Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#12. Dari hasil Test, Tedja dinyatakan Impoten


__ADS_3

Baby Arkan bertumbuh dengan baik dan sehat.


Setelah Indah pulih pasca operasinya, memang Indah lebih memilih untuk merawat baby Arkan sendiri, tidak memakai baby sitter lagi. Selain karena takut perselingkuhan nya dengan Pangestu akan ketahuan. Pangestu juga dengan senang hati mau membantu Indah untuk mengganti popok baby Arkan.


Sekarang umur baby Arkan sudah memasuki usia 4 bulan.


Baby Arkan sudah bisa mengangkat kepalanya, sudah bisa tengkurap, dan sesekali dilatih untuk menginjak kan kakinya di lantai. Memang sepenuhnya baby Arkan belum benar-benar menginjak kannya hanya sesekali saja. Itulah proses dan pelatihan bagi bayi. Semua dilakukan pertahap tahap.


Sesekali juga baby Arkan dipangku sambil duduk tetapi tidak terlalu lama dan tidak terlalu sering. Sekarang baby Arkan juga sudah bisa tersenyum dan tertawa.


Keceriaan ditengah-tengah keluarga kecil Tedja semakin bertambah setelah kelahiran baby Arkan. Tedja tetap memberikan kasih sayang sebagai ayah.


Ketika sedang bersama-sama di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Tedja membuka obrolan.


"Pangestu, gimana meja hijau kamu nak, ayah jadi lupa menanyakan nya. Kemarin 4 bulan yang lalu kamu sudah mengatakan kalau meja hijau kamu tinggal sebulan lagi. Kenyataannya, ini sudah 4 bulan berlalu kamu tidak ada berita selesai meja hijau. Kapan wisuda nya kalau meja hijau saja tidak jadi-jadi.


Padahal ayah sangat berharap kamu bisa selesai sekolah agar bisa menggantikan ayah di kantor, ketika ayah sudah tidak sanggup lagi bekerja", Tedja menanyakan mengenai kuliah Pangestu yang tidak tamat-tamat.


"Iya ayah, maafkan Pangestu yah. Pangestu jarang ke kampus. itu terakhir karena dosen pembimbing Pangestu meninggal dunia.


Jadi Pangestu di suruh harus mengajukan lagi permohonan untuk diberikan dosen pembimbing baru. Akhirnya Pangestu males mengurusnya", Pangestu menceritakan kendala nya.


"Bagaimana sih kamu, untuk mengurus hal seperti itu saja kamu sudah menyerah dan putus asa. Apa kamu selamanya akan menumpang hidup kepada ayahmu?. Tidak berpikir kah kamu untuk hidup berumah tangga. Memberikan cucu untuk ayah?", Tedja sedikit kesal dan tegas bicaranya.


Pangestu hanya diam saja. Selama ini Pangestu lebih asik dan terlalu banyak di rumah hanya bercumbu mesra dengan Indah.


"Makanya kamu jangan ngeres terus kerjaannya", Tedja menyindir Pangestu.


Pangestu hanya diam, tidak berani menjawab-jawab perkataan Tedja. Pangestu juga ketakutan akan lanjut diceramahin terus oleh Tedja.


"Kamu sudah seusia inipun masih saja tidak bisa berpikir untuk masa depannya. Kamu pikir dunia itu hanya seluas lapangan bola saja. Sehingga kamu tidak perlu berbaur dengan orang lain di luar sana?", Tedja terus menceramahi Pangestu.


"Bagaimana kamu menafkahi anak dan istri kamu, bila kamu pengangguran dan tidak bekerja. Tidak ada perempuan yang mau pada laki-laki pengangguran seperti kamu.


Perempuan itu sukanya dimanja, dimanja dalam hal apa?, salah satunya adalah materi", Tedja terus saja memberikan gambaran. Jangan karena ayahmu masih sanggup menghidupi kamu, kamu jadi santai. Kuliah dibiayai mahal-mahal malah tidak diberdayakan dengan baik.

__ADS_1


Kamu itu enak, setelah tamat kuliah sudah langsung kerja meneruskan bisnis ayah. Bagaimana mau meneruskan bisnis ayah, kalau pengetahuannya saja tidak ada. Diluar sana banyak ribuan sarjana yang pengangguran karena susah mencari pekerjaan.


Giliran kamu sudah ada pekerjaan malah tidak niat meneruskan. Ayah harap, ayah tidak perlu bolak-balik menasihati kamu. Kamu harusnya tahu setiap keinginan orang tua itu apa. Bagaimana kalau kamu sudah mempunyai anak?.


Bagaimana kamu mendidik anak kamu, sedangkan ayah nya sendiri tidak mempunyai pendidikan", Tedja terus menasihati Pangestu agar terbuka pikirannya dan bisa melakukan apa yang terbaik dan bisa membuat orang tuanya bangga.


"Iya ayah, Pangestu janji akan menyelesaikan kuliah tahun ini", Pangestu berjanji tidak mengecewakan orang tuanya.


"Baiklah kalau begitu, ayah pegang janji kamu", Tedja langsung pergi meninggalkan Pangestu dan Indah di ruang keluarga dengan terdiam dan menunduk.


Setelah Tedja tidak tampak lagi, Indah lantas memberi semangat dan support kepada Pangestu.


