
Setibanya di pemakaman, El langsung turun dari mobil sambil berlari takut jika dirinya terlambat menjemput Chika. El begitu yakin, jika istrinya pasti pergi ke makam kedua orang tuanya.
Tak berselang lama, Haris mengekor, menyusul El yang sudah turun terlebih dulu. Sayang, Chika tak ada disana. El terduduk lemas di tanah. Sedangkan Haris hanya bisa menatap iba dengan nasib bosnya.
"Chika gak ada Ris. Terus dia kemana?" El mengusap air yang jatuh dari ekor matanya.
"Jangan pesimis pak, coba kita tunggu. Siapa tahu nanti non Chika kesini."
"Benar kata kamu Ris. Mungkin saja Chika belum kesini. Ya sudah kita tunggu disini dulu ya."
"Baik pak," jawab Haris yang saat ini ikut duduk di sebelah El.
15 menit mereka duduk di bawah terik matahari. Keringat mulai bercucuran di wajah mereka berdua. Namun semua itu tak membuat El patah semangat. Ia sangat yakin, Chika pasti pergi ke makam orang tuanya.
"Pak, pak,pak," Haris menepuk nepuk pundak El, sesaat setelah ia melihat gelang milik Chika berada disana.
"Iya Ris ada apa sih? Kamu haus? Sana beli minum, kebetulan saya juga lagi haus. Atau jangan bilang kamu lihat setan. Ini masih siang Ris, jadi gak ada setan berkeliaran di siang bolong," jawab El tanpa menoleh kearah Haris.
"Bukan setan pak, ini lebih dahsyat dari setan."
"Hah? Lebih dari setan?"
Plak..
El memukul punggung Haris dengan keras. Sudah tahu dirinya lagi cemas, masih saja Haris bersikap konyol, membuat dirinya semakin kesal.
"Aduh. Pak El kalau galau ya galau aja pak. Kok malah main pukul pukul saya," gerutu Haris.
"Apa kamu bilang? Coba ulang sekali lagi," gertak El.
"Enggak pak enggak. Ini loh pak. Bukannya ini gelang non Chika ya pak. Waktu itu bapak membelikannya untuk non Chika. Dan saya ingat betul, bapak sempat menunjukkan pada saya dan meminta komentar saya tentang gelang ini."
El mengambil gelang dari tangan Haris. Diamatinya secara jeli gelang yang baru saja di temukan Haris.
"Benar Ris, benar. Ini gelang yang saya berikan pada Chika. Itu tandanya tadi dia kesini Ris."
"Iya pak. Berarti non Chika sudah pergi dari sini. Percuma kita menunggu disini, non Chika sudah pergi pak."
"Arghh.. Sial. Kenapa jadi rumit begini sih. CHIKA DIMANA KAMU!!" El berteriak sekencang kencangnya. Meluapkan seluruh penat di hatinya.
Namun tiba tiba, ponsel El berbunyi. Di tengoknya ke layar, dan melihat nama Daniel di layar ponselnya.
"Daniel? Sudahlah, aku lagi malas mengangkat telpon siapapun. Lebih baik aku matikan ponselku dan fokus untuk mencari Chika dulu," batin El sembari mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Ris, kita lanjutkan pencarian," titah El.
"Baik pak," jawab Haris.
__ADS_1
Baru saja ia mau masuk ke dalam mobil, Maya menelpon dirinya. Bimbang, itu perasaan yang Haris rasakan saat ini. Lagi dan lagi kencannya dengan Maya gagal. Namun ia tak mungkin juga membiarkan El mencari Chika sendirian.
Terlalu lama berdiri di depan pintu, El membuka jendela mobilnya. Melihat raut wajah Haris yang seakan sedang bingung.
"Ris," panggil El namun tak ada jawaban dari Haris.
"HARIS!!" El kembali memanggil Haris namun dengan nada yang lebih meninggi.
"Eh iya pak. Maaf maaf."
"Kamu kenapa? Ponsel kaku dari tadi bunyi. Kalau kamu mau angkat dulu silahkan."
"Gak usah pak, lebih baik kita cari non Chika sekarang," jawab Haris yang langsung masuk kedalam mobil.
Meski sudah memutuskan tidak mengangkat telpon dari kekasihnya dan membatalkan rencana kencannya, namun mimik wajah Haris dapat terlihat jelas oleh El.
"Ris, kalau kamu mau pergi dengan Maya pergilah biar saya cari Chika sendiri. Kasihan pacar kamu, pasti dia sedang menunggu kamu dirumahnya," El membuat Haris sedikit tak percaya. Tak biasanya bosnya tidak memaksakan kehendaknya. Namun itu malah semakin membuat rasa kasihan Haris pada El.
"Tidak pak. Saya akan tetap bersama bapak untuk mencari non Chika."
"Terima kasih ya Ris. Kamu itu memang asisten yang bekerja sepenuh hati."
"Sama sama pak," jawab Haris.
