
Kepindahan Indah dan Tedja ke rumah baru sementara waktu ditunda. Karena Indah masih ingin mengenang ayahnya di rumah itu.
"Mungkin ayah terlalu sedih dan tidak rela rumah ini di rubuhkan dan jauh dari rumah ini, karena memang di rumah ini banyak kenangan bersama Ibu", Indah tersadar apa yang membuat Karim meninggal dunia.
"Maaf kan aku ayah, aku telah membuat kesalahan besar. Aku yang kurang mengerti perasaan mu. Aku pikir kebahagiaan terbesar mu adalah membuat kan rumah yang besar dan nyaman untuk kau tempati ternyata bukan itu yang kamu inginkan", gumam Indah merasa bersalah.
"Aku yang sejak dulu tidak pernah peduli perasaan mu. Aku yang sejak dulu membiarkan mu bekerja demi menyekolahkan aku.
Terkadang tidak peduli akan kondisi mu, apakah lagi sakit atau sedang sedih. Aku tidak pernah mau tahu", Indah mengingat-ingat segala kesalahannya.
Bahkan pertemuan nya dengan Tedja adalah karena syarat pembayaran atas hutang Karim yang disebabkan gaya hidup Indah yang seperti orang kaya.
Aku yang selalu memaksakan keinginan ku untuk membeli ini dan itu", Indah terisak terus menangisi segala kesalahan yang diperbuatnya kepada Karim.
"Maafkan aku Ayah, maafkan aku", indah memandangi foto ayahnya.
Tedja mencari-cari Indah ternyata menemukan Indah sedang berada di kamar Karim.
"Sayang, sudah dong sedihnya. Jangan sedih begitu. Nanti kamu malah sakit, siapa coba yang ngurusin aku dan Arkan. Kalau kamu menangis terus, ayah pasti akan sangat sedih, pastinya dia sedang melihat kamu sekarang", Tedja menasihati Indah.
"Aku terlalu memaksa kan keinginan ku kepada ayah, tanpa peduli perasaan nya", Indah mengungkapkan penyesalannya.
"Sudahlah Indah, tidak ada gunanya kamu menyesalinya sekarang. Dan kamu juga tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Keinginan dari semua orang tua itu adalah.
Kelak kamu nantinya bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kamu nantinya. Artinya lindungi dan rawat anak-anak mu sekarang jadikan mereka menjadi manusia yang berguna buat orang lain dan anak-anakmu kelak mempunyai kehidupan yang baik di masa depan nya.
Itu adalah keinginan dari setiap orang tua kepada anak-anak nya", Tedja menasihati dan memberitahu Indah. Indah hanya terdiam dan mencoba memahami apa yang dikatakan Tedja.
"Baiklah, aku akan menjadi orang tua yang baik bagi cucu ayah, kelak cucumu bisa berbakti kepada orang tuanya nanti nya", gumam Indah memotivasi dirinya sendiri.
***
Sedikit banyak perkataan Tedja telah membuat Indah sadar dan tidak terlalu larut lagi dalam kesedihannya. Sekarang Indah sudah bisa menerima kepergian Ayahnya dan beraktifitas normal seperti biasanya.
"Bagaimana, kamu masih berkeinginan untuk mengubah rumah ayah ini menjadi sebuah toko?", tanya Tedja ingin tahu.
__ADS_1
"Iya. Kalau aku mengubah rumah ini menjadi toko, mungkin setiap hari aku akan berkunjung kesini. Sambil mengontrol penjualan toko.
Tetapi kalau rumah ini tetap seperti dulu, akan menjadi rapuh dan malah tidak terurus karena tidak ditempati", Indah tetap akan merubuhkan rumah lama. Tedja pun manggut-manggut tanda setuju atas prinsip Indah.
"Apapun keputusan kamu, aku tetap akan mendukung mu sayang", Tedja menyemangati Indah.
"Biarlah kenangan bersama ayah akan kukenang dan kusimpan dalam hatiku", gumam Indah dalam hati.
"Oh iya, kamu sudah siap untuk pindahan ke rumah baru?. Kapan kita akan pindah ke rumah baru?", tanya Tedja ingin tahu.
"Besok kita akan pindah ke rumah baru", ucap Indah yakin.
"Baiklah terserah kamu saja", Tedja mendukung.
"Oh iya sayang, aku berencana untuk mengundang para anak yatim untuk datang dan berdoa di rumah baru kita. Sekalian kita mengadakan ucapan syukur dan memanjatkan doa-doa. Agar rumah kita bisa menjadi berkah dan juga memanjatkan doa untuk ayah, agar arwah ayah tenang dan bahagia sisi-Nya", Indah berencana.
