Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#89. Febri mengetahui niat jahat Shinta


__ADS_3

"Oh iya Sayang, apa kamu tidak merasa risih Shinta tinggal di rumah kita. Maksudnya bukannya aku tidak peduli kepada Shinta. Memang Shinta merupakan tanggung jawab kita, karena Shinta tidak ada keluarga di Jakarta.


Shinta sangat mencintaimu sayang, dia bermaksud ingin merebut engkau dariku. Bahkan dia sengaja mencari pekerjaan di Jakarta dan meninggalkan pekerjaan lamanya di Kalimantan.


Shinta bohong telah mengatakan dia ada urusan penting di Jakarta. Dia memang sengaja ke Jakarta untuk merebut engkau dariku", Indah pelan-pelan menceritakan semuanya kepada Febri, takut kalau Febri akan tersinggung. Tetapi karena sikap Febri yang begitu perhatian, Indah berpikir kalau Febri tidak akan marah karena saat ini Febri sedang tidak dalam lingkup guna-guna Shinta.


Febri terdiam, seolah sedang berpikir.


"Kamu benar, Shinta seharusnya tidak tinggal di rumah kita. Tetapi bagaimana caranya kita mengatakan kepada Shinta agar tidak tinggal di rumah kita?", Febri bingung tidak tahu apa yang harus di perbuat nya.


"Kalau kita tidak menyuruhnya pergi, pasti Shinta tidak akan mau keluar dari rumah kita dengan keinginannya sendiri. Sepertinya Shinta memang sudah merencanakannya jauh-jauh hari", Indah mengungkapkan ketakutannya.


"Oh iya Sayang, kamu sadar tidak kalau di rumah, ketika kamu berdekatan dengan Shinta. Kamu begitu kasar dan selalu menuduh aku kalau aku sangat jahat dan zolim kepada Shinta. Kamu juga begitu membela Shinta", Indah berusaha memberitahu yang sebenarnya dan membuka pikiran Febri.


"Benarkah demikian, tetapi aku merasa biasa saja kok bersikap", Febri merasa biasa saja dan tidak merasa ada perubahan pada dirinya.


"Iya sayang, makanya aku begitu bingung dengan sikap kamu", Indah menyakinkan Febri.


"Terkadang melihat kamu yang begitu perhatian kepada Shinta, dan kamu malah menuduh aku yang bukan-bukan. Aku sempat berpikir kalau kamu menyukai Shinta", Indah mengungkapkan sakit hatinya.


"Benarkah aku melakukan itu kepadamu. Maafkan aku Indah sudah melukai hatimu. Sebelumnya aku ingin jujur kepadamu, bukan maksudku menyembunyikan kesalahan ku. Tetapi aku benar-benar tidak menyadari kalau aku telah berbuat kasar padamu", Febri mengungkapkan kebingungan nya.


Sejenak mereka terdiam, dan tidak lama kemudian Indah membuka pembicaraan.


"Apakah mungkin Shinta telah melakukan sesuatu di luar nalar kita?", ungkap Indah dengan serius.


"Melakukan sesuatu di luar nalar kita?. Maksud kamu apa sayang, aku tidak paham maksud kamu", Febri tidak mengerti arah pembicaraan Indah.


"Maksud ku, Shinta telah mengguna-guna kamu sayang. Bila kamu dekat-dekat dengan Shinta guna-guna nya bekerja dengan baik. Kamu jadi benci kepada ku, dan sebaliknya kepada Shinta kamu begitu perhatian", Indah memberi gambaran atas apa yang telah terjadi kepada Febri.


"Aku tidak mengerti hal-hal seperti itu sayang, sungguh aku tidak tahu. Kita juga tidak boleh menuduh Shinta begitu saja, tanpa bukti yang akurat", Febri tidak sepenuhnya mendukung pernyataan Indah.

__ADS_1


"Kamu benar, tetapi setidaknya kita harus berhati-hati sayang", ucap Indah merasa khawatir.


"Kalau seandainya itu benar. Tindakan apa yang akan kita lakukan untuk menghilangkan guna-guna tersebut?", Febri sedikit merasa ketakutan.


"Yang bisa kita lakukan saat ini adalah banyak-banyak berdoa kepada Sang Pemilik hidup. Dengan iman segala perbuatan jahat pasti akan di jauhkan. Oh iya, aku juga merasa Shinta selalu memancing kemarahan ku.


Tetapi dengan kepala dingin dan kuberusaha berbicara dengan lembut. Sepertinya pengaruh guna-guna itu tidak berfungsi kepada ku. Makanya Shinta selalu kesal karena aku tidak mau terpancing ikut-ikutan jadi emosi", Indah memberitahu.


