
Sedang asik mencari sepatu, tiba-tiba Indah bertabrakan dengan seorang pria.
"Maaf aku tidak sengaja, maaf aku tadi terlalu asik memperhatikan barang yang ingin ku cari, sehingga aku tidak memperhatikan jalanku", Pangestu meminta maaf karena telah menabrak Indah, sehingga barang bawaan Indah berjatuhan ke lantai.
Indah fokus mendengar suara, yang sepertinya tidak asing di telinga nya. Akhirnya karena penasaran dengan pemilik suara tersebut. Indah memperhatikan wajah orang yang menabraknya. Alangkah terkejut Indah kalau orang yang menabraknya adalah Pangestu.
"Pangestu", teriak Indah agak kencang. Pangestu pun terkejut dirinya dipanggil oleh orang yang ditabraknya dan sekarang sedang berada di depannya.
"Indah, benarkah kamu Indah?", Pangestu senang bisa bertemu dengan Indah.
"Apa kabar kamu Pangestu?, lama kita tidak bertemu. Sekarang tidak menyangka akan berjumpa disini", Indah begitu senang bisa bertemu dengan Pangestu setelah bertahun-tahun tidak berjumpa.
"Aku sehat-sehat saja. Kamu sendiri apakah sehat-sehat saja?", Pangestu merasa canggung dan bingung mau bertanya mengenai apa.
"Aku sehat-sehat saja", Indah juga merasa canggung.
"Ma, ini bagus tidak?", tiba-tiba Arkan datang membawa sepatu roda. Meminta pendapat Indah atas model sepatu roda yang di pilih Arkan.
"Bagus, Arkan suka yang ini?", tanya Indah lembut.
"Tidak sih ma, sebentar ya. Arkan coba pilih lagi. Nanti akan coba Arkan kumpulin, agar mama juga bisa memberikan tanggapan", Arkan kembali pergi meninggalkan Indah untuk mencari model sepatu roda yang lain.
Pangestu senyum-senyum melihat Arkan. "Ini anak kamu Indah?", tanya Pangestu ingin tahu, wajah Arkan begitu mirip dengan dirinya.
"Iya, Yang kemarin lahir, ketika kamu masih di rumah", jawab Indah datar.
"Bagaimana kabar ayah, apakah ayah sehat?", Pangestu penasaran dan ingin tahu.
"Mungkin ayah kamu sehat-sehat saja", Indah menjawab seadanya.
__ADS_1
"Mungkin, maksudnya bagaimana?. Memangnya kalian tidak tinggal serumah. Sehingga kamu tidak tahu kabar ayah?", Pangestu ceplas-ceplos.
"Aku sudah bercerai dengan ayahmu setahun yang lalu. Dan aku juga tidak tahu bagaimana kabarnya saat ini", Indah memberitahu keadaan nya.
"Bisa juga kamu cerai dengan ayah. Mengapa tidak sedari dulu", Pangestu asal bicara. Indah hanya diam saja.
Tiba-tiba suara handphone Pangestu berbunyi. Dan Pangestu segera menjawab teleponnya.
"Iya sayang, kamu dimana. Sebentar ya. Aku akan segera menemui mu", Pangestu menutup teleponnya.
"Indah maaf aku pamit ya, aku sedang ditunggu dan harus menemui seseorang sekarang", Pangestu segera meninggalkan Indah.
Indah hanya terdiam sedikit ada kekecewaan di raut wajahnya. "Bagaimana tidak, sepertinya sekarang Pangestu sudah mempunyai pacar atau mungkin itu adalah istrinya. Pangestu begitu patuh dan segera menemuinya", Gumam Indah dalam benaknya, menebak-nebak mengenai Pangestu.
"Tadinya Aku begitu bahagia bertemu dengan Pangestu, seperti ada sedikit harapan dan aku bermaksud ingin memberitahu mengenai Arkan, yang merupakan anak biologis nya. Tetapi sekarang harapan itu seolah-olah hilang, karena Pangestu sepertinya sudah mempunyai istri", gumam Indah penuh kekecewaan.
Arkan pun datang menghampiri nya.
"Ma, bagaimana dengan ini. Mama lebih suka modal yang mana?", Arkan menunjukkan 2 jenis sepatu roda di hadapan Indah.
