Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#44. Indah merasa Pangestu sudah mempunyai istri.


__ADS_3

Sesampainya di rumah. Indah terus memikirkan Pangestu. Membayangkan ketika Pangestu asik ngobrol dengan wanita lain dan sesekali tertawa ketika menyantap hidangan makanan yang ada di hadapan mereka.


"Pangestu kamu jahat, kamu seolah tidak mengingat apa yang telah kita lakukan dulu. Sesungguhnya aku ingin mengatakan kebenaran bahwa Arkan adalah anak biologis kamu", gumam Indah dalam hatinya dengan tidak bersemangat.


"Mengapa sedikit pun kamu tidak menanyakan bagaimana perasaan ku selama ini?", Indah terus menggerutu menyalahkan Pangestu.


"Mengapa aku jadi terus memikirkan Pangestu?, Apakah sekarang aku mencintai Pangestu?. Ahhh sudahlah, tidak ada juga gunanya memikirkan Pangestu.


Toh Pangestu sekarang sudah bahagia dengan wanita pilihan hatinya", Gumam Indah terus menyemangati dirinya, agar tidak terus bersedih memikirkan Pangestu.


"Sudahlah, Pangestu adalah masa lalu. Toh aku kemarin yang menolak untuk bersamanya dengan memilih tetap hidup bersama Tedja.


Lagian hubungan diantara kami dulu adalah hubungan karena keinginan nafsu saja. Bukan berdasarkan cinta", Indah terus menyemangati dan mensupport dirinya agar tidak mengharapkan Pangestu.


"Aku harus membesarkan Arkan seorang diri, masa depan Arkan masih panjang. Arkan perlu biaya sekolah yang tentunya sangat mahal. Aku harus semangat demi masa depan Arkan", Indah optimis bisa menjalani hidup tanpa Pangestu atau pria lain.


****


Kehidupan di pihak Pangestu.


Setelah Pangestu keluar dari kediaman ayahnya Tedja. Pangestu banyak tinggal di rumah teman pria satu kampus nya. Akibat perkataan dan dorongan dari Indah akhirnya Pangestu menyelesaikan meja hijaunya.


Pangestu pun berencana membentuk usaha patungan dengan temannya. Dan ternyata usaha itu berkembang dengan pesat.


Salah satu teman joinnya untuk membentuk perusahaan adalah Shifa. Shifa adalah teman perempuan satu kampus Pangestu.


Shifa sejak masuk kuliah dulu sudah menyukai Pangestu, tetapi Pangestu cuek dan tidak peduli perasaan Shifa. Segala cara dilakukan Shifa agar bisa dekat dengan Pangestu. Tetap saja sia-sia, Pangestu sedikit pun tidak pernah menanggapi, bahkan semakin cuek dan mengacuhkan Shifa.


Akhirnya bermaksud agar selalu dekat dan menjadi pacar Pangestu. Shifa membuat suatu strategi, yaitu mengajak Pangestu ikut join pada perusahaan patungan. Perusahaan ini bergerak di bidang perusahaan pengangkutan barang ke luar kota. Ini dilakukan Shifa agar menarik minat Pangestu.


Pangestu pun merasa tertarik dan ikut join terhadap perusahaan patungan bentukan Shifa. Selain motivasi Pangestu ingin sukses, Pangestu pun tidak ingin campur tangan Tedja. Pangestu ingin membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa bantuan Tedja.


Perusahaan patungan itu pun mulai beroperasi, Shifa menangani bagian pembukuan dan merangkap kasir. Sedangkan Pangestu sendiri menangani bagian marketing dan merangkap bagian personalia.

__ADS_1


Karena merupakan perusahaan yang masih baru merintis, karyawannya pun masih terbatas. Akhirnya Perusahaan patungan itu beroperasi dan mulai ada pengiriman barang pelanggan ke luar kota.


Perusahaan pengangkutan itu, dengan cepat berkembang. Dan semakin banyak mempunyai pelanggan. Karyawan nya pun semakin banyak.


Sesungguhnya nya yang membuat perusahaan patungan mereka bisa berkembang adalah karena usaha dan bantuan dari papa nya Shifa, yakni pak Burhan Sutedjo.


"Pa, Shifa tidak mau tahu. Pokoknya Perusahaan papa dan kalau bisa klien papa. Papa bujuk agar memakai jasa expedisi dari perusahaan patungan Shifa ini", Shifa merengek dan membujuk Burhan Sutedjo agar memakai jasa expedisi perusahaan yang dirintisnya.


"Tidak bisa Shifa, perusahaan rintisan kamu, kan perusahaan baru. Kredibilitas nya belum dikenal oleh banyak perusahaan. Sedangkan klien papa kebanyakan Perusahaan yang besar dan berkembang. Mereka pun sudah mempunyai jasa pengangkutan tersendiri", Burhan menolak keinginan Shifa.


"Pa..., berarti papa tidak mendukung Shifa untuk maju", Shifa terus merengek-rengek.


"Bukan begitu nak, kalau kamu ingin berkarir. Kamu bisa bekerja di perusahaan papa. Kamu bisa menggantikan posisi atau menjalankan bisnis papa.


Mengapa harus membentuk perusahaan patungan sih. Bagaimana nanti keuntungan nya, pasti akan sangat ribet", Burhan terus menolak keinginan Shifa.


