
Pangestu tiba di rumah shifa, segera memakirkan mobilnya di halaman depan. Sekilas Pangestu tanda tanya di hatinya. "Tidak ada mobil Burhan di garasi, kemana Burhan pagi-pagi begini.
Karena setelah mereka menikah sebulan yang lalu. Burhan memutuskan untuk pensiun dari perusahaan nya. Dan menyerahkan semua perusahaan pada Pangestu.", gumam Pangestu bingung bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Bi, bapak kemana?. Mengapa mobil bapak tidak ada di garasi", tanya Pangestu heran.
"Bapak lagi di rumah sakit pak", balas Bi Marni.
"Di rumah sakit. Memangnya Siapa yang sakit Bi?", tanya Pangestu heran dan ingin tahu.
"Non Shifa pak", balas Bi Marni langsung.
"Shifa, sakit apa Shifa bi?", tanya Pangestu heran dan ingin tahu.
"Bibi tidak tahu pak, 2 hari yang lalu, Non Shifa pingsan tergeletak di lantai. Bapak langsung bawa Non shifa ke rumah sakit. Saya tidak tahu kelanjutannya pak. Karena saya langsung pulang ke rumah, untuk jaga rumah", bi Marni memberitahu.
"Baiklah saya akan langsung ke rumah sakit untuk menjenguk Shifa", Pangestu pamit kepada bi Marni. Langsung tancap gas ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Pangestu langsung bertanya kepada resepsionis, pasien atas nama Shifa. Dari resepsionis Pangestu tahu dimana ruang perawatan Shifa. Pangestu pun langsung menuju ruang perawatan Shifa.
Sebelum masuk ke ruang perawatan Shifa. Pangestu melihat Burhan sedang duduk sendiri di bangku peristirahatan. Burhan begitu bersedih hati, sesekali menghapus air mata nya yang terjatuh di pipinya.
"Pa, mengapa papa duduk disini?, dan kelihatannya sangat bersedih sekali", tanya Pangestu bingung dan merasa penasaran.
Burhan mengenali suara itu dan lansung menatapnya.
"Pangestu, Darimana saja kamu selama ini. Dimana tanggung jawab kamu. Aku memang telah memaksakan mu untuk menikah dengan Shifa.
Bukan berarti kamu sesuka hati datang dan pulang ke rumah ini. Tolong kamu sedikit saja memberi perhatian kepada Shifa", Burhan menitikkan air matanya, menangis dihadapan Pangestu.
"Shifa sakit apa pa?", tanya Pangestu kepada Burhan.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu kan Shifa sakit apa. Sedikitpun kamu tidak mau tahu tentang Shifa. Kamu tidak tahu kan kalau Shifa sakit kanker otak. Dan umurnya tidak akan lama lagi, umur Shifa tinggal 40 hari lagi.
Jadi papa sangat berharap. Biarlah dia sedikit saja merasa bahagia bersama orang yang dicintainya. Shifa sangat mencintaimu Pangestu. Shifa selama ini telah menyembunyikan sakitnya, sampai sudah stadium akhir", Burhan metnceritakan tentang penyakit Shifa.
"Apa, kanker otak. Umur Shifa hanya tinggal 40 hari lagi?", Pangestu tidak percaya.
"Jadi papa mohon kepada mu. Tolong bahagiakan Shifa di akhir hidup nya. Papa mohon Pangestu. Katakan kalau kamu begitu mencintai nya. Turuti apa kemauannya. 30% saham dari Perusahaan papa yang kamu kelola sekarang akan papa berikan kepada mu asal kamu menuruti kemauan Shifa. Ajaklah Shifa pergi jalan-jalan ke luar negeri. Kamu mau kan?", Burhan terus membujuk Pangestu.
Pangestu belum menjawab keinginan Burhan. Pangestu langsung berlari ke arah Shifa. Dan menemui Shifa sedang tertidur.
Pangestu masuk dengan pelan-pelan dan langsung duduk di samping ranjang Shifa sambil memegang erat tangan Shifa dan sesekali menciumnya.
Shifa terbangun.
"Pangestu kamu kah itu. Aku sedang tidak bermimpi kan di ya?", tanya Shifa tidak percaya
"Shifa, kamu sakit apa?", tanya Pangestu pura-pura tidak mengetahui penyakit Shifa.
"Shifa maafkan aku tidak peduli tentang sakit mu. Untuk menebus kesalahanku, maukah kamu kuajak berkeliling dunia. Kita akan berjalan-jalan dan bersenang-senang hanya berdua saja. Kamu mau kan?", Pangestu berharap Shifa menerima tawaran nya untuk menebus kesalahannya selama ini yang kurang peduli.
