Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#82. Febri dan Indah menikah


__ADS_3

Pernikahan Febri dan Indah tiba pada hari yang telah ditentukan. Indah terlihat cantik dan menawan memakai baju pengantin berwarna kuning keemasan. Begitu juga Febri terlihat tampan di balutan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja dalaman berwarna cream.


Seluruh tamu memuji kecantikan Indah, tidak terlihat kalau Indah berumur selisih 10 tahun lebih tua dari Febri. Karena Indah selalu merawat bagian luar dan dalam tubuhnya dengan sangat baik.


Tibalah saatnya pengucapan janji dan sumpah bagi kedua mempelai.


Pertama-tama giliran Febri, Penatua mempersilahkan Febri mengucapkannya secara jelas dan lantang, "Saya Febri dengan setulus hati saya mengucapkan dan berjanji akan selalu setia dan menerima segala kondisi baik suka dan duka dari pasangan saya, yaitu Indah. Tidak akan bercerai kalau tidak karena bercerai karena kematian", ucap Febri dengan sungguh-sungguh.


Indah tidak sanggup lagi membendung air matanya. Air matanya menetes di pipinya terharu mendengar Febri mengucapkan janji dan sumpah nya dihadapan orang-orang dan dihadapan dirinya.


Febri langsung mengambil sapu tangan dari saku jasnya, yang selalu di sediakan nya bila peluh keringat membasuh wajahnya, dan segera memberinya kepada Indah. Dengan cepat Indah langsung mengambil sapu tangan itu dan melap dengan lembut sapu tangan itu di wajah nya, agar riasannya tidak luntur.


Sekarang tibalah giliran Indah untuk mengucapkan janji dan sumpah pernikahan nya, "Saya Indah dengan setulus hati saya mengucapkan dan berjanji akan selalu setia dan menerima segala kondisi baik suka dan duka dari pasangan saya, yaitu Febri. Tidak akan bercerai kalau tidak karena bercerai karena kematian", ucap Indah dengan suara bergetar dan terisak-isak.


Setelah acara pengucapan janji dan sumpah selesai dilakukan tibalah saatnya Indah dan Febri saling menyematkan cincin kepada pasangannya.


Kini Indah dan Febri telah sah menjadi suami-istri. Semua tamu undangan tampak tersenyum. Begitu juga dengan Febri dan Indah senyum lebar tampak di wajahnya seolah melukiskan bahwa mereka sangat berbahagia.


Baik Indah dan Febri tidak ada mengundang pihak keluarga, karena mereka sama-sama merupakan anak yatim-piatu. Febri dan Indah sepakat untuk mengundang seluruh anak-anak panti dan pengurus panti tempat Febri di asuh dulu.


Seluruh anak-anak panti dan pengurus panti dengan senang hati datang memenuhi undangan Febri dan Indah. Mereka berbondong-bondong dengan penuh suka cita datang menghadiri resepsi pernikahan Febri dan Indah. Mereka tidak di tuntut untuk membawa bingkisan dan hadiah.

__ADS_1


Justru Febri dan Indah sepakat memberikan seluruh anak-anak panti dengan hadiah dan amplop berisi uang. Dan tidak lupa Febri juga memberikan sumbangan untuk pembelian perlengkapan dan peralatan panti yang tidak memadai lagi sekaligus menyumbang setiap bulannya secara rutin untuk membiayai hidup para anak-anak panti.


Baik Indah dan Febri ingin membagi rezekinya kepada orang-orang yang tidak beruntung. Prinsipnya adalah apa yang mereka peroleh itu adalah semata-mata hanyalah titipan dari Sang Kuasa dan sebagian dari titipan itu adalah milik dari kaum yang kurang beruntung.


"Selamat ya, semoga kalian menjadi pasangan yang berbahagia dan cepat mendapatkan momongan", ucap para tamu yang datang menghadiri resepsi pernikahan Indah dan Febri secara bergantian.


"Amin, Terimakasih banyak ya", balas Indah dan Febri dengan senyum lebar sambil menjabat tangan para tamu undangan.


"Om, mulai sekarang aku akan memanggil om dengan sebutan ayah. Om tidak akan keberatan kan?", Arkan menghampiri Febri yang sedang duduk bersanding di pelaminan bersama dengan Indah.


