Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#13. Tedja bertemu Mitha


__ADS_3

Tedja merenung atas hasil Test mengenai dirinya.


Lelaki akan paling minder bila dibilang tidak perkasa atau bagian alat kelaminnya dibilang kecil dan tidak mampu memberi kepuasan kepada pasangannya.


Sungguh suatu pukulan yang berat bagi pria bila mengetahui hal itu.


Sama halnya yang dirasakan Tedja saat ini.


"Ternyata aku laki-laki yang tidak berguna. Padahal aku ingin sekali mendapatkan anak dari Indah. Karena sekarang, Indah seperti cinta ke dua bagiku selain istri pertama ku", gumam Tedja merasa kecewa.


"Tetapi aku pantas juga bersyukur Indah dan Pangestu selingkuh. Itu berarti telah menutupi aib diriku yang seorang laki-laki impoten", Tedja sedikit bersyukur kalau Indah berselingkuh.


"Ahhh..aku benar-benar laki-laki yang tidak berguna", Tedja merasa kesal dan melempar semua berkas yang ada dimeja kerjanya ke lantai.


Karena terdengar suara gaduh, datang sekretaris Tedja yang mejanya diluar ruangan. Datang menghampiri Tedja menghampiri karena ingin tahu apa yang terjadi pada bosnya


"Ada apa pak, apakah bapak baik-baik saja", sekretaris Tina langsung memberesi semua berkas yang terjatuh dilantai, dan menaruhnya kembali ke atas meja.


Setelah Tina selesai membereskan berkas yang berantakan itu, Tedja langsung menyuruh Tina untuk segera keluar.


"Tina, segera kamu keluar dari ruangan saya, apabila kamu sudah selesai membereskan nya", perintah Tedja pada Tina.


"Baik pak", balas Tina dengan buru-buru membereskan semua berkas-berkas yang berserakan itu. Dan Tina pun langsung pergi bergegas meninggalkan Tedja sendirian di ruangannya.


Tedja kembali duduk merenung meratapi nasibnya.


"Benar, aku adalah pria impoten yang tidak mampu memberi kepuasan pada istri ku, jangan-jangan Indah sudah mengetahui hal ini. Sehingga Indah mencari kepuasan dari Pangestu", Tedja merasa pusing dan menduga-duga dalam hatinya.


"Tetapi aku selalu bergairah dan selalu mencapai *******. Berarti Indah tidak pernah ******* bila bercinta dengan ku", Tedja mencoba mengingat-ingat ketika berhubungan suami-istri dengan Indah.


"Padahal aku merasa


Indah begitu bergairah, bersemangat, dan liar. Ahh Indah. Indah begitu pintar menutupi kekurangan ku", Tedja merasa bangga kepada Indah, tetapi Tedja jadi malu pada dirinya sendiri.


Tedja malas pulang ke rumah, karena merasa pusing dan suntuk dan juga merasa malu bertemu dengan Indah.


"Tetapi kemana aku pergi, aku juga tidak pernah keluyuran kemana-mana. Aku selalu di rumah dan menghabiskan waktu bersama istriku", gumam Tedja dalam hati.


Kring..... kring.....kring...


Tiba-tiba handphonenya berdering. Coba diabaikannya. Ternyata terus berdering hingga panggilan berakhir, paling-paling urusan bisnis pikirnya dalam hati.


"Aku sedang malas untuk membicarakan bisnis saat ini. Aku lebih berselera untuk menyendiri jauh dari orang-orang", pikir Tedja mencoba mencari solusi.


Kring...kring... kring..

__ADS_1


handphone Tedja kembali berdering.


Tedja kembali mengabaikannya. Karena terus berdering. Tedja merasa penasaran siapa gerangan yang meneleponnya.


"Sudahlah kuangkat saja, mungkin sang penelepon ingin berbicara penting kepada ku", pikir Tedja dalam hati.


Tedja memperhatikan handphonenya, Ternyata dari nomor tidak dikenal. Tedja kembali mengabaikan nya.


Lagi-lagi kembali berdering.


Tedja pun semakin penasaran.


"Sudahlah kuangkat saja, barang kali sangat urgent, sehingga ia menghubungi berulang ulang", pikir Tedja dalam hati.


Akhirnya Tedja pun mengangkat nya.


"Halo", sapanya membuka obrolan.


"Hai, Tedja. Lama banget sih kamu mengangkat telepon aku!. Kamu Lagi sibuk ya. Ini aku Mitha teman SMA mu. Yang tadi pagi ketemu kamu di rumah sakit?. masak lupa sih?", Mitha memberitahu dirinya.


"Oh. kamu Mith. Maaf nomor kamu belum ku save. Lagian aku tadi sangat sibuk. Makanya telepon mu kuabaikan", Tedja sedikit berbohong.


"Ada apa menghubungi aku", tanya Tedja langsung to the point.


"Kamu ada acara tidak hari ini, aku ingin kita ketemuan. Aku ingin bercerita banyak hal dengan kamu. Kamu mau kan. Atau kita bisa makan bareng, nonton bareng, duduk-duduk di taman atau apalah. Aku ingin buang suntuk", ajak Mitha antusias.


