
Haris mulai memarkirkan mobilnya, dan sesaat kemudian mereka bertiga mulai masuk ke dalam restoran.
"Eoseo osibsio( Selamat Datang)," ujar seorang pelayan yang berdiri di depan pintu.
El dan Chika membalas sapaan dari pelayan tadi dengan senyuman. Dan Haris pun juga ikut tersenyum mengikuti ekspresi keduanya.
Mereka bertiga lalu duduk, dan seorang pelayan datang lalu berdiri di samping meja mereka.
"Selamat sore kak, mau pesan apa?" tanya pelayan wanita tadi.
"Saya pesan Kimchi," ujar Haris dengan suara lantang.
Karna malu dengan tingkah Haris, El menyenggol kaki Haris dan memberikan sedikit kode mata pada dirinya.
"Maaf pak," lirih Haris pelan.
"Hmmm," jawab El.
"Oh iya mbak sama mas nya mau pesan apa?" tanya pelayan wanita kembali.
"Saya jjajanngmyeon satu sama satu kimchi juga ya mbak," jawab Chika.
"Kalau saya satu bulgogi saja," sahut El.
"Baik akan segera kami buatkan. Oh iya untuk minumannya mau pesan apa?" tanya pelayan itu lagi.
"Aduh tadi lupa tanya non Chika minumannya apa. Udahlah mending minta es jeruk aja. Pasti ada lah. Restoran sebagus ini masak gak ada es jeruk," batin Haris.
"Saya es jeruk aja mbak," jawab Haris spontan dan lagi lagi ia mendapat lirikan dari El.
Tatapan El terlihat jelas menahan rasa kesal plus malu di depan pelayan, namun disampingnya Chika malah sibuk tertawa dengan tangan yang menutupi mulutnya.
"Haris tolong jangan buat malu saya disini," umpat El dalam hati.
"Maaf mbak, maksud asisten saya orange juice. Kalau saya soju. Kamu apa Chika?" ucap El.
"Em saya Corn tea aja ya mbak," jawab Chika.
"Baiklah, pesanan akan segera di buatkan. Mohon ditunggu ya kak."
"Baik mbak, terimakasih," ucap Chika.
Chika masih terkekeh dengan sikap Haris yang memang terlihat baru pertama kali masuk restoran Korea. Namun tiba tiba pandangan matanya tertuju dengan dahi El yang sedikit memerah.
"Tuan, itu keningnya kenapa?" tanya Chika sambil menunjuk benjolan di kening El.
"Oh ini? Tanya saja sama Haris. Dia tahu ini kenapa?" El lalu melempar pertanyaan Chika pada Haris.
Mata Chika pun beralih ke Haris, meminta untuk segera memberikan jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Ow itu ya non, Pak El tadi salah pakai sabun muka. Tadi dia keburu buru jemput non Chika, makanya sabun cuci piring dipakai dimuka. Makanya kulitnya iritasi jadi merah gitu," jawab Haris sambil menunjukkan senyum devilnya pada El.
"Bener gitu tuan? Lain kali kalau mau cuci muka, dilihat dulu udah bener belum pakai sabunnya."
"Hmmm, iya. Lain kali saya lebih hati hati," jawab El dengan sedikit memicingkan sebelah matanya.
Di sebelahnya, Haris memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dengan seulas senyum di bibirnya,akhirnya ia lagi lagi bisa mengerjai bos nya. Tapi berbeda dengan El, ia mengepalkan kedua tangannya, menatap wajah Haris dalam dalam.
"Awas aja Haris, kamu sudah bikin saya malu. Padahal warna merah di dahi saya itu ada karna ulah kamu," gumam El dalam hati.
Tak berapa lama, makanan pun sudah datang. Dan betapa terkejutnya Haris melihat semangkuk makanan di hadapannya sekarang.
"Ini apa non?" ucap Haris sambil mengaduk aduk makanannya.
"Ya itu namanya kimchi om, coba deh enak banget loh. Nih aku juga pesen," jawab Chika.
"Kok kayak aneh ya non. Non Chika gak lagi ngerjain saya kan?" tanya Haris dengan mata menyelidik.
"Eh enggak ya om. Coba aja om browsing makanan korea paling favorit. Pasti nomer satu makanan ini."
"Iya Ris, bukankah tadi pagi kamu bilang sekarang jaman canggih. Harusnya kamu buka handphone dan browsing. Bisa kasih saran sama orang, tapi gak bisa nerapin ke diri sendiri. Haris,Haris," El mendesis sembari memakan makanan miliknya.
Meski sedikit ragu, Haris mengambil sesendok makanan untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Dan raut wajahnya seketika berubah masam. Ia seperti mendapat hukum karma atas sikapnya pada El barusan.
"Gimana Ris, enak bukan?" tanya El sambil tersenyum licik ke arah Haris.
"Iya om, enak kan?" imbuh Chika.
Penasaran dan tak yakin dengan perkataan Haris, Chika pun mengambil sedikit makanan kimchi milik Haris.
"Enak kok om, ya emang gini rasanya. Om belum pernah makan ya?"
"Emang belum non, tapi apanya yang enak dari makanan ini sih non? Masih enakan gado gado langganan saya di pinggir jalan. Nih non kalau mau, makan aja punya saya. Mending saya gak makan daripada saya nanti diare."
"Lah om gak makan? Nih mie aku makan aja," tawar Chika.
