Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#51. Pangestu dan Shifa resmi menikah


__ADS_3

"Indah, aku akan membuktikan kalau aku serius kepada mu. Indah Kamu harus yakin kepada ku", Pangestu keluar dari rumah Indah, karena disuruh pergi oleh Indah.


Setelah Pangestu tidak tampak lagi.


Indahpun menangis di balik pintu.


"Aku sangat mencintaimu Pangestu, Arkan adalah anak kamu", Indah terduduk menumpahkan segala perasaan sakit hatinya.


"Aku tidak boleh berharap banyak kepada Pangestu. Kalau dia mengingat ku dan kembali kepadaku. Aku bersyukur karena mengingat ku kembali. Kalau tidak ingat dan lebih memilih hidup dengan Shifa, ya tidak apa-apa. Mungkin itu adalah jalan terbaik", ucap indah menyemangati dirinya.


****


Tiba lah saatnya pernikahan Shifa dan Pangestu digelar, pernikahan digelar disebuah gedung serbaguna. Tamu undangan di dominasi oleh teman-teman dan kolega bisnis burhan.


Shifa terlihat Senyam senyum menyalami para tamu. Sebaliknya Pangestu hanya diam membisu dan wajahnya kelihatan banget tidak bersemangat.


Para tamu bergantian menyalami Shifa dan Pangestu sembari mengucapkan, "Selamat ya Shifa dan Pangestu. Semoga kalian pasangan suami istri yang berbahagia dan semoga cepat dapat momongan".


Merekapun membalas dengan tersenyum lebar, "Terimakasih"


Setelah para tamu undangan pada pulang, dan tidak ada lagi undangan yang datang. Shifa, Pangestu, dan Burhan pun pulang ke rumah.


"Selamat ya Pangestu dan Shifa. Kalian sudah sah menjadi suami-istri. Seluruh perusahaan papa, kalian yang menanganinya sekarang. Papa sudah tua, papa ingin banyak istirahat di rumah. Agar papa tidak kesepian di rumah, kalian harus segera memberikan cucu buat papa", ucap Burhan setelah tiba di rumah.


"Iya pa", jawab Pangestu pelan, tidak bersemangat. Dalam hatinya hanya memikirkan bagaimana mengajukan cerai kepada Shifa.


"Pangestu istirahat dulu ya pa", ucap Pangestu langsung balik badan menuju kamarnya. Karena sebelumnya menanyakan kepada Shifa letak kamarnya karena ingin segera istirahat.


Shifa mengerti mengapa Pangestu tidak bersemangat, karena Pangestu hanya terpaksa menikahi Shifa, bukan karena cinta.


Sepeninggal Pangestu di ruang tamu


"Pa, tidak usah membicarakan cucu dihadapan Pangestu. Karena kami berencana tidak ingin segera memiliki anak, akibat disibukkan oleh urusan kantor", Shifa tidak ingin papanya berharap terlalu banyak.


"Bagaimana mungkin aku hamil, sedangkan kami akan tidur terpisah", gumam Shifa dalam hatinya.


"Tidak boleh seperti itu, sia-sia dong kalian kusuruh menikah", Burhan tidak terima.

__ADS_1


"Pa, Pangestu tidak mencintai Shifa. Pangestu hanya terpaksa menikahi Shifa karena memikirkan kesehatan papa.


Pangestu takut papa akan masuk rumah sakit lagi, karena jantung lemah papa. Pangestu sudah menyukai wanita lain selain Shifa, pa. Pangestu mau menuruti pernikahan ini, Shifa sudah senang. Karena shifa bisa melihat Pangestu setiap hari.


Jadi papa harus menghargai Pangestu dan tidak terlalu banyak menuntut pangestu", Shifa memberitahu semuanya dengan suara bergetar. Berusaha menahan agar buliran air matanya tidak tumpah di pipinya. Sehingga tidak menambah kesedihan Papa nya yang membuat kesehatannya berkurang.


Burhan mengerti perasaan Shifa. Dan sangat bersedih melihat Shifa yang begitu tegar menghadapi kenyataan.


"Begitu besar kah cinta mu kepada Pangestu. Sehingga kamu rela begini?, sampai kamu tidak pernah membiarkan hati kamu terisi oleh pria selain Pangestu?", tanya Burhan, kasihan melihat putri nya begitu mencintai Pangestu.


"Papa sudahlah tidak usah membahas itu. Shifa ikhlas dan senang saat ini. Papa tidak usah mikirin Shifa, papa juga harus sehat. Agar Shifa juga semangat dalam menjalani hidup", Shifa pamit untuk masuk ke kamarnya.


Shifa masuk ke kamar dan melihat Pangestu sudah terlelap dengan jas pengantin dan sepatu masih melekat ditubuh dan kakinya.


Shifa geleng-geleng kepala. Melepaskan satu persatu sepatu Pangestu. Dan berusaha membuka jas, kemeja dan menggantinya dengan kaus oblong.


"Kalau Shifa punya niat jahat, menyetubuhi Pangestu yang lagi tertidur sebenarnya bisa saja, dan akhirnya bisa menjebak Pangestu dengan kehamilannya.


Tetapi Shifa tidak ingin melakukannya. Baginya kesepakatan yang dilakukan nya dengan Pangestu harus dihargai. Shifa berharap Pangestu suatu hari nanti akan mencintainya", Shifa berharap dalam hatinya.


Walaupun dilucuti begitu Pangestu tetap saja tertidur lelap. Shifa pun sibuk membuka pakaian pengantinnya dan membersihkan riasan di wajahnya. Lalu segera mandi membersihkan diri, agar terasa ringan dan segar. Karena seharian sudah terlalu lelah menghadapi para tamu undangan.


