Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#8. Tedja pura-pura tidak mengetahui perselingkuhan Indah dan Pangestu


__ADS_3

Tidak berselang lama setelah Tedja turun ke bawah. Indah pun menghampiri meja makan ingin mengambil beberapa makanan dan ingin membawa nya ke kamarnya.


Bermaksud hendak membawanya ke atas, Indah berpapasan dengan Bi Inah.


"Untuk siapa Bu makanan nya?", tanya bi Inah penuh selidik.


"Saya mau bawa ke atas, agar tidak bolak-balik ke bawah. Maklum naik turun tangga sangat melelahkan bagi wanita hamil seperti saya", Indah bicara seadanya.


"Mengapa harus membawa ke atas Bu?", Bi Inah gagal paham.


"Aduh bi Inah, tidak usah kepo deh. Mau untuk saya atau untuk siapa saya beri. Bi Inah tidak usah banyak bertanya deh", Indah semakin kesal atas pertanyaan bi Inah yang penuh selidik.


"Bukan begitu maksud saya, Bu. Untuk apa membawa makanan ke atas. Pak Tedja sudah datang, pasti sebentar lagi akan makan malam", bi Inah menjelaskan maksudnya.


"Apa Bi!, bapak sudah datang?", air menyembur dari mulut Indah ketika minum langsung tersedak mendengar perkataan bi Inah.


"Iya Bu, sekarang bapak ada di halaman belakang sedang menghirup udara segar katanya", bi Inah memberitahu.


Indah pun langsung berlari ke atas, tidak jadi membawa makanan yang sudah disendokinya ke dalam piring.


"Hati-hati Bu, jangan berlari-lari di atas tangga nanti jatuh", bi Inah merasa khawatir melihat indah yang kondisi hamil berlari menaiki tangga.


Indah langsung membuka pintu kamarnya dan bicara kepada Pangestu.


"Gawat, pak Tedja sudah pulang, sekarang katanya sedang di halaman belakang menghirup udara segar", sambil berusaha membereskan kamarnya dan menata bantal dan selimut yang tadinya berserakan dilantai.


"Apa kamu sudah bertemu dengan ayah?", Pangestu terkejut atas berita yang disampaikan Indah.


"Belum, aku langsung lari kesini untuk memberitahu kamu. kamu segera pergi dan keluar dari kamar ini. Sebelum pak Tedja melihat kamu ada di kamarku", indah mendorong tubuh Pangestu keluar dari kamar.


"Terus kamu akan kemana?", Pangestu ingin tahu.


"Aku akan menemui pak Tedja di taman", ucap Indah beranjak ingin turun.

__ADS_1


"Cepat tinggal kan tempat ini", Indah mengingatkan Pangestu sambil berjalan ingin menemui tedja di halaman belakang.


Indah menarik napas panjang, ingin menunjukkan tetap tenang dan rileks. "Agar Tedja tidak menduga-duga dan menaruh curiga nantinya", gumam nya dalam hati.


Indah melihat Tedja duduk merenung disebuah kursi yang letaknya dibawah pohon rindang. Indah belum pernah ke tempat ini. Kesehariannya hanya bergelut di kamar dan ke mall.


Lantas Indah langsung memeluk Tedja dari belakang. melingkarkan tangannya di leher Tedja dan menempelkan pipinya pada pipi Tedja.


"Sayang, kenapa tidak mengabari ku sih. Entah memberitahu melalui telepon. Agar aku bisa menitip dibawakan makanan. Karena keinginan makan ku sangat tinggi sekarang setelah janin ini ada di rahimku", Indah berbicara dengan manja, seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Sebelum Tedja curiga atas pertanyaan Indah barusan.


"lho, Seperti kamu tidak tahu kebiasaan ku saja. Aku kan sudah bilang. Kalau hal ini kulakukan agar kedatangan ku yang tiba-tiba bisa menjadi momen surprise bagi kamu. Oh iya, bagaimana kamu tahu kalau aku ada di taman ini?", Tedja tetap pada prinsipnya.


"Bi Inah yang memberitahu, tadi aku bermaksud untuk mengambil segelas air putih dan ketemu bi Inah di dapur", ucap Indah datar dan berbohong.


"Aku duduk di sini bermaksud untuk menghirup udara segar. Tempat ini cukup segar dan nyaman membuat aku bisa merilekskan pikiran ku yang penat", raut wajah Tedja menunjukkan kesedihan.


"Sayang, memang nya kamu mikirin apa sih?. Aku kan selalu dekat dengan kamu", Indah berusaha menggoda.


"Kamu memang dekat dengan aku. tetapi hatimu jauh dari ku. Aku tidak ingin kehilangan kamu Indah", Tedja menarik tubuh Indah. Dan menyuruh Indah duduk di pangkuan nya. Tedja memeluk dari belakang.