"Bagus juga, aku maui saja keinginan Mitha", gumamnya sambil tersenyum.


"Baiklah Mitha, aku mau ketemuan dengan kamu. Kita ketemu dimana?, atau aku mau jemput kamu dimana?", Tedja merasa bersemangat.


"Ok Tedja, kamu mau kan menjemput aku di halte depan mall Ramadani Jalan jambu", Mitha memastikan alamatnya.


"Ok Mitha, kamu tunggu saja disitu ya, nanti kalau aku sudah di jalan atau sudah menuju area. Aku hubungi kamu, agar kamu juga bisa siap-siap an", Tedja memberitahu.


"Ok. Benaran kan kamu akan menjemput ku?", Mitha merasa sedikit ragu, karena tadi pagi Tedja sangat dingin tidak begitu antusias berbicara kepadanya.


"Mungkin Tedja lagi ada masalah, makanya dia mau ketemu aku. Tidak apalah aku sebagai pelampiasan nya. Bagus dong, kalau begitu!. Dengan begitu aku jadi lebih gampang menggodanya.


Tedja pun akhirnya akan tunduk kepada ku", Mitha senyum-senyum. Dalam hatinya, ada rencana yang ingin di jalankannya kepada Tedja.


Tedja pun langsung menuju lokasi penjemputan Mitha, sebelum berangkat Tedja memberitahu terlebih dahulu.


"Mith, ini aku sudah bergerak ya. Kamu harus sudah ada di halte", Tedja memberitahu lewat telepon.


"Iya, aku sudah di halte kok", balas Mitha bersemangat, karena Tedja menyanggupi untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


"Aku harus bisa menggoda Tedja, sepertinya Tedja adalah pria kaya. Dari dulu aku sangat mencintai Tedja. Tetapi Tedja tidak pernah melirik ku sama sekali.


Entah mengapa laki-laki begitu sulit menyukai dan menerima aku. Apa mungkin karena usiaku yang sudah menginjak 53 tahun, tetapi aku tetap cantik kok.


Sepertinya aku tidak terlalu tua, hampir sama seperti Tedja yang terlihat tidak sesuai dengan umurnya", gumam Mitha dan memuji dirinya begitu percaya diri.


Tidak beberapa lama Tedja pun tiba di depan halte sesuai yang diberitahu Mitha. Dengan senyum lebar Mitha melempar senyum kepada Tedja.


"Masuk Mith", ucap Tedja membalas senyum Mitha.


"Kita kemana ini?", tanya Tedja kepada Mitha.


"Terserah kamu sajalah, aku sih nurut kamu saja. Gimana kalau kita makan-makan di mall. Terus cuci-cuci mata kamu mau kan?", Mitha menggoda dengan sedikit manja.


Bagi Tedja tidak apalah, "Tidak masalah keluar lumayan banyak uang untuk membiayai makan dan belanja-belanja mitha, yang penting Mitha sudah mau menemani aku", gumam Tedja dalam hati.


Mereka pun masuk ke dalam sebuah mall dan segera mencari restoran seafood, Seafood merupakan makanan kesukaan Tedja.


Kala asik makan Tedja membuka pembicaraan.


"Kamu sudah menikah Mith?", tanya Tedja.


"Belum Ted, Aku masih saja melajang. Tidak ada laki-laki yang mau sama aku", Mitha jujur mengatakan yang sebenarnya.


"Masak sih, kamu belum pernah menikah, mengapa?", tanya Tedja penasaran.


"Entahlah, hatiku terlalu sulit untuk membuka hati kepada pria lain", Mitha terdiam sejenak.


"Benarkah, Siapa pria yang masih saja kamu cintai itu?. Sampai kamu lupa usia kamu sudah tua hanya demi mengejar pria itu", Tedja ingin tahu.


Mitha tidak langsung menjawab, hanya diam saja.


Tedja terus memaksa.


Akhirnya dijawab oleh Mitha.


"Kamu adalah pria yang kucintai selama ini, sehingga aku selalu menutup diri terhadap pria lain. Aku selalu menanti dan mencari-cari kamu Tedja", Mitha bicara serius sambil terus menatap Tedja.


"Kamu mengharapkan pria yang tidak pasti. Tetapi aku tidak mencintaimu Mitha", Tedja terkejut Mitha mencintai nya.


"Setidaknya aku senang bisa ketemu dengan kamu setelah sekian lama berharap bertemu dengan mu. Mungkin inilah penampakan dari jodohku. Itu berarti jodohku sebentar lagi akan tiba", Mitha merasa yakin.


"Percaya diri sekali kamu, aku sudah mempunyai istri. Ini kedua kalinya aku menikah", Tedja jujur mengatakan yang sebenarnya.


"Tidak apa menjadi istri simpanan mu aku rela Tedja", Mitha terang-terangan.

__ADS_1


"Wah, kamu memang begitu percaya diri sekali. Kamu yakin bisa menaklukkan hatiku?", Tedja begitu penasaran dan ingin mengenal Mitha lebih dekat lagi.


"Aku akan terus mencoba dan terus berusaha", Mitha sangat optimis.


__ADS_2