
Pangestu terbangun dari tidurnya, melihat dirinya tanpa busana, hanya dibaluti oleh selimut. Pangestu seketika tersadar, mengingat apa yang sedang dilakukannya semalam.
Pangestu ingat bahwa dirinya telah melakukan hubungan suami-istri dengan Shifa. Sedikit penyesalan terpersit dipikiran nya. Merasa bersalah telah mengkhianati Indah.
"Aduh, mengapa aku melangkah menjadi lebih dalam begini, bukankah dari awal aku ingin menemani Shifa disaat terakhirnya berkeliling dunia. Mengapa aku melakukan hal yang begitu dalam?", Pangestu merasa menyesal dan bersalah kepada Indah, tidak menyangka akan melangkah sejauh ini.
Pangestu Melihat ke sekeliling, Shifa tertidur pulas di sampingnya, Shifa sudah mengenakan dress tidur yang transparan.
Pangestu bermaksud ingin beranjak dari tempat tidur nya dan ingin mengenakan pakaiannya.
"Aduh, kepala ku sakit sekali", teriak Pangestu ketika mencoba ingin beranjak dari tempat tidur nya. Shifa pun jadi terbangun.
"Selamat pagi sayang", Shifa mencium Pangestu, dan merangkulkan tangannya ke leher Pangestu.
"Apa kamu merasa happy pagi ini?", tanyanya sambil tersenyum dan manja. Pangestu hanya mengangguk sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
Shifa malah menarik selimut itu dari tubuh Pangestu. Sekarang Pangestu tanpa busana, berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangan nya.
"Kesini in selimut nya Shifa", Pangestu berusaha merebut kembali selimutnya. Tetapi Shifa malah melempar selimut itu kebawah tempat tidur.
"Kenapa malu begitu, aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu, bahkan sudah mencicipi nya. Mengapa harus merasa malu", ucap Shifa sambil naik ke atas tubuh Pangestu dan menindihnya.
"Aku pengen, entah mengapa aku jadi begitu ketagihan dan keinginanku begitu besar, aku tidak ingin jauh-jauh dari kamu", goda Shifa menciumi dada Pangestu dan mengelus-elus nya mesra.
Pangestu sesungguhnya ingin menghindar, tetapi Shifa terus menggoda nya. Bahkan Shifa memaksa untuk memasukkan lubang kepunyaan nya ke peluru Pangestu.
Sambil sesekali memutar, menarik dan kembali memasukkan nya. Awalnya Shifa melakukan nya dengan perlahan-lahan, agak kencang dan semakin kencang. Sehingga membuat Pangestu pun tidak bisa menghindar ia pun ikut menikmati permainan Shifa walaupun langsung *******.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku kan?", tanya Shifa berbisik ke telinga Pangestu dan menaruh kepalanya ke lengan Pangestu. Pangestu hanya diam saja.
__ADS_1
"Apa semua perlengkapan yang akan kamu bawa sudah selesai dikemas?", Pangestu mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, termasuk semua perlengkapan kamu. Semua sudah dikemas dalam sebuah cover", balas Shifa.
"Bagus deh kalau begitu. Jangan sampai ada barang yang tertinggal ya", Pangestu mengingatkan Shifa
"Beres, semua sudah beres kok", Shifa menyakinkan Pangestu.
"Aku mandi dulu ya, badanku terasa capek dan lelah. Aku ingin terlihat segar", Pangestu langsung ke kamar mandi meninggalkan shifa di atas ranjang.
Setelah Pangestu masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba handphone nya berdering. Terdapat panggilan masuk dari Indah. Awalnya Shifa merasa ragu untuk mengangkatnya. Handphone pun berhenti berdering, sehingga Panggilan pun menjadi tidak terjawab.
Tidak beberapa lama kembali handphone Pangestu berdering, sama seperti tadi. Terdapat panggilan masuk dari Indah. Shifa merasa kalau indah adalah teman spesial Pangestu. Karena Pangestu pernah salah ucap. Terkadang dirinya dipanggil Indah oleh Pangestu.
Karena merasa penasaran, Shifa menjawab panggilan masuk tersebut.
Indah terkejut handphone Pangestu diangkat oleh suara perempuan. Sejenak Indah terdiam tidak tahu harus berkata apa.
"Halo", ucap Shifa berkali-kali, tetap saja indah terdiam.