"Gak non gak usah. Saya yakin 100% pasti masih enak mie ayam yang biasa saya beli daripada mie nya non Chika."
"Sudahlah Haris, daripada kamu rewel kamu pesan lagi aja makanan. Ini buku menunya," sahut El.
"Gak usah pak, mending nanti saya dikasih mentahnya aja. Biar saya beli makanan yang biasa saya makan."
"Yaudah terserah kamu. Nanti jatah uang makan siang kamu saya transfer ya."
"Terima kasih pak, kalau gitu saya tunggu di mobil aja ya pak. Saya permisi, mari non," pamit Haris.
"Hmmm," jawab El tanpa menatap wajah Haris.
Mendengar pembicara El dan Haris, tiba tiba muncul perasaan iri di diri Chika.
__ADS_1
"Jadi si om enak ya. Dikit dikit dapet uang. Jatah uang makan aja di transfer. Lah aku minjem uang buat bayar sekolah itu pun potong gaji harus pakai perjanjian nikah diatas kertas. Padahal si om juga gak pinter pinter banget loh jadi asisten. Malahan dibawah rata rata. Tapi kok bisa ya, tuan El loyal banget sama si om. Tapi sama aku...," batin Chika tertunduk diam sambil mengaduk aduk makanannya.
El yang duduk di samping Chika melirik dengan ujung matanya. Dan ia melihat ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Chika saat ini.
"Gadis ini, kenapa dia tiba tiba raut wajahnya terlihat sedih. Dia juga tiba tiba diam dan berhenti makan. Apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan. Atau tadi terjadi sesuatu dengannya?" El bertanya tanya dalam hatinya.
Dengan segera El meraih ponsel di saku jas kerjanya untuk memberikan tugas baru pada Haris.
"Ris, tolong kamu hubungi Maya dan tanyakan apa saja aktivitas Chika hari ini. Karna sekarang dia hanya diam, tanpa menyentuh lagi makanannya. Setelah kamu dapat info yang akurat, kamu beritahu saya. Jika kamu berhasil melakukan tugas dari saya, ada bonus lagi yang saya berikan untuk kamu," tulis El.
"Baik pak, laksanakan," balas Haris.
Selesai mengirim pesan pada Haris, El kembali memasukkan ponselnya ke dalam jasnya. Dan kini hanya suasana hening yang tercipta antara El dan Chika. Untuk mengucapkan satu kata, rasanya mulut El terasa berat.
"Ada apa sih dengan gadis ini. Bukannya tadi dia baik baik saja. Tapi kenapa sekarang dia jadi diam seribu bahasa. Dan Haris, kenapa dia belum juga dapat info dari temannya Chika itu," batin Haris.
Disaat ia menunggu kabar dari Haris, tiba tiba ada panggilan masuk ke ponsel El.
Ia berharap Haris sudah mendapatkan info Namun dugaan El salah, ternyata malah mamanya yang menghubungi dirinya sekarang.
"Halo El."
"Iya mah, gimana? Mama udah mau take off?"
"Enggak El. Mama cuma mau kasih tahu, kalau sekarang mama sudah sampai di bandara. Kamu tolong jemput kami sekarang ya El."
"Apa?? Loh pesawatnya gak jadi delay mah?"
"Jadi El tapi cuma 5 menit. Sudah kamu jangan banyak bicara, cepat jemput mama dan papa sekarang. Kami tunggu!!"
"Iya iya mah, El segera kesana," ucap El sebelum mematikan ponselnya.
"Orang tua tuan sudah sampai di bandara?" tanya Chika yang tanpa sengaja mendengar sedikit pembicaraan El di telpon.
"Iya, kamu sudah selesai makannya?"
"Sudah tuan."
"Kalau begitu kita ke bandara sekarang. Dan sekali lagi ingat pesan saya, jangan bertingkah aneh di depan orang tua saya. Sebisa mungkin kamu harus bisa mendapat perhatian kedua orang tua saya, agar rencana saya berjalan lancar. Dan kamu bisa segera terbebas dari pernikahan kita nantinya. Paham!!"
"Paham tuan. Saya mau ijin ke toilet dulu ya tuan. Mau ganti pakaian. Masak iya saya mau ketemu calon mertua pakai baju SMA."
"Hmmm, cepat sana. Saya tunggu lima menit, gak boleh lebih."
"Iya iya tuan. Gak usah tegang gitu. Saya yakin orang tua tuan akan menyukai saya."
"Oh ya?? Belum tentu. Kamu belum kenal mereka. Mereka itu lebih menyeramkan dari saya. Dan saya akan lihat, apa kamu bisa menaklukkan hati mereka. Sekarang cepat kamu ke toilet, dan persiapkan mental kamu untuk bertemu mereka."
"Baik tuan, kita harus semangat. Cayooo!!" ucap Chika sebelum pergi ke toilet.
__ADS_1
El tertegun heran mendengar ucapan dan sikap Chika yang membuat dirinya geli melihatnya.
"Sepertinya aku salah pilih calon pasangan. Kalau tingkahnya masih seperti ini, aku yakin mama dan papa akan langsung menolak mentah mentah Chika. Dan pada akhirnya papa dan mama akan terus mendesak aku menikah dan mencarikan jodoh buat aku sesuai kriteria mereka." batin El sambil mengusap kasar wajahnya.