
Ketika di kantor Tedja tidak sabar untuk bertemu dengan Tessa, pikiran nya selalu terbayang terhadap Tessa.
"Tessa masih sangat polos, dari pengakuan nya Tessa belum pernah melakukan hubungan suami-istri. Oh, aku harus berusaha mendapatkan Tessa, memberikan mahkota nya dengan ikhlas. Pasti akan sangat menyenangkan", gumam Tedja dalam hati dan sangat berharap ingin segera mendapatkan nya.
Tedja berusaha ingin memberikan perhatian lebih.
"Ahh, bagaimana kalau aku menelepon Tessa dan menanyakan bagaimana kabarnya", gumam Tedja tidak bersabar ingin bertemu dengan Tessa.
Tedjapun menghubungi lewat telepon.
Tut...Tut ...Tut...
Telepon berdering
"Halo", sahut suara di ujung telepon. Bingung karena berasal dari nomor yang belum di kenal.
"Apakah ini Tessa?", tanya Tedja membuka obrolan, karena takut handphone Tessa diangkat adiknya atau ibunya.
"Om ...eh Tedja ya", Tessa memastikan, karena suara peneleponnya seperti suara Tedja.
"Ternyata kamu Tes, Aku hampir ketakutan kalau yang angkat handphone kamu adik atau ibumu", Tedja memberitahu. Tessa langsung tertawa kecil mendengar pengakuan Tedja.
"Ada apa Tedja, menelepon aku?", tanya Tessa penasaran.
"Aku lagi tidak sibuk di kantor. Entah mengapa aku kepikiran kamu terus. Bagaimana ibu kamu, sudah kamu bawa ke rumah sakit?, oh ya kamu sudah makan?, apa kamu baik-baik saja?", tanya Tedja bertubi-tubi ingin tahu kondisi Tessa.
"Aduh nanyanya banyak banget, sampai bingung harus menjawab yang mana dulu. Sudah kayak orang tua Tessa saja deh", Tessa ceplas-ceplos.
"Salahnya kalau aku perhatian penuh kepada kamu. Padahal memang aku ingin sekali tahu kondisi kamu. Ya sudah, aku putus teleponnya ya. Mungkin kamu lagi tidak ingin di ganggu", suara Tedja seperti ekspresi sedih.
Tessa jadi merasa bersalah mendengar suara Tedja yang begitu sedih.
"Maaf, bukan seperti itu maksud aku. Jangan di matikan handphone nya. Aku senang kok, kamu menanyakan keadaan ku. Aku baik-baik saja kok. Oh iya, aku sudah membawa ibu berobat dan sudah diberi obat, dokter menganjurkan besok datang lagi untuk periksa.
__ADS_1
Terimakasih ya kamu sudah perhatian kepadaku dan keluargaku. Jangan marah lagi ya", Tessa membujuk Tedja takut Tedja jadi tersinggung dan tidak mau lagi menghubungi nya.
"Syukurlah ibu kamu dan kamu baik-baik saja. Aku senang mendengarnya", ucap Tedja girang.
"Kamu sudah makan?, kalau belum kamu mau tidak menemani aku makan siang. Itu kalau kamu punya waktu, kalau tidak mau tidak apa-apa sih", Sesungguhnya Tedja sangat berharap Tessa mau menemani.
"Baiklah aku mau, aku siap-siapan dulu ya. Kita ketemu dimana?, nanti aku akan naik kendaraan online menuju titik temu kita", ucap Tessa memberitahu.
"Kamu alamatnya dimana, nanti di gang dekat rumah kamu aku jemput kamu. Kamu siap-siapan aja dari sekarang. Aku langsung bergerak ke arah rumah kamu ni", Tedja ingin menjemput Tessa.
"Tidak usah, nanti aku malah mengganggu waktu kerjamu", Tessa merasa tidak enakan.
"Sudah tidak apa-apa, aku tidak sibuk kok. Santai saja, ayo segera kamu share saja alamat kamu", Tedja memaksa. Tessa pun segera men-share alamat rumah nya dan langsung beres-beres takut Tedja akan menunggu lama.
Akhirnya Tessa pun segera pergi ke ujung gang jalan besar rumahnya. Dan menunggu kedatangan Tedja. Tidak beberapa lama Tedja pun tiba persis dihadapan Tessa.
Tessa pun segera naik dan masuk ke dalam mobil.
"Kita makan dimana, Tedja?, oh ya kenapa harus ajak Tessa makan siang?. Mengapa tidak ajak istrinya saja?", Tessa merasa canggung setelah di dalam mobil.
