secara herbal, tradisional dan secara medis. Tetapi semua sia-sia. Sampai-sampai semua kekayaan ayah habis, perusahaan ayah pun menyusul bangkrut. Hingga akhirnya ayah tidak bisa beraktifitas normal seperti biasa.
Orang kepercayaan ayah yang bernama Deni, telah meninggalkan ayah. Dia malas bergabung dengan ayah, karena melihat kebiasaan dan gaya hidup ayah yang selalu berganti-ganti pasangan. Dia takut dirinya akan ikut-ikutan jadi tukang berselingkuh bila dekat-dekat dengan ayah. Jadi perusahaan bangkrut karena ditangani oleh orang lain. Dia diam-diam telah mencuri uang perusahaan tanpa sepengetahuan ayah.
Oh iya, kamu bilang istri kamu meninggal dunia. Makanya kamu ada disini. Bukan kah kamu hidup bersama dengan Indah?", Tedja merasa penasaran dan ingin tahu.
"Tidak ayah, aku meninggalkan Indah dan lebih memilih hidup dengan wanita lain. Karena istriku pemilik modal terbesar dari perusahaan yang ku tangani saat ini. Sekarang aku telah menyesalinya. Indah hidup mandiri dengan Arkan anak kami. Indah belum menikah", Pangestu memberitahu.
"Kamu tahu Indah tinggal di mana?", tanya Tedja ingin tahu.
"Iya ayah. Aku tahu tempat tinggal Indah", ucap Pangestu datar.
"Maukah kamu menyuruh Indah datang menemui ayah. Ayah ingin minta maaf kepada nya", Ucap Tedja memohon-mohon.
"Aku ingin mengurus pemakaman istri ku dulu ayah. Dalam waktu dekat ini mungkin aku tidak bisa menemui Indah. Mungkin seminggu kemudian, baru aku bisa menemui Indah. Karena banyak sekali keperluan yang harus aku urus sekarang", Pangestu memberitahu.
"Baiklah, dimana waktu kamu bisa, tolong suruh Indah menemui ku", Tedja sangat berharap bisa bertemu dengan Indah. Sebelum dirinya meninggal dunia.
"Oh iya ayah. Aku tinggal ayah dulu ya. Maaf aku tidak bisa menemani ayah di rumah sakit ini. Aku masih mengurusi kepulangan jenazah istriku ke rumah hingga proses pemakaman dan proses acara minta doa setelah kepergian istri ku", Pangestu pamit meninggalkan Tedja.
__ADS_1
Tedja tidak bisa menahan Pangestu. Karena memang Pangestu sangat sibuk. Tedja hanya bisa meratapi nasibnya hidup dalam kesendirian.