
Selama perjalanan, bukan suasana romantis yang El dapatkan. Melainkan ucapan ucapan kekhawatiran dan berjuta doa yang Chika lontarkan dari mulutnya.
"Ya Tuhan, jaga Maya dari kejantanan Om Haris," Chika masih saja mengira jika Haris akan berbuat hal pada sahabatnya.
Sesekali El melirik ke samping, membuat Chika meradang.
"Mas kamu jalannya cepet dikit dong. Masak kalah sama sopir bis sih. Mereka aja kalau lagi rebutan penumpang, kalau nyetir ugal-ugalan dijalan bisa. Masak kamu enggak," celoteh Chika dan membuat El spontan menoleh ke arahnya.
"Kamu bilang apa Chika? Aku kamu samain sama sopir bis? Mana ada sopir bis yang ganteng dan tajir melintir kayak aku," El mendesis kesal, tak terima jika Chika menyamakan dirinya dengan sopir bis.
"Weh, jangan salah. Banyak lagi sopir bis, sopir angkot, sopir truk yang ganteng."
Ciiiiitt...
El menghentikan laju kendaraannya. Perasaan kesal dan cemburu kini ia rasakan. Kok bisa bisanya Chika memuji laki laki lain di hadapannya.
Deg..
Chika menelan salivanya,menatap El yang masih menatap lurus kedepan dengan nafas yang tak beraturan.
"Hadeh, bayi gede ngamuk lagi nih. Masak iya harus keluarin jurus andalan," Chika mulai panik, berpikir gimana caranya membuat El tak marah lagi.
"Chika," panggil El dengan tatapan yang masih datar kedepan.
"Iya mas say. Duh aduh, jangan marah ya. Tadi itu aku belum selesai bicara. Emang sih aku bilang mereka semua ganteng, tapi..,"
Bruakk...
El memukul setir kemudi. Meluapkan emosinya.
Deg deg deg...
__ADS_1
Jantung Chika semakin berdetak kencang. Belum selesai bicara, udah main pukul pukul aja. Sekarang bukan hanya El yang emosi, tapi Chika juga mulai ikut tersulut emosi.
"Mas, kamu kok kasar sih. Aku tuh belum selesai bicara. Kenapa kamu selalu begini. Aku udah capek sama sikap kamu. Aku mau pergi aja. Cari aja calon istri yang bisa mengerti kamu," ujar Chika dengan lantang. Ia segera membuka pintu mobil, lalu berlari keluar.
Bruakk...
Chika membalas perbuatan El. Dirinya pergi sembari menutup pintu mobil dengan kencang.
"Arghh... Kenapa jadi dia yang marah. Tapi mau cari kemana istri secantik Chika. Unik, lucu, gemesin. Gak akan dapet juga," batin El hingga tanpa sadar Chika sudah pergi dari sisinya.
"Ya Tuhan, aku lupa. Chika pergi," teriak El yang langsung bergegas keluar menyusul Chika.
El berusaha mengejar Chika. Tak mau kalah ditambah hatinya yang sudah lelah, Chika mempercepat langkah kakinya. Sayang, El terlebih dulu meraih tangannya dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Maaf..," El mengalah. Ia tak bisa melihat orang yang ia cintai kembali pergi darinya.
"Terus aja minta maaf. Apa perlu aku pergi dulu baru kamu minta maaf mas," tangis Chika.
"Aku gak mancing mas, tadi itu aku ngomong. Kalau mancing itu di sungai, bukan di mobil," Chika sedikit mulai bisa mengulas senyum.
Kekesalan yang semula memenuhi hati El, seketika hilang. Chika sungguh bisa membuat emosinya naik turun gak jelas.
El mulai melepaskan pelukannya, menatap wajah kekasihnya dalam dalam dengan sedikit lengkungan senyum di bibirnya sembari mengelap air yang membasahi pipi kekasihnya.
"Siapa yang bilang mancing di sungai? Aku kan bilang mancing emosi. Itu hanya.."
"Hanya bahasa kiasan kan? Aku tahu kok. Toh aku juga cuma pura pura bodoh aja, biar kamu bisa senyum. Eh gak tahunya berhasil. Cerdas kan aku mas?" Chika membalas senyuman El, membuat El bernafas lega. Ternyata calon istrinya tidak bodoh seperti yang ia kira.
"Oh nakal ya kamu. Mau aku cium sekarang."
"Jangan, malu mas. Kamu udah siap masuk koran? Berita terhangat, seorang Elvano Aristya sedang mencium gadis..."
__ADS_1
Cupp..
El sungguh nekat. Ia membungkam mulut Chika yang sedari tadi sudah membuat dirinya gemas.
Banyak pasang mata disana yang melihat aksinya barusan. Sedangkan Chika, hanya bisa membulatkan matanya saat bibirnya sudah di kecup oleh bibir El.
"Kenapa? Kamu pikir aku takut? Gak akan Chika. Ayo ke mobil. Apa kamu mau aku cium lagi?" El hanya mengecup bibirnya lalu melepaskannya sembari tersenyum licik pada Chika.
"Enggak, enggak. Ayo ke mobil. Kita masih ada urusan yang lebih penting," Chika sedang mengalihkan pembicaraan. Ia tahu jika terlalu lama disana, bisa bisa El semakin berbuat hal di luar nalar.
Chika menarik tangan El menuju mobil. Apalagi bayangan akan Haris dan Maya masih ada dalam benaknya.
"Stop Chika," El menahan tangan Chika, membuat ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Apalagi mas?" tanya Chika.
"Jangan ganggu Haris dan Maya ya. Mereka sudah sama sama dewasa. Aku percaya, Haris gak akan berbuat aneh aneh sama Maya. Percayalah."
"Masak?"
"Iya sayang. Sekarang jadi menyusul mereka atau kita mau pergi ke tempat lain?" tanya El.
"Nyusul mas."
"Yaudah, tapi inget ya pesen aku tadi."
"Iya iya mas. Tapi kamu yang harus jamin ya kalau Om Haris gak bakal berbuat hal yang buruk hingga menyakiti Maya."
"Iya sayang. Let's go honey," El mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Chika dan membawanya kembali ke dalam mobil.
"Iya mas," jawab Chika sembari menguntai senyum cantiknya.
__ADS_1