Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#52. Indah memberitahu kalau Arkan adalah anak kandungnya


__ADS_3

Seminggu berlalu Shifa terus membuatkan sarapan dan bekal untuk Pangestu.


Pangestu pun merasa terbantu, dan senang saat di buatkan. Kebetulan Pangestu selalu meeting hingga lewat jam makan siang, karena Pangestu membawa bekal. Maka Pangestu tidak harus pergi ke kantin lagi.


Pangestu juga senang menu yang dibuatkan oleh Shifa juga enak dan sedap di pandang. Dari tampilan saja sudah terasa menggugah selera. Selain dari rasa dan tampilan menu. Bekal yang dibawa pun selalu berbeda menunya setiap hari.


"Wah Shifa, kamu pintar memasak rupanya. Kalau buka usaha catering. Lumayan juga, pasti laris manis", gumam Pangestu saat menikmati makan siangnya.


Di rumah Burhan merasa keberatan, kalau Shifa terlalu memanjakan Pangestu, dengan selalu membuatkan sarapan dan bekalnya ke kantor. Padahal hubungan mereka seperti hubungan sebatas teman biasa. Bukan pasangan suami-istri yang selayaknya.


"Shifa, mengapa harus repot-repot membuatkan sarapan dan bekal untuk Pangestu. Mbok Marni kan bisa memasaknya. Mengapa kamu yang harus lelah dan kecapean?", tanya Burhan, merasa kasian Shifa padahal hanya sebagai istri sebatas perjanjian saja.


"Papa, sudah tugas Shifa untuk melayani suami dengan baik. Shifa senang melakukannya", Shifa menjawab seadanya.


"Kalau kalian pasangan suami istri yang saling mencintai dan pasangan istri yang saling memberi tidak apa-apa. Tetapi kamu terlalu memanjakan Pangestu", Burhan merasa geram.


"Pa, kita tidak usah berdebat lagi mengenai pernikahan kami. Shifa senang dan ikhlas melakukan nya", Shifa meninggalkan Burhan di meja makan.


Burhan merasa sedih dan kasihan terhadap Shifa. Menyesal dirinya telah memaksakan Pangestu untuk menikah. "Tetapi disisi lain, Shifa sangat senang walaupun Pangestu tidak menyentuhnya. Baginya dekat dengan Pangestu itu sudah cukup baginya", Burhan bingung jalan pikiran Shifa.


****


Kehidupan di pihak Indah.


Kringg ...kring....kring...


Suara handphone indah berdering. Biasanya indah tidak ingin jauh-jauh dari jangkauan handphone nya. Karena selain ada panggilan dari klien, pelanggan dan supplier


Indah juga menantikan telepon dari pihak sekolah Arkan. Apakah itu memberikan informasi mengenai tiba-tiba cepat pulang sekolah. Kalau sudah begitu berarti harus segera dijemput atau bisa juga pemberitahuan informasi yang lain.


Indah pun langsung mengangkat teleponnya yang di letakkan di meja kerjanya.


"Halo", ucap indah langsung mengangkat handphone nya.

__ADS_1


"Selamat siang Bu, Saya Miss Lely, salah satu guru yang pengajar dari pihak sekolah Arkan ingin memberitahu kalau anak ibu Arkan sedang dibawa ke rumah sakit.


Tadi ketika jam istirahat sekolah, Arkan dan beberapa teman nya sedang bermain memanjat pohon. Ternyata kaki Arkan mengalami koyak dibagian pahanya, lukanya lumayan lebar", ucap Miss Lely memberitahu.


"Apa! kok bisa terjadi ibu. Bagaimana sih penjagaan dan pengawasan pihak guru. Masak anak-anak sedang memanjat pohon di jam istirahat tidak diperhatikan", indah begitu geram dan penuh emosi.


"Iya Bu, maaf kan kami pihak sekolah. Ini memang suatu bentuk kelalaian kami. Sekarang ibu datang cepat ke rumah sakit. Arkan sangat membutuhkan donor darah. Karena lukanya begitu lebar. Sehingga Arkan banyak kehilangan darah", Miss Lely memberitahu.


Indah pun segera pamit kepada Bi Inah, agar di rumah saja. Ketika ada karyawan yang menginginkan informasi atau ada mengambil keperluan barang dagangan. Bi Inah sudah siap sedia. Maklum rumah dan toko berada satu gedung. Rumah berada di lantai 3, sedangkan toko berada di lantai 1&2.


Dengan tancap gas indah melajukan mobilnya. Indah tidak sabar ingin segera tiba di rumah sakit, tidak sabar untuk mengetahui kondisi Arkan.


Beberapa menit kemudian, indah pun tiba di rumah sakit langsung menuju ruang UGD. Ternyata Miss Lely sedang menunggui Arkan.


"Bagaimana kondisi Arkan Bu", tanya indah panik.


"Harus butuh donor darah Bu. Arkan kehilangan banyak darah. yang mengakibatnya Arkan jadi tidak sadarkan diri", Miss Lely memberitahu kondisi Arkan.


