Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#41. Tedja menerima surat cerai Indah.


__ADS_3

Pipit dan Tedja akhirnya meresmikan pernikahan mereka. Pernikahan berlangsung di kediaman Tedja jalan Kamboja ujung gang Sopoyono 5. Rumah itu sudah menjadi milik Tedja. Tedja membelinya setelah meninggalkan Tessa.


Benar saja tidak ada resepsi pernikahan hanya acara pernikahan yang disahkan oleh pihak terkait dan disaksikan oleh beberapa saksi.


Setelah resmi menikah, para saksi bubar. Meninggalkan Tedja dan Pipit di rumah.


"Sayang kita sudah menikah secara sah. Segala kebutuhan ku baik secara fisik dan kebutuhan atas ranjang kamu bersediakan untuk memenuhinya?", tanya Tedja membuka obrolan mereka di ruang tamu, masih duduk di salah satu bangku yang berada di ruang tamu.


"Iya om", ucap Pipit sambil manggut-manggut.


"Jangan panggil Om dong, sekarang kamu sudah menjadi istri aku. Panggil saja sayang", Tedja memegang tangan Pipit.


"Kamu tidak usah takut, kamu nikmati dan ikuti saja apa yang kukatakan. Sentuh dan kecup seluruh bagian tubuhku itu akan menambah gairah ku dan kamu juga", Tedja memberitahu dan mengajari Pipit.


Pipit hanya manggut-manggut saja. Tedja pun segera memboyong Pipit kedalam kamar.


Pipit masih terasa canggung dan ketakutan, tetapi pasrah saja apa yang dilakukan Tedja kepadanya.Tedja sudah tidak sabar untuk segera menikmati tubuh Pipit.


Segera pakaian Pipit di lucuti satu persatu. Pipit terkadang mengelak merasa malu dan risih.


"Tidak apa-apa, jangan malu-malu nanti juga kamu akan terbiasa dan ketagihan untuk terus melakukan, awalnya sakit tetapi ada kenikmatan yang tidak bisa di katakan dengan kata-kata.


Kamu menjadi penasaran kan, sekarang mari kita mulai. Pelan-pelan dan perlahan saja. Santai dan nikmati setiap sesinya" ucap Tedja sembari terus melucuti pakaian Pipit.


Sekarang Pipit sudah tanpa busana, Tedja mengecup dan memainkan area gunung kembar Pipit. Pipit mendesah merasa nikmat. Akibat ******* Pipit ternyata mampu membuat Tedja semakin bergairah.


Gairah Tedja semakin buas dan liar menyentuh dan menciumi semua area Pipit. Hingga pada klimaksnya Tedja memasukkan peluru tajamnya yang sudah menggelembung dan mengeras pada area sempit Pipit.


"Ahh, sakit om", teriak Pipit kencang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, pejamkan saja matamu", Tedja terus memasukkan pelurunya dengan gerakan naik turun dengan cepat.


"Ahhh", teriaknya penuh kenikmatan.


"Gimana kamu menyukainya kan?", tanya Tedja sambil mengecup bibir Pipit.


"Hmmmmm", Pipit mengangguk. Dan sejenak hanya diam saja, langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Kamu menyesal melakukannya?", tanya Tedja ingin tahu.


"Om, benaran tidak akan meninggalkan Pipit kan?. Pipit takut kalau om nantinya merasa bosan kepada Pipit dan akhirnya meninggalkan Pipit. Om Pergi mencari perempuan lain", Pipit merasa takut, karena baginya sekarang Tedja adalah keluarganya.


Pipit tidak mempunyai sanak saudara, bahkan orangtua. Om nya yang sering mengirim duit untuk keperluan sekolah Pipit. Akan Pipit setop karena tidak ingin merepotkan om nya lagi.


"Iya sayang, selagi kamu tidak macam-macam dan bisa menuruti apa yang kuinginkan. Aku tidak akan meninggalkan kamu, dan tetap setia kepadamu", Tedja memberitahu secara tegas. Dan mencium kening Pipit dengan penuh kasih sayang, seolah menunjukkan kalau Tedja bersungguh hati.


Begitulah kehidupan Tedja dan Pipit. Seperti layaknya pengantin baru, masih mesra dan selalu ingin bersama, lengket seperti prangko.


