Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#9. Indah melahirkan anak laki-laki


__ADS_3

Tedja pun berpura-pura tidak tahu hubungan gelap yang dilakukan Indah dan Pangestu.


Ketika Tedja ingin pulang ke rumah, Tedja selalu memberitahu. Agar Tedja tidak memergoki mereka sedang berduaan.


Karena lebih baik rasanya tidak melihat langsung perselingkuhan itu daripada harus melihat kembali Indah dan Pangestu bercumbu ria dikamar Tedja.


Indah dan Pangestu pun sangat hati-hati bila ingin melakukan hubungan suami-istri. Mereka melakukannya terkadang di luar rumah, yakni dengan menyewa hotel. Kalau melakukan di rumah, itu kalau tedja sedang keluar kota.


Walaupun perut Indah semakin membuncit, hasratnya untuk berhubungan intim sangat tinggi. Baik kepada tedja maupun kepada Pangestu sama-sama begitu tinggi.


Usia kehamilan Indah sudah memasuki bulan ke sembilan. Dokter merencanakan Indah akan operasi 2 hari lagi.


Segala perlengkapan untuk si cabang bayi mulai dari perlengkapan pakaian hingga tempat tidur nya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, ketika usia kehamilan Indah telah memasuki bulan ke tujuh.


Tedja sangat antusias menyambut kelahiran buah hatinya. Sedangkan Indah merasa bimbang dan ragu bayinya anak dari Tedja atau anak biologis dari Pangestu.


Indah merasa pusing. " Ya sudahlah, dari wajah si baby kan akan ketahuan baby-nya mirip siapa. Tetapi antara tedja dan Pangestu juga ada miripnya", gumam Indah merasa bimbang.


Suatu ketika Tedja duduk di meja kerjanya memperhatikan sebuah kelender duduk di hadapannya.


Sebentar lagi Indah akan lahiran, coba kuhitung mundur Sembilan bulan kehamilannya. Harusnya Indah hamil di bulan bulan pertama ketika awal menikah. Kenyataan Indah hamil di bulan kedua.


Padahal aku hampir sebulan berada di luar kota. Kemungkinan besar kehamilan Indah bukan dari benih aku.


"Ya Tuhan, ternyata Indah dan Pangestu sudah sejak lama berhubungan suami-istri. Bahkan diawal pernikahan kami?", Tedja merasa telah sejak lama dibohongi oleh Indah.


"Mengapa Indah melakukan ini, apakah Indah dan Pangestu sudah sejak lama saling mengenal?. Mengapa mereka tidak mengakuinya saja", gumam indah dalam hati.


"Tetapi bila mereka pun mengakuinya, aku juga tidak akan membiarkan Indah meninggalkan ku", Tedja menambahi.


"Aku harus mencari tahu, anak yang didalam kandungan Indah adalah anak siapa?", Tedja berencana menyelidikinya.


"Tetapi untuk saat ini, itu tidak perlu. Yang penting saat ini adalah menunggu proses lahiran indah berjalan dengan baik dan lancar", Tedja berharap dalam hati.

__ADS_1


"Indah sangat butuh dukungan dan perhatian apalagi setelah proses lahiran dengan kondisi tubuh yang belum fit, sudah harus wajib untuk mengurusi anak.


Baik dalam hal mengganti popoknya atau dalam hal menyusui pekerjaan itu tidak lah gampang", gumam Tedja sangat mengerti posisi Indah.


Hari ini adalah hari untuk proses operasi kelahiran Indah.


Baik Pangestu dan Tedja ikut menemani di rumah sakit. Tetapi yang masuk ke ruang operasi adalah Tedja. Karena Tedja adalah suami sah Indah.


Dari awal operasi hingga selesai Tedja terus menemani. Ini pertama kali Tedja menyaksikan proses operasi. Ketika Pangestu lahir, istrinya melakukan proses lahiran secara normal. Itupun Tedja tidak ikut menemani ketika proses lahiran terjadi. Dikarenakan Tedja sedang ada meeting mendadak yang tidak bisa di tunda.


Tedja menangis, dalam hati merasa sangat terharu. Indah harus berjuang antara hidup dan mati untuk menyelamatkan bayinya.


Tedja juga menanyakan efek samping dari suntik bius yang dilakukan kepada dokter yang menangani Indah. "Akan ada nyeri yang sangat luar biasa yang harus di tahan ketika obat bius itu di suntikkan.


