Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#69. Arkan dan Febri semakin dekat.


__ADS_3

Keesokan harinya Febri datang kembali ke rumah Indah. Karena sebelumnya disuruh oleh Arkan agar datang menemuinya untuk bermain basket.


"Ayo om masuk", ajak Arkan menarik tangan Febri. Begitu Febri mengabari Arkan kalau sudah di depan pintu rumah Arkan. Kebetulan pagar depan tidak di kunci.


Arkan dan Febri langsung masuk menuju halaman belakang. Mereka langsung asik saling merebut bola dan memasukkan ke keranjang.


Benar saja, Arkan begitu lincah merebut bola dari Febri dan langsung berlari cepat dan kencang untuk memasukkannya ke keranjang. Baru saja bermain setengah jam. Score Arkan dengan Febri begitu jauh. Arkan sangat mendominasi permainan. Febri pun harus rela kalah dari Arkan.


"Wah, kamu hebat banget Arkan mainnya. Om sampai kewalahan, kamu selalu berhasil merebut bola dari om. Dan selalu berhasil memasukkan nya ke keranjang. Om jarang sekali bisa merebut bola dari kamu. Giliran bisa menguasai bola. Malah tidak bisa memasukkan nya ke keranjang. Om salut banget dengan kemampuan dan bakat kamu", Febri memuji kemampuan bermain basket Arkan.


"Kita istirahat dulu ya. Om capek banget", Febri merasa kelelahan dan ingin istirahat di meja yang berada di pinggir lapangan.


"Kemampuan bermain basket kamu ini. Sayang banget kalau tidak kamu kembangkan. Kamu harus mengikuti berbagai event agar semakin terlatih dan mentalnya bisa lebih percaya diri lagi", Febri menganjurkan Arkan.


"Arkan belum mahir-mahir banget om", Arkan tidak percaya diri.


"Ini...ni. Yang harus kamu buang. Makanya om menganjurkan kamu untuk ikut klub tim bermain basket. Setelah itu, ikutilah berbagai event perlombaan main basket. Agar mental kamu bisa terbentuk, walaupun awalnya kamu di calonkan hanya sebagai cadangan.


Dengan berlatih terus menerus, dan menunjukkan performa yang bagus, pasti kamu suatu saat pasti terpilih sebagai pemain inti. Om sangat yakin itu, setelah bermain dan melihat performa kamu", Febri menyemangati Arkan.


"Benarkah Arkan bisa nantinya jadi pemain terbaik?", Arkan tidak percaya diri.


"Iya dong, kamu harus yakin itu", Febri menyakinkan Arkan.


Febri terus menumbuhkan rasa percaya diri Arkan, karena pertumbuhan Arkan tanpa kasih sayang ayahnya. Membuat Arkan jadi penyendiri dan kurang rasa percaya diri. Febri pun terus menyemangati Arkan. Arkan pun merasa senang karena telah ada teman bermain dan teman mencurahkan isi hatinya.


"Om, terimakasih banyak ya sudah mau menemani Arkan. Dan mendengarkan semua unek-unek Arkan. Arkan tidak mau berharap banyak lagi, kalau ayah Arkan akan datang menemui Arkan. Karena terlalu berharap nantinya malah akan kecewa", Arkan mencurahkan isi hatinya.


"Arkan rindu ya sama ayah Arkan?", tanya Febri ingin tahu.


"Rindu sih rindu. Yah mau gimana lagi. Sia-sia rasanya terlalu berharap malah akan kecewa nantinya", Arkan jujur.


"Apakah kamu menginginkan mama kamu menikah lagi?", Febri ingin menyelidiki perasaan Arkan.

__ADS_1


"Arkan tidak mau memaksakan mama untuk menikah. Semua terserah mama saja. Apakah ingin segera menikah lagi atau tidak", Arkan hanya tertunduk.


"Bagaimana kalau mama kamu menikah lagi?", tanya Febri terus ingin tahu perasaan Arkan.


"Arkan sih tidak melarang mama ingin menikah lagi, tetapi Arkan sangat berharap laki-laki yang menjadi suami mama nantinya adalah laki-laki yang bertanggung-jawab, setia dan tidak akan membuat mama kecewa lagi", Arkan memberitahu sedikit informasi mengenai indah.


Febri pun ingin semakin tahu bagaimana masa lalu dari indah.


Dari informasi yang diberikan Arkan, seolah memberitahu kan kalau indah sudah menikah dua kali. Tetapi Febri tidak enak bertanya terus kepada anak di bawah umur mengenai perihal orang tua mereka. Karena hal itu sangat sensitif.


"Biarlah, aku akan coba bertanya langsung kepada Indah sendiri", gumam Febri dalam hati.


Karena sudah sore. Arkan pun harus menyiapkan dan menyelesaikan tugas-tugas untuk sekolah nya. Febri pun bermaksud untuk segera pulang ke rumah nya. Dan nyatanya indah pun mencoba untuk mengambil jarak antara hubungan Arkan dan Febri.


