Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#88. Febri begitu perhatian dan lembut ketika tidak berdekatan dengan Shinta


__ADS_3

Shinta hanya tersenyum mengejek kepada Indah.


"Indah... Indah, Febri akan lebih percaya kepada omonganku daripada omongan kamu. Aku sudah paham karakter Febri. Makanya aku berusaha datang ke Jakarta untuk mendapatkan cinta Febri", Shinta mengejek Indah dan merasa menang.


"Mengapa baru sekarang kamu berusaha mendapatkan Febri, mengapa tidak sedari dulu kamu berusaha keras mendapatkan Febri sebelum kami menikah?", Indah tidak habis pikir Shinta melakukan segala cara untuk mendapatkan Febri.


"Febri dulu buta begitu cinta mati kepada mu, makanya ketika aku mengungkapkan perasaan ku kepada nya. Febri sangat ingin menikah kepada mu dan menolak cinta ku. Ternyata sekarang setelah menikah, Febri jadi tahu yang sebenarnya bagaimana engkau melayani dan memuaskan nya.


Febri mungkin saja tidak menyukai pelayananmu dalam hal urusan ranjang. Makanya Febri setuju kalau aku tinggal bersama kalian", Shinta terus saja mengatakan yang tidak-tidak agar Indah menjadi marah dan benci kepada dirinya.


Bahkan Shinta berharap, agar Indah main pukul atau melukainya. Dengan begitu Shinta akan menunjukkan kepada Febri kalau Indah sudah berbuat kasar kepadanya.


"Sepertinya kamu senang sekali berbohong ya. Dan mengucapkan kata palsu sudah menjadi kebiasaan mu. Aku tidak akan membiarkan Febri jatuh ke pelukan mu.


Kalaupun sekarang kamu merasa menang telah mendapatkan Febri. Yakinlah, suatu saat nanti Febri akan tahu yang sebenarnya dan ujung-ujungnya akan kembali kepada ku.


Kamu akan merasa sakit dan menyesal bila momen itu terjadi, karena Febri tidak akan ingin bertemu denganmu karena begitu benci karena kamu telah membohonginya", Indah tegas memberitahu kalau Shinta akan mendapatkan karma dari perbuatannya yang telah merebut Febri darinya.


"Kamu bicara seolah-olah kamu tahu masa depan saja. Setelah Febri ku dapatkan Febri tidak akan pernah meninggalkan ku. Febri akan merasa senang dan tidak ingin jauh dari ku", Shinta merasa yakin.


"Terserah kamu saja", Indah marah dan meninggalkan Shinta.


"Oh iya, kamu tidur bersama Bi Marni saja. Kamu cocok nya tinggal bersama nya. Ranjang Bi Marni cukup kok untuk berdua. Lagian kamu kan takut kesepian", Indah meledek Shinta.

__ADS_1


"Enak saja, aku tidak mau seranjang dengan Bi Marni. Aku mau tidur dekat kamar kalian. Kamar dekat kamar kalian kan lumayan besar, aku tidur di situ saja", Shinta ngotot.


"Tidak, aku tidak mau dekat dengan kamar kamu. Nanti kamu malah seenaknya ingin minta bantuan kepada Febri. Kamu tidur di dapur saja, dekat kamar Bi Marni ada kamar yang lumayan luas, perlengkapan nya juga sama kok dengan kamar yang dekat kamar kami", Indah memberitahu.


"Tidak mau, aku tetap memilih tidur di dekat kamar kamu saja", Shinta langsung berlari dan masuk ke kamar yang di inginkan, yaitu di dekat kamar Indah. Indah pun tidak bisa mencegahnya lagi.


Indah pun masuk ke kamar nya, melihat Febri sedang sibuk memainkan game pada handphone nya.


"Sayang, sampai berapa lama Shinta akan tinggal bersama dengan kita?, apa kamu tidak malu bila tetangga menduga hal yang tidak-tidak. Secara selama ini tetangga tahu kalau kamu dan aku adalah anak yatim-piatu. Artinya tidak ada sanak saudara.


