Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#85. Shinta berada di Jakarta


__ADS_3

"Baik ayah, Arkan siap melakukan tugas yang ayah perintahkan", Arkan menjawab dengan serius dan tegas perintah Febri.


Semua tertawa melihat Arkan menjawab ala Tentara.


Begitulah kehidupan rumah tangga Indah dan Febri, walaupun ada sedikit perselisihan dan perdebatan. Mereka selalu dengan kepala dingin menyelesaikan masalah tersebut sehingga tidak menjadi besar. Dan seketika suasana akan segera mencair dan kembali normal.


***


Kegiatan di week end selalu Indah terapkan. Kali ini mereka weekend ke mall.


Sedang asik menikmati hidangan makanan di restoran, tiba-tiba mereka di hampiri oleh seorang wanita cantik.


"Hai Febri, tidak menyangka ya kita bisa ketemu disini", sapa Shinta ramah dan penuh bahagia tiba-tiba bertemu dengan Febri yang begitu di cintai nya.


Shinta sengaja datang dari Kalimantan untuk bertemu dengan Febri. Shinta ingin peruntungan di Jakarta, mencari pekerjaan baru sembari mencari Febri sang pujaan hatinya.


Shinta hampir tiga bulan berada di Jakarta. Berdasarkan pengalaman kerjanya dengan mudahShinta langsung di terima bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Jakarta. Shinta tinggal di sebuah apartemen dekat tempat dia bekerja.


Febri pun sangat terkejut melihat kehadiran Shinta, Febri bingung tidak tahu harus menjawab apa. Takut kalau Indah nanti salah paham, pasti pertengkaran hebat akan terjadi di rumah tangganya. Febri berpikir yang tidak-tidak.


"Hai juga", Febri merasa gagap berusaha menunjukkan sikap tenang. Febri berusaha memperkenalkan Shinta. Sebelumnya Indah tidak mengenali wajah Shinta.


"Sayang ini Shinta", Febri memperkenalkan Shinta pada Indah. Indah pun terkejut dan sedikit tersedak ketika meneguk minuman. Ternyata Shinta mempunyai paras yang cantik, kulit putih dan kelihatan masih muda.


Indah menarik nafas panjang berusaha mengendalikan pikiran nya. Tenang, ramah dan tidak menunjukkan kecemburuan. Indah mengangguk tersenyum dan segera menjabat tangan Shinta, "Indah", ucap Indah memperkenalkan diri. Dengan cepat Shinta langsung mengambil posisi duduk diantara meja mereka. Kebetulan ada satu lagi bangku yang kosong.


"Aku ikut gabung ya, bareng kalian", ucap Shinta sok kompak.


Dengan terpaksa Febri dan Indah menerima kehadiran Shinta di tengah-tengah mereka. Karena tidak mungkin juga mengusir Shinta, karena Shinta tidak ada melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Kamu mengapa ada di Jakarta?", tanya Febri penasaran karena setahunya Shinta berada di Kalimantan.


"Aku ada tugas penting di sini", ucap Shinta berbohong menutupi tujuannya. Febri pun hanya manggut-manggut.


Febri dan Indah hanya diam saja tidak banyak bertanya kepada Shinta. Shinta yang begitu aktif bertanya dan merasa ingin tahu kehidupan rumah tangga Febri.


"Hai adik kecil, nama kamu siapa?", tanya Shinta kepada Arkan. Karena bingung mengapa ada anak yang sudah berusia 10 tahun berada di tengah-tengah Febri dan Indah secara Febri baru menikah 3 bulan yang lalu.


"Arkan Tante", jawab Arkan polos.


"AR KAN nama yang bagus", Shinta manggut-manggut menunjukkan wajah dengan ekspresi kebingungan. Febri berusaha menjawab kebingungan Shinta.


"Arkan adalah anak pertama kami", ucap Febri. Shinta manggut-manggut mencoba mengambil kesimpulan, "Oh ternyata Indah ini seorang janda beranak satu" gumam Shinta dalam benaknya.


"Arkan sekarang kelas berapa, oh iya jangan panggil Tante dong. Panggil saja kakak, karena kalau Arkan memanggil sebutan Tante aku jadi kelihatan tuanya?", ucap Shinta mencairkan suasana yang terasa tegang berusaha kompak dengan Arkan. Febri dan Indah berusaha tersenyum dan tertawa kecil mendengar ocehan Shinta.


