
Tiga bulan sudah hubungan antara Mitha dan Tedja.
Selama tiga bulan itu juga, Tedja tidak pernah pulang untuk menemui Indah.
Indah tidak mau pergi dari rumah Tedja. Prinsip Indah sebelum Tedja mengusir nya, Indah masih berhak tinggal di rumah itu. Lagian status Indah masih merupakan istri sah Tedja, dan Tedja belum menceraikan Indah.
Beruntung Tedja masih mentransfer uang setiap bulannya kepada Indah. Uang itu, Indah pergunakan untuk menutupi kebutuhan dapur, kebutuhan Arkan, membayar gaji Bi Inah, dan kebutuhan lain yang tidak terduga.
Tedja tidak seroyal dulu lagi, Indah tidak bisa lagi berfoya-foya membeli pakaian, dan barang-barang mahal, Indah harus pandai-pandai berhemat. Karna baginya mungkin sewaktu waktu Tedja pasti akan menceraikannya.
Indah masih bersyukur Tedja mau mentransfer uang untuk kebutuhan sehari-hari, kalau tidak. Mungkin saja Indah akan memilih keluar dari rumah Tedja dan kembali ke rumah ayahnya, Karim.
Hubungan Indah dan Pangestu pun dingin. Karena merasa diabaikan Indah. Pangestu memilih untuk keluar dari rumah, dan memilih tinggal bersama dengan temannya.
Setelah menyelesaikan meja hijaunya, Pangestu dan teman nya Memulai bisnis dengan sistem patungan. Selama ini Pangestu menyimpan uang pemberian ayahnya. Dan setelah ditotal ternyata jumlahnya lumayan banyak, uang itu dipergunakan nya sebagai modal patungan.
Pangestu pun tidak pernah lagi kembali ke rumah.
***
Mitha sering ke kantor Tedja, karena kebetulan kantor Mitha dan kantor Tedja berada dalam satu kompleks perkantoran. Hampir setiap hari Mitha dan Tedja makan siang bareng ketika jam Istirahat. Mitha juga sering bertemu dan berkenalan dengan teman-teman bisnis Tedja.
Karena Mitha sifatnya manja dan genit. Banyak rekanan bisnis Tedja yang merasa penasaran dan ingin dekat dengan Mitha.
Mitha pun menanggapi kalau ada rekanan bisnis Tedja yang menggodanya.
Tanpa sepengetahuan Tedja, ternyata Mitha selingkuh di belakang Tedja. Tidak ingin perselingkuhan nya diketahui Tedja akhirnya Mitha menyuruh Tedja untuk kembali pulang ke rumahnya.
Ketika ngobrol ketika jam makan siang
"Sayang, aku malu sama tetangga, aku takut kita nanti di gerebek malah di laporkan pasangan yang mesum. Karena telah kumpul kebo. Kemarin ketika aku belanja pada bang Ujang, penjual sayur keliling.
Ibu-ibu disekitar komplek menggosipkan aku, telah menyimpan laki-laki yang bukan suami sah ku. Kamu kembali ke rumah kamu saja ya sayang. Kita ketemunya di hotel saja", Mitha mencoba bersiasat, agar Tedja tidak menginap lagi di rumah Mitha.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu?, Bagaimana kalau kita menikah saja sayang. Agar tidak menjadi bahan gunjingan orang lain", Tedja memberi solusi.
Mitha pun bingung harus menjawab keinginan Tedja. Pastinya Mitha tidak mau menikah dengan Tedja.
"Mana mau aku menjadi perempuan yang tidak mempunyai anak. Wanita mana di dunia ini, yang apabila menikah dan berumah tangga tidak mempunyai keturunan", gumam Mitha dalam kehati.
"Tentu saja aku tidak mau menikah denganmu Tedja, kamu tidak akan bisa membuat aku hamil", Mitha menambahi.
"Tunggulah dulu sayang sebentar lagi. Aku tidak mau terburu-buru menikah. Kita saling mengenal saja dulu satu sama lain", Mitha mencari alasan.
"Bukankah selama tiga bulan lamanya berpacaran kita sudah saling mengenal?", tanya Tedja bingung dan merasa mencurigai sesuatu.
"Maksud aku bukan begitu sayang. Tunggulah sebentar lagi, karena di kantor aku sedang ada promosi jabatan. Aku tidak mau kalau kita menikah, aku tidak jadi di promosikan", Mitha terus mencari alasan agar Tedja mempercayai nya.
Akhirnya Tedja pun tidak berani lagi memaksa untuk menikah. Alasan Mitha lumayan masuk akal menurut Tedja.
