Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#77. Tedja meninggal dunia


__ADS_3

"Kita berangkat saja sekarang, nanti kalau Arkan melihat kamu pasti ia akan marah kepada mu", ucap Indah karena berharap Pangestu tidak bertemu dengan Arkan karena sebentar lagi jam pulang sekolah Arkan.


"Padahal aku ingin sekali bisa bertemu dengan Arkan", Pangestu menunjukkan wajah sedih.


"Tidak usah kamu sekarang mengatakan ingin bertemu dengan Arkan. Selama ini kamu kemana?. Mengapa tidak ada waktu untuk bertemu dengan Arkan. Aku tidak ingin kamu bertemu dengan Arkan sekarang. Kalau kamu memaksa untuk bertemu Arkan. Akupun tidak mau bertemu Tedja kapanpun", Indah mengancam.


"Baiklah Indah kalau kamu tidak ingin aku bertemu dengan Arkan. Lain kali aku berharap kamu tidak melarang aku ketemu dengan Arkan. Karena aku adalah ayahnya Arkan", Pangestu sedikit kesal.


"Pangestu. Selama ini kamu ada tidak, bertemu dengan Arkan?. Tidak ada kan!, jadi mengapa seolah-olah kamu memojokkan aku kalau aku melarang kamu ketemu dengan Arkan.


Jelas sekali kalau sekarang aku melarang kamu. Karena kamu tidak tahu kan dan memang tidak peduli kondisi psikis Arkan yang sangat menginginkan kamu datang dulu. Padahal kamu tidak pernah datang.


Sekarang luka nya baru sembuh, jangan kamu seenaknya tiba-tiba datang malah ingin mencoba mengobok-obok perasaan nya lagi", Indah kesal Pangestu memaksakan untuk bertemu Arkan.


Melihat indah yang begitu kesal, akhirnya Pangestu merasa ketakutan. Pangestu pun mencoba melunak.


"Maaf Indah, bukan maksud ku ingin membuat kamu kesal", Pangestu meminta maaf.


"Indah, padahal aku ingin mengajak kamu rujuk kembali. Aku ingin kita kembali merajut asa yang pernah kita ukir bersama", Pangestu terbuka atas perasaan dan keinginan nya.


"Apa kamu bilang, kamu ingin kita rujuk kembali?", Indah kesal langsung pmenggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu tidak merasa bersalah ya, telah mencampakkan aku begitu saja. Pergi sesuka hati mu dan begitu juga datang sesuka hatimu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan aku dan Arkan?.


Betapa kami sangat membutuhkan kamu ada bersama kami. Tetapi kamu tidak pernah ada informasi dan kabar keberadaan dan setidaknya memberitahu dengan jelas. Bahwa tidak membutuhkan kami lagi", Indah begitu emosional.


"Indah maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini. Karena aku tidak ingin kehilangan perusahaan ku. Kamu tahu itu kan?. Itu adalah alasan terbesar ku, tetapi setelah Shifa meninggal dunia.


Shifa menyerahkan semua asetnya kepada ku. Dan begitu juga seluruh perusahaan dan harta Burhan, mertua ku. Sesuai perjanjian Burhan. Bahwa semua kekayaan nya akan jatuh ke tangan cucunya, Rangga", Pangestu memberitahu.

__ADS_1


"Aku tidak membutuhkan harta kamu Pangestu. Bagus dong kalau kamu sudah mempunyai banyak harta. Jadi kamu dengan gampangnya nanti bisa mendapatkan wanita di luar sana", Indah malas berdebat, Indah ingin menyudahi percakapan ini.


"Indah tolong, aku ingin sekali rujuk kepada mu. Maafkan lah aku yang terlalu egois selama ini. Setidaknya tidak kasihan kah kamu melihat baby Rangga yang ditinggal ibunya.


Rangga adalah adiknya Arkan, Aku ingin kamu merawat Rangga seperti anak kamu sendiri", Pangestu memohon-mohon, mengunakan segala cara. Dan Indah mengetahui siasat Pangestu, mencoba mencari kelemahan Indah, agar Indah luluh hatinya.


"Sebenarnya kamu tujuannya datang kesini untuk membujuk aku bertemu dengan Tedja atau membujuk aku agar rujuk kepada mu?", Indah merasa kesal karena Pangestu seolah memaksa untuk rujuk kembali.


"Aku ingin kamu segera memutuskan nya dengan cepat Indah. Rangga sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Aku merasa kamu adalah ibu yang cocok buat Rangga. Dan sekalian Arkan juga akan kembali mendapatkan kasih sayang dari ayah kandung nya sendiri", Pangestu berusaha terus membujuk Indah.


Indah merasa kesal, karena Pangestu seperti tidak merasa bersalah dan seolah-olah tidak memikirkan perasaan dirinya dan Arkan selama di tinggalkan nya.


"Sebaiknya kita berangkat saja sekarang ke rumah sakit. Sudah kukatakan tadi, aku tidak mau kamu ketemu dengan Arkan saat ini", Indah dengan penuh emosi masuk ke dalam mobil Pangestu.


