Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#55. Shifa kena penyakit kanker otak stadium akhir


__ADS_3

Kondisi Shifa selama sebulan ditinggalkan oleh Pangestu.


Shifa merasa kepalanya sangat pusing dan seperti ditusuk-tusuk, ketika hampir selesai memasak di dapur. Shifa tetap memaksakan, setelah beristirahat duduk sebentar di meja makan.


Tetapi dengan tiba-tiba sakit kepala itu datang lagi, bahkan rasa ditusuk-tusuk nya semakin kencang dan sering. Karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya. Akhirnya Shifa tergeletak di lantai.


"Bangun non...bangun non. Tolong....", Bi Marni panik ketakutan dan langsung berteriak kencang melihat Shifa tergeletak di lantai.


Burhan datang menghampiri, begitu mendengar suara teriakan Bi Marni.


"Ada apa Bi..?", tanyanya tergopoh-gopoh datang dari ruang tamu.


"Non Shifa tergelatak di lantai pak", jawab Bi Marni cepat.


"Shifa kamu kenapa nak", Burhan mencoba mengguncang-guncang tubuh Shifa agar tersadar.


"Panggil pak Deni Bi!", perintah Burhan kepada Bi Marni. Dengan secepat kilat, sambil berlari bi Marni langsung ke halaman depan memanggil Deni yang sibuk membersihkan mobil.


"Pak Deni, ayo cepat bantu bapak di dapur. Untuk mengangkat non Shifa. Non Shifa pingsan dan sekarang sedang tergeletak di lantai dapur", bi Marni memberitahu.


Bi Marni langsung berlari ke arah dapur diikuti oleh pak Deni. Begitu tiba di dapur


Dengan cekatan Pak Deni segera menggendong Shifa masuk ke dalam mobil. Shifa diantar ke rumah sakit.


Tidak beberapa lama mobil tiba di rumah sakit, Shifa segera di gendong ke ruang UGD. Burhan begitu panik dan ketakutan melihat kondisi Shifa yang belum sadarkan diri.


Dokter segera memeriksa kondisi Shifa. Segala upaya di lakukan, termasuk memeriksa bagian kepala Shifa.


Setelah 2 hari berlalu di rumah sakit, akhirnya Shifa sadarkan diri.


"Papa, Shifa di mana ini?", Shifa membuka matanya, bingung melihat ke sekeliling. Burhan duduk di samping ranjangnya yang sedang terkantuk-kantuk karena begitu lelah menunggu Shifa terus di rumah sakit.


"Syukur lah kamu sudah bangun nak, kamu di rumah sakit sayang. Kamu tergeletak di lantai dua hari yang lalu. Makanya kami membawa kamu ke rumah sakit", ucap Burhan tersenyum begitu Shifa menyapanya yang sedang duduk terkantuk-kantuk.

__ADS_1


"Pa, apakah Pangestu tahu Shifa di rumah sakit?", Tanya Shifa karena melihat tidak ada sosok Pangestu yang menjagainya.


"Pangestu tidak tahu nak kamu di rumah sakit, Kami tidak memberitahu nya, bahkan Pangestu juga tidak ada pulang ke rumah", Burhan memberi tahu dengan suara pelan.


"Sudahlah nak, Papa sangat khawatir melihat kamu 2 hari tidak sadarkan diri. Kamu tidak usah memikirkan Pangestu terus. Kamu harus memikirkan kesehatan kamu", Burhan sangat prihatin melihat putrinya begitu mencintai Pangestu, sampai putrinya sakit.


"Pa, tidak usah memberitahu Pangestu kalau Shifa masuk rumah sakit. Shifa mau pulang saja pa, agar ketika Pangestu pulang. Shifa bisa menyajikan makanan dan semua kebutuhan Pangestu", Shifa memaksa ingin pulang.


"Nak, kamu masih perlu perawatan. Kalau Pangestu pulang, Bi Inah bisa menyediakan makanan nya", ucap Burhan dengan suara sedikit bergetar, hampir menitikkan air mata. Shifa yang sakit masih bisa memikirkan Pangestu, padahal Pangestu sendiri tidak peduli kepadanya.


Shifa memalingkan tubuhnya membelakangi Burhan. Karena kecewa Burhan tidak mendukung nya. Melihat putrinya sedih karena perkataan nya, Burhan mencoba membujuk Shifa.


"Nak, papa tanya dulu, bagaimana kondisi kamu kepada dokter ya!. Kalau dokter sudah bisa pulang, kita pun pulang. Kalau dokter mengatakan masih perlu perawatan. Kamu harus ikhlas dan mau di rawat ya sayang?", bujuk Burhan. Shifa pun langsung membalikkan tubuhnya menghadap Burhan dengan wajah tersenyum, "Baik ayah", ucap Shifa.


"Nak, Papa pergi dulu ya ke ruang dokter untuk menanyakan kondisi kesehatan kamu. Mungkin hasil pemeriksaan mu sudah keluar. Nanti kalau misal ada apa-apa, Atau kamu butuh sesuatu jangan segan-segan untuk memanggil suster.


