Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#66. Indah menceritakan semua tentang Pangestu.


__ADS_3

"Terimakasih banyak telah menemani anak saya. Kalau Arkan ada pada tangan orang yang salah. Mungkin saya tidak akan melihat Arkan saat ini", Indah bersyukur Febri tidak ada maksud jahat kepada Arkan.


"Sama-sama. Saya hanya menemani Arkan duduk. Mendengarkan semua keluh kesahnya", balas Febri pada Indah.


"Hai Arkan. Kamu harus ingat ya, semua apa yang om nasihat kan. Kamu harus lebih bersemangat dan kuat ya, sebagai anak lelaki dan anak satu-satunya dalam keluarga.


Mengapa harus lebih kuat, karena anak cowok akan bertanggung jawab untuk menjaga dan melindungi ibunya", Febri mengingatkan segala nasihat yang dikatakan nya kepada Arkan ketika Arkan pergi merenung di taman.


"Makasih banyak ya om Febri, mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali. Arkan akan mengingat semua apa yang om pesankan kepada Arkan", Arkan pamit dan memeluk Febri dengan kuat dan terharu karena harus berpisah.


Indah dan Arkan pun segera masuk ke dalam mobil. Febri melambaikan tangannya ketika mobil melaju dengan perlahan-lahan.


Begitu mobil mendekati sekolah Arkan. Arkan dan Indah turun untuk mengatakan kepada gurunya kalau dirinya telah menemukan Arkan. Agar pihak sekolah segera menghentikan pencarian dan tidak mengkhawatirkan lagi kondisi Arkan karena sudah ditemukan.


"Syukurlah kamu sudah ditemukan Arkan. Lain kali kamu harus pamit bila pergi ke suatu tempat. Agar tidak terulang lagi hal seperti ini. Yang membuat semua pihak, baik mama dan guru kamu jadi panik dan bingung", ucap Miss Linda senang, setelah indah mengatakan kepada pihak sekolah Arkan ditemukan di sebuah taman.


"Iya Bu, saya tidak akan mengulangi perbuatan saya", Arkan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.


Arkan dan Indah pun akhirnya pamit pulang ke rumah.


Sesampai di rumah Indah pun menasihati Arkan dan memberikan gambaran kepada Arkan perihal mengenai Pangestu.


"Mungkin sudah seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya mengenai Pangestu. Dan kuberharap Arkan bisa menerima dan mengerti", gumam indah dalam hati memberanikan diri.

__ADS_1


"Arkan sayang, duduk disini sebentar. Ada yang ingin mama beritahukan kepadamu", indah menyuruh Arkan duduk di salah satu bangku meja makan yang terdapat di ruang dapur.


Arkan pun langsung menuruti apa yang diperintahkan Indah.


Indah menarik nafas panjang, bingung harus berkata dan memulai dari mana.


"Arkan sayang. Setelah mama memberitahukan semua ini kepada mu. Mama berharap kamu mengerti dan tidak tanda tanya lagi mengenai keberadaan ayah kamu", indah mengawali pembicaraan nya.


Arkan hanya diam saja, menunggu indah terus berkata-kata.


"Begini sayang. ayah kamu, sebenarnya telah menikah dengan wanita lain. Tadinya ayah mu menikah karena terpaksa harus menurut, karena alasan kesehatan dari ayah mertuanya.


Ceritanya sangat panjang, sebelumnya ayah mu dan calon istrinya tadinya adalah bersahabat dan membentuk perusahaan bersama-sama. Mungkin karena harus balas Budi, makanya ayahmu menurut dan terpaksa setuju menikah.


Hingga saat ini. Ayah kamu tidak pernah menghubungi dan memberitahu mama, apa yang telah terjadi padanya. Bahkan ayah kamu tidak pernah menafkahi kita lagi. Mama berharap kamu tidak usah banyak berharap lagi kalau ayah kamu akan datang menemui kamu.


Mama berpikir, ayahmu lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaan istri dan anaknya. Ayah kamu juga sangat gengsi untuk bergantung dengan usaha yang mama rintis. Ayah kamu seperti nya tidak ingin kehilangan perusahaan yang telah dirintisnya dengan kerja keras", indah memberitahu semua alasan Pangestu tidak pernah pulang ke rumah.