"Kelas 5 SD, Tan eh kak", ucap Arkan masih canggung. Arkan pun tidak terlalu menanggapi Shinta yang berusaha untuk kompak dengannya, karena tahu ekspresi Indah merasa tidak enak atas kehadiran Shinta yang tiba-tiba di tengah-tengah mereka.


Arkan tidak protes karena mengerti apa yang dirasakan ibunya saat ini.


"Baiklah kita pulang saja", Febri hanya pasrah atas keinginan Indah. Febri tahu penyebab kekesalan Indah karena kehadiran Shinta.


Shinta merasa kesal, karena Indah ingin pulang. Tetapi Shinta berusaha tenang dan tidak menunjukkan kekesalannya.


"Mengapa pulang terburu-buru?, belum juga malam, kita bersantai-santai lah dulu disini", ucap Shinta menghalang-halangi keinginan Indah.


"Maaf Shinta. Istriku tiba-tiba merasa kelelahan, aku takut nanti janinnya kenapa-napa", Febri berusaha memberikan penjelasan.


Shinta pun tidak bisa memaksakan lagi keinginannya untuk menahan-nahan Febri.

__ADS_1


"Oh iya, Boleh dong aku minta alamat rumah kamu. Aku kan masih warga baru disini, aku tidak ada sanak keluarga. Kali aja aku kenapa-napa aku bisa langsung cepat mendatangi kalian.


Hanya kalian yang bisa kuanggap sebagai keluarga di perantauan ini. Tidak apa-apa kan kalian kuanggap sebagai keluarga dekat ku sendiri?", Shinta menunjukkan wajah yang memelas dan berpura-pura bersedih.


Baik Febri dan Indah merasa percaya dan kasihan atas perkataan Shinta. Febri dan Indah saling bertatapan, seolah menyiratkan agar Febri memberitahu alamat rumah mereka.


"Baiklah kalau kamu ada sesuatu hal yang penting kamu bisa datang ke rumah kami yang alamatnya Jalan Srikandi no 7" Febri memberitahu. Shinta pun merasa senang dan bahagia Febri tidak menaruh curiga kepada nya.


"Kami permisi pulang dulu ya", Febri, Indah dan Arkan meninggalkan Shinta yang masih terduduk di meja restoran.


"Tidak apa-apa lah sekarang aku di tinggal, sebentar lagi aku akan menjadi istri kamu Febri", gumam Shinta di dalam benaknya merasa penuh kemenangan.


Febri dan Indah sejenak terdiam di dalam mobil.


"Kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang?. Kamu tidak benar-benar kelelahan kan?", Febri penasaran dan ingin tahu perasaan Indah.


Indah dan Febri berbincang di dalam mobil, sembari menunggu Arkan yang sedang pergi ke toilet.


"Aku baik-baik saja kok. Entah mengapa perasaan ku tidak enak ketika Shinta mengatakan bila dia ada urusan penting di Jakarta, apalagi kita telah memberitahunya alamat rumah kita", Indah merasa khawatir.


"Sudahlah Indah, tidak usah berprasangka buruk begitu. Dia sudah menganggap kita sebagai keluarganya. Tidak mungkin kan kita membiarkan nya sendiri, bila nanti terjadi sesuatu kepadanya secara kita tahu bahwa dia bukan berasal dari Jakarta.


"Iya sih, tetapi perasaan ku kok tidak enak", Indah memberitahu.


"Tidak usah dipikirkan, santai saja. Aku akan berusaha membuat jarak kepada Shinta dan tidak selalu menuruti kemauan nya. Kuharap kamu bisa mempercayai aku", Febri menyakinkan Indah.


"Kamu tidak akan tergoda kan, sekalipun Shinta menggoda mu?"", harap Indah.


"Iya sayang, kalau aku mau kepada Shinta sudah sedari dulu aku menerima cintanya", Febri terus meyakinkan Indah.

__ADS_1


Indah pun dengan terpaksa harus merasa yakin dan percaya kepada Febri, walaupun masih ada sedikit keraguan dan kekhawatiran yang tidak bisa diungkapkan nya.


__ADS_2