Kamu tinggal pencet ini saja", Burhan pamit meninggalkan Shifa di ruang perawatan sambil menunjukkan alat yang akan dipencet ketika akan terjadi apa-apa pada dirinya.


"Baik papa", balas Shifa sambil tersenyum kecil.


Burhan mengetuk pintu ruang dokter.


"Silahkan masuk", sahut dokter dari balik pintu.


"Permisi dok, saya orangtua dari Shifa dari ruang melati 1. Mau menanyakan kondisi kesehatan anak saya dok", Burhan memperkenalkan diri.


"Oh iya, orang tua nya Shifa ya. Begini ya pak. Berdasarkan dari hasil pemeriksaan medis pada bagian kepala Shifa. Kami menyimpulkan.


Tetapi maaf pak. Sebelumnya saya, sangat menyesalkan. Mengapa Shifa setelah parah begini baru di bawa ke rumah sakit. Apa tidak ada pemeriksaan sebelumnya?", tanya dokter ingin tahu.


"Memangnya anak saya sakit apa dokter?. Saya tidak tahu kalau Shifa sakit dokter. Selama ini saya tidak pernah tahu atau anak saya sakit apa. Saya juga tidak pernah melihat anak saya mengeluhkan sakitnya kepada saya dokter", Burhan menjadi bertanya-tanya dengan penuh khawatir, "sakit apa sih Shifa", bathinnya dalam hati.


"Anak bapak menderita kanker otak sudah stadium 4. Kalau sudah stadium 4 begini, akan sangat sulit menangani nya bahkan sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Karena sel kanker nya sudah menyebar keseluruh bagian kepala.

__ADS_1


Saya menafsirkan kalau umur anak bapak hanya tinggal 40 hari lagi. Kalau pasien ingin pulang silahkan saja, mungkin dengan dorongan dan semangat dari keluarga dekatnya. Pasien bisa lebih berlapang dada dan ikhlas untuk pergi.


Sekali lagi kami minta maaf ya pak. Tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Karena kondisi pasien saat ini sudah sangat parah. Tidak bisa ditangani lagi, bahkan dengan kemoterapi sekalipun semua sudah terlambat pak", dokter memberitahu kondisi penyakit Shifa.


"Benarkah anak saya sudah tidak bisa tertolong lagi dik", Burhan memohon-mohon. Dokter hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Burhan pun tidak bisa membendung air matanya lagi. Burhan menangis terisak keluar dari ruang dokter.


"Saya permisi Dok", ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Burhan tidak menyangka kalau ia akan kehilangan putri satu-satunya. "Harusnya Shifa harus menikmati hidup sebelum akhir hidup nya", gumam Burhan dalam hatinya.


"Ya Tuhan, Bagaimana aku harus mengatakannya kepada Shifa. Aku tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya", Burhan semakin terpukul atas kondisi Shifa.


Dengan langkah gontai Burhan berjalan menuju ruang perawatan Shifa. Begitu mendekati kamar Shifa, Burhan menyeka air matanya, agar Shifa tidak curiga dan banyak bertanya mengenai sakitnya.


Burhan mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana pa, apa Shifa sudah bisa keluar sekarang dari rumah sakit", Shifa berharap.


Burhan terdiam tidak tahu harus berkata apa. Burhan mencoba mencari-cari kata-kata yang pas.


"Pa, mengapa papa diam saja. Shifa sudah bisa keluar dari rumah sakit sekarang kan pa!", tanya Shifa tidak sabar.


"Nak, Apa kamu sudah tahu mengenai penyakit mu ini?", tanya Burhan ingin tahu. Sekarang gantian Shifa yang diam. Sebenarnya Shifa ingin segera pulang ke rumah. Agar Burhan tidak mengetahui sakit penyakitnya. Agar tidak menimbulkan pikiran bagi Burhan.


Sesungguhnya Shifa sudah mengetahui sakit penyakitnya sejak lama, dan tahu umurnya tidak panjang lagi. Makanya Shifa memaksa menikah dengan Pangestu, walaupun Pangestu tidak mencintainya. Shifa ingin di saat terakhirnya, ia bisa menikah dan bahagia bersama orang yang dicintai nya.


Ternyata harapan nya sirna, Pangestu justru meninggalkan nya tanpa kabar yang jelas.


"Nak, Kamu sudah mengetahui sakit mu ini sejak lama?. Mengapa kamu tidak mengatakan nya kepada papa?", Burhan menangis.


"Papa, Shifa mohon papa jangan bersedih ya. Shifa tidak ingin Papa sedih. Makanya Shifa merahasiakan nya", Shifa menangis memegang erat tangan Burhan.

__ADS_1


"Pa, jangan bilang apa-apa mengenai penyakit Shifa ini kepada Pangestu ya. Shifa tidak ingin Pangestu sedih dan merasa bersalah" Shifa memohon kepada Burhan.


__ADS_2