"Ma. Kalau seperti itu alasan ayah tidak pernah datang lagi ke rumah ini. Arkan pun tidak akan mau berharap lagi ayah akan datang menemui Arkan. Kalau suatu saat nanti ayah datang menemui Arkan, Arkan tidak akan mau menerima nya.


Mama juga harus begitu, Jangan dikira kita hanya sebagai pelampiasan terakhir. Toh selama ini ayah tidak peduli kepada kita", Arkan terisak dan meneteskan air mata nya yang tidak bisa lagi dibendungnya. Indah terkejut dan heran Arkan mengambil kesimpulan seperti itu.


"Mungkin Arkan pun merasa sakit hatinya", gumam Indah sedih, seperti bisa merasakan apa yang dirasakan Arkan saat ini.

__ADS_1


"Baiklah sayang, sekarang kamu telah mengetahui semua tentang ayah kamu. Mama berharap kamu bisa mengerti dan tidak jadi putus asa dan menyendiri. Sebisa mungkin mama akan jadi sosok ayah bagi kamu.


Mama akan menemani kamu bermain bola. Arkan tidak boleh segan-segan untuk ngomong sama mama ya, kalau ada yang ingin diceritakan, sekecil apapun itu ceritakan lah. Mama janji bisa menutup dan menjaga rahasia kamu rapat-rapat", indah berusaha menjadi teman curhat yang baik bagi Arkan.


"Satu hal lagi, semua masalah ini jangan membuat kamu jadi malas belajar ya. Kamu harus lebih semangat dan lebih rajin belajarnya. Tunjukkan kalau tanpa ayah, kamu bisa lebih hebat", indah menambahi dan terus memberi support dan semangat kepada Arkan.


"Baik ma, Terimakasih ma, mama sudah menguatkan Arkan", Arkan memeluk indah erat. Indah langsung membalas dengan mengucapkan, "Sama-sama sayang, mama juga senang kalau Arkan mau terbuka kepada mama", indah mengusap airmata yang jatuh di pipi nya.


"Baiklah sekarang Arkan simpan dulu tas sekolah nya, dan segera mengganti seragam sekolah. Setelah itu turun agar kita makan bersama. Oh iya, besok kan week end kita akan pergi kemana?", ucap indah bersemangat, agar Arkan juga bisa rileks dan tidak jenuh karena di rumah terus selama satu Minggu.


"Kita jalan-jalan ke pantai dong ma, Sepertinya Arkan ingin sekali bermain ombak dan bermain pasir", Arkan sangat antusias dan bersemangat karena di tawari liburan.


"Baiklah besok kita akan ke pantai", indah menyetujui kemauan Arkan yang ingin ke pantai. Arkan pun dengan sangat bersemangat dan penuh kegembiraan naik ke atas kamarnya untuk segera menyimpan tas sekolah nya dan mengganti seragam sekolah nya.


Tidak beberapa lama langsung segera turun untuk makan siang bersama.


Arkan makan begitu lahapnya dan wajahnya tidak tampak sedih dan murung lagi. Bahkan cenderung lebih bersemangat dan penuh keceriaan.


"Sepertinya Arkan sudah lebih tenang setelah mengetahui kebenaran mengenai ayahnya", gumam indah senang di dalam hatinya.


"Ma, Arkan naik ke atas dulu. Arkan ingin istirahat dan tidur siang. Nanti sore temani Arkan bermain bola basket ya", Arkan begitu bersemangat dan sangat antusias.


"Ok, siapa takut. Mama juga tidak akan mau kalah dengan kamu", Indah menunjukkan sikap begitu bersemangat agar Arkan bahagia.

__ADS_1


Ternyata benar, ekspresi Arkan begitu bahagia setelah mengetahui Indah begitu bersemangat mau menemaninya bermain basket. Karena memang Arkan begitu senang bermain basket. Kalau ada teman bermain akan lebih asyik daripada bermain sendirian.


__ADS_2