
Mobil El kini sudah terparkir di depan warung makan. Dan Chika turun sambil menggendong Kie dalam pelukannya.
"Tante Renata," sapa Chika.
Renata pun langsung menoleh ke sumber suara. Baginya tak asing mendengar suara yang baru saja memanggil namanya.
"Chika," lirih Renata. Matanya sudah berkaca kaca. Sudah lama ia tak bertemu dengan keponakannya. Semenjak kesialan yang bertubi tubi mendera dirinya dan Pandu, Renata berusaha mencari Chika namun hasilnya nihil. Hingga sekarang orang yang ia cari sedang berdiri di hadapannya.
Chika memberikan Kie pada El sebentar. Lalu ia berlari kearah Renata dan memeluknya erat. Meskipun Renata sering bersikap buruk padanya, namun Chika tak pernah membenci ataupun merasa dendam dengan tantenya.
"Tante," Chika menangis dalam pelukan Renata begitu juga sebaliknya.
"Chika, sayang. Apa kabar kamu ponakan tante yang cantik ini? Selama ini tante mencari kamu. Tante ingin meminta maaf sama aku atas semua sikap tante dan om sama kamu selama ini Chika," ucap Renata.
Dari samping El mendesis kesal. Ia masih belum yakin jika Renata benar benar tulus bersikap manis pada Chika.
"Baik tante. Tante sendiri apa kabar? Ceritanya panjang tan, kapan kapan Chika cerita sama tante."
"Iya Chika."
"Apa ini warung makan tante sama om?" tanya Chika kembali.
Renata mengangguk dengan wajah yang sayu. Tak berselang lama, Pandu pun ikut datang menghampiri Chika dan Renata.
"Chika, kamu apa kabar?" sapa Pandu.
"Baik om."
"Oh iya kalian mau minum apa? Biar tante buatkan buat kamu dan suamimu," sahut Renata.
"Tidak usah. Kami hanya sebentar. Lagi pula Kie juga sudah tidur," jawab El.
"Mas..."
"Chika, kamu gak lihat Kie sudah tidur. Tadi kan kamu bilang cuma sebentar. Apa kamu gak kasihan sama Kie?" ucap El.
"Iya Chika, benar kata Tuan El. Jadi anak kamu namanya Kie ya?"
"Iya tante. Kalau gitu Chika pamit ya tante, om. Besok aku pasti kesini lagi."
"Iya Chika. Kamu hati hati ya," jawab Pandu.
__ADS_1
"Iya om."
El dan Chika lalu kembali ke mobil. Hanya Chika yang berpamitan pada Renata dan Pandu. Sedangkan El pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada mereka berdua.
Perbuatan Renata dan Pandu, masih teringat jelas dalam memori El. Dan jika mengingat itu, amarah El kembali muncul.
Tak ada pembicaraan selama di mobil. Chika yang kesal karna sikap El pada tante dan omnya. Begitu juga El yang tak kalah kesal karna Chika dengan mudahnya memaafkan sikap Renata dan Pandu selama ini padanya.
El yang sudah tak betah dengan suasana hening, mencoba memulai pembicaraan.
"Sayang, kenapa kamu diam?" tanya El.
"Lagi males ngomong," jawab Chika singkat.
"Jangan gitu dong istriku yang cantik. Nanti kalau marah marah terus cepet tua loh."
"Biarin. Kalu aku jadi tua dan jelek kamu tinggal cari lagi aja," Chika menjawab pertanyaan El dengan nada sinis. El hanya pasrah. Kayaknya dia selalu salah bicara.
Rayuan demi rayuan El ucapkan, namun itu sama sekali tak membuat Chika memaafkannya.
"Sayang, udah dong marahnya. Iya aku minta maaf sama sikapku sama tante sama om kamu. Lain kali aku akan lebih bersikap manis sama mereka," kata El.
"Janji?"
Chika kembali mengurai senyuman. "Mas," lirihnya pelan.
"Ada apa sayang?"
"Aku boleh minta sesuatu sama kamu?"
"Apa?"
Tiba tiba Chika teringat dengan perusahaan papanya. Tadi malam, papa mertuanya mengembalikan perasaan papanya pada El. Dan El langsung mengembalikannya kepada Chika. El selalu mengingat cita cita Chika, jika ia hanya ingin mengambil perusahaan papanya dari tangan Renata dan Pandu.
"Loh kok gak dilanjutkan ucapannya. Kamu mau minta apa sayang?" tanya El.
"Itu mas."
"Itu apa?"
"Heem..boleh gak kalau Om Pandu kerja di perusahaan papa lagi?"
__ADS_1
"APA?" El terkejut mendengar perkataan istrinya. "Gak, aku gak setuju."
"Please mas. Boleh ya. Aku gak tega kalau lihat kondisi tante dan om tadi. Please!!"
El terdiam sejenak. Rasanya ingin kembali menolak permintaan Chika. Tapi kalau ditolak yang ada Chika akan kembali marah padanya.
"Oke, Pandu boleh kerja di perusahaan papa kamu. Tapi bukan sebagai direktur utama tapi hanya wakil direktur, gimana?" ucap El.
Chika mengerutkan dahinya. "Kalau omnya jadi wakil, terus siapa kepalanya?" batinnya.
"Gimana mau gak?" tanya El yang semakin membuat Chika bingung.
"Tunggu deh mas. Kalau om Pandu wakil te US siapa kepalanya?"
"Haris," jawab El.
"HAH? Om Haris, suaminya Maya?" tanya Chika kaget.
"Iya lah sayang. Siapa lagi kalau bukan Haris itu. Gimana kamu setuju gak?"
Sekarang gantian Chika yang bingung. Apa bisa Haris di percaya memegang perusahaan papanya. Otak Haris yang selalu berpikir tentang uang sempat membuat Chika agak ragu.
"Tapi mas.."
"Tenang aja. Haris lebih bisa di percaya daripada om kamu. Dan kalau nanti om kamu beneran udah berubah, baru aku angkat dia jadi direktur utama," jelas El.
"Oke mas aku setuju. Makasih ya mas," ucap Chika sembari menampakkan senyuman cantiknya.
"Tapi inget sayang, ini gak gratis loh. Sampai rumah kamu harus membayar ini di ranjang kita."
"APA MAS?" teriak Chika. "Terus Kie gimana?" tanyanya kembali.
"Kan ada mama sama papa. Mereka pasti taulah."
"Mas, mas. Kamu itu sama kayak om Haris. Sama sama mesum," cetus Chika.
"Gak papa lah mesum. Toh sama istri sendiri. Iya kan?"
Blush..
Kedua pipi Chika langsung memerah. Ia hanya bisa menahan senyum akan gombalan gombal maut suaminya.
__ADS_1
Kalau di ingat ingat, sudah lama juga ia tak menyalurkan hasrat birahinya dengan El. Itu semua karena Kie selalu merengek untuk tidur bersama mamanya. Semoga saja malam ini, Kie tidak akan lagi menjadi hama di malam panjangnya bersama El.