Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#62. Pangestu dan Shifa balik ke Indonesia


__ADS_3

Pangestu kesal terhadap Shifa, karena setelah 40 hari ternyata Shifa baik-baik saja. Pangestu merasa di permainkan , dan Shifa telah membohonginya. Sikap Pangestu jadi berubah kepada Shifa.


Pangestu jadi sedikit cuek dan tidak mau tidur seranjang dengan Shifa. Shifa sudah berusaha membujuk dan meminta maaf kepada Pangestu tetapi Pangestu tetap tidak terima. Akhirnya Pangestu memaksa untuk balik ke Indonesia.


"Aku tidak mau berlama-lama disini, pokoknya aku harus balik ke Indonesia. Aku juga punya masa depan. Aku tidak mau hidupku terbuang percuma seperti ini", Pangestu memaksa untuk balik ke Indonesia.


"Aku tidak ada membohongi mu Pangestu. Aku tidak mau kembali ke Indonesia. Karena kalau kamu kembali ke Indonesia, pasti kamu akan kembali kepada indah", Shifa menolak kembali ke Indonesia.


"Baik kalau kamu tidak mau. itu semua terserah kamu. Aku sendiri yang akan balik ke Indonesia. Tidak apa-apa kalau kamu ingin tetap tinggal disini", Pangestu ngotot.


Berhari-hari Pangestu Pangestu cuek dan tidak mau peduli dan perhatian lagi kepada Shifa. Bahkan Pangestu tidak mau tidur seranjang dengan Shifa.


Shifa jadi merasa stress dan sangat terpukul. Shifa juga jarang makan. Akibatnya kondisi kesehatan Shifa menjadi terganggu. Tiba-tiba Shifa merasa pusing dan langsung tergeletak di lantai. Ketika Pangestu keluar dari kamar mandi, Pangestu terkejut telah mendapati Shifa sudah tergeletak di lantai.


"Shifa bangun, kamu kenapa", Pangestu langsung mengangkat Shifa ke atas ranjang dan segera menghubungi pihak penginapan untuk mencari tim dokter. Tidak beberapa lama tim dokter pun datang dan memeriksa Shifa.


Dokter memeriksa seluruh bagian perut Shifa. Karena peralatan yang dibawa masih seadanya. Dokter mencaritahu berbagai kemungkinan Shifa menjadi pingsan. Dari hasil pemeriksaan dokter mengambil kesimpulan.


"Your wife is fine. She's pregnant",


'Istri anda baik-baik saja, istri anda sedang hamil', ucapnya sambil tersenyum kepada Pangestu.


"What, are you sure", Pangestu masih belum terima apa yang diucapkan dokter tersebut.


"For now, that's all we can conclude. if you are in doubt, please go to the hospital for further examination",


'Untuk sementara hanya itu yang bisa kami simpulkan. kalau bapak ragu, bapak silahkan pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut', ucap dokter itu segera pamit meninggalkan Pangestu.


Pangestu merasa pusing tujuh keliling. Pangestu merasa masalah nya tidak selesai-selesai malah membuatnya semakin terpuruk. Dalam bathin Shifa merasa senang karena dengan kehamilannya berarti Pangestu tidak akan meninggalkan nya.


"Aku akan paksa Pangestu untuk bertanggungjawab atas janin yang ada dalam kandungan ku", pikirnya dalam hati dengan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Sayang, sekarang kamu akan menjadi ayah dalam keluarga kecil kita", Shifa membuka obrolan, karena sedari tadi mereka hanya diam duduk terpaku.


"Kamu gugurkan bayi itu", ucap Pangestu memaksa.


"Tidak, aku tidak akan menggugurkan nya", Shifa ngotot menolak keinginan Pangestu.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Aku tetap akan meninggalkan mu", Pangestu geram dan segera meninggalkan Shifa di dalam kamar.


Shifa menangis, "Aku tidak akan menggugurkan bayi ini, bayi ini tidak bersalah. Lagian ini adalah benih dari laki-laki yang sangat aku cintai", Shifa mengelus-elus perutnya.


"Ternyata laki-laki itu egois, Sewaktu melakukannya merasa khilaf dan menyalahkan hasrat nya yang tidak bisa di bendung lagi. Ternyata setelah benihnya tumbuh. Malah seenaknya untuk lepas tangan", Shifa tidak terima atas perlakuan Pangestu.


****


Setelah hampir 3 jam Pangestu tidak pulang-pulang. Shifa berusaha menghubungi handphone nya, tetapi tidak aktif.


"Pangestu kamu dimana?. Apakah kamu benar-benar telah balik ke Indonesia. Mengapa kamu tidak mengajak aku", gumam Shifa geram, kalau ternyata benar Pangestu telah meninggalkan nya.


