
Setibanya di rumah, Pangestu langsung mengantar Shifa ke kamarnya. Pangestu menggendong Shifa mulai dari mobil hingga ke kamar. Pangestu meletakkan Shifa di atas ranjangnya.
"Kamu istirahat dulu ya, jangan banyak bergerak", ucap Pangestu menurunkan Shifa dari gendongannya.
Tidak sengaja Shifa melirik jam dinding yang ada di kamar nya. Ternyata telah menunjukkan pukul 17:00. Buru-buru Shifa ingin beranjak dari tempat tidur nya.
"Lho kamu mau kemana?. Sudah istirahat aja dulu", Pangestu melarang Shifa beraktifitas.
"Sebentar lagi waktunya untuk makan malam, aku ingin memasak menu makan malam untuk kita", ucap Shifa ingin turun dari tempat tidurnya.
"Tidak usah, bi Marni kan ada. Sudah biarin saja bi Marni yang memasaknya. Kamu kan masih sakit, tidak usah repot-repot", Pangestu melarang Shifa untuk memasak menu makan malam.
"Aku ingin menunjukkan bagaimana seharusnya sikap seorang istri meladeni suami nya. Ini adalah suatu kewajiban dan tugas bagi seorang istri", Shifa ngotot.
"Iya, tetapi kamu masih sakit. Aku memaklumi kondisi kamu kok. Kamu juga harus patuh apa yang diperintahkan oleh suami kamu", Pangestu memberi nasihat. Akhirnya Shifa mengalah dan tidak jadi memasak.
"Karena sekarang kamu lagi sakit, izinkan aku yang meladeni kamu", ucap Pangestu mendekati Shifa.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan. Katakan saja tidak usah segan-segan", Pangestu ingin menuruti kemauan Shifa.
"Benarkah, kamu mau melakukan apa yang kuperintahkan?", Shifa masih belum mempercayai perkataan Pangestu.
"Iya, asal masih batas yang wajar. Artinya masih bisa kulakukan. Kalau sulit untuk kulakukan dan sampai menginjak harga diriku. Jelas saja aku tidak mau melakukannya", Pangestu tegas.
"Baiklah untuk sekarang aku belum bisa memikirkan, apa yang bisa kamu lakukan untuk ku. Mungkin nanti, kalau sudah terlintas di pikiran ku. Aku akan meminta bantuan mu", Shifa memberitahu.
"Aku ingin mandi dulu ya, badan rasanya gerah banget", Shifa segera meninggalkan Pangestu di atas ranjangnya lalu segera masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Shifa begitu lama di kamar mandi, Pangestu bingung dan panik. "Jangan-jangan Shifa malah tergeletak di lantai, makanya dari tadi tidak keluar-keluar dari kamar mandi", gumam Pangestu begitu kuatir.
Pangestu pun membuka pintu kamar mandi, karena memang kebetulan tidak di kunci. Ternyata Shifa sedang asik menyabuni tubuhnya dengan busa yang sangat banyak. Shifa mandi sambil bermain busa.
Kedatangan Pangestu agaknya tidak didengar Shifa karena suara air shower yang berjatuhan ke lantai. Shifa begitu asik, tidak sadar kalau Pangestu sedari tadi begitu asik memandangi tubuhnya yang tanpa busana.
Naluri kejantanan Pangestu seketika naik. Seolah lupa kalau Indah adalah pujaan hatinya.
"Ternyata tubuh Shifa begitu menggairahkan", gumam Pangestu nakal.
"Aku merupakan pasangan suami-istri yang halal, lagian umur Shifa tidak lama lagi. Baiknya Shifa merasakan kenikmatan berhubungan suami istri, sebelum ajal nya tiba", Pangestu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan matanya.
Pangestu datang mendekati Shifa.
Shifa terkejut melihat kehadiran Pangestu.
"Bukan kah kita pasangan suami istri yang sah?", tanya Pangestu, Shifa langsung mengangguk.
"Apakah kamu tidak ingin merasakan kenikmatan berhubungan suami istri?", tanya Pangestu balik.
Shifa hanya tertunduk malu, sebenarnya kata hatinya ingin disentuh oleh lelaki yang sangat dicintainya. Tetapi Shifa berusaha mengingatkan Pangestu tentang hubungan mereka adalah sebuah perjanjian.
