
"Indah maafkan aku ya, aku sudah membuat semuanya hancur begitu saja. Semua karena kebodohan ku, semua karena aku terlalu percaya mulut manis perempuan di luar sana. Maukah kamu memaafkan aku indah?", tanya Tedja, karena sikap indah sedikit dingin kepada nya.
"Aku sudah memaafkan kamu sejak lama, tidak ada juga gunanya berlama-lama larut dalam kesedihan. Sekarang yang paling utama, komitmen di masa mendatang, tekad dan kemauan serta kerja kerasmu agar bisa keluar dari kesulitan ini", ucap Indah sambil sibuk memasak di dapur, lagi memotong sayur di atas telenan.
"Aku janji Indah, secepat nya kita akan pindah dari rumah ini. ke rumah baru kita", Tedja memeluk Indah dari belakang.
"Baiklah aku pegang janji kamu ya. Aku berharap kamu tidak mengulangi perbuatan kamu yang begitu royal kepada perempuan asing", Indah pun memegang erat tangan Tedja setelah melepaskan tangan Tedja tadinya pada perut Indah. Tedja membalikkan badan Indah menghadap ke arahnya.
"Dimana ayah, apakah permainan ini boleh kita lanjut", Tedja mengecup bibir Indah.
"Ayah sedang keluar mengayuh becak, di panggil Bu Salma untuk menjemputnya di kampung sebelah pulang dari wiritan", ucap indah membalas kecupan Tedja.
"Aku kangen kamu Indah", Tedja begitu bergairah menciumi bibir Indah terus hingga sampai ke leher.
"Aku juga kangen kamu", Indah mengikuti arah permainan Tedja.
"Kita di kamar mandi saja, aku takut kalau ayah kamu tiba-tiba datang, kita malah tidak bisa atau tidak sempat untuk berpakaian lagi", Tedja menarik Indah ke arah kamar mandi.
Begitu tiba di kamar mandi tedja langsung buru-buru membuka pakaian Indah dan pakaiannya. Seolah-olah nafsunya telah sampai pada puncaknya. Maklum Tedja hampir seminggu puasa tidak berhubungan suami istri.
Indah pun menunjukkan sikap begitu bernafsu dan bergairah, baginya agar suaminya tidak tergoda lagi terhadap perempuan lain. "Harus pandai-pandai meladeni suami, harus bisa membuat suami merasa ketagihan atas permainannya", gumam indah dalam hati, mencoba belajar agar Tedja tidak kecantol terhadap perempuan lain.
Indah melakukan banyak gaya dan atraksi yang membuat Tedja mendesah, mengerang, "Ahhh, enak sekali Indah", ucapnya ketika indah bermain-main pada bagian peluru Tedja.
Setelah cukup lama bermain pada area tersebut Terakhir Indah naik ke atas tubuh Tedja, menindih dan mempertemukan kepunyaan mereka masing-masing. Dan mereka pun sampai pada puncak kepuasan.
__ADS_1
Tedja merasa ada yang beda dengan Indah, Tedja merasa kepunyaan Indah begitu sempit.
Ketika sedang asik menggosok dirinya dengan sabun.
"Sayang, kayaknya aku merasa kamu sedikit berbeda. Lama ku tinggal ternyata kepunyaan kamu terasa lebih sempit. Apa yang kamu perbuat?", Tedja merasa penasaran.
"Aku belajar dari putri, tetangga kita waktu di luar negeri. Suaminya kan bekerja di pertambangan yang pulang terkadang sekali 2 bulan atau 3 bulan. Jadi selama suaminya di rumah putri harus memenuhi kebutuhan *** suaminya, agar tidak berpaling terhadap perempuan lain.
Putri melakukan operasi pada kepunyaannya agar lebih rapat dan banyak melakukan senam. Aku mengikuti arahan putri berharap kamu tidak tergoda terhadap perempuan lain", Indah terbuka atas usahanya untuk menyenangkan Tedja.
"Apakah kamu tidak suka?, bagaimana rasanya apakah beda seperti biasanya?", Indah merasa penasaran karena yang tahu perubahannya adalah Tedja. Indah tidak bisa mengetahui perubahannya.