Tiba-tiba terdengar suar ketukan pintu. Shifa segera keluar untuk membuka pintu.


Muncul Pangestu dari balik pintu.


"Syukurlah kamu kembali, aku sudah berpikir kalau kamu telah balik ke Indonesia dan meninggalkan aku sendiri. Bahkan aku juga berpikiran kalau telah terjadi sesuatu hal kepada mu", Shifa senang dan langsung memeluk Pangestu.


"Ini aku sudah membelikan tiket 2 tiket, Besok kita harus balik ke Indonesia. Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa, aku balik ke Indonesia sendiri. Tidak apa-apa sih kalau kamu masih ingin tinggal disini ", Pangestu memberitahu.


Shifa tidak berani membantah, hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Pangestu.


"Ya sudahlah, Sekarang aku maui saja keinginannya saat ini. Aku sangat yakin Pangestu tidak akan meninggalkan aku yang sedang hamil begini. Setidaknya sampai bayi ini lahir. Pangestu tidak akan menceraikan aku", gumam Shifa penuh kemenangan di dalam hatinya.


"Oh iya, aku juga ingin kembali ke rumah sakit tempat kamu di rawat terakhir kalinya. Ingin menanyakan mengapa bisa kamu di vonis umurnya tidak lama lagi.

__ADS_1


Apakah alat pendeteksi mereka sedang rusak, atau kah dokter salah mengambil kesimpulan. Atau kah kamu yang sudah bernegosiasi dengan pihak dokter, dan mengatakan kebohongan itu. Agar aku bisa mempercayainya", Pangestu masih penasaran dan ingin tahu lebih dalam mengenai penyakit Shifa.


Shifa hanya diam saja, dirinya memang tidak ada konspirasi dengan para dokter. Shifa juga merasa penasaran dan ingin tahu. "Mengapa penafsiran dokter salah",


"Baiklah sekarang kamu kemasi barang-barang yang harus dibawa besok. Agar tidak ada yang tertinggal", Pangestu mengingatkan Shifa. Shifa pun langsung menuruti perkataan Pangestu.


Penerbangan Shifa dan Pangestu kali ini adalah dari Kanada menuju Indonesia.


Shifa pun memberitahu kepada Burhan kepulangan nya ke Indonesia.


"Papa, Shifa mau memberi tahu. Kalau Shifa dan Pangestu akan balik besok ke Indonesia", Shifa memberitahu Burhan.


"Benarkah sayang, papa senang mendengarnya. Bagaimana liburan kamu apakah menyenangkan?", tanya Burhan penasaran.


"Sangat menyenangkan pa. Oh iya Shifa ingin memberitahu kabar gembira kepada papa. Shifa memberitahu sekarang atau setelah tiba di rumah nanti?", Shifa membuat Burhan jadi penasaran.


"Karena kamu sudah terlanjur memberitahunya. papa ingin kamu kasih tahu sekarang dong. Masak iya tunggu kamu tiba di rumah. papa akan makin penasaran nanti", Burhan tidak sabar ingin mendengar kabar gembira apa yang akan disampaikan Shifa.


"Shifa hamil pa!", Shifa juga tidak sabar, ingin segera memberitahukannya kepada Burhan.


"Benarkah sayang, syukurlah kalau begitu. Ayah sangat senang mendengarnya. Ini adalah berita yang sangat baik, dan sangat papa tunggu-tunggu", Burhan bukan main senangnya mendengar kabar baik yang disampaikan Shifa.


"Apakah Pangestu sudah bisa menerima kamu?", Burhan merasa bingung dan tidak mempercayai kehamilan Shifa.


"Apakah ini suatu keajaiban nak, umur kamu juga tidak sesuai dengan yang ditafsir dokter. Padahal papa sudah sangat wanti-wanti mendengar kabar kamu, sampai-sampai papa takut menghubungi kamu.


Tadinya juga ketika kamu telpon, papa sampai ketakutan papa pikir Pangestu yang telpon memberitahu tentang kabar kematian mu. Tetapi begitu papa mendengar suara kamu. Papa langsung senang", Burhan mengungkapkan perasaannya.


"Iya pa, itu juga yang jadi masalah nya. Pangestu mengira kalau Shifa telah berkonsfirasi kepada pihak dokter untuk mengatakan kebohongan ini. Pangestu jadi marah dan cuek pada Shifa pa", Shifa memberitahu dengan suara sedikit bergetar.


"Baiklah nak, papa akan coba nanti bicara kepada Pangestu", Burhan menenangkan hati Shifa.

__ADS_1


__ADS_2