"Sayang kita ke kamar yuk, aku kangen sekali sama kamu. Lagian disini. Bila kita sedang di dapur. kemesraan kita sangat terlihat jelas, malah jadi bahan tontonan BI Inah nanti", Indah terlihat agresif dan berpura-pura menunjukan bahwa Indah sangat mencintai Tedja.


Akhirnya Tedja pun beranjak dari taman dan ingin masuk ke kamarnya. Karena tidak tahan terhadap pancingan Indah yang terus menyentuh area sensitif Tedja pada bagian bawah.


Dikamar, Tedja langsung melanjutkan adegan mesra yang sudah sempat tertunda.


Seperti biasa Indah terlihat selalu memberikan performa terbaiknya. Itu sebagai pelet, agar pasangan nya tidak pernah lupa bahkan semakin ketagihan untuk selalu berhubungan suami-istri.


Mereka pun masing-masing ******* dan rebah.


"Sayang, apakah dihatimu hanya aku seorang?", Tedja ingin tahu kejujuran Indah.


"Iya dong sayang, walaupun awal pernikahan kita aku tidak menyukaimu. Lama-kelamaan setelah dekat dan melalui hubungan suami-istri yang kita lakukan. Terbentuk lah rasa dan cinta itu. Akupun tidak mau kehilangan kamu", Indah penuh gombalan palsu.

__ADS_1


Tedja hanya diam saja. Tidak lama kemudian kembali bertanya.


"Sayang, bagaimana perasaan mu atau tindakan mu kalau kamu diselingkuhi", ucap Tedja.


"Ehmmm, bagaimana ya pendapat ku. Pastinya aku sangat kecewa dan marah. Dan aku akan menanyakan dan memarahi pasanganku mengapa dia berselingkuh di belakang ku", Indah tersadar dan terjebak diantara pertanyaan Tedja.


Padahal pertanyaan itu seperti mengarah pada dirinya. Indah takut, jangan-jangan Tedja tadi sempat mampir ke kamarnya dan mendengar obrolannya dengan Pangestu.


"Aduh gawat, tidak mungkin pak Tedja yang baru datang dari luar kota malah duduk-duduk di taman. Pastilah dulu akan menghampiri istrinya di kamar", Indah merasa ketakutan karena Tedja sepertinya sudah mengetahui perselingkuhan nya.


"Sayang, dari tadi pertanyaan dan sikap kamu terasa aneh. Sebenarnya apa yang terjadi sayang", Indah seolah menantang Tedja.


"Kalau aku mengungkap perselingkuhan mereka, pastilah aku akan memberikan hukuman dan sangsi. Pangestu sebentar lagi meja hijau, pasti akan menjadi bebannya kalau aku menghukumnya.


Sangsi kepada Indah, aku tidak bisa menceraikan Indah, aku sudah terlanjur mencintai nya", Tedja mempertimbangkan dalam hatinya.


"Tidak ada apa-apa sayang", ucap Tedja menyembunyikan kebenaran dan berpura-pura tidak tahu.


Tedja menutupi matanya dengan meletakkan kedua tangannya sambil terlentang di tempat tidur. Hatinya masih terasa sesak dan sakit ketika mengingat obrolan dan pemandangan yang dilihatnya dari lubang kunci antara indah dan Pangestu di ranjangnya sendiri.


Tedja sadar, "Indah pantas selingkuh. Karena dirinya sudah tua dan tidak segairah Indah. Indah yang cantik dan molek. Akan terasa sayang dimiliki oleh pria tua yang berumur. Sangat pantas rasanya kalau Indah, ingin sensasi dari yang sebayanya", gumam Tedja dalam hati.


Indahpun hanya membiarkan suaminya rebah dan istirahat sejenak. Sebelum sebentar lagi akan tiba waktunya untuk makan malam.


Indah mengambil kesibukan lain dengan pergi mandi. Indah segera beranjak ke kamar mandi. Tedja mengintip dari celah tangannya kemana Indah pergi.


Tidak beberapa lama Tedja menerobos masuk.


melihat pemandangan, Indah yang sudah tanpa busana dengan perut sudah membuncit basah di guyuran shower.


"Tidak ikut mandi sayang?", goda Indah.


"Tidak, aku hanya ingin memandangi tubuhmu saja", ucap Tedja.

__ADS_1


"Aku akan merasa kesepian bila Indah tidak disisiku. Sudahlah, baiknya aku berpura-pura saja tidak mengetahui hubungan antara Indah dan Pangestu. Toh Indah melayani ku dengan baik", Tedja mengambil keputusan.


__ADS_2