Akhirnya Indah pun memberanikan diri menjawab sapa an Shifa.
"Halo, Pangestu ada, ini siapa ya, kenapa bukan Pangestu yang menjawabnya?", tanya Indah penasaran dan ingin tahu.
"Oh Pangestu, Pangestu sedang mandi. Ini dari siapa?. Atau penting kah ingin berbicara langsung dengan Pangestu agar handphone nya aku berikan kepada Pangestu", Shifa mencoba blak-blakan agar Indah merasa geram.
"Oh. Tidak usah. nanti aku akan coba telpon Pangestu kembali, katakan saja pada Pangestu kalau indah telepon", Indah menutup teleponnya dengan sedikit kesal dan cemburu.
Karena Pangestu tidak ingat meneleponnya sekedar memberitahu mengenai kepastian keberangkatannya ke luar negeri. Pangestu belum ada sama sekali pamit memberitahu alasan kepergiannya terlebih kepada Arkan.
__ADS_1
Indah merasa kesal dan cemburu, Pangestu dan Shifa berada dalam satu kamar, terlebih Shifa sudah berani mengangkat handphone Pangestu.
"Benarkah mereka tidak melakukan hubungan suami-istri?. Bagaimanapun seorang pria pasti akan tergoda bila melihat ada wanita cantik yang sedang memakai baju transparan, dalam satu kamar dan mempunyai hubungan yang sah sebagai suami istri.
Yang membedakan hanya si pria tidak menyukai si wanita. Tetapi hasrat pria susah di bendung, bila si wanita terus menggoda. Pasti lah si pria akan luluh", Indah tidak yakin kalau Pangestu tidak tergoda untuk menyetubuhi shifa. Bathin Indah terus bergejolak Mencoba berpikiran positif, yakni
Tidak berpikiran yang tidak-tidak kepada Pangestu. Tetapi tetap saja akal sehatnya tidak mempercayainya. "Pangestu dan Shifa pasti telah melakukan hubungan suami-istri", Indah menduga-duga di dalam hatinya.
Lagi-lagi indah hanya bisa pasrah, "Bagaimana mau menuntut pangestu. Toh hubungan kami belum sah sebagai suami istri", gumam indah pasrah.
Indah tidak bisa berharap banyak kepada Pangestu. Karena bisa saja, Pangestu akhirnya mencintai Shifa.
"Apa mungkin Shifa menggunakan kesempatan ini, karena umur nya tidak lama lagi. Jadi Shifa berusaha menggoda, merayu dan membujuk Pangestu agar Pangestu menuruti kemauannya", Indah menerka-nerka.
"Ahh sudahlah. Pangestu adalah seorang pria normal. Anak dari Tedja, Dulu juga Tedja tidak ada Keinginan menikah sepeninggal istrinya.
Sekarang Tedja bak seperti kupu-kupu yang tidak pernah puas terhadap satu bunga. Bosan terhadap bunga yang satu, maka dengan seenaknya akan pindah ke bunga yang lain.
Jadi sudah hal yang wajar bila Pangestu menuruni sifat ayahnya", gumam Indah, mencoba berpikir realistis. Agar tidak terlalu memikirkan apa yang sedang dilakukan Pangestu.
Karena bagi seorang pria, ia akan dengan gampangnya memberikan alasan, "saya khilaf dan tidak sengaja melakukannya. Waktunya cepat sekali berlalu. Aku juga tidak tahu, tiba-tiba kami sudah dekat dan saling mencintai".
Alasan itu akan selalu keluar dari mulut pria kalau akhirnya sudah ketahuan selingkuh atau mendua. Seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah wajar. Lain halnya bila si wanita yang melakukan perselingkuhan, pasti pria nya akan balas berselingkuh atau malah menghukum wanita nya dengan penderitaan.
Indah mencoba tidak ambil pusing apa yang dilakukan Pangestu.
"Baiklah aku fokus saja dengan pekerjaan ku saat ini, aku harusnya lebih fokus kepada masa depan Arkan. Kalau terus memikirkan Pangestu. Adanya akan makan hati terus. Syukur-syukur tidak jadi emosional atau depresi ", Indah menyemangati dirinya.
"Mudah-mudahan aku dijauhkan dari segala sakit penyakit", Indah menambahi.
__ADS_1