Indah tidak ingin terlihat kompak dengan Febri. Entah indah merasa trauma untuk dekat dengan pria lain, atau sudah menutup dirinya dan tidak ingin mengisi hatinya dengan sosok pria lain.


Febri merasa kesal dengan indah yang cuek ketika Febri datang berkunjung ke rumah indah.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja Indah. Untuk mendapatkan hatimu ", gumam Febri dalam hati nya dengan penuh semangat.


"Sedang mencari apa?", tanya Indah, berusaha ramah meladeni pembeli.


"Oh iya, Seminggu lagi ibuku ulang tahun. Aku ingin memberikan dress kepadanya. Oh ya, modelnya jangan yang terlalu norak, artinya usia ibuku sudah hampir 60 tahun. Kalau model dan warnanya terlalu menyala. Ibuku pasti tidak suka", Febri memberitahu kriteria dress yang di inginkan nya.


"Oh begitu ya. Sebentar saya akan ambilkan barangnya", indah meninggalkan Febri dan pergi ke tempat lain. Dan tidak beberapa lama indah datang menghampiri Febri dan menunjukkan 2 buah dress di hadapan Febri.


"Bagaimana dengan ini", pamer indah kepada Febri.


Febri pun sibuk memperhatikan model, warna dan corak pada kedua dress yang dibawa indah. Dan sesekali memegang bahan kedua dress tersebut.


"Dua-duanya bagus dan cocok dengan usia ibuku. Aku ambil dua-duanya ya", Febri kembali menyerahkan kedua dress tersebut untuk segera di bungkus.


"Oh iya berapa harga kedua dress tersebut", tanya Febri.

__ADS_1


"Aku akan memberikan discount 50% kepada mu. Karna kamu sudah menjadi penolong buat Arkan", ucap indah tersenyum.


"Tidak usah, nanti kamu malah rugi loh", Febri menolak.


"Tidak apa-apa. Tidak rugi kok", indah tetap bersikeras untuk memberikan discount 50%.


"Ya sudah deh, kalau kamu tetap memaksa. Tetapi sebenarnya aku tidak bermaksud loh. Mengambil kesempatan untuk mendapatkan discount 50%", ledek Febri menggoda indah.


"Tidak kok, Aku malah tidak enak. Karena yang kuberikan jelas tidak sebanding dengan nyawa kamu yang kamu korbankan untuk menyelamatkan Arkan", indah merasa tidak enak.


"Woalla, malah kita terus bolak balik di permasalahan ini. Tidak usah diungkit-ungkit lagi. Aku senang kok bisa dipertemukan dengan kalian. Aku juga bahagia bisa menemani Arkan untuk bermain basket" Ucap Febri serius.


"Indah. Boleh kita sebentar bicara empat mata", ajak Febri kepada Indah.


"Baiklah", indah mengajak bicara di teras rumah.


"Silahkan duduk", indah mempersilahkan Febri duduk di salah satu kursi yang berada di teras rumah.


Setelah indah dan Febri duduk. Malah keduanya diam membisu tidak tahu apa yang harus diucapkan.


"Indah, Aku ingin bisa mengenal engkau lebih dekat lagi. Maukah kau membuka diri untuk ku Indah?", tanya Febri takut-takut.


"Maksud kamu apa?, Kalau hanya sebagai teman. Apalagi Arkan begitu senang bisa bermain basket dengan kamu. Kenapa tidak. Aku sangat senang bila kamu bisa dekat dengan Arkan", Indah berpura-pura mengalihkan maksud perkataan Febri.


"Selain dekat kepada Arkan. Aku ingin dekat dengan kamu Indah", Febri memohon. Indah pun menarik nafas panjang. Bukan tidak ingin bersama Febri. Menurut indah Febri adalah laki-laki yang baik dan bertanggungjawab.


Tetapi indah takut, kalau Febri tahu atas masa lalu Indah. Febri pasti akan kecewa dan merasa jijik untuk hidup bersama indah. Indah sangat tidak percaya diri. Dan tidak ingin kecewa akhirnya, bila ia menaruh harapan nya kepada Febri.


"Maaf Febri, kamu tidak tahu masa laluku bagaimana. Kalau kamu tahu semuanya. Pasti kamu akan kecewa dan pasti akan meninggalkan aku begitu saja", Indah terang-terangan.


"Sebelum kamu menceritakan masa lalu mu kepada ku. Kupastikan aku tetap akan menerima mu apa adanya", Febri menyakinkan Indah.


"Dan aku juga tidak terlalu peduli dan tidak mau tahu tentang masa lalu kamu. Kamu tidak usah menceritakan masa lalu kamu. Aku tidak akan mengungkit nya", Febri menambahi.

__ADS_1


Walaupun Febri tidak ingin tahu mengenai masa lalu Indah. Indah pun tidak bermaksud untuk menutup-nutupi masa lalunya dari Febri.


__ADS_2