Haris mengetik pesan untuk Maya. Memberitahu kekasihnya jika Chika kabur dan untuk hari ini ia berjanji akan menundanya lain waktu. Hanya satu harapan Haris, semoga Maya mau mengerti. Bagaimana pun Chika itu sahabatnya, dan pasti Maya mau mengerti.
Pesan sudah terkirim. Haris merasa sedikit lega. Ia membetulkan posisi duduknya lalu menjalankan mesin mobil dan melanjutkan pencarian Chika.
Flashback on...
Setelah kepergian El dari apartemennya untuk konsultasi, Daniel pergi berkumpul bersama teman teman lamanya. Namun karna sedikit merasa tak enak badan, Daniel bergegas pulang.
Di tengah jalan, ia melihat Chika berjalan lunglai. Daniel pun menghentikan laju mobilnya dan turun untuk menemui Chika.
"Dokter Daniel," Chika terkejut melihat Daniel sudah berdiri di hadapannya.
"Chika, kok kamu disini?"
"Itu bukan urusan dokter. Saya permisi Dokter," pamit Chika.
Sayangnya baru beberapa langkah kepala Chika terasa sangat pusing. Ditambahnya cuaca yang sangat panas, membuat daya tahan tubuhnya sedikit melemah.
Penglihatannya mulai kabur. Dan semua tiba tiba berubah menjadi putih.
Brukk..
Chika jatuh pingsan, dan untungnya Daniel dengan sigap menangkap tubuh Chika.
__ADS_1
"Chika bangun.. Chika," panggil Daniel sembari menepuk nepuk pipi Chika.
Daniel pun membopong tubuh Chika dan membawanya masuk.
"Apa yang terjadi dengan kamu Chika. Lagipula El dimana sih, istri secantik ini di sia siakan. Dasar El bodoh. Kalau aku suaminya, aku tidak akan membiarkannya berjalan sendirian di pinggir jalan. Lebih baik aku bawa Chika ke apartemenku dulu dan setelah sampai aku kabari El dan menyuruhnya untuk menjemput istrinya disana," gumam Daniel.
Flashback off...
"El dimana sih kamu. Susah sekali menghubungi kamu. Apa kamu gak tahu keadaan istri kamu sekarang, kalau kamu sudah tak sanggup menjaganya, biar aku saja yang menjaga Chika. Kasihan sekali kamu Chika," ucap Daniel sembari memberi kompresi ke kening Chika.
Saat Daniel sibuk mengamati kecantikan di wajah Chika, tiba tiba Chika mengigau dalam tidurnya.
"Mas, kamu jahat. Aku benci kamu mas. Aku gak mau ketemu kamu lagi. Pergi dari hidupku mas. Pergi!!" Chika terus meraung. Membuat Daniel semakin bertanya tanya.
"Chika, bangun Chika."
Perlahan mata Chika mulai terbuka. Ruangan penuh cahaya putih dan ada seorang laki laki di hadapannya yang sepertinya ia kenal.
"Dokter Daniel," Chika bersuara dengan nada yang lemah.
"Iya ini saya. Tadi kamu pingsan dan saya bawa kamu kesini. Istirahatlah, nanti saya telpon El untuk menjemput kamu ya."
"Jangan, jangan panggil Mas El. Aku mohon dokter, jangan beritahu dia jika aku disini. Aku mohon," Chika menangkup kedua tangannya, memohon pada Daniel untuk mengabulkan permintaannya.
"Tapi kenapa Chika. El itu suami kamu. Dia harus tahu dimana kamu berada sekarang. Sekarang dia pasti sedang khawatir mencari kamu."
"Enggak Dokter. Itu tidak mungkin. Mas El tidak peduli denganku. Yang ada di otak Mas El itu hanya uang dan uang. Bukan aku," ujar Chika sambil menangis.
"Baiklah, sekarang kamu istirahat ya. Saya keluar dulu."
"Baik dok. Tapi dokter janji ya jangan kasih tahu mas El."
"Iya."
Daniel berjalan keluar dari kamar. Namun janji yang ia ucapkan pada Chika hanyalah hisapan jempol belaka. Ia masih berusaha menghubungi El. Tapi nomor El masih saja tidak aktif.
"El susah sekali menghubungi kamu. Lebih baik aku kerumahnya," batin Daniel.
Sebelum pergi, Daniel masuk kekamar Chika. Ia mengambil kunci mobil dan jaketnya.
"Dok, mau kemana?" tanya Chika sedikit curiga.
"Saya mau beli makanan buat kamu. Saya tahu kamu pasti lapar bukan?" Chika mengangguk. Ia tak bisa bohong, jika dari tadi cacing di perutnya sudah meronta-ronta.
"Iya Dok. Terima kasih ya dokter."
"Sama sama Chika. Kalau gitu saya pamit keluar bentar ya. Kalau kamu mau minum dan nyemil, ambil saja di kulkas. Banyak buah disana."
__ADS_1
"Baik dok. Sekali lagi terima kasih."
"Hmmm," jawab Daniel sembari melempar senyum tampannya ke arah Chika.