Mau tidak mau, terpaksa Pangestu harus menuruti kemauan Indah. Dan segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Indah hanya diam saja. Tidak mengucapkan apa-apa. Pangestu pun paham atas kemerahan Indah terhadap dirinya.


Pangestu tidak ingin Indah merasa geram lagi. Pangestu pun segera keluar dari dalam mobil langsung menuju ke arah rumah sakit.


"Kita menuju ruang resepsionis. Kita tanya saja dimana ruangan ayah pada resepsionis soalnya kemarin itu aku ketemu ayah. Ketika ayah baru tiba di rumah sakit ini", ucap Pangestu tidak ingin Indah marah.


Indah lantas mengikuti Pangestu dari belakang.


"Sus, ruangan atas nama Tedja yang seminggu lalu datang untuk di rawat di rumah sakit ini. Ada di ruangan mana sus?", tanya Pangestu kepada salah satu petugas.


"Sebentar ya pak, saya periksa dulu daftar pasien masuk seminggu yang lalu", petugas segera memeriksa laptop-nya.


"Oh iya pak atas nama Tedja sekarang berada di ruang ICU. Pasien semakin hari kondisinya semakin memburuk", ucap petugas memberitahu.


"Oh begitu ya sus, ruangan ICU berada dimana sus?", Pangestu ingin tahu dan tidak sabar untuk segera melihat kondisi Tedja.

__ADS_1


"Ruangan ICU ada di lantai 2, Silahkan masuk dari tangga Utama. Maka setelah tiba di lantai 2 belok ke kiri jalan saja terus. Dan selanjutnya tanyakan saja kepada petugas apakah bisa mengunjungi pasien, karena ruangan itu dibatasin jumlah pengunjungnya dan harus memakai pakaian dari rumah sakit.


Agar menjaga ruangan tidak tercemar bakteri dan virus dari luar. Yang akan memperburuk kondisi pasien yang di rawat di ruangan tersebut", suster memberi tahu syarat masuk para pengunjung.


"Baik suster. Kami permisi dulu ya. Terimakasih atas informasinya", Pangestu dan Indah pamit. Dan langsung bergerak ke arah sesuai petunjuk suster tersebut.


Tidak beberapa lama kemudian Pangestu dan Indah tiba di depan ruang ICU dan langsung mencari petugas yang jaga agar mendapat izin masuk ke ruangan ICU tersebut.


"Dok, saya anak dari pasien atas nama Tedja, ini mantan istrinya bermaksud untuk menjenguk. Boleh kami masuk ke dalam untuk melihat kondisi pasien, dok?", Pangestu meminta izin.


"Oh baiklah pak, silahkan memakai pakaian dan perlengkapan ini, agar menjaga ruangan tetap steril", dokter memberikan pakaian dan topi serta masker untuk dikenakan sebelum masuk kedalam ruang ICU.


Benar saja kondisi Tedja sudah lemah.


"Ayah, aku membawa Indah", Pangestu memegang erat tangan Tedja. Tedja pun membuka matanya, mencoba untuk tersenyum begitu melihat Indah.


"In-dah, ma-afkan a-ku ya a-tas ke-ja-ha-tan ku se-la-ma i-ni. A-ku me-nye-sal te-lah me-ning-gal-kan mu", ucap Tedja terbata-bata.


"Aku sudah sejak lama memaafkan kamu. Kamu tidak usah banyak bicara. Sebaiknya kamu banyak berdoa dan memohon ampun kepada Sang Kuasa. Agar dosa mu diampuni, dan kamu bisa di tempatkan nantinya di sisi-Nya", Indah menasihati. Tedja berusaha tersenyum lebar.


"Te-ri-ma-ka-sih In-dah su-dah da-tang me-ne-mu-i ku. A-ku sa-ngat se-nang dan ba-ha-gia me-li-hat ka-mu", Tedja pun menutup matanya. Mesin medis yang terletak di samping Tedja menunjukkan garis denyut jantung Tedja tidak bergerak. Artinya Tedja sudah meninggal dunia.


Indah dan Pangestu langsung berteriak memanggil dokter.


"Dokter, tolong periksa kondisi ayah saya dok", teriak Pangestu kencang. Dokter pun langsung memeriksa kondisi Tedja. Berusaha memasang alat kejut, agar memunculkan kembali detak jantung Tedja. Beberapa kali dokter berusaha untuk memunculkan detak jantungnya, ternyata Tuhan berkata lain. Tedja sudah meninggal dunia.


"Maaf Pak, kami sudah berusaha. Pasien kami nyatakan meninggalkan dunia", ucap salah satu dokter yang memeriksa Tedja.


Pangestu berteriak dan menangisi jenazah ayahnya. Indah pun hanya tertunduk pasrah, karena melihat kondisi Tedja memang sangat lemah dan memprihatinkan, dalam hati Indah sudah yakin kalau Tedja tidak lama lagi umur nya.

__ADS_1


__ADS_2