"Pak Tedja benar, kamu harusnya bisa membuat orang tuamu bangga. Kamu semangat ya, besok mulai pergi ke kampus dan lakukanlah prosedur apa yang harus kamu kerjakan. Walaupun terasa berbelit-belit. Bila dengan tekun dikerjakan pasti akan selesai juga", ucap Indah sambil menepuk-nepuk pundak Pangestu.


Keesokan harinya.


Seperti biasa, semua anggota keluarga duduk bersama di meja makan untuk sarapan pagi bersama.


Pangestu buru-buru menyelesaikan sarapannya dan langsung pamit untuk segera ke kampus.


"Pangestu pamit ayah, Pangestu pagi-pagi sekali harus tiba di kampus. Untuk menghindari antrian mahasiswa yang ingin mengurus berkas juga di bagian Tata Usaha", Pangestu mencium tangan Tedja.


Setelah Pangestu pamit meninggalkan rumah, sekarang giliran Tedja untuk pamit pergi ke kantor. Indah pun mengantar hingga sampai pintu pagar. Begitu Tedja melajukan mobilnya dan tidak tampak lagi. Indah kembali ke rumah dan langsung naik ke atas menuju kamarnya untuk mengeloni baby Arkan.


Sebelum ke kantor Tedja terlebih dahulu menyempatkan diri untuk


mampir ke rumah sakit. Tedja bermaksud ingin memeriksa tubuhnya apakah dirinya impoten atau mandul.


Tedja sendiri berharap dirinya baik-baik saja.


Setelah tiba di rumah sakit, Tedja langsung disuruh mengeluarkan spermanya. Karena ****** tedja yang akan di periksa, apakah produktif atau tidak.


"Baiklah pak setelah dilakukan pemeriksaan Kiranya bapak bisa bersabar menunggu untuk hasil lab nya. Kira-kira 2 jam lagi", ucap suster yang jaga pada saat itu.


"Baik Bu, nanti saya datang lagi 2 jam kemudian", Tedja setuju, dan beranjak meninggalkan ruang lab. Untuk pergi ke kantin untuk melepaskan jenuhnya.


Di kantin Tedja memesan secangkir kopi. Rasa kantuk datang melanda.

__ADS_1


Tiba-tiba Tedja dikejutkan oleh suara perempuan.


"Hai Tedja ngapain kamu disini sendiri?", tanya wanita itu.


"Oh, a...nu.. . Aku sedang menunggu seorang teman. Tetapi dari tadi aku sudah menunggunya selama 1 jam lebih tidak kunjung datang", Tedja bingung mau memberi alasan apa. Tidak mungkin Tedja akan mengatakan yang sejujurnya atas pemeriksaan yang sedang di lakukan nya.


"Kamu ngapain disini?, Oh iya saya rada-rada lupa sama kamu. Kamu siapa ya?", Tedja lupa siapa wanita yang baru saja menyapa nya.


"Aku Mitha, kita dulu satu SMA. Ternyata kamu seperti yang dulu ya. Tetap tampan dan menggoda. Aku juga sedang menunggu seseorang disini", Goda Mitha, karena dulu Mitha diam-diam sayang dan suka kepada Tedja.


"Oh Mitha, aku kenal sekarang. Dulu kamu sering disuruh guru menulis di depan papan tulis, karena tulisan kamu cantik, Iyakan?", Tedja mengingat sosok Mitha.


"Iya kamu benar, kupikir kamu sudah lupa sama aku", balas Mitha tersenyum.


"Wajah mungkin bisa lupa. Tetapi kalau diingatkan lagi. Mungkin bisa ingat kembali kok", Tedja melirik jam tangannya karena sudah 2 jam lebih. tyedja bermaksud segera mengambil hasil testnya.


"Ada apa sih, sepertinya kamu terburu-buru ingin pergi. Disini saja lah dulu. Kita kan sudah lama tidak berjumpa", Mitha membujuk Tedja.


"Oh maaf, lain kali saja ya, aku memang sedang terburu-buru untuk pulang. Karena aku memang mau pergi ke kantor juga. Karena yang kutunggu tidak datang juga, baiknya aku pergi saja", Tedja pamit dan langsung beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Mitha.


Sebelumnya Mitha sempat meminta kartu nama Tedja. Tedja pun memberikannya.


Tedja langsung lari ke ruang laboratorium, untuk segera mengambil hasil testnya.


"Suster, saya Tedja. Bermaksud untuk mengambil hasil pemeriksaan saya", Tedja menunjukkan surat tanda telah melakukan pemeriksaan.


"Sebentar ya pak, saya ambilkan hasilnya", sapa suster jaga itu sambil pergi mengambil hasilnya di ruang lain.


"Ini pak", suster menyerahkan setelah mendapat surat itu.


"Terimakasih sus", Tedja mengambil surat itu dan segera membacanya.


Lagi-lagi Tedja terkejut. Hasil testnya menyatakan kalau dirinya impoten.


"Pantes Indah mengandung dari benih Pangestu, ternyata aku telah menjadi impoten", Tedja kecewa.


Tedja merasa hasil Test nya salah. Karena tidak mungkin diri nya impoten padahal ada Pangestu lahir dari benihnya. Tedja pun langsung bertanya kepada dokter yang memeriksanya.

__ADS_1


"Begini pak, Akibat penyakit atau bapak pernah mengalami kecelakaan. ****** yang bapak produksi sifatnya encer. Sehingga sangat tidak memungkinkan kalau istri bapak hamil", dokter memberi penjelasan.


Tedja pun hanya diam saja. Tidak berani komplein. Karena itu sudah berdasarkan penelitian


__ADS_2