"Tentu om akan sangat senang sekali. Sekarang om kan sudah resmi menikah dengan mama kamu. Yah, memang kamu harus memanggil om dengan sebutan ayah dong", Febri merasa senang kalau Arkan langsung mengubah panggilan dirinya dengan panggilan ayah.


"Sekarang Ayah Febri mau balik bertanya sama Arkan. Benar kamu menyetujui pernikahan ayah Febri dengan mama kamu?", tanya Febri ingin tahu.


"Kamu setuju tidak karena terpaksa kan!. Barangkali saja kamu hanya ingin supaya ibu kamu bahagia, padahal hati kamu bergejolak", Febri merasa penasaran ingin tahu bahwa Arkan benar-benar menyetujui pernikahan mereka.


"Benar ayah, Arkan sangat senang ayah menikah dengan mama sekarang. Sebelumnya Arkan sudah dari dulu sangat berharap dan berdoa agar ayah Febri jadi ayah sambung Arkan. Dan ternyata Tuhan telah mengabulkan doa Arkan. Jadi sekarang Arkan sangat senang", Arkan dengan polos memberitahu semuanya. Febri dan Indah senyum-senyum mendengar kepolosan Arkan.


Tiba-tiba pandangan Indah menangkap sosok tamu yang tidak asing baginya.


Indah memang terpaksa mengundang Pangestu karena permintaan Arkan. Indahpun tidak bisa menolak keinginan Arkan.

__ADS_1


Jauh dilubuk hati Indah, bila Pangestu datang ke resepsi pernikahan nya. Takut membuat ricuh dan gaduh.


Febri menangkap pandangan mata Indah dan melihat Pangestu datang menghampiri mereka. Febri tahu kegelisahan dan ketakutan hati Indah. Febri pun memegang erat tangan Indah seolah mengatakan kepadanya untuk tenang dan tidak usah khawatir.


Dengan sabar mereka pun menanti kan kedatangan Febri untuk menghampiri mereka. Tibalah Pangestu di panggung pelaminan dan segera mengulurkan tangan nya kepada Febri dan langsung kepada Indah.


"Selamat ya Indah, aku berharap dan berdoa semoga kamu berbahagia. Sesungguhnya aku masih berharap kamu memaafkan aku. Tetapi apa dayaku, kamu telah memantapkan hatimu untuk tetap memilih Febri. Ku berharap silaturahmi kita tidak akan putus, dan tetap akan terjalin dengan baik", Pangestu dengan lapang dada harus ikhlas atas pilihan Indah.


"Amin, Terimakasih atas doanya", Indah pun segera melepaskan genggaman tangan Pangestu yang begitu erat menggenggam tangan nya.


Pangestu segera menuruni panggung pelaminan.


Tamu undangan begitu banyak, seluruh undangan berasal dari teman kerja dan teman bisnis dari Indah dan Febri. Hingga malam undangan terus berdatangan silih berganti. Akhirnya resepsi pun segera usai setelah para tamu sudah tidak ada lagi yang datang.


Dengan kesepakatan Indah dan Febri sebelumnya. Bahwa mereka akan tinggal di rumah Febri. Rumah Indah akan di jadikan penyimpanan barang untuk stok kebutuhan toko. Dan juga mengantisipasi bahwa Pangestu akan datang menemui Indah tanpa sepengetahuan Febri.


Febri pun memboyong Indah dan Arkan ke rumahnya.


"Ma, Arkan mau istirahat langsung ke kamar ya", pinta Arkan dan langsung berlalu meninggalkan Indah dan Febri menuju kamarnya.


"Baiklah. Selamat malam ya sayang", balas Indah setengah berteriak, karena Arkan sudah jauh jaraknya.

__ADS_1


"Ternyata Arkan sangat pengertian. Dia sangat mengerti atas kondisi kita dan tidak ingin menganggu kita", canda Febri kepada Indah bermaksud membuat guyonan.


"Kamu ya ada-ada saja", Indah langsung masuk ke kamar sambil mencubit pipi Febri. Febri pun menyusul Indah dari belakang dan ikut masuk ke kamar.


__ADS_2