Nanti tetangga akan bingung dan berusaha bertanya mengenai keberadaan Shinta yang tiba-tiba ada di tengah-tengah kita", Indah mencoba membuka pikiran Febri, bermaksud agar Febri berubah pikiran dan mengusir Shinta.


"Sudahlah Indah. Itu kamu sendiri malah yang langsung mengambil kesimpulan mengenai tanggapan tetangga. Padahal tetangga tidak ada tuh yang bertanya atau curiga. Pikiran kamu saja yang negatif", Febri begitu marah dan kesal dengan tanggapan Indah. Sepertinya Febri sudah tidak bisa lagi berpikir logis. Seluruh perkataan Indah selalu di bantah dan selalu di anggap salah.


"Sudahlah Indah, aku capek dan bosan kamu terus berkata negatif mengenai Shinta. Aku tidak mau lagi mendengar keluhan dan semua prasangka buruk mu mengenai Shinta", Febri langsung meninggalkan Indah ingin keluar dari kamar.


"Oh iya, aku ingin buka toko. Kamu ikut atau tinggal di rumah", Febri spontan Febri membalikkan badan ingin mengajak Indah.


"Aku ikut kamu, lagian aku ingin melihat stok barang yang tersisa dan barang yang akan di order", Indah segera menggandeng tangan Febri. Mereka pun langsung ke toko.


Shinta tidak tahu kalau Febri dan Indah sedang keluar karena Shinta sibuk berhayal dan mengurung diri di kamar barunya.


Ketika di dalam mobil Indah hanya banyak diam. Tidak tahu apa yang harus dikatakan nya. Ingin mengatakan sesuatu tentang Shinta takut Febri akan marah dan menuduhnya yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Sayang, kamu mengapa diam saja. Kamu baik-baik saja kan? Kamu merasa tidak sedang sakit kan pada perut kamu. Indah tolong kamu jaga kondisi fisik dan pikiran kamu ya. Aku tidak mau bayi yang ada dalam kandungan mu kenapa-napa", Febri berkata sangat lembut dan penuh perhatian. Febri memegang kening Indah apakah ada demam.


"Aku baik-baik saja sayang", Indah merasa bingung dengan sikap Febri, yang begitu lembut dan penuh perhatian. Padahal di rumah, Febri begitu marah dan sangat kesal, bahkan cenderung kasar bila bicara kepadanya.


Indah dan Febri pun tiba di toko. Dan segera membuka toko, dan mengeluarkan beberapa patung dan pakaian untuk di pajang di luar.


"Sayang biar aku saja, nanti kamu tersandung dan perut kamu terantuk ke meja atau ke rak. Pegawai kita juga sudah pada datang. Biar mereka saja yang menyelesaikan ini", Febri melarang Indah melakukan pekerjaan yang berat-berat.


Dengan sikap Febri yang lembut dan perhatian. Indah pun berusaha ingin tahu perasaan Febri yang sebenarnya kepadanya.


"Sayang, apakah kamu sangat mencintai aku?, atau sekarang kamu merasa menyesal kah telah menikahi aku?", Indah ingin tahu perasaan Febri.


"Mengapa kamu masih saja meragukan cintaku Indah. Tentu saja aku sangat mencintaimu. Aku sangat bahagia telah memiliki dirimu", Febri menyakinkan Indah.


"Apakah kamu mencintai Shinta?, bagaimana kalau Shinta berusaha ingin merebut engkau dari aku?", Indah menangis.


"Tidak akan ada yang merebut aku dari mu Indah. Tidak semudah itu, lagian kamu pikir aku boneka yang bisa sesuka hati mu dioper kepada orang lain. Aku yang akan memilih siapa yang berhak dan pantas menjadi teman hidup ku selamanya. Dan aku menekankan dan menyakinkan kamu, bahwa aku ingin kamu menjadi teman hidupku selama nya", Febri memberitahu dengan sangat bersungguh-sungguh.


Indah menjadi sangat bingung.


Bila Shinta tidak ada, Febri seperti Febri nya selama ini. Febri yang lembut, perhatian dan yang sangat mencintainya.


Mengapa bila di rumah, ketika Shinta ada. Febri seolah bukan Febri. Febri yang begitu benci kepada Indah dan selalu membela Shinta.

__ADS_1


__ADS_2