
Keluar dari ruangan El, Haris tidak menemukan Chika. Bahkan ia sudah bertanya pada Bi Ida dan security yang menjaga rumah El, namun tak satu pun dari mereka melihat Chika.
Haris pun memutuskan untuk kembali masuk ke ruangan El.
Tok...Tok..Tok..
"Permisi tuan, ini saya Haris," ucap Haris dari luar pintu.
"Ya masuk," jawab El.
Haris bergegas masuk ke ruangan El dan memberitahu jika Chika tak ada. El pun langsung mengecek cctv dari laptopnya.
"Gadis bodoh, ternyata dia masih di dalam mobil. Tapi kenapa dia tidak keluar? Apa dia ketiduran disana?" batin El sembari memijat keningnya.
"Haris ikut saya, dia masih ada di dalam mobil," ucap El sambil berjalan keluar ruangannya.
"Ngapain non Chika di dalam mobil? Apa gak engap dia disana. Atau jangan jangan Pak El sengaja lupa mengunci non Chika didalam mobil. Nanti kalau dia mati gimana?" gumam Haris dengan lamunannya sendiri.
Haris masih diam terpaku di dalam, dan ketika sadar ia sudah tidak melihat bos nya di dalam.
"Pak El, tunggu saya pak," teriak Haris sambil berlari keluar mengejar El.
Setibanya di samping mobil, El mengetuk jendela mobilnya dengan keras hingga membuat Chika terbangun dari tidurnya lalu dengan cepat keluar dari mobil El.
"Tuan, maaf saya ketiduran," Chika keluar sambil memegang dadanya karna masih kaget dengan suara ketukan dari El.
"Kamu pikir mobil saya hotel. Ya saya tahu, mobil mewah saya ini memang nyaman untuk tidur karna kamu kan terbiasa tidur diangkot," ucap El.
"Bukan begitu tuan, tapi saya menunggu perintah tuan untuk keluar dari mobil. Kata tuan saya gak boleh bicara dan melakukan sesuatu tanpa persetujuan tuan. Jadi saya menunggu tuan untuk menyuruh saya keluar dari mobil."
El kembali emosi mendengar alasan Chika. Apalagi tampang polosnya semakin membuat dirinya kesal.
"Chika otak kamu itu terbuat dari apa? Hanya untuk keluar dari mobil kamu menunggu perintah saya? Kamu tahu tidak, baru sekali ini saya bertemu gadis sebodoh kamu."
"Tapi tuan...," ujar Chika namun langsung di potong oleh El.
__ADS_1
"Sudah saya gak mau dengar kamu bicara. Lebih baik kamu pulang, dan pergi ke tukang servis komputer dan minta download ulang otak kamu."
"Emang bisa ya tuan download otak, kalau download ulang takdir bisa gak?" ucap Chika sambil tersenyum jahil.
Daripada berdebat dengan Chika, El pun langsung pergi. Ia lalu berpapasan dengan Haris yang sedari tadi mendengar pembicaraan dirinya dengan Chika.
"Haris cepat kamu bawa dia pergi. Saya lelah menghadapi dia. Mending kamu urus dia, dan cepat bawa dia keluar dari sini. Habis itu kamu tolong cari orang buat petugas semprot disenfektan, dan suruh mereka menyemprot seluruh rumah saya dengan disenfektan. Karna saya gak mau virus bodoh dia merajalela kerumah ini. Lalu menular ke semua yang ada disini."
"Baik pak, saya akan segera membawa non Chika pergi."
"Hmmm, oh iya satu lagi. Saya lupa bilang ke kamu, tolong carikan apartemen buat Chika tinggal. Dan bawa semua barang yang ada di mobil saya ke apartemen itu. Saya gak mau barang yang sudah saya belikan untuk dia, nanti diminta sama sahabatnya."
"Baik pak, kalau begitu saya permisi," pamit Haris.
"Hmmm," ucap El sambil berjalan kembali masuk kedalam rumahnya.
Haris melangkah menghampiri Chika. Dan disana ia tertawa melihat wajah bosnya yang benar benar dibuat kesal oleh Chika.
"Om, ngapain ketawa?Tumben banget loh om sampai ketawa selepas ini. Biasanya kan pasang wajah serem kayak depkolektor," ucap Chika dan sekejap membuat Haris kembali memasang wajah datarnya.
"Pulang? Saya gak kerja dong om?"
"Tidak, tadi Pak El meminta saya untuk mengantar non pulang. Cepat non, tugas saya masih banyak, jangan buang buang waktu berharga saya."
"Ya..ya...ya..., gak kamu gak bosmu selalu bilang begitu. Kalian pikir aku gak buang buang energi buat menjawab pertanyaan gak penting dari kalian. Sudahlah, ayo cepat antar aku pulang om. Aku capek, habis disuruh jadi babu bosmu bawa tuh belanjaan segini banyak."
"Ayo non, ini biar saya aja yang bawa."
"Loh tapi ini buat aku loh om. Tuan El sendiri yang bilang. Oh atau kamu mau minta? Gak papa kok om ambil aja beberapa buat istri om."
"Enggak non, makasih. Cuma tadi Pak El berpesan untuk membawa barang barang ini ke apartemen baru yang Pak El belikan untuk non Chika."
"Apartemen om? Tapi saya gak minta di belikan apartemen sama tuan El tuh om," tanya Chika.
"Wah saya gak tahu non. Besok saja kalau bertemu tuan El, non Chika tanya sendiri. Mari non, silahkan masuk."
__ADS_1
"Baik om. Makasih om udah di bukakan pintunya."
"Sama sama non Chika," jawab Haris sambil menunduk.
Selama perjalanan Haris melihat Chika dari spion depan.
"Non Chika memang gadis unik. Baru kali ini saya melihat Pak El kehabisan kata kata saat berdebat dengan seseorang. Tapi berkat non Chika, saya juga ikut beruntung. Udah gaji naik, dapat bonus pula. Terima kasih ya non," batin Haris.
Satu Jam Kemudian....
Dirumahnya, El kedatangan beberapa orang memakai pakaian serba putih dengan masker di wajahnya.
"Mas El, maaf mengganggu dibawah ada beberapa orang mencari mas El. Katanya disuruh mas datang kemari," ucap Bi Ida.
"Siapa bi? Karyawan saya dikantor?"
"Bukan mas, orang orangnya kayak mumi gitu mas. Pakaiannya juga kayak perawat dan dokter dirumah sakit yang menangani corona."
"Hah? Siapa? Mau ngapain dia cari saya," El terkejut dan langsung berdiri dari kursinya.
"Gak tau mas."
"Yaudah saya akan menemui mereka. Memang siapa yang kena corona dirumah ini."
"Saya juga gak tau mas," ucap Bi Ida.
El lalu pergi ke ruang tamu untuk menemui beberapa orang yang sudah di perintah Haris.
"Ada apa kalian kemari?" tanya El.
"Maaf pak, kami diminta pak Haris untuk menyemprot seisi rumah."
"APA?" teriak El yang teringat kembali dengan ucapannya dengan Haris tadi.
"Haris!! Kenapa kamu sekarang ikut menjadi bodoh seperti Chika. Saya hanya menggunakan bahasa kiasan, tapi kamu malah menganggap serius ucapan saya. Dan kamu benar benar menyuruh petugas ini kesini. Haris Haris, bisa gila saya kalau tiap hari harus sabar menghadapi kamu dan Chika." batin El sambil menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1