Ditengah malam, Pangestu terbangun, dan sedikit bingung dengan suasana kamar yang ditempati nya saat ini. Setelah melihat kesekeliling.


Kini Pangestu sadar kalau dia berada di kamar Shifa, tersadar kalau dirinya sudah menikah dengan Shifa. Dan Pangestu melihat Shifa tertidur di sofa. Ada keinginannya untuk membangunkan Shifa dan menyuruh nya tidur di ranjang.


"Ahhh sudahlah kalau aku begitu perhatian dengan Shifa, takutnya dia akan salah kaprah kalau aku mencintai nya. Biar sajalah Shifa tidur di sofa. Besok aku yang gantian tidur di sofa", gumam Pangestu mengurung kan niatnya. Pangestu pun kembali melanjutkan tidurnya.


Kring... alarm handphone Shifa berdering, menunjukkan sekarang pukul 05:00 pagi. Shifa pun segera beranjak dari tidurnya. Shifa ingin menyiapkan sarapan pagi untuk Pangestu, Shifa ingin menjadi istri yang baik buat Pangestu.


Sesungguhnya Shifa tidak pernah memasak di dapur, sebulan sebelum pernikahan nya. Shifa sudah belajar memasak secara otodidak dari aplikasi pada handphone nya. Sudah banyak resep yang dicobanya. Dan kali ini ia ingin menunjukkan kemampuan memasak nya di hadapan Pangestu.


"Tarraa....sarapan nasi goreng spesial sudah selesai", Shifa selesai memasak dan sudah menyajikannya beberapa piring di meja makan.


Shifa membuat topping nasi gorengnya sudah mirip ala restoran. Ada telor mata sapi, ketimun yang yang berbentuk bulat bergerigi, tomat, dan sayur seledri. Semua ditata di atas sajian nasi goreng. Sungguh menggugah selera bagi yang melihatnya. Shifa bangga atas sajian sarapan yang dibuatnya hari ini.


"Semua sudah tersaji, sekarang tinggal memanggil papa dan Pangestu", ucap Shifa bersemangat dan langsung pergi ke kamarnya untuk menjemput Pangestu.

__ADS_1


Shifa mengetuk pintu, karena tidak ada sahutan Shifa langsung masuk. Dilihatnya Pangestu masih tidur di ranjang nya.


"Pangestu, bangun dong. Ini sudah jam berapa apa kamu tidak ke kantor?" Shifa menggoyang-goyangkan tubuh Pangestu.


"Ada apa Shifa?", tanya Pangestu masih terasa berat dan mengantuk.


"Kamu tidak ke kantor hari ini?. Ayo bangun cepat. Aku sudah menyiapkan sarapan pagi lho", Shifa terus berusaha membangun Pangestu.


"Kamu membuat sarapan, mengapa harus repot-repot. Lain kali tidak usah ya. Aku bisa sarapan di luar", Pangestu terkejut merasa tidak enakan Shifa membuatkannya sarapan pagi.


"Tidak apa-apa, Jangan terlalu sering makan, makanan dari luar. Tidak bagus untuk kesehatan", Shifa menasihati.


"Baiklah aku mandi dulu ya", Pangestu langsung masuk ke kamar mandi. Shifa pun segera menyiapkan pakaian ke kantor Pangestu di atas tempat tidur lalu pergi ke luar.


Pangestu keluar dari kamar mandi dan melihat pakaian kantor dan termasuk ********** sudah tersaji diatas tempat tidur.


Pangestu cukup terbantu, biasanya harus mencari semua perlengkapan nya di tempat yang terpisah, dan hampir membutuhkan waktu 10 menit.


Pangestu merasa senang atas perhatian Shifa. Ia pun segera keluar dari kamarnya menuju meja makan. Benar saja semua sudah tersaji di meja makan, Burhan juga sudah menunggu di meja makan. Semua menunggu kedatangan Pangestu.


"Wah, tinggal nunggu aku ya. Maaf ya kelamaan. Aku tidak tahu kalian menunggu ku", Pangestu merasa segan.


"Tidak apa-apa kok, kami juga tadi sedang mengobrol jadi waktu menunggu nya tidak terasa lama", Shifa menenangkan suasana.


Sesuap demi sesuap nasi goreng dimasukkan ke mulutnya. Pangestu merasa nikmat dan akhirnya melahap habis nasi gorengnya.


"Nasi gorengnya enak, makasih ya sudah membuat sarapan untuk ku", ucap Pangestu mengapresiasi masakan Shifa.


"Ini bekal kamu, untuk makan siang nanti. Mana tau kamu terlalu sibuk di kantor. Jadi malas pergi ke kantin atau waktunya tidak keburu. Silahkan kamu makan bekal kamu, kalau kamu tidak suka. Tidak apa-apa, kamu kasih ke orang saja", Shifa menyerahkan bekal untuk makan siang Pangestu.


"Shifa, besok tidak usah repot-repot menyiapkan bekal untuk ku ya", Pangestu merasa segan. Raut wajah Shifa menunjukkan kekecewaan.


"Aku tidak ingin kamu menjadi repot, bukan maksudku mengatakan kalau masakan mu tidak enak. Nasi goreng kamu enak kok", Pangestu menenangkan Shifa.


"Aku bawa bekal makan siang ini ya, terima kasih sudah membuat kannya untuk ku", Pangestu tersenyum, agar Shifa tidak salah sangka.


"Oh iya, ayo cepat ganti baju. Kamu tidak ke kantor?", tanya Pangestu bingung.

__ADS_1


"Aku ke kantor di awal bulan saja, untuk mengontrol dan melihat kondisi kantor. Aku ingin fokus jadi ibu rumah tangga saja", ucap Shifa tersenyum. Pangestu bingung maksud pembicaraan Shifa. Lalu segera berangkat ke kantor.


__ADS_2