Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Malaikat Izrail


__ADS_3

"Kita langsung ke kantor pak?" Haris bertanya sesaat setelah ia masuk kedalam mobil.


"Udah tahu pakai nanya. Jangan buat saya emosi dulu, pikiran saya lagi banyak," jawab El sambil memijat keningnya, memikirkan cara menghadapi kedua orang tuanya.


Cukup lama El diam, dan tak seperti biasanya ia bersikap seperti ini. Wajahnya nampak gusar, seperti tak kuat menahan beban hidup.


Dari kursi depan, Haris sesekali melihat bosnya dari kaca. Terkadang rasa bersalahnya muncul, karna telah menjadi seorang pengkhianat. Tapi Haris hanya manusia biasa, tak menolak jika di beri uang.


"Ris," Haris terperanjak dari kursinya. Kaget tiba tiba El memanggilnya.


"Eh iya Pak El, ada apa Pak?"


"Saya kok merasa ada yang aneh ya Ris."


"Aneh gimana pak," jantung Haris mulai berdetak kencang, sepertinya bosnya ini memang sudah mulai curiga.


El terdiam lagi, mengingat ingat jika ia sudah menyimpan map perjanjian dirinya dan Chika di tempat yang aman.


"Ada apa Pak? Kok gak lanjut ya ceritanya?" Haris masih penasaran, takut jika rahasianya akan terbongkar.


"Bagaimana ceritanya papa sama mama bisa menemukan map itu ya. Padahal hanya saya dan ka...,"sebelum selesai berbicara, El langsung melihat Haris dari kaca.


"Ris..," El memanggil Haris kembali.


Dan kini El menatap Haris tajam. Seolah olah seperti wanita yang meminta pertanggung jawaban dari seorang lelaki yang menghamilinya.


"Iya pak, kenapa bapak memandangi saya seperti itu?" tanya Haris sambil memasang wajah polosnya.


"Bukan kamu kan pelakunya?" El ingin memastikan jika kecurigaannya benar atau tidak.


Denyut nadi Haris seketika berhenti. Ia seperti berhadapan dengan malaikat Izarail, bahkan mungkin lebih menyeramkan dari malaikat Izarail.


"Ayo Ris, mikir mikir. Jangan diem. Nanti Pak El curiga," batin Haris sambil memutar kedua bola matanya, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada El.


"Ris, benar dugaan saya. Kamu pasti yang memberitahu papa dan mama saya soal perjanjian ini. Kamu dibayar berapa sama mereka?" El berteriak dengan kencang, hingga di dalam mobil itu terasa ada getaran gempa dahsyat.


"Pak, tenang. Pikiran anda sedang kacau. Mana mungkin saya memberitahu tuan dan nyonya. Kan semalam saya sama bapak terus. Apa Pak El lupa?" Haris mencari alasan untuk menyelamatkan dirinya.


El berpikir sejenak. "Benar juga katanya, semalam dia kan bersama aku mencari Chika mana mungkin dia yang memberitahu mama dan papa soal surat itu," batin El.


"Ya sudah, kita ke kantor sekarang," titah El.


"Baik pak," jawab Haris.


Haris merasa lega, pelan pelan ia membuang nafasnya. Rasanya bagaikan turun dari permainan rollercoaster.

__ADS_1


"Akhirnya Pak El percaya juga. Dia lupa kali ya sekarang jaman udah canggih. Cukup main whatsapp selesai," gumam Haris dengan sedikit senyum mengurai di bibirnya.


Baru saja satu masalah terselesaikan, rupanya sudah ada masalah baru lagi. Entah kenapa El ingin mengecek keberadaan Chika dari ponselnya, takut si tukang kabur itu melarikan diri lagi.


Matanya membulat, ternyata feelingnya dari pagi itu benar. Si tukang kabur gak ada di sekolah.


"STOP HARIS!!" teriak El.


Kaget, Haris dengan cepat menginjak pedal rem.


Cciiittt...


Bughhh


El menimpuk kepala Haris karna sudah membuat kepalanya terbentur ke kursi.


"Bisa bawa mobil gak? Dua kali kamu membuat kepala saya terbentur," gerutu El.


Haris menoleh, tatapannya malah berbalik menyerang El. Bagaimana bisa dia marah, sedangkan ia mengerem karna perintahnya.


"Maaf pak, tapi saya kan mengerem karna disuruh bapak," Haris masih berusaha menahan emosi, mengingat El itu bosnya. Mungkin kalau dia bukan bosnya, sudah ditimpuk balik itu kepala.


"Ya memang saya yang menyuruh, tapi sebelum ngerem ijin dulu sama saya. Jadi saya kan bisa pegangan," tegas El.


"Iya pak, lain kali saya akan bilang sebelum mengerem," jawab Haris.


