
Shifa meninggal dunia, Burhan sangat sedih atas kepergian Shifa.
"Shifa, ternyata kamu yang terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta. Padahal ayah sangat berharap, seandainya mungkin bisa ayah yang akan menggantikan dirimu. Kamu telah memberikan cucu kepada ayah, tetapi kamu juga telah meninggalkan kami semua.
Ayah juga tidak bisa egois, ayah sangat bangga kepada kamu. Yang sudah bertahan dengan cukup lama karena semangat dan keinginan kamu untuk tetap bertahan selama ini. Kamu juga telah berkorban untuk menahan rasa sakit kamu, Demi keselamatan dan kelahiran cucu ayah.
Terimakasih Shifa, kamu telah memberi ayah cucu. Ayah tahu kamu juga tidak ingin berpisah dengan anak kamu. Mungkin rasa sakit yang kamu rasakan selama ini, tidak tertahankan kamu lagi.
Tenang lah kamu disana sayang, sakit mu tidak kamu rasakan lagi. Kami akan menjaga dan mencintai anak yang telah kamu perjuangkan hingga akhir hayat mu", Burhan terus menangis di samping Shifa. Burhan merasakan sedikit sesak karena terlalu bersedih, tubuhnya lemas tidak bertenaga.
Seluruh kolega dari teman bisnis Burhan datang melayat untuk menyampaikan bela sungkawa.
"Kami turut berdukacita atas kepergian Shifa. Semoga bapak tabah, ikhlas dan sabar. Kiranya amal dan ibadah Shifa selama hidupnya berkenan bagiNya. Dan almarhum di tempat kan di tempat yang layak", ucap para pelayat memberikan support dan dukungan kepada Burhan.
"Terimakasih banyak Pak/Bu", ucap Pangestu dan Burhan secara bergantian.
Saat pemakaman Shifa, Burhan di gotong dengan memakai kursi roda, karena kakinya tidak sanggup lagi berjalan akibat kesedihan yang begitu dalam atas kepergian Shifa. Putri satu-satunya.
Anak laki-laki Shifa, Rangga. Nama itu disematkan oleh Burhan setelah pulang dari rumah sakit. Tampak tertidur lelap dan pulas. Rangga belum mengetahui apa yang sedang terjadi pada ibunya. Untuk sementara Rangga di jaga oleh BI Marni, sesekali Rangga di tidurkan dekat jenazah Shifa.
Tidak sedikit para pelayat yang datang menangis karena sedih melihat kondisi Rangga yang masih belum melihat dan mengenal ibunya. Sudah di tinggal untuk selama-lamanya oleh ibunya.
Pemakaman pun mulai di lakukan, seluruh pelayat ada yang pulang dan ada juga yang ikut menghadiri proses pemakaman Shifa.
"Selamat jalan Shifa, kami akan mengenang mu selamanya", ucap Pangestu sedih.
Setelah jenazah Shifa di makamkan satu persatu para pelayat meninggalkan Burhan dan Pangestu yang masih saja duduk terpaku memandangi nisan Shifa. Tidak menyangka kalau akhirnya Shifa pergi meninggalkan mereka.
"Semua kehidupan akhirnya akan kembali kepada Sang Pemilik hidup, semua akan mendapatkan giliran masing-masing. Tinggal hanya beda waktu saja. Hidup terus berlanjut,
masa depan Rangga masih panjang. Aku harus semangat, aku harus memperjuangkan masa depan Rangga kiranya lebih baik kelak. Aku harus hidup untuk menemani Rangga", gumam Pangestu optimis tidak menyerah dan putus asa.
__ADS_1
Sepulang dari pemakaman Shifa. Pangestu teringat atas kondisi ayahnya Tedja yang ingin bertemu dengan Indah.
"Oh iya, aku harus ketemu dengan Indah. Membujuk Indah agar mau bertemu dengan ayah. Sekalian aku memberitahu Indah kalau Shifa sudah meninggal dunia. Apakah Indah mau kembali kepada ku" Gumam Pangestu ragu.
"Tetapi tidak ada salahnya kalau aku mencobanya. Semoga Indah mau menerima ku kembali", Pangestu optimis.
"Baiklah aku akan pergi menemui Indah", Pangestu berencana.
***
Seminggu setelah kematian Shifa.
Ada seorang wanita datang ke rumah Pangestu.
"Permisi.!. Apakah rumah ini tempat Bi Marni kerja?", tanya wanita itu, Kebetulan setelah mengetuk pintu, Pangestu datang membukakan pintu.
