Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#70. Indah menceritakan masa lalu nya kepada Febri


__ADS_3

Keesokan harinya Febri menepati janjinya datang berkunjung untuk menemani Arkan bermain bola basket. Begitulah keseharian Febri dan Arkan. Hingga di week end pun tiba.


Karena suatu kebiasaan indah dan Arkan pergi ke suatu tempat, tujuannya tentu ingin bersenang-senang. Karena selama satu minggu telah disibukkan oleh urusan dengan kepadatan bersekolah dan Indah juga sibuk dengan toko dan pelanggan.


"Ma, besok sudah week end lagi. Kita pergi ke mall dong ma", ajak Arkan kepada Indah.


"Ok deh, mama juga setuju. Karena week end di area terbuka membuat mama sedikit trauma", Indah menyetujui usul Arkan.


"Asyik, Arkan sudah tidak sabar ma. Oh iya ma. Kita ajak om Febri ya", Arkan memohon kepada Indah.


"Mengapa harus mengajak om Febri sayang. Mama tidak yakin kalau om Febri bisa ikut bareng kita. Karena setiap hari kamu selalu mengajak om Febri bermain bola basket. Kamu tahu tidak kalau om Febri tidak mempunyai kesibukan lain", Indah sedikit marah, karena Arkan terlalu lengket dan dekat dengan Febri.


Febri selalu menuruti kemauan Arkan untuk bermain basket. Indah merasa tidak enakan terhadap Febri, takutnya Febri malah menelantarkan pekerjaan nya.


Indah juga selalu cuek kalau Febri datang ke rumah mengunjungi Arkan. Indah takut, bila nantinya akan jatuh cinta kepada Febri bila sering-sering bertemu dengan Febri. Indah juga terlalu takut untuk menceritakan masa lalunya yang begitu kotor kepada Febri. Malah membuat Febri akan meninggalkan nya.


Itulah sebabnya Indah tidak ingin terlalu dekat dengan Febri, walaupun perasaan indah sebenarnya kagum terhadap Febri yang sifatnya perhatian dan penuh kasih sayang kepada Arkan.


"Mama tidak senang ya, kalau om Febri sering-sering menemui Arkan?", Arkan ingin tahu perasaan Indah.


"Bukannya mama tidak senang om Febri datang setiap hari menemui mu. Mama takut kamu kecewa kalau om Febri mempunyai pacar, tiba-tiba kamu di cuekin. Atau malah om Febri sudah mempunyai istri dan anak. Malah ia telah menelantarkan istri dan anaknya karena sering bertemu dengan kamu", Indah mencari-cari alasan, dan memberi gambaran mengenai Febri.


"Ma, Arkan sudah pernah tanya om Febri. Om Febri belum mempunyai istri dan anak, bahkan pacar", Arkan seperti tahu kalau Indah sebenarnya menyukai Febri, tetapi mencoba menepis perasaan nya karena takut akhirnya kecewa.


"Yah, kalau tidak mempunyai istri atau pacar. Berarti om Febri telah menelantarkan pekerjaannya dong", Indah ngotot memberi gambaran tentang Febri dan langsung mengambil kesibukan lain.


"Pokok nya kita perginya berdua saja", indah ngotot.

__ADS_1


"Ma, Om Febri tidak akan keberatan dan pasti akan merasa senang kalau om Febri kita ajak", Arkan langsung menghubungi Febri. Dan baru sekali berdering ternyata Febri langsung mengangkat teleponnya. Sehingga indah tidak bisa membantah lagi.


"Halo Arkan, ada apa menghubungi om malam-malam begini?", jawab Febri begitu mengangkat teleponnya.


"Om. Besok Arkan dan mama akan ke mall. Om Febri mau kan ikut bareng kami. Kita akan bermain game basket", ucap Arkan sangat antusias dan bersemangat.


"Tentu saja om Febri mau ikut. Terima kasih banyak ya, karena Arkan sudah mau mengajak om Febri. Oh iya mama Arkan tidak keberatan kan karena om Febri ikut bareng kalian?", tanya Febri ingin tahu, dan sengaja menanyakan nya karena Febri tahu kalau indah pasti mendengar percakapan mereka.


"Mama tidak keberatan kok om. Malah mama senang kalau om Febri bisa ikut bareng kita", Arkan bertatapan dengan Indah. Indah sedikit kesal karena Arkan tetap ngotot agar Febri ikut. Indah pun tidak bisa menolak lagi. Karena Arkan telah menelepon Febri dan setuju untuk ikut.