"Oh bagus sekali itu. Begitu juga lebih baik", Tedja mendukung rencana Indah.
"Darimana kamu akan mendapatkan anak-anak yatim-piatu itu?", tanya Tedja ingin tahu.
"Aku ada mengenal panti asuhan yang seluruh anak-anak disana adalah anak yatim-piatu. Sekalian aku akan membantu sedikit untuk tambahan keuangan mereka setiap bulannya", Indah memberitahu.
***
Hari yang ditentukan untuk pindah ke rumah baru pun telah tiba. Sesuai keinginan Indah akan mendatangkan anak yatim-piatu telah direalisasikan.
Semua acara berjalan dengan baik dan lancar. Termasuk keinginan Indah untuk menyumbangkan sedikit penghasilan nya untuk membantu keuangan panti asuhan. Mereka pun sangat senang atas keinginan dan niat baik dari Indah.
Setelah acara selesai, semua para tamu dan undangan sudah kembali ke tempat nya masing-masing.
Tinggal keluarga kecil Indah.
****
Dua tahun kemudian.
__ADS_1
Kehidupan keluarga Indah semakin hari semakin terlihat bahagia dan kompak. Tidak ada percekcokan, masing-masing selalu mengalah bila sudah ada konflik. Dan akhirnya akan kembali membaik.
Perusahaan Tedja juga berkembang dengan pesat, begitu juga penjualan di toko Indah. Bahkan Indah sendiri sudah membuka dua anak cabang.
Arkan juga sudah mulai bersekolah, setiap pagi Arkan selalu diantar Tedja ke sekolah sebelum Tedja ke kantor. Dan bila tiba waktu pulang sekolah Indah selalu menyempatkan diri untuk menjemput nya.
Ketika waktu sarapan pagi.
Ketika Tedja, Indah dan Arkan sedang duduk di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.
Arkan terlihat termenung dan gusar. Dan tidak berselera untuk makan.
"Arkan, ayo dong sayang. Habiskan sarapannya. Nanti kamu telat. Ayah juga akan terlambat nanti ke kantor kalau kamu kelamaan makannya", perintah Indah agar Arkan segera menghabiskan sarapannya.
"Ma, boleh tidak bukan ayah yang mengantar Arkan ke sekolah?", tanya Arkan dengan polos.
"Memang nya kenapa sayang?. Ayah yang antar kamu sekolah ya, karena arah sekolah kamu searah dengan kantor ayah. Biar sekalian gitu!. Kalau mama yang antar takutnya kamu malah telat, karena mama masih harus mandi dan berbenah lagi", Indah memberikan gambaran.
"Memang nya kenapa sayang, kalau ayah yang mengantar Arkan. Kamu tidak pernah telat kan?", Indah tidak mengerti dan masih bingung atas permintaan Arkan.
Arkan hanya diam saja.
"Ya sudah, Arkan tidak usah sekolah deh. Kalau bukan mama yang antar Arkan", pinta Arkan sambil berlari ke kamarnya.
"Sayang, nanti aku telat kalau Arkan kelamaan berangkat nya, hari ini aku harus cepat tiba di kantor, karena ada rapat penting. Ya sudah Arkan hari ini tidak usah sekolah, atau kamu saja lah yang mengantarnya kalau memang masih ingin sekolah", Tedja beranjak dan pura-pura ke kamar mandi.
Indah pun langsung mendatangi Arkan ke kamarnya ingin tahu mengapa Arkan tidak mau di antar oleh Tedja.
"Sayang mengapa kamu tidak mau diantar sekolah oleh ayah?", tanya Indah ingin tahu.
"Arkan malu ma, Teman-teman pada nanyain itu ayah kamu atau kakek kamu sih yang antar?. Arkan bilang itu ayah Arkan mereka menertawai Arkan dan mengejek Arkan", Arkan memberitahukan alasan nya.
Ternyata Tedja mendengar percakapan Arkan dan Indah dari balik pintu kamarnya. Itulah alasan Tedja berpura-pura ke kamar mandi agar mengetahui alasannya dari mulut Arkan sendiri.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Aku buru-buru ni", Tedja pun segera keluar menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya. Dan berpura-pura tidak mendengar percakapan antara Arkan dan Indah.
__ADS_1
Indahpun langsung berlari keluar untuk menghampiri Tedja. Bermaksud untuk memberangkatkan suaminya berangkat ke kantor.
"Kamu saja yang antar Arkan, aku buru-buru", perintah Tedja, berpura-pura tidak tahu percakapan mereka. Indahpun hanya mengangguk sedih dan prihatin atas kondisi Arkan di sekolah.