"Emang kalau bos itu selalu benar ya. Mana ada mau ngerem bilang dulu. Masak iya dia suruh berhenti terus aku bilang 'Pak saya mau mengerem ya, bapak pegangan biar gak kejedot, cih dasar bos aneh," Haris gedumel gak jelas dalam hati.


Dari kaca depan, tanpa sengaja El melihat mulut Haris komat kamit. Ia sudah tahu jika Haris sedang membicarakan dirinya dalam hati. Namun El tak peduli, ingatannya kembali pada Chika.


"Ris, Chika kabur lagi," ucap El.


Haris menengok ke belakang, mencoba menyadarkan bos nya dari perasaan was wasnya pada Chika.


"Pak El, non Chika itu sekolah. Saya tahu bapak lagi di mabuk cinta sama non Chika. Tapi akal sehat harus tetap jalan dong pak. Apa mau saya belikan obat penenang biar bapak itu gak parnoan jadi orang," ucap Haris.


Sayang seribu sayang, niat hati ingin memberi saran tapi lagi dan lagi salah bicara.


"Ris, gaji kamu bulan depan gak keluar. Itu hukuman buat asisten gak tahu diri kayak kamu. Asisten yang selalu berani dan sok menasehati bosnya. Sekarang pergi ke alamat ini, Chika ada disini," tegas El dengan sorot mata khasnya.


"Janganlah pak, mau makan apa saya bulan ini. Saya janji pak, gak akan sok menasehati dan selalu menurut sama Pak El," jawab Haris. Dalam hatinya ia berdoa semoga saja El mau memaafkan dirinya.


Meski tak tega, tapi hati El sudah mengeras. Sesekali Haris memang harus di beri pelajaran.


"Gak, hukuman tetap hukuman. Kalau mau makan di rumah, minta sama Ida. Sekarang kita pergi ke alamat ini, CEPAT!!" El berkata dengan oktav yang lebih tinggi dari sebelumnya.

__ADS_1


"Baik pak," jawab Haris


"Ah.. Biarin ajalah gak keluar gajinya. Toh masih ada uang dari tuan Aristya. Lebih besar pula dari gajinya Pak El. Gini ini yang bikin aku jadi berpaling dari Pak El," umpatnya dalam hati.


Haris kembali melajukan mobilnya.


Breemmm.


"Mau kemana kita pak?"


"Ke jalan cempaka, Chika ada disana!" jawab El.


"Jalan cempaka pak? Itu kan rumahnya non Chika, ngapain non Chika masuk kandang macan lagi? Bapak yakin?" tanya Haris.


"Rumah? Maksud kamu?"


"Ya itu rumahnya non Chika sekaligus rumah om dan tantenya."


"Pantas saja perasaan saya gak enak dari pagi, ternyata terjadi sesuatu dengan Chika. Haris agak cepat sedikit jalannya, kalau perlu semua lampu merah di terobos aja. Tapi jangan lupa jalankan sirine mobilnya, biar dikira ada ambulans," perintah El. Ya mobil El memang di pasang sirine, buat jaga jaga kalau ada keadaan darurat.


"Nanti kalau ketahuan polisi gimana pak?"


"Kamu lah yang di penjara, kan kamu yang nyetir," jawab El dengan santainya.


Haris memasang wajah malamnya, sesekali melirik ke arah bosnya yang gak punya hati itu. "Aiishh selalu saja aku yang di jadikan tumbal," umpatnya dalam hati.


"Cepat dikit Ris, saya khawatir Chika akan disiksa lagi sama ok dan tantenya. Kalau sampai lecet dikit aja, saya akan kirim mereka ke neraka," El menggertakan sederet giginya, mengepalkan kedua tangannya,sambil melihat kearah luar jendela dengan wajah penuh amarah.


"Tapi sebelum bapak mengirim ke neraka, saya akan telpon malaikat Izarail buat mencabut nyawa mereka dulu pak. Biar mereka merasakan sakratul maut," imbuh Haris.


"Cepat kamu kontak dia sekarang," titah El. Sepertinya di dalam mobil itu pembicaraannya sudah ngelantur.


"Baik pak."


Breemmm.


Mobil yang di kemudikan Haris melaju dengan cepat dan sesuai perintah tak lupa Haris menjalankan sirine di mobilnya.


"Chika tunggu saya, saya akan menyelamatkan kamu," batin El


"Lebih cepat Haris, kamu bisa nyetir gak sih!!" El berteriak kesal. Sepertinya ia harus memanggil Michael Schumacer untuk mengajari Haris menjadi pembalap.


"Iya pak iya, ini udah kecepatan maksimal pak," protes Haris.


"Besok beli mobil baru, cari mobil yang kecepatannya 2x lipat dari mobil ini."

__ADS_1


"Siap pak," jawab Haris.


__ADS_2