"Maafkan aku Indah, karena kebodohan ku. Aku telah memasukkan masalah besar di dalam rumah tangga kita", Febri menyesali perbuatannya yang telah mengizinkan Shinta tinggal di rumah mereka.


"Aku jadi takut pulang ke rumah. Bagaimana ini sayang. Bagaimana kalau aku di rumah, ketika ada Shinta aku malah melakukan hal-hal yang tidak-tidak di luar kendaliku", Febri ketakutan.


"Tidak apa-apa sayang, kamu harus bisa melawannya. Bila perlu kamu jangan dekat-dekat dengan Shinta dan memandang matanya", itu sedikit banyak akan mengurangi pengaruh dari guna-guna nya.


Sebelum kita pulang ke rumah, aku mau kita berdoa bersama, meminta kepada Tuhan agar kehidupan rumah tangga kita baik-baik saja. Keluarga kita di jauhkan dari segala perbuatan jahat.


Febri pun hanya menurut saja apa yang diperintahkan Indah.


***


"Bi Marni, tolong masakin aku mie goreng spesial dong. Oh iya sekalian jus jeruk dingin. Aku merasa tenggorokan ku sangat kering karena cuaca yang sangat gerah sekarang ini.


"Maaf Bu, di rumah sedang tidak ada bahannya untuk semua menu yang ibu pesan", bi Marni memberitahu.


"Ihhh, gimana sih masak tidak ada makanan yang bisa di makan di rumah ini", Shinta semakin kesal.


"Oh iya, bagaimana kalau aku suruh saja Indah membeli bahan-bahan untuk menu makanan yang kuinginkan tadi", gumam Shinta dalam hatinya.


Shintapun memanggil-manggil Indah.


"Indah.. Indah, kamu dimana?", Shinta berteriak kencang. Tetapi indah tidak kunjung menghampiri Shinta.

__ADS_1


Shinta semakin geram karena Indah tidak mengacuhkan panggilan nya.


Akibat teriakan Shinta yang terlalu kencang, datang Bu Marni menghampiri.


"Bu Indah sedang tidak di rumah Bu, Indah dan bapak sedang pergi ke toko. Biasanya pulang sampai sore hari", Bi Marni memberitahu.


Mengetahui ternyata Indah dan Febri tidak ada di rumah Shinta semakin kesal dan geram.


"Kurang ajar. Mereka tidak mengajak ku pergi. Aku ngapain disini sendirian. Bila Febri berjauhan dengan ku guna-guna ku tidak akan bekerja.


Pasti Indah akan memberitahu semua yang telah kukatakan kepadanya mengenai tujuan kuyang sebenarnya untuk merebut Febri dari nya", gumam Shinta kesal dan merasa khawatir. Setelah mengetahui itu Febri akan marah-marah kepadanya.


"Sudahlah, kuharap Febri tidak akan mempercayai semua apa yang dikatakan Indah", Shinta mencoba berpikir dengan tenang dan santai.


"Aku akan berpura-pura cuek, lagian di rumah Febri masih bisa ku kendalikan", Shinta menambahi.


***


Setelah malam hari setelah toko di tutup, akhirnya Febri dan Indah pulang ke rumah.


Shinta telah memikirkan apa yang akan diperbuat dan di katakan nya. Untuk menarik perhatian Febri. Sedari tadi Shinta sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangan Febri dan Indah.


"Hai Febri!. Seharian ini kalian dari mana saja, aku merasa kesepian. Mengapa tidak mengajakku ikut serta?", Shinta berpura-pura manja dan mendekati Febri.


Febri berusaha menjauhi Shinta.


"Oh iya, memang suatu rutinitas kami setiap hari pergi ke toko. Kami tidak harus wajib mengajak kamu serta kan?", Febri tegas.


Mendengar perkataan Febri yang begitu tegas, Shinta merasa sedikit kesal.


"Iya sih, Seandainya kalian mengajak ku aku pasti ikut dengan kalian. Besok ajak aku ikut serta ya. Aku merasa jenuh tinggal di rumah sendirian", Shinta sangat berharap dan tidak menunjukkan kekesalannya.

__ADS_1


"Oh iya, Shinta. Kamu tidak mungkin di rumah kami berlama-lama. Kami sangat berharap secepatnya kamu kembali ke apartemen mu.


Kamu bisa melapor ke satpam bila lingkungan apartemen membuat mu merasa kurang aman", Febri semakin tegas. Mendengar perkataan Febri yang berusaha mengusirnya, Shinta langsung memutar otaknya mencari cara agar dirinya tetap tinggal bersama Febri dan Indah.


__ADS_2