"Baiklah, maafkan aku", Tessa merasa bersalah. Tedja pun terus melajukan mobilnya, Tessa malah bingung tidak tahu harus bicara apalagi. Tidak lama kemudian mereka pun tiba di sebuah pusat perbelanjaan.
"Kamu belum lapar-lapar banget kan?. Kita belanja-belanja dulu ya", Tedja pun mengajak Tessa ke penjualan pakaian, sepatu, tas dan perhiasan semua membeli keperluan Tessa. Tessa pun sangat senang.
"Ini banyak banget, Tessa jadi merasa tidak enakan", ucap Tessa karena merasa segan menerima semua pemberian Tedja.
"Tidak apa-apa, asal kamu senang akupun ikut senang. Sini belanjaan kamu aku yang bawaain", Tedja tidak membiarkan Tessa membawa belanjaan nya semua.
"Tidak apa-apa biar Tessa saja", Tessa merebut kembali semua belanjaan yang dibawa Tedja. Tedja pun kembali merebutnya dari tangan Tessa.
"Biar aku yang bawakan sebagian, nanti kamu malah kelelahan karena berat", ucap Tedja merasa pengertian.
Tessa pun begitu tersentuh melihat sikap Tedja yang begitu pengertian.
__ADS_1
"Sekarang kita makan yuk, aku sangat lapar banget ini", ajak Tedja ketika tepat berada di depan restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
"Maaf ya", Tedja berusaha melap tumpahan saos di bibir Tessa. Kali kedua Tessa merasa kagum atas perhatian Tedja.
Ketika hendak menuruni tangga di halaman mall menuju parkiran. Tiba-tiba Tessa kepelekok kakinya, seharusnya satu anak tangga lagi, Tessa pikir anak tangganya sudah selesai. Ternyata masih ada satu anak tangga lagi. Akhirnya Tessa terjatuh ke lantai. Tessa mengalami sedikit luka memar pada tangannya dan lututnya.
Tedja begitu perhatian membersihkan luka Tessa yang berdarah dan lecet. Bahkan Tedja juga tidak segan-segan menggendong Tessa hingga ke mobil.
"Makanya kalau jalan hati-hati dong", Tedja menasihati sambil membersihkan luka pada lutut dan tangan Tessa.
"Aduh sakit", Tessa merintih kesakitan.
"Tidak apa-apa, sekarang memang masih terasa sakit. Nanti setelah diobati sakitnya akan berkurang", Tedja mensuport dan terus mengobati luka Tessa hingga selesai.
"Ya sudah, sekarang kamu aku antar ke rumah. Besok-besok kita ketemu lagi setelah kamu pulih", Tedja memberitahu.
"Maaf ya sudah merepotkan kamu", Tessa merasa tidak enakan.
"Tidak apa-apa, siapa juga yang bisa menyangka akan terjadi seperti ini", Tedja menunjukkan sikap bijaksana.
Tidak beberapa lama Tessa pun tiba di ujung gang rumahnya. Tessa pun segera turun.
"Terimakasih banyak ya, atas semua pemberiannya", Tessa turun dari mobil dengan membawa kantong belanja.
Hingga malam Tedja terus menanyakan kondisi Tessa. Tedja selalu perhatian mengingatkan makan, lagi ngapain, dan menanyakan kondisi ibu Tessa.
Lagi-lagi Tessa merasa Tedja adalah pria yang sangat perhatian. Tessa terus memikirkan Tedja, dalam pikiran Tessa bergejolak merasa simpati karena Tedja begitu peduli dan perhatian kepadanya. Tessa tidak bisa tidur memikirkan Tedja.
"Apakah aku sudah mencintai Tedja, ahh tidak mungkin. Selisih usia ku dengan usia Tedja sangat jauh. Apakah ibu akan bisa menerima hubungan kami?. Selama ini aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari sosok ayah yang begitu perhatian. Mungkin inilah yang membuat aku begitu terkesan kepada Tedja", Gumam Tessa dalam hatinya.
"Aku harus memastikan apakah aku benar-benar telah mencintai Tedja. Baiklah, besok aku akan mematikan handphone ku, mencoba untuk tidak bertemu Tedja beberapa hari.
Apakah aku merasa kecarian dan ada rindu kepada Tedja?. Kalau benar-benar rindu, berarti benar kalau aku telah mencintai Tedja", Tessa membuat strategi bagaimana mengetahui perasaannya terhadap Tedja.
__ADS_1
Tessa memaksa untuk memejamkan matanya agar bisa terlelap, hingga pada subuh barulah Tessa bisa terlelap. Semua karena Tessa terus memikirkan perasaan nya terhadap Tedja.