"Oh benar. Kamu siapa? dan atas kepentingan apa datang ke mari?", tanya Pangestu ingin tahu.
"Saya keponakannya Bi Marni dari kampung. Katanya bapak membutuhkan baby sitter untuk mengasuh bayi yang baru lahir.
"Nama saya Siti pak", ucapnya memperkenalkan diri. Tiba-tiba muncul Bi Marni datang dari dapur membawa minuman dan sekalian memperkenalkan Siti pada Pangestu.
"Pak ini Siti, keponakan saya. Saya panggil Siti dari kampung, agar bisa mengasuh baby Rangga. Maaf pak, saya sudah lancang memangil nya", Bi Marni merasa bersalah telah bertindak sendiri.
"Tidak apa-apa Bi, justru saya berterimakasih kepada Bi Marni sudah berpikir panjang. Karena saya sendiri pun tidak kepikiran. Saya hanya berpikir menyerahkan Rangga kepada bibi, tanpa peduli pekerjaan lain bibi. Padahal pasti bibi akan terbengkalai untuk melakukan pekerjaan lain", Pangestu berterimakasih kalau bi Marni cekatan dalam mengambil keputusan.
"Baiklah, Siti saya terima bekerja disini. Karena lebih baik orang yang mengasuh Rangga adalah orang yang sudah kita kenal. Untuk menghindari hal-hal buruk terjadi pada Rangga dikemudian hari", Pangestu menerima Siti bekerja di rumahnya.
"Bi, saya serahkan Rangga pada bibi ya. Saya mau keluar sebentar", Pangestu pamit untuk keluar rumah.
Pangestu bermaksud untuk mengunjungi Indah.
__ADS_1
Pangestu tiba di rumah Indah. Indah menyambut dan menghampiri Pangestu dengan sikap biasa saja.
"Hai Indah apa kabar kamu?", sapa Pangestu membuka obrolan dengan Indah, begitu Indah membuka pintu.
"Hai, silahkan duduk", Indah mempersilahkan Pangestu duduk.
"Indah, kedatangan saya untuk memberitahukan kalau ayah sekarang sedang di rumah sakit. Ayah ingin bertemu denganmu", Pangestu mengucapkan tujuan kedatangannya.
"Apa Tedja masuk rumah sakit?. Sakit apa Tedja?", Indah merasa penasaran dan ingin tahu.
"Ayah menderita penyakit kelamin yang sudah akut. Kondisi ayah sangat memprihatinkan. Kondisinya kurus kering karena tidak ada yang merawatnya", Pangestu memberitahu kondisi Tedja.
"Memangnya istri Tedja kemana?", Indah merasa penasaran.
"Istrinya sudah setahun meninggalkan nya, karena mengetahui ayah kena penyakit kelamin. Istrinya takut ketularan penyakit yang sama dengan ayah. Kamu mau kan ketemu dengan ayah?", Pangestu sangat berharap Indah mau menemui Tedja.
"Aku tidak ada waktu", Indah mencoba menolak. Karena begitu sakit atas perbuatan jahat Tedja selama ini yang tidak peduli kepada Indah dan Arkan.
"Tolong lah Indah. ketemu dengan ayah sebentar saja. Ayah ingin meminta maaf kepada mu. Ayah merasa ingin bertemu dengan mu untuk terakhir kalinya, sebelum ajal menjemputnya", Pangestu memohon-mohon.
Indahpun akhirnya setuju untuk bertemu dengan Tedja karena Pangestu memohon-mohon kepada nya.
"Baiklah, aku akan menemuinya. cepat beritahu di rumah sakit mana Tedja di rawat", Indah ingin berangkat sendiri.
"Kita akan pergi bersama Indah. Aku akan menemanimu", Pangestu menawarkan diri.
"Tidak usah, aku pergi sendiri", Indah menghindar untuk pergi bersama Pangestu.
"Mengapa kamu menghindari aku Indah?", Pangestu tahu Indah sengaja menghindari nya.
"Aku takut istri kamu nanti cemburu. Malah melabrak aku dan menuduh aku yang tidak-tidak", ucap Indah merasa tidak enakan.
__ADS_1
"Shifa sudah meninggal dunia Indah. Seminggu yang lalu, setelah melahirkan anak kami", Pangestu memberitahu dengan wajah tertunduk.
"Oh. Maafkan aku, aku tidak sengaja menimbulkan luka mu. Aku turut berdukacita ya. Kasihan baby nya harus di tinggal ibunya, tanpa merasakan kasih sayang dan belaian seorang ibu", ucap Indah iba melihat kondisi baby Shifa.