
Keesokan harinya, Chika dan Maya sengaja berangkat lebih awal karna mereka akan mampir kerumah Chika yang tak lain juga rumah tantenya sekarang.
"Chik, loe tenang aja. Kalau sampai tante sama om loe kasar lagi sama loe, tinggal gue rekam terus gue viralin di sosmed. Nanti mereka pasti takut dan gak berani macem macem sama loe," ujar Maya.
"Hahaha, bagus juga ide loe. Yaudah kita pamit dulu ya sama mama dan papa loe."
"Iya Chik," jawab Maya.
Mereka berdua keluar dari kamar, dan kebetulan ibunya Maya sedang berada di ruang tamu sambil menyiapkan barang dagangannya.
"Kalian kok udah berangkat jam segini?" tanya Bu Nining, ibunya Maya.
"Ini loh bu, Maya mau nganter Chika kerumahnya dulu. Kemarin tantenya Chika nyariin Chika kesekolah. Tapi Chika kan kerja, jadi mereka gak ketemu. Makanya sekarang kita sengaja berangkat pagi karna mau mampir kesana dulu," jelas Maya.
"Oh begitu ya, memangnya tante kamu masih peduli sama kamu Chika?"
"Gak tahu tante, tapi Chika waktu pergi kemarin kan belum pamit sama tante Renata. Sekalian Chika juga mau ambil seragam dan buku buku pelajaran Chika."
"Ya sudah kalau begitu. Kalian hati hati ya, nanti kalau Chika sampai dikasarin lagi sama om dan tantenya, kamu langsung telpon bapak aja ya Maya."
"Iya bu, kalau gitu aku sama Chika pamit ya bu," pamit Maya sembari mencium punggung tangan ibunya.
"Chika pamit ya tante," sambung Chika.
__ADS_1
"Iya nak," jawab bu Nining.
Maya lalu memberikan satu helmnya pada Chika, dan setelah itu mereka menuju kerumah Chika.
Sesampainya disana kebetulan tante Renata sedang menyiram tanaman di kebun rumah. Dan saat melihat kehadiran Chika, seketika ia menaruh selang dan berjalan menghampiri Chika yang baru saja turun dari motor Maya.
"Anak bandel, kemana saja kamu. Gak pulang dua hari, oh jangan jangan kamu jadi pelacur ya diluar sana," ujar tante Renata sambil menjewer telinga Chika dengan keras.
"Lepas tante, sakit," rintih Chika.
"Tante lepas gak. Kalau tante masih kasar sama Chika, Maya bakal rekam kelakuan tante terus Maya viralin ke sosmed. Biar tante dapat panggilan dari Komnas perlindungan anak," Ancam Maya yang sudah mengeluarkan ponselnya.
"MAYA!! berani ya kamu," teriak tante Renata.
Takut dengan ancaman Maya, Tante Renata pun lalu melepaskan tangannya dari telinga Chika.
"Tante kemarin ngapain cari aku ke sekolah? Tante khawatir ya sama aku?" tanya Chika yang berharap tantenya mengiyakan pertanyaannya.
"Hahahaha, khawatir kamu bilang? Sama sekali enggak. Tante hanya mau tanya kamu masih mau pulang atau tidak? Jika memang kamu sudah tidak pulang, tante ingin kamu ambil semua barang barang kamu dan jangan pernah lagi kembali kesini."
Mendengar alasan tantenya, Air mata Chika mulai jatuh. Ia ternyata salah menilai tantenya. Ia pikir tantenya itu masih peduli dengan dirinya.
"Baik tante, aku akan pergi untuk selamanya dari sini. Dan mulai saat ini, aku gak akan pernah kembali lagi kerumah ini," ucap Chika sambil berjalan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Sikap tantenya itu benar benar sudah membuat Chika muak. Namun tantenya itu sama sekali tak merasa sedih dengan perkataan Chika.
"Tante bener bener keterlaluan. Keluarga Chika itu yang tersisa cuma tante. Dan kurang baik apa Chika sama tante, ini rumah kedua orang tua Chika, tapi tante ambil. Perusahaan papanya Chika pun juga udah tante rampas. Apa tante gak ada sedikit rasa iba pada ponakan tante. Maya gak nyangka, kalau Chika punya tante yang gak punya hati kayak tante Renata. Maya permisi, mau bantuin Chika mengemasi barangnya," ujar Maya.
"Silahkan," jawab tante Renata sembari menyilakan rambutnya ke belakang telinga.
Tante Renata kembali melanjutkan aktivitasnya menyiram bunga. Dan tak berapa lama Chika dan Maya keluar sambil membawa beberapa kardus.
Sambil memandangi rumahnya, air mata Chika mulai jatuh. Rumah yang penuh kenangan dengan kedua orangtua kini berubah menjadi rumah neraka bagi dirinya. Dan sekarang ia harus pergi dari rumahnya sendiri.
"Mah, pah. Maafin Chika yang sudah gak bisa tinggal lagi disini," batin Chika sambil menghapus air matanya.
"Ayo Chika, kita pergi," ajak Maya.
"Iya May."
"Tante, Chika pamit," ucap Chika sembari mengulurkan tangannya.
"Cepat sana pergi," perintah tante Renata tanpa membalas uluran tangan Chika, bahkan ia sama sekali tak menoleh kearah ponakannya itu.
Chika dan Maya pun langsung pergi meninggalkan rumah itu.
"Ini belum seberapa dengan rasa sakit hatiku dulu mbak. Andai saja waktu itu kamu bisa meyakinkan mas Dirga untuk mau memberikan suntikan dana ke perusahaan suamiku. Aku pasti tidak akan hidup miskin dan kesusahan. Tapi kamu dan suami kamu sama. Kalian sengaja membuat aku dan mas Pandu menderita. Dan sekarang kamu dan mas Dirga bisa lihat apa yang sudah aku lakukan pada anak kamu. Aku akan buat Chika merasakan gimana susahnya menjadi orang miskin." batin Renata sambil tersenyum licik dan penuh kemenangan.
__ADS_1