
"Ris, jalan yang lebih cepat," El memerintah Haris dengan rasa kesal. Baginya Haris kurang handal dalam menyetir. Jalannya seperti keong.
"Ini udah paling kecepatan maksimal pak."
"Mobil ini keluaran tahun berapa. Kok jalannya seperti orang yang lagi putus cinta," ujar El. Bisa bisanya dia mengajak Haris bercanda disaat dirinya sedang fokus menyetir dengan kecepatan paling tinggi.
"Tahun 2021 pak. Keluaran terbaru dari Amerika. Sudah ya pak kalau mau mengobrol nanti saja. Ini saya lagi fokus nyetir pak. Bisa nabrak nanti."
"Yaudah makanya jalannya yang cepat," El masih saja bicara padahal berkali-kali Haris sudah memintanya untuk diam.
"Baik pak."
Kesal, Haris pun menjalankan mobilnya sampai batas maksimal, tanpa menginjak pedal rem sama sekali. "Wes pokoke los dol aelah. Kalau pun mati, mati bareng," batin Haris yang sudah mulai lelah dengan celotehan bosnya.
Di dalam mobil itu, El kembali memegangi pipi Chika yang semula merah kini sudah mulai membiru. Tak terasa air matanya perlahan jatuh dan meneteskan ke wajah Chika yang sedang berada dalam pangkuannya.
"Chika, saya gak menyangka dibalik keceriaan kamu ternyata hidup kamu begitu tersiksa. Seharusnya saya lebih cepat menemukan kamu. Jadi kamu gak terlalu lama merasakan sakit atas penderitaan yang mereka berikan pada kamu. Mulai sekarang saya akan berjuang untuk mendapatkan hati kamu, dan melupakan tentang semua perjanjian kita. Kejadian ini menyadarkan saya, begitu berartinya kamu untuk saya Chika," El mengusap wajah Chika sambil berusaha mengeluarkan seluruh isi dalam hatinya.
Dari kemudi depan, Haris juga terharu. Air matanya pun perlahan jatuh. Dirinya sungguh tak menyangka, seorang gadis SMA bisa membuat bosnya berani merasakan jatuh cinta setelah phobia sengal sebuah pengkhianatan.
"Non Chika memang pantas untuk di perjuangkan pak. Dan saya rasa orang yang pantas dan bisa menjaga non Chika hanya bapak," gumam Haris sembari menghapus air matanya.
Sesaat kemudian, bibir Chika mulai memuat dan menggigil namun matanya masih terpejam. Bahkan saat ini tubuhnya mulai terasa panas. El yang sudah panik, kini dua kali lipat lebih panik dari sebelumnya.
Berkali-kali ia mencoba membangunkan Chika, tapi masih saja gadis itu tertidur di pangkuannya.
"Arghh.. Kenapa aku terlambat datang. Sebanyak apa obat bius yang mereka suntikan ke tubuh kamu Chika. Saya mohon sebarkan, sebentar lagi kita sampai rumah," El merutuki dirinya sendiri.
"Haris saya mohon jalannya lebih cepat. Tubuh Chika panas, dan bibirnya terus menggigil. Ato Haris, cepat!!" teriak El.
"Baik pak," jawab Haris.
Pikiran El beralih ke Daniel. Ia harus segera menghubungi Daniel untuk memeriksa kondisi Chika.
Untungnya, Daniel sedang tidak sibuk. Tanpa menunggu lama panggilan dari El langsung diangkat oleh Daniel.
"Halo tuan Elvano, ada apa menghubungi saya?" tanya Daniel dengan nada sedikit menggoda. Ia tidak tahu jika orang yang menelpon dirinya sedang cemas tingkat dewa.
"Niel jangan bergurau dulu. Aku sedang tidak ingin bercanda."
"Iya iya El, ada apa kamu menghubungiku. Apa mama atau papa kamu sedang sakit?"
"Tidak, bukan mereka tapi Chika. Ceritanya nanti saja pada waktu dirumah. Yang jelas aku minta tolong cepat kerumahku. Aku sedang on the way pulang. Dan aku minta saat aku sampai kamu sudah ada disana."
"Apa? Aku belum berangkat dan kamu sudah berada dalam perjalanan pulang. Yang benar saja El, mana mungkin aku sampai lebih dulu."
"Aku gak mau tahu Daniel. Makanya cepat kami berangkat sekarang, biar sampainya lebih dulu dari aku."
"Iya El iya. Aku usahakan sampai lebih dulu. Memangnya Chika kenapa?" Daniel kembali melontarkan pertanyaan, tapi El justru langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1
Daniel menghela nafas. Ia sudah tak kaget bahkan tak ada rasa sakit hati atas sikap El padanya. Mereka sudah bersahabat lama, jadi Daniel juga sudah hafal dengan sifat El.