Bahkan tidak sampai disitu ketika operasi pun sudah berlalu. Sakit nyeri itu tetap terasa dikala dingin yang amat sangat", ucap dokter ahli kandungan menjelaskan secara rinci.


"Dalam hati Tedja berjanji tidak akan membuat Indah menangis atas perjuangannya untuk menyelamatkan anaknya", gumam Tedja tidak sengaja air matanya menetes di pipinya.


"Uuuueeeeek.....uueeeeekkk", tangis bayi ketika pertama kali menghirup udara di dunia.


"Selamat ya pak, bayinya sehat dan berat badan normal 3,5kg dengan tinggi 59 cm", ucap salah satu dokter yang menangani sambil memberikan bayi itu digendong oleh ayahnya. Dokter juga meletakkan bayi itu di pangkuan Indah. Setengah sadar Indah tersenyum melihat bayi mungil tersebut.


Diluar Pangestu juga tidak sabar untuk segera mengetahui kondisi Indah. Bagaimana pun Pangestu juga merasa khawatir. Karena Indah merupakan belahan jiwanya.


Setelah proses operasi saatnya pasien dibawa ke ruang operasi untuk mengobservasi kondisi pasien pasca operasi. Apakah akan ada akibat fatal, misal pendarahan yang tidak berhenti-henti. Agar langsung cepat ditangani.


Tedja keluar, memberitahu kondisi Indah. Dari raut wajah Pangestu, Tedja melihat kekhawatiran yang amat sangat, maklum Pangestu tidak ikut masuk.


Tedja mengerti dan paham apa yang dirasakan Pangestu saat ini.


"Indah baik-baik saja nak, bayi yang dilahirkannya berjenis kelamin laki-laki dengan bobot 3,5 kg, dan tinggi badan 50 cm. Anaknya sehat dan normal", Tedja memberitahu, karena Pangestu juga ingin tahu kondisi Indah.


Pangestu tidak berani bertanya kepada ayahnya, karena takut rasa khawatirnya ayahnya nanti mencurigainya.

__ADS_1


"Syukurlah ayah, Indah tidak kenapa-kenapa", Pangestu tersenyum lebar.


"Sekarang Indah ada di ruang observasi. Mungkin 1-2 jam lagi baru diperbolehkan masuk ke ruang rawat inap.


Indah sudah sadar dari pengaruh obat bius. Tolong kamu temani Indah Ayah mau pergi dulu sebentar untuk membeli sesuatu", Tedja pamit, sebenarnya agar Pangestu masuk dan melihat kondisi terkini Indah.


Bagaimana pun Pangestu mempunyai hak dan ingin tahu kondisi Indah. Mungkin Indah juga pasti ingin sekali bertemu Pangestu", Tedja berpura-pura pergi meninggalkan Pangestu. Ada senyum lebar diwajah Pangestu ketika Tedja memperbolehkannya mengunjungi Indah.


Dengan cepat Pangestu langsung masuk ke ruang operasi untuk melihat kondisi terkini Indah.


Indah pun sangat senang melihat kedatangan Pangestu.


"Selamat ya sayang, anak kamu laki laki, terlahir sehat dan normal", ucap Pangestu dengan senyum lebar.


"Anak aku?. Aku lebih suka kalau anak itu adalah anak kamu juga", ucap Indah datar.


"Jangan bicara keras-keras, dokter tahu suami kamu adalah Tedja, bukan aku", Pangestu mengingatkan Indah.


Indah pun hanya diam saja dengan wajah sedikit cemberut.


"Sudah jangan dipikirkan, sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu dan kesehatan si anak", ucap Pangestu memberi semangat kepada Indah.


"Kamu sendiri kenapa ada disini, pak Tedja dimana?", Indah bingung Pangestu berani menemaninya.


"Ayah yang menyuruh ku datang kesini, ayah ingin aku menemani kamu. Karena ayah ada sesuatu yang ingin dibeli nya", Pangestu memberitahu.


Indah hanya terdiam.


"Sampai kapan aku di ruang observasi ini?", tanya Indah merasa bosan.


"Kata ayah mungkin 1-2 jam, melihat perkembangan kondisi kamu pasca operasi. Apakah sudah stabil. Terkadang setelah operasi masih ada pendarahan yang tiba-tiba dan susah berhenti.


Observasi dilakukan menghindari kemungkinan itu, kalau kemungkinan itu terjadi maka akan cepat ditangani", Pangestu memberi penjelasan.

__ADS_1


Jangan lupa like n komentarnya ya kakak ☝🏻🙏😍


__ADS_2