"Aku mau banget. Benarkah kita berjalan-jalan keliling dunia hanya berdua saja", jawab Shifa begitu bersemangat dan kurang percaya atas semua yang di dengarnya.
Pangestu hanya mengangguk-angguk saja.
"Aku sudah tidak bersabar untuk segera pergi. Kapan kita akan pergi?", Shifa sangat bersemangat dan tidak bersabar untuk segera berangkat.
Burhan pun masuk ke dalam kamar perawatan Shifa.
"Papa, tahu tidak. Pangestu akan mengajakku untuk berkeliling dunia. Papa akan izinkan Shifa pergi bersama Pangestu kan?. Papa tidak apa-apa kan Shifa tinggal sebentar?", Shifa memberitahu dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Belum pernah aku melihat ekspresi wajah Shifa yang begitu senang dan bahagia. Inilah yang sangat diinginkan Shifa. pergi bersama dengan orang yang sangat dicintainya", gumam Burhan dalam hatinya.
__ADS_1
"Benarkah kalian akan pergi. Papa turut bahagia mendengarnya. Papa berharap kamu sangat menikmati liburan kamu ya. Bersenang-senang lah kalian, papa tidak apa-apa ditinggal. Kan ada Bi Marni dan pak Deni yang akan menemani papa", Burhan sangat mendukung Shifa pergi bersama Pangestu.
Burhan pun segera mengurus kelengkapan administrasi untuk kepulangan Shifa ke rumah. Mereka pun menandatangani prosedur, bahwa segala hal yang terjadi dengan pasien adalah merupakan tanggung jawab semua keluarga.
Pihak Rumah Sakit tidak bertanggungjawab. Dengan ikhlas Burhan menandatangani prosedur pertanggungjawaban tersebut.
Mereka bertiga pun pulang ke rumah. Ada raut kebahagiaan di wajah Shifa. Tidak terbayang dipikirannya bahwa ia akan pergi keliling dunia bersama dengan orang yang sangat dicintainya.
Sedangkan bagi Pangestu, pikirnya ia akan segera berpisah dengan Shifa. Karena kedatangannya sesungguhnya adalah karena ingin meminta cerai dengan Shifa dan ingin bersama dengan Indah dan Arkan.
Dengan terpaksa ia harus mengurungkan niatnya untuk meminta cerai dengan Shifa. Pangestu bermaksud untuk membahagiakan Shifa di saat-saat terakhirnya.
Pangestu bermaksud untuk memberitahu kondisinya saat ini kepada Indah melalui via telepon. Pangestu segera ke halaman belakang untuk bersembunyi bertelepon kepada Indah.
"Sayang, maaf aku tidak bisa mengatakan kepada Shifa kalau aku ingin menceraikan nya. Karena saat ini Shifa sedang sakit kanker stadium 4, umurnya di vonis hanya tinggal 40 hari. Aku bermaksud membahagiakan nya di saat terakhirnya dengan membawanya keliling dunia. Apakah kamu merasa keberatan sayang?", tanya Pangestu kepada Indah.
"Apa, Shifa umurnya tidak panjang lagi. Ya sudah tidak apa-apa sayang. Aku ikhlas kamu pergi bersamanya. Kalian bersenang-senang lah", Indah terpaksa harus menyetujui pernyataan Pangestu.
Walaupun kenyataannya memang tidak rela membiarkan orang yang dicintai harus bersama dengan wanita lain selama 40 hari.
"Bagaimana kalau ternyata Shifa mampu bertahan hidup lebih dari 40 hari. Atau bahkan ada keajaiban yang mampu memberikan kehidupan baru bagi Shifa", gumam Shifa di dalam hati.
"Tidak mungkin aku harus mendoakan Shifa segera meninggal dunia. Harusnya aku mendoakan agar Shifa sehat dan semangat dalam menjalani hidup", gumam indah menambahi.
"Baiklah, aku pamit kepada mu ya. Jaga dirimu baik-baik dan juga Arkan", Pangestu memutuskan teleponnya.
Indah hanya bisa pasrah, Dia hanya berharap agar yang terbaik di berikan untuk nya dan Arkan. Indah pasrah sekalipun itu tidak sesuai harapannya. Indah berharap ikhlas dan rela Pangestu untuk wanita lain.
Dua hari lagi Pangestu dan Shifa akan berangkat, sembari menunggu kelengkapan paspor, visa dan pengurusan tiket serta penginapan di luar negeri. Pangestu membantu Shifa melengkapi perlengkapan yang akan di bawa.
Segala kelengkapan berupa paspor dan visa serta tiket, bahkan penginapan semua diserahkan kepada agen.
__ADS_1