****
Sesampainya dirumah, El membawa Chika ke kamar tamu. Dan sesaat setelah membaringkan tubuhnya, mamanya datang menghampiri dirinya dengan rasa cemas dan khawatir.
"El, Lolly mama kenapa?" tanya mama yang tak kalah panik dari putranya.
"Nanti saja El ceritanya ya mah. Apa Daniel belum datang?"
"Belum El, coba kamu telpon dia lagi."
"Iya mah."
El mengambil ponsel di saku jas kerjanya lalu mencoba menghubungi Daniel kembali.
"Niel, kamu dimana?"
"Di depan rumah," jawab Daniel. Ia pun segera mematikan telponnya biar El tahu gimana rasanya di gantungin.
Beberapa detik kemudian, Daniel sudah tiba di depan kamar dimana El sedang berdiri menunggu kedatangannya disana.
"Maaf El macet," ujar Daniel.
"Alasan basi. Cepat masuk Chika masih belum sadar dan tubuhnya semakin panas. Jadi kamu segera periksa dia," titah El.
"Iya, tapi apa yang terjadi. Kenapa dia bisa sampai gak sadar begitu?" Daniel kembali bertanya, membuat El sepertinya harus memberi penjelasan dulu supaya Daniel segera memeriksa Chika.
"Obat bius?" Daniel kaget bukan main. Tak menyangka jika keluarga kandung gadis itu tega pada dirinya.
"Iya makanya tolong periksa Chika. Apa terjadi sesuatu di tubuhnya karna efek dari obat itu."
"Baik El, ayo kita masuk kedalam. Biar aku periksa pacar kamu."
"Terima kasih Niel."
"Sama sama," jawab Daniel.
Daniel mencoba menenangkan El dan nyonya Sarah jika Chika baik baik saja.
Dan sebelum pergi Daniel meninggalkan beberapa obat untuk Chika.
Lima belas menit berlalu. Mata Chika perlahan terbuka. Sebuah sinar langsung menyorot ke matanya.
"Dimana aku?" tanyanya lirih.
"Di rumah kami Lolly. Ada tante dan juga El," ujar nyonya Sarah.
"Tante? Mas El?" Chika berkata sambil memegang kepalanya yang masih sangat pusing.
__ADS_1
Chika mencoba bangun dari tidurnya, tapi kepalanya masih sangat berat. Mungkin karna efek dari obat tadi.
"Sudah Chika jangan bangun. Lebih baik kamu tidur. Apa kepala kamu masih sakit?" tanya El.
Chika menggangguk pelan. Karna jujur kepalanya sangat berat, seperti menyangga sebuah batu besar diatas kepalanya.
"Chika, tante pamit ya. Biar El saja yang menjaga kamu. Biar kalian ada waktu untuk bicara. Dan kamu El, kamu nanti hutang penjelasan sama mama," ucap nyonya Sarah sebelum pergi.
"Iya tante," jawab Chika.
"Iya mah," jawab El.
Suasana terasa kaku. Hawanya juga panas, serasa ac dikamar itu mati. Tak ada pembicaraan antara El dan Chika. Mereka sama sama diam, bingung juga mau bicara apa.
"Chika," El memberanikan dirinya untuk memulai pembicaraan.
"Iya tuan, eh salah lagi. Maksud saya mas," jawab Chika dengan nada yang masih lemah.
El kembali terdiam. Mulutnya seakan susah untuk di gerakan. Tekatnya ingin menyampaikan ini seperti tertahan. Dan sekarang mulutnya semakin terasa berat untuk dibuka, seperti ada lem lalat didalamnya.
"Ada apa mas kok gak jadi bicara?" tanya Chika.
"Menikahlah denganku Chika. Agar aku bisa menjaga kamu selamanya," ucap El.
Chika seketika terdiam. Matanya melotot,seakan tak percaya dengan kata kata yang keluar dari mulut El.
Bukankah perjanjian menikah mereka menunggu dirinya lulus sekolah? Kenapa mendadak? Kalau pun ia kenapa mesti pakai acara dilamar?
Ia seketika membisu tak tahu harus menjawab apa? Ini dilamar sungguhan atau hanya sebuah rekayasa baru? Bingung, Chika hanya diam dan juga membuat jantung El menjadi deg degan.
"Chika, tolong jawab. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya El kembali.
"Tuan? Perjanjian kita kan.."
Belum selesai berkata, mulut yang merah seperti warna jambu itu langsung di kecup oleh El sekilas.
"Lupakan soal perjanjian. Disini aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku bersama kamu. Jadi mau kah kamu menikah denganku?" El kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya.
"Saya... Saya.. Emm saya..."
"Saya apa Chika?" El sudah tak sabar menunggu jawaban Chika.
"Saya..."
Bersambung...
Hmmm Chika jawab apa ya? Yes or No?
Next Episode ya kakak reader terlove 😘😘
__ADS_1
Lanjut besok again ya. Udah aku up 3 episode spesial weekend.