"Saya mau menyumbangkan darah untuk Arkan, golongan darah apa yang dibutuhkan Arkan Bu", tanya indah terburu-buru dengan penuh kepanikan.


"AB, padahal aku golongan darahnya A. Aduh bagaimana ini Bu, golongan darahku tidak cocok kepada Arkan. Apa! di rumah sakit ini tidak ada tersedia stok untuk golongan darah AB?", Indah panik dan bingung, hampir tidak fokus lagi untuk berpikir.


"Saya kurang tahu Bu, coba ibu saja yang menanyakan nya langsung kepada dokter yang menangani Arkan", Miss Lely menunjukkan salah satu dokter yang menangani Arkan di ruang UGD. Indah pun segera berlari menghampiri dokter tersebut.


"Permisi dok, apakah benar stok darah golongan AB tidak tersedia di rumah sakit ini?, Kemana saya harus mencarinya dok, padahal golongan darah saya tidak sama dengan anak saya", ucap indah setelah berhadapan langsung dengan dokter yang menangani Arkan.


"Cari PMI saja Bu, tetapi golongan darah disana juga tidak menjamin stok tersedia. Mengapa tidak ambil donor darah dari pihak keluarga saja Bu lebih baik. Karena proses lebih cepat, langsung transfusi darah dari pendonor dan korban", dokter memberikan solusi.


Barulah indah tersadar, ingat atas sosok Pangestu. "Pangestu kan ayah biologis dari Arkan. Baiklah aku akan memberitahu Pangestu hal ini", gumam indah dalam hatinya.


Indah sedikit ragu untuk minta pertolongan Pangestu, karena indah takut untu menjalin kedekatan dengan Pangestu karena Pangestu berstatus suami orang. Tetapi demi nyawa Arkan. Indah menyingkirkan ego nya. Yang ada dalam pikirannya bagaimana caranya agar Arkan selamat", batin indah.


Indah pun segera mengambil handphone nya dan segera menghubungi Pangestu.

__ADS_1


Tut . Tut...Tut...


"Halo", jawab Pangestu langsung, begitu tahu ada panggilan masuk dari Indah.


"Hai Pangestu. Apakah kamu sibuk?. Bisakah kamu datang ke Rumah Sakit Metamis sekarang?. Arkan sedang membutuhkan donor darah sekarang", indah langsung memberi tahu keadaan Arkan.


"Apa, baiklah aku akan segera ke Rumah Sakit Metamis sekarang juga", Pangestu menutup teleponnya.


Tidak sampai lima belas menit Pangestu pun segera tiba di rumah sakit. Langsung masuk ke ruang UGD dan menemui indah di ruangan tersebut.


"Golongan darah apa yang dibutuhkan Arkan?", tanya Pangestu begitu sigap, karena takut Arkan terlambat tertolong.


"AB", jawab Indah.


"Baiklah aku golongan darah AB, kemana aku harus pergi?", Pangestu cepat-cepat langsung menuju ruangan yang ditunjukkan Indah.


Tidak sampai satu jam, proses transfusi darah sudah selesai dilakukan. Indah segera menghampiri Pangestu yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya.


"Pangestu, ada yang harus ku katakan kepada mu", ucap indah pelan dan jelas. Pangestu penasaran apa yang ingin dikatakan indah. Pangestu pun hanya terdiam tidak memotong pembicaraan indah.


"Arkan adalah anak kandungmu. Sejak Arkan baru lahir beberapa bulan, Tedja sudah test DNA atas Arkan. Dari hasil Test di simpulkan bahwa Arkan adalah anak kamu", Indah tertunduk.


"Apa", Pangestu terkejut.


"Tedja sudah sejak awal mengetahui perselingkuhan kita, dan curiga atas kehamilan ku, saat Tedja di luar kota selama 3 bulan. Dan langsung mengadakan test DNA setelah Arkan lahir.


Dan disimpulkan kamu adalah ayah biologis Arkan. Karena Tedja juga memeriksa kan dirinya, dari hasil pemeriksaan nya disimpulkan Tedja tidak mungkin bisa memberikan keturunan karena kandungan ****** Tedja encer", indah memberitahu segalanya.


"Apakah semua itu diberitahukan ayah kepadamu?", tanya Pangestu ingin tahu.


"Iya, Tedja memberitahukan segalanya. Sejak itulah. Tedja bebas berselingkuh dan tidak pernah mengunjungiku. Seolah itu adalah hukuman ku, karena aku telah berselingkuh di belakang nya", ucap Indah.


"Mengapa kamu tidak cerita dari awal, kalau Arkan adalah anak kandungku?", Pangestu sedikit kesal.

__ADS_1


"Maafkan aku, tadinya aku ingin menceritakan semuanya. Tetapi karena kamu bilang kamu akan menikah dengan Shifa. Aku tidak jadi memberitahukan nya", Indah tertunduk. Pangestu memeluk indah dan menciumi rambutnya sambil berucap, "Aku akan melindungi kalian. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan kalian".


__ADS_2