"Aku suka, terasa sempit. Terimakasih kamu sudah memenuhi kebutuhan sampai ke hal seperti itu", Tedja bangga terhadap Indah karena bisa memikirkan kebutuhan untuk menyenangkan suaminya Tedja mengecup kening Indah sambil berucap, "Ayo lagi, aku pengen lagi", Tedja merasa ketagihan.
Kamu mau lagi asik-asik bergelut malah terganggu atau terhalang karena rengekan Arkan. Jadi bergelut nya nanti-nanti aja ya", Indah mengelus pipi Tedja dengan manja agar Tedja tidak marah karena indah menolak keinginannya untuk bergelut.
Tedjapun mau tidak mau harus menahan keinginannya karena melihat situasi dan Kondisi Arkan yang sebentar lagi bangun dari tidur nya.
Melihat Indah pun sibuk memasak dan mengurus Arkan. Tedja pun mengambil kesibukan sendiri.
Ingat memulai awal bisnisnya dengan menghubungi Deni, orang kepercayaannya.
"Halo den, ini aku Tedja. Bagaimana perkembangan penjualan dari produk-produk kita?", tanya Tedja menghubungi via telepon.
"Halo pak, Bagiamana kabar bapak?, maaf pak, saya belum sempat menghubungi Alex untuk mencabut laporan nya. Karena masih sibuk", Deni bingung dan terkejut Tedja tiba-tiba menelepon nya, setahu Deni para tahanan tidak diperbolehkan memegang handphone.
__ADS_1
"Tidak apa-apa den, lagian aku sudah keluar dari penjara. sekarang aku sudah di rumah. Aku sudah bebas", Tedja memberitahu.
"Bagaimana caranya pak?", Deni penasaran dan ingin tahu.
"Indah, istriku yang membujuk Alex untuk mencabut laporannya. Kebetulan Alex adalah teman satu kuliah Indah, makannya Alex mau mencabut laporannya", Tedja memberitahu.
"Oh syukurlah kalau bapak sudah bebas, saya senang mendengarnya. Bisnis kita sejauh ini masih seperti biasanya pak. Masih sepi, belum ada perkembangan", Deni memberitahu keadaan penjualan perusahaan saat ini.
"Saya dan Indah sepakat akan membuat perubahan dan modifikasi terhadap sebagian produk kita. Kita akan ubah ke bentuk yang lebih simple, minimalis, cantik dan kreatif. Agar pelanggan suka.
Kita juga akan merambah ke penjualan makanan, kue-kue an, sovenir, dan kemasan-kemasan lain", Tedja memberitahukan rencananya untuk mencoba memajukan lagi bisnisnya.
"Bagus sekali idenya pak, saya sangat mendukung. Tetapi itu akan memerlukan banyak modal. Sedangkan saat ini, Perusahaan kita belum mendapatkan kepercayaan dari pihak bank atau investor untuk diberikan pinjaman", Deni memberitahu kondisi sulit saat ini.
"Iya aku tahu, tetapi istri ku yang akan memberikan modal nya untuk perusahaan kita", ucap Tedja penuh semangat dan sangat antusias.
"Kapan kita akan memulai inovasi tersebut pak", tanya Deni ingin tahu dan tidak sabar menunggu realisasinya karena menurut nya ide itu akan sangat cepat membuat perusahaan bangkit kembali.
"Secepat nya dong Deni", Tedja begitu bersemangat.
"Baiklah, aku akan coba mengorder bahan dan peralatan yang diperlukan. Dan juga sumber daya manusianya juga perlu, yaitu bagian design. coba nanti aku tanyakan istriku, apakah dia mengenal orang ahli atau ada teman-teman nya semasa kuliah dulu yang bergerak dibidang design.
Saat ini memang tenaga ahli sangat sulit kita realisasikan karena gajinya tentu akan sangat mahal. Tetapi orang yang belum pengalaman pun belum tentu juga tidak bagus. Sedikit polesan saja pasti akan sangat bagus hasilnya. pastinya kita akan terus belajar dan riset di lapangan bagaimana kebutuhan yang sangat diminati", ucap Tedja menyakinkan Deni.
"Ya bapak benar, saya akan tetap mendukung bapak", Deni menyemangati Tedja
__ADS_1