Seminggu berlalu pernikahan Tedja dan Pipit. Tedjapun tidak pernah masuk kantor. Karena hasratnya begitu menggebu-gebu untuk terus berhubungan suami istri. Sampai Pipit merasa kecapean dan kewalahan. Tetapi Tedja terus memaksa, Pipit dengan terpaksa harus patuh meladeni terus hasrat dan keinginan Tedja.


"Sayang, mengapa tidak pergi ke kantor?, kamu tidak takut perusahaan kamu di tangani terus oleh orang lain", Pipit mencari cara agar Tedja ke kantor, karena kalau Tedja di rumah terus. Kegiatan Meraka hanya selalu melakukan hubungan suami-istri.


"Mengapa harus takut, toh Deni adalah orang kepercayaan ku sejak dulu. Jadi aku sudah percaya atas semua kinerja Deni. Kamu tidak suka aku di rumah terus ya?", tanya Tedja penuh selidik.


"Bukan begitu maksud ku. Kalau kamu tidak bekerja. Bagaimana kita menutupi kebutuhan kita sehari-hari", Pipit mencari-cari alasan.


"Sudah kamu tenang saja, semua kebutuhan kita aku yang atur. Kamu hanya turuti saja permintaan ku", Tedja menyakinkan Pipit. Pipit pun hanya terdiam. Usahanya agar membuat Tedja ke kantor tidak berbuah hasil.


Sedang asik berbicara ada seseorang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Sana kamu bukakan pintu, siapa kira-kira yang datang mengunjungi kita", Tedja merasa bingung ada yang mengetuk pintu rumah nya. Pipit pun segera berlari ke depan rumah untuk menemui orang yang telah mengetuk pintu.


"Ada apa pak", sapa Pipit dengan lembut dan ramah.


"Saya mau mengantar surat Bu, ada surat dari pengadilan yang ditujukan untuk pak Tedja. Benar ini rumah nya pak Tedja kan Bu?", tanya petugas pos memastikan suratnya tidak nyasar.


"Oh benar pak, pak Tedja tinggal di rumah ini", ucap Pipit menyakinkan petugas pos.


"Baiklah, silahkan tanda tangan disini Bu. Sebagai bukti kalau surat sudah diterima oleh yang bersangkutan", petugas pos menyerahkan surat tersebut dan Pipit pun segera menandatangani surat tersebut.


Sekilas Pipit membaca kop surat tersebut berasal kantor urusan agama.


"Surat apa ini ya", Pipit merasa penasaran dan segera menyerahkan surat tersebut kepada Tedja.


"Sayang ini ada surat dari kantor urusan agama yang ditujukan kepada mu", Pipit menyerahkan surat itu kepada Tedja.


"Apa, dari kantor urusan agama. Surat apa ini ya", Tedja penasaran an segera membuka dan membaca surat tersebut.


"Surat apa itu sayang", tanya Pipit juga merasa penasaran dan ingin tahu.


"Ini surat cerai yang dilayangkan Indah kepada aku. Ternyata Indah menggugat cerai aku. Bernyali juga dia menceraikan aku", ucap Tedja setelah membaca isi surat tersebut ada raut kekesalan di dalam hatinya.


"Bagus dong sayang, sekarang malah istri kamu yang menggugat kamu. Itu berarti kamu tidak usah susah-susah lagi mengurusnya ke kantor urusan agama. Dan kamu hanya terima hasilnya saja", Pipit merasa senang. Tetap saja Tedja merasa kesal. Sesungguhnya Tedja sangat mencintai Indah dan tidak ingin berpisah dengan Indah.


"Bukankah itu yang kamu inginkan sayang, kita pun bisa segera meresmikan pernikahan kita", Pipit mengingatkan Tedja, atas janji Tedja dulu sebelum mengajak Pipit menikah dengan nya.


"Iya, tetap saja. Seolah-olah indah merasa dia yang terzolimi dan sombong", Tedja geram.


"Aku tidak mengerti jalan pikiran kamu, jangan-jangan kamu masih sayang dan cinta ya kepada mantan istri kamu, sehingga kamu merasa kesal di ceraikan", Pipit menunjukkan wajah sedih. Tedja gelagapan.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mencintai Indah lagi kok. Sekarang aku sudah mempunyai kehidupan baru yaitu dengan kamu", Tedja menyakinkan Pipit.


__ADS_2