"Pangestu, kamu sadarlah. Hubungan kita hanya sebatas perjanjian. Bahwa kita tidak boleh melakukan hubungan suami-istri, bahkan kita tidur di ranjang yang berbeda", Shifa mengingatkan Pangestu.
"Tetapi aku sudah terlanjur melihat tubuh kamu. Tidak inginkah kamu merasakan kenikmatan melakukan hubungan suami Istri?", Pangestu merasa tidak sabar lagi, hasratnya tidak bisa dibendung lagi langsung ******* bibir Shifa.
Shifa mengangguk malu-malu sambil tersenyum kecil. Langsung membalas balik menciumi bibir Pangestu. Pangestu lantas menciumi area gunung kembar Shifa dengan penuh nafsu. Membuat Shifa begitu menikmati sensasinya, sesekali Shifa mendesah merasa nikmat.
__ADS_1
Akibat ******* Shifa ternyata makin membuat gairah Pangestu semakin menggebu-gebu. Terus saja Pangestu menjelajah hingga ke bagian seluruh tubuh Shifa, bahkan hingga ke area sensitif Shifa. Sesekali Shifa mengerang kesakitan dan sesekali merasa nikmat.
Tidak ingin mengecewakan Pangestu, Shifa pun membalas menciumi bagian area sensitif kepunyaan Pangestu. Hingga tahap akhir, mereka menuju ******* nya.
Setelah selesai, mereka pun segera menyelesaikan mandinya. Begitu langsung masuk kamar Shifa ingin segera mengenakan pakaian nya, Shifa masih terasa canggung. Shifa yakin Pangestu tadi menyentuhnya bukan karena cinta, tetapi karena terlanjur melihat tubuhnya, dan hasratnya tidak terbendung lagi.
Pangestu yang baru datang dari kamar mandi. Melihat Shifa sedikit kesulitan mengenakan bra nya.
Pangestu datang membantu. Lagi-lagi Pangestu merasa ingin lagi melakukannya dengan Shifa. Mereka pun kembali bergelut, seolah ingin dan ingin terus melakukannya tanpa ada lelah sedikitpun.
Kali ini mereka melakukannya dengan durasi yang lumayan panjang, keduanya saling memuaskan pasangan masing-masing dan tidak ingin terburu-buru.
Tibalah pada tahap akhir. Terdapat senyum kepuasan atas kenikmatan yang mereka rasakan, hingga keduanya pun rebah, Karena sudah lelah tanpa busana di atas ranjang. Mereka pun tertidur lelap.
Tengah malam Shifa terbangun, tersadar ternyata mereka tidur tanpa mengenakan busana. Buru-buru Shifa menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan juga tubuh Pangestu.
"Sekarang Aku sudah merasa lengkap, artinya aku sudah menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Kemarin aku malah tidak bisa menyentuh suami ku. Sungguh sangat tidak lengkap. Tetapi sekarang aku sudah merasakan kenikmatan melakukan hubungan suami-istri", gumam Shifa di dalam hatinya dengan penuh kebahagiaan.
Dengan kebahagiaan yang dirasakan Shifa saat ini, seolah dirinya tidak ingin hidupnya cepat berakhir.
"Aku ingin hidup lebih lama lagi. Menikmati indahnya dunia bersama dengan orang yang sangat kucintai", batin Shifa penuh semangat. Seolah gairahnya tumbuh ingin hidup lebih lama lagi.
"Ya Tuhan. Berikanlah suatu keajaiban mu. Aku ingin hidup lebih lama lagi, jangan kau ambil nyawaku. Aku ingin lebih lama lagi menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang kucintai", Shifa berdoa dan berharap dengan sungguh-sungguh.
Shifa sadar, mungkin Pangestu mau lebih peduli kepada nya saat ini, Itu adalah karena suatu belas kasihan. "Barang kali ayah sudah membujuk Pangestu, dengan alasan umurku yang tidak lama lagi", Shifa mencoba menebak jalan pikiran Pangestu.
Tetapi Shifa tidak peduli, walaupun Pangestu melakukan hubungan suami-istri karena terpaksa. Baginya tetap dekat dan selalu bersama dengan Pangestu adalah mimpi terindahnya.
__ADS_1
Selama ini aku sudah cukup mengalah, aku hanya makan hati. Mengetahui suamiku bersama dengan wanita lain. Sekarang aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku ingin bermanja-manja dan ingin disayang oleh orang yang sangat berarti bagiku", gumam Shifa dalam benaknya.