"Pa.. Shifa membentuk perusahaan patungan ini. Adalah agar dekat dengan seseorang. Selama ini dia begitu cuek dan acuh kepada Shifa. Mungkin dengan membentuk Perusahaan bersama.


"Bagaimana kalau laki-laki itu tidak akan pernah menganggap kamu pacar, hanya sebagai teman biasa atau teman partner. Kan sia-sia saja semua kebaikan dan kerja keras kamu", Burhan memberikan sebuah gambaran dan kemungkinan yang akan terjadi.


"Pa...pa..papa jahat deh. Papa tidak pernah mengerti perasaan ku. Papa tidak bisa membuat putrinya senang sedikit saja", Shifa merengek dan menangis terisak-isak.


"Iya....sayang. Jangan menangis lagi ya. Iya papa setuju kalau perusahaan papa akan memakai jasa pengangkutan dari perusahaan bentukan kamu", Burhan Sutedjo berjanji kepada Shifa.


"Bukan perusahaan papa saja, Perusahaan klien papa juga bujuk dong untuk memakai jasa expedisi perusahaan Shifa. Jangan khawatir pa, perusahaan Shifa ini tidak akan mengecewakan papa. Kecepatan nya dan pelayanannya tidak akan kalah dengan Perusahaan yang expedisi yang terkenal sekarang", Shifa menyakinkan Burhan Sutedjo.


"Yakin kamu tidak akan mengecewakan papa?", Burhan masih tidak percaya.


"Yakin papa. Shifa jamin papa tidak akan kecewa", Shifa menyakinkan Burhan Sutedjo.


"Baiklah kalau begitu, papa akan berusaha membujuk klien papa untuk memakai jasa expedisi Perusahaan bentukan kamu", Burhan menyetujui permintaan Shifa.


"Gitu dong papa. Itu baru namanya papa nya Shifa. Papa yang terbaik gitu lho", Shifa mencium pipi ayahnya dan mencubit pipi ayahnya sambil berlari kecil meninggalkan Burhan sendiri di ruang tamu.

__ADS_1


Tanpa bantuan Burhan Sutedjo perusahaan bentukan Shifa pasti akan sulit berkembang, karena banyaknya sekarang Perusahaan yang bergerak di bidang yang sama.


Lagian tidak sembarangan sebuah perusahaan akan memakai jasa pengangkutan kalau tidak ada kredibilitas yang baik tentunya.


Karena barang yang akan dikirim pun bernilai miliaran rupiah. Dan waktu tibanya juga harus bisa dibawah yang ditentukan jangan malah lewat dari waktu yang ditentukan. Kalau lewat pasti konsumen tidak akan mau lagi memakai jasa expedisi tersebut.


Perusahaan bentukan Shifa bekerja secara profesional. Mereka pun tidak ingin mengecewakan konsumen. Pesanan selalu dikirim tepat waktu. Sehingga sekarang perusahaan bentukan Shifa berkembang dengan cepat.


Karena Perusahaan sudah maju dan berkembang. Pangestu dan Shifa pun semakin sibuk dan selalu bersama dalam mengadakan rapat dengan klien. Bahkan jam makan siang juga selalu bersama.


Shifa merasa senang usahanya untuk dekat dengan Pangestu berjalan dengan baik dan lancar.


Terkadang agar mendapatkan perhatian yang lebih dari Pangestu Shifa pun berpura-pura sakit. Shifa duduk di bangku kerjanya dengan kepala tertunduk sambil memegangi kepalanya.


"Kamu kenapa Shifa?, kamu sakit?", aku antar ke rumah sakit ya", tanya Pangestu merasa khawatir atas kondisi Shifa.


"Aku tidak apa-apa kok, hanya sedikit pusing saja. Kamu boleh tidak mengambilkan segelas air putih kepada ku. Tenggorokan ku juga terasa gatal", Shifa memohon dengan manja.


"Oh tentu, ini air putihnya", Pangestu menyerahkan segelas air putih setelah barusan mengambilnya dari dispenser yang letaknya disudut ruangan kerja Shifa.


"Terimakasih", ucap Shifa langsung menenguknya habis.


"Gimana sih perasaan kamu, aku khawatir banget ini. Aku bawa ke rumah sakit ya", Pangestu begitu khawatir.


"Tidak usah, baringkan saja aku di tempat tidur ku. Beristirahat sebentar mungkin akan segera baikan", pinta Shifa, kebetulan ada tempat tidur diruangan kerja Shifa untuk sekedar merebahkan diri.


"Baiklah aku akan membaringkan kamu ya di tempat tidur", Pangestu lalu menggendong Shifa ke tempat tidurnya, dan wajah mereka bertemu begitu dekat. Shifa pikir Pangestu akan menciumnya.


Buru-buru Pangestu mengalihkan pandangan nya berusaha untuk menghindari wajah mereka bertemu sangat dekat. Ada raut kecewa di wajah Shifa, karena Pangestu tidak paham maksud dan tujuan Shifa.


"Kamu jangan tinggalin aku sendirian di ruangan ini ya, aku takut", rengek Shifa manja.


"Iya, aku akan jagain kamu. aku akan duduk di sofa sambil memeriksa laporan dari hasil meeting kemarin", Pangestu setia menjagai Shifa.

__ADS_1


__ADS_2