"Baiklah aku akan kembali ke rumah ku, Dan ku harap kita tetap akan ketemu dan berkencan", Tedja berharap.
Tedja pun pasrah pulang kantor sore ini akan pulang ke rumah. Padahal rencananya akan ke rumah Mitha. Tetapi Mitha tidak mengizinkannya lagi menginap di rumahnya, dengan berbagai alasan.
Tedja melajukan mobilnya bermaksud untuk pulang ke rumah.
Tidak beberapa lama akhirnya Tedja tiba di rumah.
Tedja membunyikan klakson mobilnya dengan kencang, berharap Indah atau BI Inah segera membukakan pintu pagar.
Berulang kali Tedja membunyikan klakson nya, tetap saja Indah atau BI Inah tidak mendengar kedatangan Tedja.
Akhirnya Tedja turun dari mobilnya dan memukul-mukul gembok pagar agar lebih di dengar.
Tidak beberapa lama muncul Bu Inah dengan tergesa-gesa membukakan pintu.
"Lama sekali sih bi, buka pintunya. Indah mana apa tidak dengar juga?", Tedja begitu kesal, karena bawaan masih kesal karena Mitha menolak Tedja menginap di rumahnya.
__ADS_1
"Bu Indah, sedang di dalam kamarnya pak", Bu Inah langsung meninggalkan Tedja dan kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Dengan kesal Tedja langsung naik ke atas, dan masuk ke kamarnya.
Tanpa mengetuk pintu Tedja langsung marah-marah.
"Mengapa susah sekali sih untuk buka pintu saja, sudah tinggal makan saja di rumah ini. Malah untuk membuka pintu saja sangat susah", Tedja melempar tas kerjanya di lantai.
"Sayang, kamu sudah pulang syukurlah. Maaf tadi tidak dengar kamu membunyikan klakson. Mengapa tidak memberitahu atau menelepon aku saja, pasti aku akan turun untuk membuka kan pintu pagar", Indah berbicara dengan lembut.
"Sudahlah, tidak usah mencari pembenaran kamu. Makanya kuping itu di pasang, harus jeli mendengar sesuatu", Tedja menyalahkan Indah.
Sesungguhnya Indah ingin marah, karena perkataan kasar Tedja, tetapi Indah ingat, nanti kalau Indah ikut-ikutan marah. Adanya Tedja akan semakin marah dan malah akan mengusir nya dari rumah. Indah berusaha untuk tetap bersabar dan menahan emosinya.
"Sayang maaf ya, aku tadi terlalu sibuk mengeloni Arkan, sehingga tidak mendengar suara klakson mobil kamu. Sekarang kamu mandi sana, biar segar. Nanti aku siapin kopi hangat", bujuk Indah dengan lembut.
"Tidak usah sok-sok peduli. Kamu itu perhatian sama aku karena ada maunya kan. Kamu hanya mau hartaku saja, sesungguhnya nya kamu tidak mencintaiku", Tedja terus saja marah.
"Sayang, mengapa bicaranya harus berteriak sih. Apa tidak bisa lebih pelan dan lembut lagi. Tidak ada lagi kah rasa peduli, atau rasa iba mu padaku?. Kepada pegawaimu saja kamu harus bicara pelan dan berwibawa. Masak iya kepada istri sendiri seperti bicara pada hewan saja", Indah menangis.
Tedja sedikit iba dan kasihan, tetapi Tedja menunjukkan seperti tidak terjadi apa-apa. Tedja pun langsung meninggalkan Indah dan masuk ke kamar mandi.
Indah hanya duduk terdiam di salah satu sisi tempat tidur nya, menunggu Tedja keluar dari kamar mandi.
Tidak beberapa lama akhirnya Tedja selesai mandi dan sekilas melihat Indah tampak sedih. Tedja merasa kasihan, tetapi berpura-pura tidak peduli.
Tedja terus asik mengenakan pakaiannya, Indah tidak berani untuk menggoda Tedja.
"Sayang, tidak bisakah kita memulai seperti awal kita menikah dulu. Mengapa tidak berterus terang saja mengatakan kesalahan ku. Agar aku tidak seperti kapal yang tidak tentu arah dan tujuannya", Indah berbicara pelan dan sedikit bergetar menahan tangisnya.
Tedja hanya diam dan malah meninggalkan Indah di kamar dan turun untuk segera makan malam.
"Sudahlah, aku mau turun kebawah dan makan malam. Aku sedang tidak ingin berbicara", Tedja berlalu meninggalkan Indah.
__ADS_1