****


Keesokan harinya Febri pun datang ke rumah untuk menemui Arkan. Mereka bertiga pun berangkat ke mall.


Seperti biasa Indah menunjukkan sikap cuek, dan menganggap Febri adalah temannya Arkan.


Febri pun tahu kalau Arkan sengaja melakukan itu. Febri tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Arkan.


"Indah, yuk duduk di sebelah situ", Febri langsung menarik tangan Indah. Kebagian yang sepi pengunjung. Kebetulan ada beberapa stand yang masih kosong, sehingga sepi pengunjung. Tetapi ada tempat duduk disediakan untuk tempat beristirahat pengunjung yang sudah penat berjalan mengelilingi mall.


"Mengapa kamu selalu menghindari aku", Febri langsung to the point.


"Aku takut akan kecewa akhirnya", balas indah ketus.


"Indah, aku tidak seperti pria yang kamu maksud kan itu. Kamu tidak boleh dong seenaknya menyamakan aku dengan pria seperti itu", Febri membela diri. Indah hanya diam saja.


"Indah tolong, setidaknya jangan kunci hatimu, buka hatimu. Dan lihat kesungguhan hatiku, aku akan menerima kamu apa adanya", Febri ngotot.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menceritakan semua masa laluku", indah terdiam dan berusaha menarik nafasnya panjang. Kemudian lanjut meneruskan perkataannya.


"Awalnya aku menikahi pria tua yang selayaknya menjadi ayahku, karena sebagai syarat untuk membayar hutang ayahku.


Sebelumnya aku adalah anak durhaka yang selalu memaksakan keinginan ku kepada ayahku. Dan aku juga menjual diriku untuk mendapatkan banyak uang agar bisa tetap bergaya ala orang kaya di depan teman-teman ku.


Setelah menikah, ternyata aku sangat tergila-gila dengan ketampanan Pangestu, ayahnya Arkan. Pangestu adalah anak dari suamiku. Tepatnya aku telah berselingkuh di belakang suamiku. Suamiku mengetahui hubungan terlarang kami dan diam-diam mengecek, apakah anak yang kulahirkan adalah benihnya.


Ternyata Arkan adalah benih Pangestu. Suamiku pun membalas perbuatan ku dan berselingkuh secara terang-terangan. Setelah aku memilih dirinya untuk menjadi teman hidupku.


Pangestu pun keluar dari rumah kami. Ternyata suamiku bukan saja dua kali atau tiga kali menikah. Sepertinya itu sudah mendarah daging baginya. Akupun segera mengurus perceraian ku kepadanya karena tidak pernah datang menemui aku dan menafkahi kami. Akhirnya aku ketemu dengan Pangestu.


Tetapi Pangestu lebih memilih hidup dengan wanita lain, karena termakan Budi dan tidak ingin melepaskan perusahaan yang sedang di tanganinya yang merupakan usaha patungan dari istrinya dan Pangestu sendiri ketika sebelum menikah.


Aku bahkan belum menikah dengan Pangestu. Arkan sendiri masih berstatus anak dari suami pertama ku, yang bernama Tedja. Arkan mengetahui semuanya ketika terjadi kecelakaan padanya. Waktu itu Arkan kehilangan banyak darah dan harus membutuhkan tambahan darah.


Aku mencari Pangestu dan mengatakan segalanya kepadanya. Itulah pertama kali Arkan mengetahui keberadaan ayahnya. Pangestu pun memberi harapan untuk selalu menemani dan menemui Arkan. Kenyataannya Pangestu lebih memilih hidup bersama wanita itu", Indah terdiam tidak meneruskan perkataannya.


"Sekarang kamu telah mengetahui semua masa lalu ku. Dan aku tidak butuh belas kasihan mu. Artinya jangan kamu mau menerima aku karena merasa kasihan", Indah mengungkapkan perasaannya.


Febri pun hanya diam saja. Menurut nya saat ini Indah sudah berubah. Dan mencoba menjadi ibu yang baik buat Arkan. Indah juga merupakan wanita mandiri dan pekerja keras. Tidak mengharapkan ibah dari Tedja maupun Pangestu.


Febri pun bersiap akan mengatakan untuk menerima indah apa adanya.


"Ma, ayo kita makan. Arkan lapar", ajak Arkan menghampiri mereka yang hampir satu jam di tinggalkan nya.


"Arkan lapar ya, baiklah mari kita makan", indah beranjak dari tempat duduknya. Begitu juga Febri, tidak sempat mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2