"Sepertinya lebih bagus yang ini, tetapi terserah Arkan saja. Kalau Arkan suka yang mana?", tanya Indah tersenyum, seolah menutupi kekecewaan nya saat ini.
"Selera kita berarti sama ma, Arkan juga suka model yang ini. Ya sudah. Arkan pilih yang ini ya ma", Arkan menyakinkan Indah. Indah pun hanya mengangguk setuju. Dan segera pergi ke kasir untuk membayar nya.
"Sekarang kita kemana lagi sayang", tanya Indah kurang semangat. Sebenarnya Arkan ingin bermain game, tetapi melihat Indah yang kebanyakan diam dan termenung Arkan jadi tidak berselera untuk bermain game.
"Ma, mama sakit?. Mengapa wajah mama pucat, dan seperti nya mama tidak fokus dan kebanyakan diam. Apakah kita harus pulang sekarang ma?", Arkan melihat perubahan mood Indah, yang menjadi tidak bersemangat.
"Tidak, mama tidak sakit kok sayang. Benaran deh. Mama baik-baik saja. Kita sekarang makan yuk. Mama lapar sekali", Indah menutupi perasaan nya dan mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arkan tidak banyak bertanya.
__ADS_1
"Asyik, kita makan", Arkan begitu antusias setelah ditawari makan.
Mereka pun memasuki restoran siap saji, berupa restoran ayam goreng Krispy yang merupakan makanan kesukaan Arkan.
Setelah memesan dan kembali ke tempat duduk. Indah bermaksud ingin mencuci tangan nya ditempat pencucian tangan. Begitu selesau mencuci tangan dan bermaksud kembali ketempat duduknya. Indah melihat Pangestu bersama dengan seorang wanita sedang asik mengobrol sambil menikmati makanan yang ada di depannya.
Indah pun berlari tempat duduknya dengan tergesa-gesa. Takut Pangestu akan melihat dirinya.
"Sayang, buruan makannya. Selesai makan kita bermain game ya", Indah memaksa Arkan segera menyelesaikan makannya. Indah ingin secepatnya keluar dari restoran itu, agar tidak bertemu dengan Pangestu. Indah begitu sakit melihat Pangestu bersama dengan wanita lain.
Arkan pun hanya manggut-manggut saja dan terpaksa makan buru-buru, karena Indah terus menuntut nya agar segera menyelesaikan makannya dan segera keluar dari restoran.
Tidak sampai sepuluh menit. Arkan pun menyelesaikan makannya. Dan Indah langsung menarik tangan Arkan keluar Ari restoran.
"Ada apa sih ma, mengapa terburu-buru begitu. seperti dikejar hantu saja. Arkan jadi tidak menikmati makanan kesukaan Arkan", Arkan kecewa dengan sikap Indah.
"Nanti kita lain kali makan ayam goreng kesukaan kamu ya. Mama janji akan menepatinya. Kali ini memang kita harus cepat keluar dari restoran itu, karena ada teman mama di restoran itu.
Mama tidak ingin mama nanti berpapasan atau bertemu dengan nya, sehingga mama menyuruh kamu untuk segera menghabiskan makanan mu dan segera keluar dari restoran itu", Indah memberi alasan yang masuk akal kepada Arkan.
"Memangnya kenapa kalau mama bertemu dengan nya. Apakah mama ada membuat kesalahan kepadanya?. Kalau mama tidak bersalah mengapa harus takut untuk bertemu dengan nya", Arkan mencoba memberikan tanggapan dan gambaran. Karena sedikit kecewa, harus makan terburu-buru jadinya.
"Mama tidak ada kesalahan kepadanya. Mama tidak ingin saja bertemu dengan nya", Indah ngotot pada pendapat.
Arkan pun bingung harus bicara apa lagi kepada ibunya. Hanya bisa mendesah kecewa. Indah mengerti kekecewaan Arkan.
"Sudah dong sayang, jangan cemberut begitu. Maafin mama ya. Mama tidak bermaksud membuat weekend kamu hari ini berakhir dengan kecewa. Lain kali mama janji weekend kamu berikutnya tidak ada lagi drama-drama seperti ini.
Kita akan melakukan nya dengan santai dan penuh kegembiraan", Indah berjanji sambil memberikan kelingking nya kepada Arkan tanda akan menepati janjinya. Arkan pun kembali ceria.
__ADS_1